Blog Archives

785,786

Poster-NGENEST-The-Movie.jpg

Tanggal 30 Desember lalu, gue nge-post blog tentang film Ngenest. Di hari itu, Ngenest rilis serempak di seluruh bioskop tanah air. Dan sejak hari itu, hidup gue berubah.

Minggu depan, genap sebulan Ngenest pamit dari bioskop, setelah bertengger selama enam minggu. Kalo lo belum tau betapa kerasnya persaingan film di tanah air, percayalah, enam minggu itu LAMA BANGET.

Selama enam minggu tadi, Ngenest mengumpulkan total 785,786 penonton, dan sukses bertengger di posisi ke-6 dari daftar film terlaris 2015 (berdasarkan tanggal rilis). Semua orang, termasuk gue dan produser gue, terkejut.

Screen Shot 2016-03-05 at 2.58.20 AM.png

Bagaimana mungkin?

Kok bisa-bisanya seorang penulis dan sutradara debutan bisa meraih hasil yang sungguh diluar dugaan?

Bukannya mau sok rahasia, tapi jawabannya memang sulit dicari.

Film adalah sebuah kerja kolektif yang dahsyat, dan keberhasilannya akan sulit untuk digiring ke satu titik secara spesifik. Sukses Ngenest adalah hasil komitmen dan kekompakan ratusan orang, mulai dari produser yang mendanai semuanya hingga kru yang kerjanya bikin minuman panas buat menghangatkan semua orang di lokasi syuting.

Lalu, what next?

Tahun 2016 ini, rencananya gue bakal bikin satu film lagi. Ya nulis, ya nyutradarain, ya main. Kurang lebih sama lah kayak di Ngenest. Tapi kali ini, beban gue berpuluh kali lipat, karena orang sudah punya ekspektasi. Gue punya tanggungjawab untuk menghasilkan karya yang lebih bagus lagi.

So, yeah. Saatnya kembali memeras otak. Ada skenario yang menanti untuk ditulis.

Another first step. Another beginning of something very very exciting.

Wish me luck! 🙂

@ernestprakasa

Yet Another New Phase

“Nanti kamu aja ya sutradaranya.”

It was April, 2015. I can vividly remember the look on his face when he said that to me.

Mr. Chand Parwez Servia of Starvision, the guy who gave directorial debut to Iqbal Rais, Fajar Bustomi, and of course Raditya Dika, now wants me to take the chair. The holy chair.

Pengalaman gue sebagai pemain film mengajarkan gue bahwa jadi sutradara itu adalah pekerjaan yang amat sulit. Pertama, sutradara harus punya visi yang solid. Ibaratnya, sebelum film itu mulai disyuting, sutradara sudah punya bayangan yang kuat seperti apa hasil akhirnya kelak. Kedua, sutradara harus punya skill secara teknis tentang perfilman. Gue ngerasa dua hal itu nggak ada di gue, apalagi yang kedua. Mana gue ngerti soal komposisi, teknik pengambilan gambar, dan lain-lain.

Tapi Pak Parwez punya pandangan lain. Menurut beliau, modal utama seorang sutradara adalah kemampuan bercerita. Buku Ngenest adalah cerita gue, jadi gue harusnya bisa menceritakan kisah gue sendiri dengan cukup baik. Oke, masuk akal. Tapi gimana dengan perkara teknis? Gue nggak ngerti apa-apa soal teknik penyutradaraan. Lagi-lagi, Pak Parwez meyakinkan gue. Menurut beliau, selama gue didukung oleh tim yang kuat dan lebih berpengalaman, harusnya gue gak perlu takut.

He’s done this before. Giving newbies a chance to direct movies. So he ain’t bullshittin’ me.

Akhirnya gue mengiyakan dengan dua syarat. Pertama, gue nggak mau dibayar dengan standar honor sutradara. Buat gue ini semacam beasiswa, sebuah kesempatan belajar gratis. Kalo dibayar layaknya seorang sutradara, gue ngerasa bebannya terlalu besar. Kedua, gue minta dua orang personil Comic 8 untuk mendampingi gue, yakni Dicky R. Maland (Director of Photography) dan Alwin Adink Liwutang (Co-Director). Mereka dua orang yang intens bekerjasama bareng gue di Comic 8 dan Comic 8 Casino Kings. Meski disitu gue sebagai pemain bukan sutradara, tapi paling enggak chemistry kita udah terjalin. I need people I can trust.

Fast forward to eight months later.

Hari ini, 30 Desember 2015, film Ngenest rilis di bioskop. Film yang gue tulis dan sutradarai (dan mainkan tentunya), akan bisa ditonton oleh orang-orang se-Indonesia.

Rasa gugup gue emang udah sedikit mereda setelah melihat riuhnya respon penonton di Gala Premiere dua hari yang lalu. Tapi tetep aja sekarang perut gue mules. Bioskop Indonesia lagi dikepung oleh film-film box office dalam negeri. Siapa yang bakal nonton film gue?

But like my producer said, we have done our part, now let the audience decide.

Now, all I need to do is take a deep breath.

Here we go.

@ernestprakasa

Tentang Buku Kedua Gue, #NGENEST

Thank God, buku kedua gue akhirnya rilis. Berikut beberapa informasi tentang buku #NGENEST, dikemas dalam format wawancara tanya-jawab dengan Susi, seorang abege imajiner:

Selamat ya Kak buat dirilisnya #NGENEST. Ini buku komedi kan? Kenapa judulnya begitu sih Kak?
Iya, komedi. Ada yang sumbernya dari pengalaman, ada yang dari pengamatan. “Ngenest” itu sebenernya punya makna ganda. Di satu sisi, itu singkatan dari “Ngetawain Hidup Ala Ernest”. Tapi juga sekaligus memberikan gambaran tentang isi buku ini, yang banyak menceritakan hal-hal “ngenes” di hidup gue.

Oh gituuuu.. Kayaknya sih seru. Tapi mahal ga Kak?
Harga bukunya Rp 55,000 aja koq. Kira-kira sama lah sama behel yang lo beli di jembatan penyebrangan Benhil itu.

Ih Kak Ernest koq tau???
Itu semua impor dari Cina. Om gue yang bawa masuk.

Pantes. Oke, tapi denger-denger ada pre-sale ya Kak? Biasanya kan pre-sale tuh ada promo apaaa gitu..
Iya. Kalo pesan online selama periode pre-sale 9-13 Oktober, bakal dapet buku bertandatangan. Dan bukan cuma tandatangan, gue juga bakal tulisin ucapan.

Hah? Ucapan gimana maksudnya Kak? Kita bebas minta Kak Ernest nulisin apa, gitu?
Iya. Jadi bukan cuma tandatangan, tapi kalo elo mau, bisa sekalian gue tulisin: “Untuk Susi Spesialawati. Kamu yang paling spesial pokonya.”

Wah seru amat! Gimana cara mintanya?
Nanti di form pemesanan ada kolom “Ucapan Yang Diinginkan”. Isi aja disitu, maksimal dua kalimat.

Trus form-nya bisa didapetin dimana?
Semua keterangan lengkap soal pre-sale, termasuk form-nya, ada di bukukafe.com. Cari aja banner ini nih:
Pre-Sale

Lho, koq itu katanya ada hadiah paket spesial segala? Diundi ya? Dapetnya apaaaa?
Iya, diundi. Paketnya isinya karya-karya gue, yaitu Buku+DVD #DMKM, kaos @HAHAHA_Store, dan DVD “Ernest Prakasa & The Oriental Bandits”, semuanya gue tandatangan. Kecuali kaos ya, nanti luntur trus lo jadi cemong.

Eh tapi berarti pre-sale itu cuma online kan ya Kak? Trus kapan dong mulai masuk ke toko buku?
Per 16 Oktober, buku #NGENEST bakal mulai beredar di Gramedia dan lain-lain. Penyebarannya mulai di Jabodetabek-Bandung, trus pelan-pelan nanti merata ke seluruh Indonesia.

Oh gitu. Trus pas nanti Kak Ernest tur, bukunya dibawa juga? Emang gak berat tuh tur bawa-bawa buku?
Iyalah, darah Cina gue bisa mendidih kalo gue tur gak sambil jualan buku. Berat sih berat, tapi yang penting bisa cuan lah.

Cuan? Apaan tuh kak?
Cuan itu artinya untung alias laba. Koq lo gitu aja ga ngerti sih?

Aku kan Arab kak.
Oh iya lupa.

Ya udah, sukses buat buku #NGENEST kak. Target laku berapa juta kopi?
Yaelah. Target gue gak muluk-muluk. Bisa cetak ulang aja gue udah seneng. Soalnya buku pertama gue kurang bagus penjualannya.

Koq bisa sih kak?
Ga tau juga. Mungkin karna di cover ada muka gue kali ya.

Ah suka gitu deh, Kak Ernest kan ganteng abisssss!
Makasih.

Sip deh Kak, sukses ya. Semoga #NGENEST bisa memenuhi harapan. Oh iya, terakhir, ngintip cover-nya #NGENEST boleh kak?
Boleh dong. Nih 🙂

[cover depan]

[cover depan]

[cover belakang]

[cover belakang]

Wah keren!!! Sekali lagi, sukses ya Kak!
Makasih, makasih. Nih ongkos pulang.

[@ernestprakasa]