Blog Archives

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits – Post-Event Notes (Part 3 – End)

Screen Shot 2013-02-26 at 9.39.14 AM

10 Juli 2012. Saya menutup rangkaian Merem Melek Tour di Gedung Kesenian Jakarta.
Seharusnya, hari itu ada banyak bangga yang meluap. Tapi nyatanya, lebih banyak rasa kecewa.
Sebagai seorang comic, saya merasa penampilan saya malam itu jauh dari harapan. Ada banyak aspek teknis yang seharusnya bisa diperbaiki.
Meski banyak respon positif yang masuk, saya tetap bersikukuh bahwa malam itu, saya gagal.

Yang ada di benak saya waktu itu hanya satu: Balas dendam. Tepat sehari kemudian, 11 Juli 2012, saya langsung menghubungi pihak GKJ untuk booking gedung lagi, supaya saya bisa segera menebus kegagalan. Dan akhirnya saya menemukan tanggal yang cocok: 9 Februari 2013, tepat sehari sebelum Imlek.

Dan sejak itu, mata saya tertuju ke hari Sabtu 9 Februari 2013. Hari yang harus saya jadikan ajang pembuktian sekaligus penebusan.

Ada banyak yang terjadi antara #MMTJKT dan #GKJ9Feb. Seiring bertambahnya jam terbang (meski belum seberapa), saya semakin mengenal karakter saya sebagai comic. Dulu, saya masih mencari-cari persona, tapi sekarang sepertinya saya mulai bisa mendefinisikan seperti apa stand-up comedy seorang Ernest Prakasa:

1. Santai

Sebagai penonton, saya selalu menikmati penampilan penuh energi & emosi ala Chris Rock. Tapi sebagai comic, saya tidak nyaman melakukan itu. Daripada autoritatif, saya lebih suka tampil persuasif. Daripada preachy & “mencerahkan”, saya lebih suka “mengajak ngobrol”. Menurut saya ini bukan perkara teknik mana yang lebih baik, tapi murni preferensi pribadi. Itulah kenapa saya bahagia membaca beberapa review (link-nya ada di bagian akhir blog post ini) yang secara spesifik mengatakan bahwa penampilan saya itu santai, seperti sedang mengobrol dengan teman. Saya merasa sudah lumayan bisa melemparkan punch tanpa harus selalu ngotot & menarik urat; sesuatu yang selalu saya kagumi dari idola saya, Ellen Degeneres. Paling tidak, saya sudah berusaha mengasah gaya delivery saya, dan hal itu dirasakan langsung oleh penonton.

2. Inner-Self Oriented

Dalam stand-up comedy, istilah “inner-self” mengacu pada teori yang dipopulerkan oleh Judy Carter, tentang sumber materi yang berasal dari dalam diri sendiri, baik itu keresahan, trauma, pengalaman, dan lain-lain. Semakin hari, saya merasa semakin nyaman untuk membahas hal-hal yang dekat dengan saya, dan semakin enggan untuk mengobservasi hal-hal umum yang tidak bersinggungan langsung dengan hidup saya sehari-hari. Itulah kenapa di #GKJ9Feb – selain materi soal Cina tentunya – saya banyak bercerita soal pengalaman saya waktu SD, soal anak saya Sky yang sudah mau masuk TK, bahkan soal babysitter saya, Umi.

3. Politically Correct

Saya rasa, lahir sebagai etnis minoritas telah membentuk saya menjadi pribadi yang non-konfrontatif. Saya cenderung menghindari perselisihan. Dan hal ini yang tidak bisa saya ingkari dari pilihan topik yang saya bawakan. Paling tidak untuk saat ini. Saya merasa tidak nyaman untuk membahas hal-hal yang kontroversial, ataupun secara agresif menghakimi pihak tertentu. Dan saya sadar, ciri ini telah mengarahkan saya untuk bermain di jalur “pop” yang relatif terkesan mainstream. Lebih sering membahas hal yang ringan-ringan. Tapi tentu, ini sah-sah saja. Karena saya percaya berkarya itu bukan soal ingin tampil “indie” atau sok keren, tapi soal jujur pada diri sendiri.

Tapi tentu, mengenal diri sendiri saja tidak cukup. Ada satu blunder krusial saya di #MMTJKT yang wajib saya perbaiki: KURANG LATIHAN.

Waktu mempersiapkan #MMTJKT, saya terlalu asyik writing dan rewriting, berusaha menajamkan bit-bit yang saya bawa selama Merem Melek Tour di 10 kota, sambil menulis bit-bit baru yang memang disiapkan khusus untuk #MMTJKT. Dan ternyata, menulis materi itu mengasyikkan. Saking asyiknya, saya sampai lupa untuk membuat deadline kapan harus berhenti menulis, mengunci bit saya, lalu mulai melatihnya dengan total.

Di #GKJ9Feb, saya bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Deadline saya jelas: H-7, saya sudah tidak boleh lagi fokus di rewriting. Waktunya latihan, latihan, dan latihan. Dan berkat ini, saya bisa menjejakkan kaki dengan percaya diri di panggung GKJ, dua pertunjukan dalam sehari.

Berikut adalah beberapa blog post dari para penonton #GKJ9Feb:
“Ketawa Sampe Nangis Di #GKJ9Feb Ernest Prakasa & The Oriental Bandits” by Regy Kurniawan (@regycleva)
“Apa Yang Gue Bawa Sepulang Dari #GKJ9Feb” by Roy Saputra (@saputraroy)
“First Time Watching Stand-Up Live” by Fiyana (@pipinbush)
“2 Hours Of Laughters” by Syahda Ahyar (@syahda35)
“Review Ernest Prakasa & The Oriental Bandits” by Stephany Josephine (@teppy87)
“Bertumbuh, Berasimilasi Seperti Ernest Prakasa” by Astro Doni
“Ernest Prakasa & The Oriental Bandits #GKJ9Feb” by Santi Fang (@santifang)

Secara pribadi, apakah saya puas dengan #GKJ9Feb? Sangat. Saya merasa senang karena:
1. Saya telah menebus dosa saya di #MMTJKT. Banyak kekurangan teknis yang telah saya perbaiki.
2. Saya telah semakin mengenal diri saya sendiri sebagai seorang comic, dan penonton pun merasakan itu.
3. Saya hampir meng-sold-out-kan 2 kali pertunjukan. Sayang sekali sore itu hujan deras dan banjir menerpa, sehingga show kedua tidak 100% penuh. Still, I’m more than grateful.

Saya bahagia, karena kerja keras saya berbuah manis. Tapi ya sudah. Saya sudah harus kembali menatap jauh ke depan. Time to raise the bar and beat myself. Again.

[@ernestprakasa]

Advertisements

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits – Post-Event Notes (Part 2)

Di bagian kedua ini, gue akan coba nge-review para comic pembuka alias opener.
Sekedar informasi, urutan opener di show 1 & 2 itu berbeda. Urutan di show 1 (14:00) adalah Dwika, Alonk, Lian, Barry. Di show 2 (19:00), kebalikannya: Barry, Lian, Alonk, Dwika.

So, here they are:

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

1. Dwika Putra (@dwikaputra)

Secara jam terbang di arena open mic, Dwika adalah yang paling “senior” diantara empat opener #GKJ9Feb. Itulah kenapa gue percayakan pada Dwika untuk mengemban sebuah tugas berat, yakni menjadi comic pembuka di show pertama. Tapi sesuai prediksi gue, Dwika bisa menjalaninya dengan baik. Sangat baik, malah. Hanya terasa shaky di detik-detik awal, lalu melaju dengan lancar. Dan sebagai pembuka, Dwika directly set the tone for the whole show. Bahwa kita akan membahas soal orang Cina & segala kecinaannya, dengan cara yang belum pernah anda saksikan sebelumnya.

Best bit: “Cina itu bukan ras. Cina itu gaya hidup!”

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

2. Vania “Alonk” Margonoharto (@alonkii)

Kebalikan dari Dwika, Alonk adalah yang paling “junior” diantara para penampil. Tapi sejak awal, saya yakin bahwa Alonk bisa memberikan warna tersendiri, dan itu terbukti di atas panggung. Dengan logat Cina Jakarta yang kental, Alonk membahas isu-isu yang dekat dengan kehidupan anak muda. Melihat penampilan Alonk yang cukup solid di panggung megah GKJ, rasanya agak sulit percaya bahwa ia baru lima kali naik ke panggung open mic. Salute!

Best bit: “LDR itu bukan Long Distance Relationship. Tapi Lu Doang Relationship. Cuma elu doang yang berasa pacaran, dianya kaga!”

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

3. Yullianto “Lian” Lin (@LiantLin)

Menurut saya, Lian ini adalah salah satu bakat menjanjikan di jagad stand-up tanah air. Observasinya menggelitik, dan delivery-nya benar-benar kocak. Cempreng & nyolot, tapi malah bikin lucu. Dengan jam terbang yang relatif masih sedikit, Lian sudah tampak cukup matang. Saya tidak sabar menantikan Lian terus bertumbuh & menjadi salah satu comic (Cina) yang mumpuni.

Best bit: “Orang suka bilang ‘Heh Cina, sana pulang aja ke negara lu!’. Nah masalahnya, di Indonesia kita jadi minoritas, tapi kalo ke Cina, kita pun tetep jadi minoritas. Kenapa? Karna kita ga bisa bahasa Cina!”

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

4. Barry Williem (@jekibarr)

Sepengetahuan saya, Barry adalah comic yang paling banyak dibicarakan hari itu. Mungkin orang terkaget-kaget melihat comic dengan casing Cina tapi audio yang 100% Betawi pinggiran. Medok pula. Tapi tentu bukan hanya itu yang membuat Barry stand-out. Bit-bitnya soal Kampus BSI yang memang sudah ia asah sejak cukup lama, sukses menebas penonton. Secara persona, Barry memang salah satu yang paling “jadi”. Dan untuk ini, sepertinya Barry cukup berhutang budi pada almamater yang senantiasa ia cela tersebut.

Best Bit: “Gue kuliah di kampus saingan UI: BSI. Kenapa gue bilang saingan UI? Karena UI itu luas banget kampusnya. BSI juga. Tapi nyebar.”

Itu dia keempat opener di #GKJ9Feb.
As soon as I can, I will follow up this post with Part 3, which is my review on my own performance. πŸ™‚

[@ernestprakasa]

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits – Post-Event Notes (Part 1)

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

I will write about #GKJ9Feb in three separate posts. The first one is the credit title. I want the world to know, that I owe:

JESUS CHRIST ALMIGHTY. Nuff said.

My wife Meira Anastasia. My catalyst. My ever-so-dependable wing(wo)man. My loyal partner for the last 11 years.

My daughter Sky Tierra Solana. My 1/3.

My mom, dad, & sister: Wahyudi Hidayat, Jennie Lim, & Audrey Jiwajennie.

My manager Dipa Andika. The ice to my fire. The one who’s responsible in making sure that everything is taken care of, so that I can focus on my performance. Without him, my head will be torn apart.

My personal assistant Fauzan Taufik. The one who gets everything done & rarely dissapoints.

My babysitter Sulis “Umi” Sumartini, who inspired a 10-mins of hard-rockin’ materials.

My openers: Dwika Putra, Barry Williem, Vania “Alonk” Margonoharto, Yullianto “Lian” Lin. I will write more about them on the next post.

Our main partner, Multiply: Vina Gondosaputro, Mario Fajar, Reginald Suriasubrata, Cicillia Veti Irnawati, Edi Saputra, and the whole team.

Our broadcasting partner, Metro TV: Lanny Bergmann, Agus Mulyadi, and the whole team.

Our event partner: Holycow Radal, CupCakes & Co, Papa Rons Pizza, Coca-Cola Amatil, Beritagar.

#GKJ9Feb event management team:
– Sessa Xuanthi, the rock-solid commander in chief.
– Triantono Adiputro, ever-so-reliable the head of production.
– Production team: Haris Kristyanto, Yogi Trisno Purnama, Dimas Yudhistira, Mardi.
– Show management team: Wahyu Hidayat, Maria Ulfa, Frita Oktaviyani, Febrian.
– Ticketing & usher team: Frans Kertanegara, Melya Puspita, Christian Febriano Romlin, William Piet, Claudie Faustine, Varian Adi Putra, Dionisius Silvester Ferdi, Mario Aditya.
– Merchandise coordinator: Christian Dwi Saputra.

Cone Camera’s awesome photo & video team: Okky Prasetyo, Gusti Satriyo, Bapuk, Gogo Agogo, Ersta Satrya, Danis Pamuka, Dimas Oetomo, Rosyid Akbar.

My comic inspiration:
– Pandji Pragiwaksono, who set an example on how to be a good entertainer.
– Isman H. Suryaman, who taught me to prioritize honesty in writing my materials.
– Muhadkly “Acho”, who showed me that you don’t have to always talk about serious stuff to be a great comic.
– Genrifinadi “Ge” Pamungkas, who gave me an example on how to act it all-out.
– Kevin Hart, who proved that if mastered well, story-telling is a powerful, powerful tool. I owe my closing bit to him.
– Ellen Degeneres, who inspired me every single step of the way. Who instilled self-belief in my style of performance.

And last but most definitely not least, to all that came to see the show. None of this matters without your support. I’m humbled with gratitude πŸ™‚

THANK YOU.

[@ernestprakasa]

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits (#GKJ9Feb)

Tanggal 10 Juli 2012 adalah salah satu momen terindah dalam hidup saya. Di Gedung Kesenian Jakarta, #MMTJKT alias Merem Melek Tour Jakarta, penutup dari rangkaian Merem Melek Tour, sebuah stand-up comedy tour yang tercatat sebagai yang pertama kali diadakan di Indonesia.

Saya tidak menyangka tiket malam itu akan sold-out, dan saya tidak berharap mendapatkan full-house standing ovation. Tapi kedua hal tersebut benar-benar terjadi, dan saya sungguh bersyukur. Saya anggap itu cherry on top dari perjuangan panjang yang melelahkan. Momen-momen terbaik di hari itu dirangkum dalam video 1,5 menit ini.

Tanggal 9 Februari 2013, saya akan mengadakan stand-up special saya yang kedua kalinya di Jakarta. Tanggal yang sangat spesial, karena itu adalah satu hari sebelum Imlek. Sudah tentu, saya akan banyak membahas soal being a chinese in Indonesia. Judulnya adalah “Ernest Prakasa & The Oriental Bandits”, atau yang akan disingkat dengan hashtag #GKJ9Feb.

Ada banyak hal yang akan saya bahas disini, dan sebagian besar menyangkut hidup saya sendiri. Tentang pengalaman saya jadi minoritas selama di SMP, dan sebaliknya, menjadi mayoritas ketika SMA di daerah Kota. Tentang keresahan saya menjadi anak, suami, dan ayah. Dan tentu, tentang isu-isu sosial yang menurut saya perlu untuk dibahas, dan kadang, diolok-olok.

[photo & design by @okkyprasetyo]

[photo & design by @okkyprasetyo]

Saya bukan satu-satunya orang bermata sipit yang akan muncul di panggung megah GKJ. Akan ada empat orang opener yang juga memiliki ukuran mata minimalis dan berbagi garis etnis dengan saya, yakni: Barry Williem (@jekibarr), Yullianto Lin (@LiantLin), Dwika Putra (@dwikaputra), dan Alonk (@alonkii). Masing-masing dari mereka akan tampil selama 15 menit, lalu saya akan tampil selama satu jam penuh.

Akan ada dua pertunjukan di hari itu, dan mengingat sebagian teman-teman harus berkumpul bersama keluarga di malam sebelum Imlek, maka show pertama akan digelar siang hari, yakni 14:00 – 16:30. Show kedua akan diadakan jam 19:00 – 21:30. Berikut harga tiket beserta denah tempat duduk GKJ:

Tiket akan mulai dijual hari Sabtu 12 Januari jam 12 siang di ernestprakasa.multiply.com. Ada promo buy 3 get 1 free selama satu minggu pertama.

Hope to see you there guys! πŸ™‚

[@ernestprakasa]