Blog Archives

Seratus Milyar Untuk Rio

Rencana pemerintah mengeluarkan uang APBN sebesar 100 milyar untuk memuluskan langkah Rio Haryanto ke gelanggang F1 menuai pro kontra.

Sebagai warga negara yang setiap tahun harus mengisi SPT, saya juga sempat terhenyak ketika mengetahui ada 100 milyar uang pajak rakyat yang akan mengalir untuk Manor, sebuah tim gurem yang kiprahnya di F1 sungguh memprihatinkan.

Tapi, saya sendiri termasuk orang yang mendukung kiprah Rio.

Meski tidak sepopuler olahraga yang merakyat seperti misalnya sepakbola, balap F1 adalah sebuah sirkus mahamegah dengan prestise selangit. Nama “Indonesia” bersanding dengan kata “F1”, adalah sesuatu yang menurut saya pantas dibayar dengan harga mahal.

Anggaran Kemenpora di tahun 2016 ini (masih pengajuan, belum disahkan) sekitar 3,3 trilyun. Bila kita asumsikan angka itu gol, artinya 100 milyar ada di kisaran 3% dari angka keseluruhan. Ini sesuai penjelasan Menpora Imam Nahrawi tanggal 28 Desember 2015 lalu bahwa mendukung Rio Haryanto ke F1 adalah salah satu prioritas Kemenpora di tahun 2016.

Banyak orang yang mencibir dengan bilang, “Uang 100 milyar lebih baik untuk membangun sekolah!”. Ada benarnya, tapi juga ada salahnya. Sekolah itu urusan Kemendikbud dan pemerintah daerah, bukan Kemenpora. Dan sebagai pemilik anggaran, tidakkah wajar bila Kemenpora mengalokasikan 3% anggaran mereka untuk sesuatu yang konkret?

Ada juga yang bilang, “Apa hebatnya Rio, modal bayar doang!”. Rasanya pernyataan ini tidak adil bagi Rio, yang sudah bekerja keras selama delapan tahun untuk sampai di posisi dia sekarang. Lagipula kursi Rio bukan dilelang ke penawar tertinggi. Si pembalap tentunya harus memenuhi kualifikasi yang ketat.

Sederhananya begini. Bagi saya, langkah pemerintah untuk melakukan investasi di diri Rio Haryanto adalah sebuah langkah yang masih masuk akal. Rio memang belum tentu berprestasi, tapi masuknya Indonesia untuk pertama kalinya di ajang F1 sudah merupakan sebuah keistimewaan.

Sebagai pembayar pajak, saya rela. Sebagai warga negara, saya bangga.

@ernestprakasa