Istri Saya = Sergio Busquets

Tidak bisa dipungkiri, Barcelona adalah salah satu klub sepakbola paling fenomenal selama beberapa tahun terakhir. Kedigdayaannya di Eropa bukan hanya dari segi jumlah piala yang mereka raih, tapi juga dari gaya permainan mereka yang sangat mempesona.

Bila penggemar sepakbola awam diminta untuk menyebutkan satu orang pemain yang menjadi kunci sukses Barcelona, sebagian besar akan menjawab Lionel Messi. Wajar memang. Secara kasat mata, semua orang bisa menyaksikan bagaimana briliannya Lionel Messi di lapangan hijau, baik sebagai kreator maupun sebagai penghasil gol.

Namun, dalam sebuah tim sepakbola, kerap ada “unsung heroes”. Para pahlawan yang luput dari perhatian orang banyak. Bagi Barcelona, orang tersebut adalah Sergio Busquets. Sebagaimana sering ditekankan oleh penulis sepakbola favorit saya Pangeran Siahaan, Sergio Busquets adalah salah satu elemen krusial dari keseluruhan ritme tim Barcelona. Hanya karena nyaris tidak pernah melakukan aksi spektakuler saat menggocek atau mencetak gol, banyak yang tidak menyadari pentingnya Busquets.

Barisan penyerang Barca bisa beraksi dengan tenang, karena Busquets berada di belakang mereka. Siap untuk menjadi penghadang yang cerdik dan siap mengantisipasi serangan lawan. Bagi Busquets, yang penting bukan tampil atraktif, tapi efektif. Tackling dan distribusi bola ke barisan depan jauh lebih penting dibandingkan mencetak assist atau gol. Singkat kata, bagi timnya, Busquets adalah penyeimbang.

Dan dalam “tim” rumah tangga kami, istri saya adalah Sergio Busquets. Ia adalah penyeimbang. Saya boleh jadi bagaikan Lionel Messi, menciptakan peluang dan mencetak “gol”. Tapi tanpa jangkar yang menjaga keseimbangan kapal, rasanya hal itu tidak mungkin.

My wife Meira Anastasia is the “unsung hero” in my career. She’s the steel in the walls. She’s the glue that holds everything together, so that I don’t crumble. Dan persis seperti Busquets, tidak banyak orang yang bisa paham, betapa penting peranannya dalam “tim” kami.

So my darling wife/pal/sex-buddy Meira Anastasia, happy 30th birthday & 6th wedding anniversary.
You’ve been an indispensable squad player & an inspiration to the whole team.
Please keep guarding the defense while I go out there and score us some goals πŸ™‚

[@ernestprakasa]

Perihal Bahagia

Bahagialah.

Bahagialah karna harta ataupun tahta.

Bahagialah di tepi hamparan laut. Bahagialah di hingar bingar kota.

Bahagialah karna dicinta. Bahagialah karna mencinta.

Bahagialah oleh tawa dan pesta pora. Bahagialah oleh buai sunyi.

Bahagialah oleh ujian. Bahagialah oleh pujian.

Bahagialah karna langit terang membiru. Bahagialah oleh gemuruh derap hujan.

Maknai. Temukan. Nikmati.

Sebab hidup terlalu singkat untuk membiarkan orang lain menentukan apa yang membuat kita bahagia.

[@ernestprakasa]
Bandung, 21-4-’13

My Japan Trip

Tanggal 18 Maret lalu, saya berangkat ke Jepang, menemani rombongan pemenang kuis #XLaluHore. Karena semua itenerary sudah diatur, jadi tugas saya tinggal duduk manis dan foto-foto πŸ™‚

Kami berangkat dari Soekarno-Hatta sedikit lewat tengah malam, dan paginya kami tiba di Bandara Narita, Tokyo. Tujuan pertama kami adalah Gotenba. Gotenba adalah sebuah kota kecil di kaki Gunung Fuji, dan disana ada sebuah pusat perbelanjaan bernama Gotenba Factory Outlet. Ini tujuan pertama kami. Konon disini banyak brand-brand ternama yang mendiskon barang-barang mereka. Diskon bukan karena barang reject, melainkan karena modelnya sudah lama dan tidak lagi masuk display di mall-mall.

Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam dan dijeda makan siang, kami pun tiba di Gotenba Factory Outlet.

Gotenba Factory Outlet

Gotenba Factory Outlet

Berbeda dengan factory outlet di Bandung atau Jakarta, yang satu ini nuansanya outdoor, melimpah udara segar. Tapi jangan kaget jika mendengar celetukan-celetukan yang familiar disana-sini. Ternyata tempat ini diserbu turis Indonesia! πŸ™‚ Karena ini masih awal perjalanan, saya mencoba untuk menahan diri & sukses “hanya” membeli 1 buah barang saja. Prestasi yang membanggakan.. Hahaha..

Selesai belanja, kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Kawaguchi. Hotel kami terletak persis di tepi danau yang juga ada di kaki Gunung Fuji ini. Menjelang sore, di tengah-tengah perjalanan, Gunung Fuji sudah bisa terlihat dengan jelas. Yeay!

OTW to Mount Fuji

OTW to Mount Fuji

Tiba di hotel, matahari sudah terbenam, jadi pemandangan danau pun tidak tampak. Karena sudah capek, setelah makan malam saya tidur, dengan alarm terpasang pukul 5 pagi. Mau menikmati subuh di tepi danau.

Keesokan harinya saya bangun dan langsung turun ke tepi danau. Yang saya tidak ketahui adalah, ternyata suhu di pagi hari itu benar-benar DINGIN, sekitar 18 derajat celcius. Karena saya tidak memakai sarung tangan, jari-jari saya simpan rapat-rapat di dalam kantong jaket. Terasa kaku saking dinginnya! Mungkin karena sedang mendung juga, entahlah. Yang pasti karena cuaca cukup berawan, Gunung Fuji jadi terhalang kabut 😦

Lake Kawaguchi

Lake Kawaguchi

Untungnya, kekecewaan saya langsung terobati karena setelah sarapan, kami check-out & langsung menuju Mount Fuji Museum & Mount Fuji Ski Resort. Tidak untuk bermain ski tentunya, tapi sekedar melihat pemandangan dan meet & greet dengan salju. Salah satu cita-cita saya sejak lama. Terharu juga.. Hahaha..

View from Mount Fuji Museum

View from Mount Fuji Museum

Tourist wall at Mount Fuji Museum

Tourist wall at Mount Fuji Museum

Mount Fuji Ski Resort

Mount Fuji Ski Resort

Setelah itu, kami menempuh perjalanan empat jam kembali ke Tokyo. Tujuan pertama kami adalah Harajuku, salah satu pusat belanja yang terkenal murah meriah. Dan begitu tiba di Takeshita Street – titik teramai disana – langsung tampak bahwa terlepas dari benar murah atau tidak, yang pasti tempat ini meriah. Beberapa detik kemudian, rombongan pun langsung terpecah belah, masing-masing blusukan dengan ceria πŸ™‚

Takeshita Street, Harajuku

Takeshita Street, Harajuku

Hari itu kami isi dengan mengunjungi beberapa pusat perbelanjaan. Theme of the day: “Ngosongin Dompet.”
Meski menyenangkan, tapi ada satu yang masih saya cari: Sakura! Dan ternyata, inilah yang menjadi pemandangan di keesokan harinya.

Esoknya, kami memulai hari dengan mengunjungi Asakusa Temple, salah satu kuil Buddha tertua di Jepang. Dan di sekitar kuil, mulai tampak Sakura bermekaran dengan indahnya πŸ™‚

Asakusa Temple

Asakusa Temple

Asakusa Temple

Asakusa Temple

Selesai jalan-jalan di kuil, kami makan siang, lalu mampir di Ginza sebelum melanjutkan perjalanan ke Odaiba. Tempat ini berbentuk seperti teluk, terletak di dekat Rainbow Bridge Tokyo. Dari teluk, diuruk, lalu disulap jadi pusat bisnis dan perbelanjaan. Bahkan ada replika patung Liberty disini.

Rainbow Bridge

Rainbow Bridge

Odaiba

Odaiba

Rainbow Bridge viewed from Odaiba

Rainbow Bridge viewed from Odaiba

Setelah menikmati Odaiba, kami pun berangkat ke Narita untuk kembali pulang. Cukup singkat memang perjalanannya. Anggaplah ini preview untuk trip berikutnya πŸ™‚

PS: All photos are taken with Panasonic Lumix digital camera.

[@ernestprakasa]

Pengembangan Komunitas Stand-Up Comedy Lokal: Part 3 – Manajemen Keuangan (End)

Di dua bagian sebelumnya, saya sudah membahas tentang pentingnya open mic, dan bagaimana mengadakan sebuah event stand-up nite ataupun tour. Sekarang, apa yang terjadi apabila kedua hal tersebut sudah berjalan dengan baik? Jawabannya, uang akan datang.

MENGATUR KEUANGAN DI KOMUNITAS.

Menurut saya, ada dua hal krusial yang harus diingat saat mengatur keuangan di komunitas:

1. Sepakati dari awal.

Orang Indonesia cenderung menggampangkan urusan keuangan karena sungkan untuk tegas di awal, apalagi ini bukan organisasi formal. Jangan. Sejak semuanya dimulai, semua harus menyepakati beberapa hal yang mendasar, seperti:
– Siapa yang menjadi penanggungjawab keuangan? Apakah ketua? Bendahara?
– Bila komunitas mendapatkan penghasilan dari event, merchandise, atau lainnya, berapa persen yang harus disimpan menjadi uang kas?
– Uang kas tersebut akan digunakan untuk kegiatan apa saja?
Hal-hal sederhana seperti ini sangatlah penting untuk disepakati sejak awal komunitas terbentuk. Bila perlu, buat kesepakatan tertulis.

2. Transparansi = harga mati.

Tanpa transparansi keuangan, kehancuran tinggal tunggu waktu. Transparansi artinya ada pertanggungjawaban keuangan yang jelas bagi komunitas secara umum, bukan hanya bagi beberapa orang tertentu. Komunikasikan dengan baik arus keluar masuknya uang, agar tidak berkembang bibit prasangka buruk yang akan berujung perpecahan.

KOMUNITAS SEBAGAI TALENT MANAGEMENT

Matangnya sebuah komunitas stand-up comedy lokal normalnya akan dibarengi dengan semakin banyaknya pihak yang tertarik untuk meng-hire comic dari komunitas tersebut untuk menjadi pengisi acara. Ini proses yang sudah dialami langsung oleh cukup banyak komunitas stand-up comedy di Indonesia. Dan secara alamiah, akhirnya beberapa komunitas jadi bertindak seperti talent management untuk comic-comic yang ada. Ini bukan sesuatu yang buruk, tapi memang harus dijalankan dengan penuh kehati-hatian. Ingat, masalah uang bisa berakibat fatal. Ada beberapa hal yang penting untuk diingat:

1. Pisahkan urusan pribadi dengan urusan komunitas.

Saya melihat ada dua variasi dari praktek talent management ini, yakni komunitas yang bertindak sebagai talent management, atau individu di dalam komunitas tersebut yang secara personal bertindak sebagai talent management. Keduanya sah-sah saja, asalkan paham dengan resikonya. Apabila ada “pejabat” di komunitas yang juga bertindak sebagai manajemen dari comic tertentu, ia tetap harus bijak memilah kapan memposisikan diri sebagai manajer, kapan sebagai pemegang keputusan di komunitasnya. Pada prakteknya, ini adalah hal yang amat sulit dan rentan konflik, meskipun tidak mustahil. Asalkan semuanya dijalankan dengan itikad baik dan menjunjung tinggi rasa keadilan.

2. Rundingkan dan tetapkan pembagian keuntungan sejak awal.

Berapa persen yang harus diterima talent management, tentunya sangat bervariasi, tergantung dari job description yang diemban oleh management tersebut. Di dalam industri hiburan, besarannya biasa berkisar antara 15% hingga 30%. Sangat relatif. Sekali lagi, ini perkara sensitif. Sebaiknya gunakan surat kesepakatan tertulis.

3. Selalu aktif mencari perbandingan.

Sebagai pihak yang baru menjalankan hal-hal seperti ini, sebaiknya kedua pihak baik talent management maupun si comic selalu proaktif untuk mencari tahu tentang kerjasama serupa yang sudah lebih dahulu dijalankan oleh comin atau talent management lain. Ini penting untuk evaluasi dan mengokohkan kerjasama agar lebih solid dan bisa berjalan untuk jangka waktu yang panjang.

***

Saya paham masalah keuangan ini cukup rumit dan tidak mungkin diselesaikan dalam satu blog post. Bila teman-teman komunitas ada yang ingin ditanyakan perihal ini, silakan e-mail ke ernest.prakasa@live.com. Semoga saya bisa berbagi pengalaman πŸ™‚

[@ernestprakasa]

Pengembangan Komunitas Stand-Up Comedy Lokal: Part 2 – Stand-Up Nite & Tour

Di bagian pertama, saya sudah membahas tentang pentingnya open mic sebagai tulang punggung dari pengembangan komunitas stand-up comedy di sebuah kota (atau kampus dan sekolah, sama saja prinsipnya).

Sekarang, fase kedua. Seandainya open mic sudah bisa terselenggara dengan rutin dan relatif lancar, maka yang berikutnya adalah menyelenggarakan event sendiri. Ada dua jenis event yang biasanya dilakukan: stand-up nite & tour. Keduanya memiliki tujuan yang sama: Menarik lebih banyak massa dan memperkenalkan stand-up comedy ke lebih banyak orang. Juga, memberikan “panggung” untuk comic lokal yang memang dianggap sudah layak tampil.

1. STAND-UP NITE

Istilah “stand-up nite” sendiri awalnya adalah judul event tanggal 13 Juli 2011, yang akhirnya tercatat menjadi event bersejarah. Namun seiring perkembangannya, istilah “stand-up nite” sinonim dengan sebuah penyelenggaraan event stand-up comedy yang di Amerika lebih dikenal dengan istilah “line-up show”, alias mempertontonkan banyak comic sekaligus.

Bicara event, pasti bicara modal dan untung/rugi. Disinilah panitia sudah harus berhitung. Komponen biaya yang paling besar biasanya adalah:
– Sewa tempat berikut kelengkapannya (sound / lighting)
– Publikasi (poster, spanduk, dll.)
– Guest comic (honor + transportasi/akomodasi)

Biasanya, guest comic akan jadi magnet untuk menarik penonton. Itulah mengapa komunitas sebaiknya melakukan riset yang teliti tentang siapa comic yang akan diundang. Yang disukai oleh internal komunitas, belum tentu diminati oleh penonton secara umum. Perlu ada keseimbangan.

Demi menghemat biaya, saya menyarankan dalam sebuah penyelenggaraan stand-up nite sebaiknya cukup mengundang 1-2 guest comic saja. Dan soal honor, jangan khawatir. Masih banyak sekali comic yang meskipun sudah sering wara-wiri di TV, tapi punya ketulusan untuk membantu pengembangan komunitas.

2. TOUR

Menjadi bagian dari rangkaian tour seorang comic akan memberikan berdampak positif bagi sebuah komunitas. Ada dua keunggulan tour dibandingkan stand-up nite:

1. Hype di social media.

Comic yang melakukan tur sudah pasti akan melakukan promosi secara intens. Belum lagi didukung oleh comic-comic lainnya, plus diamplifikasi oleh semua kota yang ia datangi. Hype ini yang sulit ditandingi oleh stand-up nite berskala lokal.

2. Menyontek ilmu.

Dibandingkan stand-up nite, sudah pasti persiapan dan penampilan dari seorang comic yang melakukan tour akan jauh lebih intens. Durasi tampilnya saja jauh berbeda. Ini bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi para comic lokal.

Namun dibandingkan dengan stand-up nite, tour juga memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Ini utamanya disebabkan oleh idealisme dari comic yang melakukan tour. Dan tentunya ini adalah sesuatu yang wajar, mengingat perlunya ada keseragaman dari konsep tour tersebut di setiap kota dimana ia diadakan. Seringkali, idealisme comic ini menyebabkan biaya produksi event menjadi lebih mahal dibandingkan dengan stand-up nite. Bisa jadi karena tuntutan untuk kapasitas gedung yang lebih besar, sound system yang lebih baik, dan lain-lain.

Mengingat tour adalah kerjasama antara kedua pihak yang sama-sama berkepentingan yakni comic dan komunitas, maka hal paling krusial yang harus disepakati di awal adalah bagaimana sistem pendanaan dan pembagian keuntungannya. Sifat orang Indonesia yang seringkali sungkan untuk membahas masalah uang harus disingkirkan jauh-jauh kali ini, karena justru bisa menyebabkan konflik di kemudian hari.

Karena tour sendiri masih merupakan sesuatu yang baru, jadi sulit juga bila ditanya bentuk kerjasama apakah yang paling ideal. Ini tergantung dari banyak faktor. Menurut saya, mana bentuk kerjasama yang ideal adalah sebuah kerjasama dimana kedua belah pihak merasa tidak merasa dirugikan, alias win-win. Apapun bentuknya.

Dilihat dari segi keuangan, berikut beberapa contoh bentuk kerjasama tour berikut contohnya, dengan asumsi kondisi tanpa sponsor:

1. Comic sebagai pemodal (no risk, no gain).

Ini adalah bentuk kerjasama yang saya jalankan waktu #MeremMelekTour kota 1-5, April-Mei 2012. Dalam format ini, 100% modal dibiayai oleh comic (sewa tempat, perlengkapan, dll.), dan komunitas mendapatkan kompensasi sejumlah uang untuk kerja tim mereka dalam penyelenggaraan acara. Format ini menurut saya paling masuk akal pada saat itu, karena resiko 100% ditanggung oleh saya sendiri. Tiket laku atau tidak, jumlah uang yang diterima oleh komunitas tetap sesuai dengan kesepakatan awal. Bagi komunitas, plus minusnya adalah sebagai berikut:
(+) Zero risk. Tidak keluar modal sepeser pun.
(-) Seandainya tiketnya sold-out sekalipun, komunitas tidak akan mendapatkan bagian.
Sampai saat ini, bentuk kerjasama seperti ini belum pernah terjadi lagi, karena menurut saya ini memang terlalu beresiko bagi si comic.

2. Komunitas sebagai pemodal (high risk, high gain).

Ini adalah kebalikan dari sistem sebelumnya. Disini, 100% pemodalan dilakukan oleh komunitas, dan seluruh hasil penjualan tiket pun menjadi milik komunitas. Tapi, agak mirip seperti stand-up nite, disini komunitas harus menanggung penuh biaya fee (bila ada), transportasi, dan akomodasi si comic beserta rombongannya. Plus minusnya bagi komunitas:
(+) Seandainya tiketnya laku, maka hasil yang didapat bisa sangat besar.
(-) Seandainya penjualan tiketnya tidak mencapai target, maka harus siap merugi.
Bentuk kerjasama ini termasuk salah satu yang paling populer saat ini. Meski tidak pukul rata di semua kota, namun praktek ini sudah dijalankan oleh beberapa tour seperti #AbsurdTour Kemal Palevi, #tanpabatas Sammy DP, dan #TACL Ryan Adriandhy.

3. Partnership (low risk, low gain).

Ini adalah sistem hibrida yang menggabungkan dua bentuk diatas. Ge Pamungkas dan #3GPtour-nya menjalankan sistem ini, demikian pula dengan #MarahTawa milik Setiawan Yogy. Disini, baik modal maupun hasil ditanggung bersama. Sebagai contoh, untuk #3GPtour, Merem Melek Management menanggung biaya fee comic, akomodasi, & transportasi. Sementara komunitas menanggung biaya penyelenggaraan event. Kemudian hasilnya dibagi dua, sesuai dengan persentase yang disepakati bersama. Plus minusnya bagi komunitas:
(+) Meski tetap butuh modal, namun resikonya berkurang.
(-) Karena hasil pendapatan harus dibagi dua, maka potensi profit pun terbatas.

Dari tiga format diatas, mana yang paling ideal? Tergantung selera masing-masing. Yang terpenting menurut saya, baik komunitas ataupun comic sudah paham resikonya dari awal, dan tidak ada yang merasa diperlakukan secara tidak adil.

***

Demikian bagian kedua dari serial tulisan saya tentang pengembangan komunitas stand-up comedy lokal. Di bagian terakhir nanti, saya akan membahas soal manajemen keuangan bagi komunitas lokal. Semoga berguna πŸ™‚

[@ernestprakasa]

Pengembangan Komunitas Stand-Up Comedy Lokal: Part 1 – Open Mic

Sejak mulai bermunculan di akhir 2011 lalu, berbagai komunitas stand-up comedy di kota-kota se-Indonesia telah mencapai kemajuan yang luar biasa. Sebagian sudah bisa menggelar stand-up nite, menjadi host untuk tur, bahkan ada yang sudah membuat special show untuk comic lokalnya sendiri.

Namun harus diakui, laju perkembangan komunitas-komunitas ini tidak merata di semua daerah. Dan ini pun diakibatkan oleh kendala yang berbeda-beda. Sayangnya, ketidakmerataan akselerasi ini kerap ditanggapi negatif oleh pihak-pihak yang merasa ketinggalan. Tidak sedikit yang mulai putus asa karena merasa komunitas mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan kota-kota lain. Padahal, faktornya ada banyak, belum tentu salah mereka juga.

Melihat kondisi yang ada ini, saya ingin mencoba berkontribusi dengan membuat beberapa tulisan berseri, yang benang merahnya adalah bagaimana cara mengembangkan komunitas stand-up comedy di kota masing-masing. Tentu, tulisan ini lebih relevan untuk komunitas yang relatif baru, yang masih mencari cara untuk bisa memantapkan jejak kaki. Semua yang saya tulis bersumber dari buku-buku yang saya baca dan pengalaman saya yang baru 2.5 tahun ini. Of course, I could be wrong. But I’ll try my best.

Mari kita mulai dengan hal yang paling fundamental: Open mic.

Ibarat membangun rumah, open mic itu fondasi. Stand-up nite, stand-up tour, dan kawan-kawannya itu ornamen. Aneh kan kalo lebih fokus pada warna cat dan model kusen padahal rumahnya bisa ambruk sewaktu-waktu? Ini mungkin terdengar aneh. Stand-up comedy sudah berkembang sedemikian rupa, tapi kenapa saya masih mau membahas hal yang sangat basic? Kenyataannya, di beberapa kota yang saya saksikan langsung pun, open mic tidak berjalan dengan optimal. “Tapi kakkkkkk, ada koq kota yang open mic nya ga beres tapi bisa bikin event yang sukses!” Iya, betul. Tapi mereka rapuh. Bagaikan rumah mewah yang mentereng tapi rentan roboh.

Saya bisa mengerti betapa resahnya teman-teman komunitas yang merasa tertinggal oleh kota-kota lain yang lebih maju, tapi coba sadari dulu hal ini: Tanpa open mic yang berkesinambungan, kalian tidak akan bisa berkembang. Semua harus berjalan dengan bertahap. Open mic sangat krusial karena selain menjadi “dojo” bagi para comic untuk melatih jurus-jurus mereka, ini juga menjadi ajang pembibitan pasar. Ini menjadi salah satu sarana vital untuk melakukan penetrasi ke masyarakat, memberikan pengalaman kepada penonton, “Oh ini toh rasanya nonton stand-up comedy”.

Saya akan membahas open mic dari dua aspek, yakni teknis dan non-teknis. Aspek teknis berhubungan erat dengan tempat yang digunakan, sementara aspek non-teknis berhubungan dengan strategi penyelenggaraan acara.

BAGIAN I: ASPEK TEKNIS

Mencari tempat open mic yang ideal memang sangat amat sulit. But then again, mengembangkan komunitas stand-up comedy memang tidak mudah. Saya akan mencoba menjabarkan kondisi ideal yang masih dalam batas kewajaran. Tidak harus sempurna, tapi juga tetap harus memenuhi beberapa syarat mendasar. Berikut 3 hal yang menurut saya harus diperhatikan:

1. Cafe, jangan restoran.

Musuh terbesar dari seorang komedian adalah makanan. Seseorang yang sedang makan, tidak mungkin tertawa. Cafe, adalah tempat dimana orang datang untuk nongkrong, kongkow, atau mungkin bekerja. Restoran adalah tempat dimana orang datang untuk makan. Kecuali komunitasnya sudah bisa membawa massa sendiri, saya sarankan hindari open mic di restoran. Di cafe, lebih besar kemungkinan kita mendapatkan massa baru, yang mungkin tidak datang untuk menonton open mic, tapi kemudian ketagihan. Dan satu hal lagi. Di restoran, rotasi perputaran orang yang hadir akan lebih cepat, sehingga lebih banyak orang lalu-lalang. Belum lagi pelayan yang tak henti-hentinya keliling membawa baki makanan. Tampak sepele, tapi ini adalah gangguan-gangguan visual yang fatal.

2. Panggung harus terang.

Ini masih ada hubungannya dengan faktor visual. Saya sering sekali mendapatkan open mic di panggung yang gelap, atau memiliki penerangan yang sama dengan seisi ruangan. Ini memiliki dua dampak negatif yang sangat besar:
a. Penonton tidak memiliki titik fokus visual. Tanpa titik fokus visual, perhatian penonton sangat mudah teralihkan.
b. Penonton tidak bisa menyimak dengan optimal gestur tubuh dan mimik wajah si comic. Padahal hal-hal tadi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah penampilan stand-up comedy.

3. Waspadai gangguan suara.

Jangan sepelekan bunyi-bunyian yang mengganggu. Setengah detik saja set-up kita tidak terdengar, seluruh punchline bisa lumpuh total. Berdasarkan pengalaman saya, dalam open mic ada dua gangguan suara yang paling sering muncul:
a. Blender. Ini cukup tricky. Terkadang ada cafe yang blendernya terletak di luar / dekat bar, tanpa peredam suara pula.
b. Kendaraan bermotor. Biasanya ini terjadi apabila cafe terletak persis di tepi jalan raya.
(Di cafe yang full indoor sekalipun, gangguan ini bisa terjadi. Apalagi bila menggunakan cafe yang semi-outdoor. Terlalu beresiko.)

BAGIAN II: ASPEK NON-TEKNIS

Venue yang baik adalah modal yang luar biasa berharga. Tapi jangan lupa, perhatikan juga hal-hal berikut:

1. Jangan sepelekan peran MC.

Dalam open mic, MC bukan hanya sekedar pembawa acara. MC dalam open mic bertanggungjawab untuk:
a. Menghangatkan suasana. Berarti, MC harus lumayan lucu.
b. Mengedukasi penonton. Beri penjelasan umum tentang apa itu open mic, agar mereka paham kenapa ada yang berani naik panggung meski belum lucu. MC harus menjaga agar ekspektasi penonton ada di titik terendah. Semakin tinggi ekspektasi penonton, semakin berat tugas comic.
c. Menjaga ritme acara. MC harus pandai mengatur urutan comic yang tampil, agar tidak ada kejadian dua atau lebih berturut-turut comic yang nge-bomb total. MC harus cekatan memodifikasi urutan comic yang tampil demi menjaga kenyamanan penonton.

2. Jaga stabilitas durasi.

Dari minggu ke minggu, sebaiknya durasi open mic tidak berubah-ubah secara drastis. Bila dalam suatu minggu comic yang hadir sedikit, ya sudah. Tapi bila membludak, sebaiknya tetap dibatasi. Open mic yang terlalu lama akan berpotensi merugikan comic yang mendapatkan urutan akhir, karena sebagian penonton sudah beranjak pulang.

3. Beri variasi.

Tidak ada salahnya juga apabila sesekali ada variasi dalam bentuk acara, misalkan ada selingan battle, improv, dan lain-lain. Tidak harus ada, tapi bila ada akan lumayan menyegarkan.

***

Demikian bagian pertama dari serial tulisan saya tentang pengembangan komunitas stand-up comedy lokal. Di bagian kedua nanti, saya akan mulai membahas event stand-up comedy yang bisa diselenggarakan oleh komunitas lokal. Semoga berguna πŸ™‚

[@ernestprakasa]

Life Is An Arena

Sometimes, it’s good to look down and be thankful for where you are. For how high you have climbed.

But that’s gotta stop soon. The longer you bask in pride, the further they leave you behind.

Stop. Look up. Pick the next spot.

You’ve beaten someone’s achievement, now pick someone else to beat.

Someone better, bigger, stronger.

Life is an arena. Your nearest idol is now your rival.

GO.

[@ernestprakasa]

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits – Post-Event Notes (Part 3 – End)

Screen Shot 2013-02-26 at 9.39.14 AM

10 Juli 2012. Saya menutup rangkaian Merem Melek Tour di Gedung Kesenian Jakarta.
Seharusnya, hari itu ada banyak bangga yang meluap. Tapi nyatanya, lebih banyak rasa kecewa.
Sebagai seorang comic, saya merasa penampilan saya malam itu jauh dari harapan. Ada banyak aspek teknis yang seharusnya bisa diperbaiki.
Meski banyak respon positif yang masuk, saya tetap bersikukuh bahwa malam itu, saya gagal.

Yang ada di benak saya waktu itu hanya satu: Balas dendam. Tepat sehari kemudian, 11 Juli 2012, saya langsung menghubungi pihak GKJ untuk booking gedung lagi, supaya saya bisa segera menebus kegagalan. Dan akhirnya saya menemukan tanggal yang cocok: 9 Februari 2013, tepat sehari sebelum Imlek.

Dan sejak itu, mata saya tertuju ke hari Sabtu 9 Februari 2013. Hari yang harus saya jadikan ajang pembuktian sekaligus penebusan.

Ada banyak yang terjadi antara #MMTJKT dan #GKJ9Feb. Seiring bertambahnya jam terbang (meski belum seberapa), saya semakin mengenal karakter saya sebagai comic. Dulu, saya masih mencari-cari persona, tapi sekarang sepertinya saya mulai bisa mendefinisikan seperti apa stand-up comedy seorang Ernest Prakasa:

1. Santai

Sebagai penonton, saya selalu menikmati penampilan penuh energi & emosi ala Chris Rock. Tapi sebagai comic, saya tidak nyaman melakukan itu. Daripada autoritatif, saya lebih suka tampil persuasif. Daripada preachy & “mencerahkan”, saya lebih suka “mengajak ngobrol”. Menurut saya ini bukan perkara teknik mana yang lebih baik, tapi murni preferensi pribadi. Itulah kenapa saya bahagia membaca beberapa review (link-nya ada di bagian akhir blog post ini) yang secara spesifik mengatakan bahwa penampilan saya itu santai, seperti sedang mengobrol dengan teman. Saya merasa sudah lumayan bisa melemparkan punch tanpa harus selalu ngotot & menarik urat; sesuatu yang selalu saya kagumi dari idola saya, Ellen Degeneres. Paling tidak, saya sudah berusaha mengasah gaya delivery saya, dan hal itu dirasakan langsung oleh penonton.

2. Inner-Self Oriented

Dalam stand-up comedy, istilah “inner-self” mengacu pada teori yang dipopulerkan oleh Judy Carter, tentang sumber materi yang berasal dari dalam diri sendiri, baik itu keresahan, trauma, pengalaman, dan lain-lain. Semakin hari, saya merasa semakin nyaman untuk membahas hal-hal yang dekat dengan saya, dan semakin enggan untuk mengobservasi hal-hal umum yang tidak bersinggungan langsung dengan hidup saya sehari-hari. Itulah kenapa di #GKJ9Feb – selain materi soal Cina tentunya – saya banyak bercerita soal pengalaman saya waktu SD, soal anak saya Sky yang sudah mau masuk TK, bahkan soal babysitter saya, Umi.

3. Politically Correct

Saya rasa, lahir sebagai etnis minoritas telah membentuk saya menjadi pribadi yang non-konfrontatif. Saya cenderung menghindari perselisihan. Dan hal ini yang tidak bisa saya ingkari dari pilihan topik yang saya bawakan. Paling tidak untuk saat ini. Saya merasa tidak nyaman untuk membahas hal-hal yang kontroversial, ataupun secara agresif menghakimi pihak tertentu. Dan saya sadar, ciri ini telah mengarahkan saya untuk bermain di jalur “pop” yang relatif terkesan mainstream. Lebih sering membahas hal yang ringan-ringan. Tapi tentu, ini sah-sah saja. Karena saya percaya berkarya itu bukan soal ingin tampil “indie” atau sok keren, tapi soal jujur pada diri sendiri.

Tapi tentu, mengenal diri sendiri saja tidak cukup. Ada satu blunder krusial saya di #MMTJKT yang wajib saya perbaiki: KURANG LATIHAN.

Waktu mempersiapkan #MMTJKT, saya terlalu asyik writing dan rewriting, berusaha menajamkan bit-bit yang saya bawa selama Merem Melek Tour di 10 kota, sambil menulis bit-bit baru yang memang disiapkan khusus untuk #MMTJKT. Dan ternyata, menulis materi itu mengasyikkan. Saking asyiknya, saya sampai lupa untuk membuat deadline kapan harus berhenti menulis, mengunci bit saya, lalu mulai melatihnya dengan total.

Di #GKJ9Feb, saya bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Deadline saya jelas: H-7, saya sudah tidak boleh lagi fokus di rewriting. Waktunya latihan, latihan, dan latihan. Dan berkat ini, saya bisa menjejakkan kaki dengan percaya diri di panggung GKJ, dua pertunjukan dalam sehari.

Berikut adalah beberapa blog post dari para penonton #GKJ9Feb:
“Ketawa Sampe Nangis Di #GKJ9Feb Ernest Prakasa & The Oriental Bandits” by Regy Kurniawan (@regycleva)
“Apa Yang Gue Bawa Sepulang Dari #GKJ9Feb” by Roy Saputra (@saputraroy)
“First Time Watching Stand-Up Live” by Fiyana (@pipinbush)
“2 Hours Of Laughters” by Syahda Ahyar (@syahda35)
“Review Ernest Prakasa & The Oriental Bandits” by Stephany Josephine (@teppy87)
“Bertumbuh, Berasimilasi Seperti Ernest Prakasa” by Astro Doni
“Ernest Prakasa & The Oriental Bandits #GKJ9Feb” by Santi Fang (@santifang)

Secara pribadi, apakah saya puas dengan #GKJ9Feb? Sangat. Saya merasa senang karena:
1. Saya telah menebus dosa saya di #MMTJKT. Banyak kekurangan teknis yang telah saya perbaiki.
2. Saya telah semakin mengenal diri saya sendiri sebagai seorang comic, dan penonton pun merasakan itu.
3. Saya hampir meng-sold-out-kan 2 kali pertunjukan. Sayang sekali sore itu hujan deras dan banjir menerpa, sehingga show kedua tidak 100% penuh. Still, I’m more than grateful.

Saya bahagia, karena kerja keras saya berbuah manis. Tapi ya sudah. Saya sudah harus kembali menatap jauh ke depan. Time to raise the bar and beat myself. Again.

[@ernestprakasa]

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits – Post-Event Notes (Part 2)

Di bagian kedua ini, gue akan coba nge-review para comic pembuka alias opener.
Sekedar informasi, urutan opener di show 1 & 2 itu berbeda. Urutan di show 1 (14:00) adalah Dwika, Alonk, Lian, Barry. Di show 2 (19:00), kebalikannya: Barry, Lian, Alonk, Dwika.

So, here they are:

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

1. Dwika Putra (@dwikaputra)

Secara jam terbang di arena open mic, Dwika adalah yang paling “senior” diantara empat opener #GKJ9Feb. Itulah kenapa gue percayakan pada Dwika untuk mengemban sebuah tugas berat, yakni menjadi comic pembuka di show pertama. Tapi sesuai prediksi gue, Dwika bisa menjalaninya dengan baik. Sangat baik, malah. Hanya terasa shaky di detik-detik awal, lalu melaju dengan lancar. Dan sebagai pembuka, Dwika directly set the tone for the whole show. Bahwa kita akan membahas soal orang Cina & segala kecinaannya, dengan cara yang belum pernah anda saksikan sebelumnya.

Best bit: “Cina itu bukan ras. Cina itu gaya hidup!”

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

2. Vania “Alonk” Margonoharto (@alonkii)

Kebalikan dari Dwika, Alonk adalah yang paling “junior” diantara para penampil. Tapi sejak awal, saya yakin bahwa Alonk bisa memberikan warna tersendiri, dan itu terbukti di atas panggung. Dengan logat Cina Jakarta yang kental, Alonk membahas isu-isu yang dekat dengan kehidupan anak muda. Melihat penampilan Alonk yang cukup solid di panggung megah GKJ, rasanya agak sulit percaya bahwa ia baru lima kali naik ke panggung open mic. Salute!

Best bit: “LDR itu bukan Long Distance Relationship. Tapi Lu Doang Relationship. Cuma elu doang yang berasa pacaran, dianya kaga!”

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

3. Yullianto “Lian” Lin (@LiantLin)

Menurut saya, Lian ini adalah salah satu bakat menjanjikan di jagad stand-up tanah air. Observasinya menggelitik, dan delivery-nya benar-benar kocak. Cempreng & nyolot, tapi malah bikin lucu. Dengan jam terbang yang relatif masih sedikit, Lian sudah tampak cukup matang. Saya tidak sabar menantikan Lian terus bertumbuh & menjadi salah satu comic (Cina) yang mumpuni.

Best bit: “Orang suka bilang ‘Heh Cina, sana pulang aja ke negara lu!’. Nah masalahnya, di Indonesia kita jadi minoritas, tapi kalo ke Cina, kita pun tetep jadi minoritas. Kenapa? Karna kita ga bisa bahasa Cina!”

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

4. Barry Williem (@jekibarr)

Sepengetahuan saya, Barry adalah comic yang paling banyak dibicarakan hari itu. Mungkin orang terkaget-kaget melihat comic dengan casing Cina tapi audio yang 100% Betawi pinggiran. Medok pula. Tapi tentu bukan hanya itu yang membuat Barry stand-out. Bit-bitnya soal Kampus BSI yang memang sudah ia asah sejak cukup lama, sukses menebas penonton. Secara persona, Barry memang salah satu yang paling “jadi”. Dan untuk ini, sepertinya Barry cukup berhutang budi pada almamater yang senantiasa ia cela tersebut.

Best Bit: “Gue kuliah di kampus saingan UI: BSI. Kenapa gue bilang saingan UI? Karena UI itu luas banget kampusnya. BSI juga. Tapi nyebar.”

Itu dia keempat opener di #GKJ9Feb.
As soon as I can, I will follow up this post with Part 3, which is my review on my own performance. πŸ™‚

[@ernestprakasa]

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits – Post-Event Notes (Part 1)

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

I will write about #GKJ9Feb in three separate posts. The first one is the credit title. I want the world to know, that I owe:

JESUS CHRIST ALMIGHTY. Nuff said.

My wife Meira Anastasia. My catalyst. My ever-so-dependable wing(wo)man. My loyal partner for the last 11 years.

My daughter Sky Tierra Solana. My 1/3.

My mom, dad, & sister: Wahyudi Hidayat, Jennie Lim, & Audrey Jiwajennie.

My manager Dipa Andika. The ice to my fire. The one who’s responsible in making sure that everything is taken care of, so that I can focus on my performance. Without him, my head will be torn apart.

My personal assistant Fauzan Taufik. The one who gets everything done & rarely dissapoints.

My babysitter Sulis “Umi” Sumartini, who inspired a 10-mins of hard-rockin’ materials.

My openers: Dwika Putra, Barry Williem, Vania “Alonk” Margonoharto, Yullianto “Lian” Lin. I will write more about them on the next post.

Our main partner, Multiply: Vina Gondosaputro, Mario Fajar, Reginald Suriasubrata, Cicillia Veti Irnawati, Edi Saputra, and the whole team.

Our broadcasting partner, Metro TV: Lanny Bergmann, Agus Mulyadi, and the whole team.

Our event partner: Holycow Radal, CupCakes & Co, Papa Rons Pizza, Coca-Cola Amatil, Beritagar.

#GKJ9Feb event management team:
– Sessa Xuanthi, the rock-solid commander in chief.
– Triantono Adiputro, ever-so-reliable the head of production.
– Production team: Haris Kristyanto, Yogi Trisno Purnama, Dimas Yudhistira, Mardi.
– Show management team: Wahyu Hidayat, Maria Ulfa, Frita Oktaviyani, Febrian.
– Ticketing & usher team: Frans Kertanegara, Melya Puspita, Christian Febriano Romlin, William Piet, Claudie Faustine, Varian Adi Putra, Dionisius Silvester Ferdi, Mario Aditya.
– Merchandise coordinator: Christian Dwi Saputra.

Cone Camera’s awesome photo & video team: Okky Prasetyo, Gusti Satriyo, Bapuk, Gogo Agogo, Ersta Satrya, Danis Pamuka, Dimas Oetomo, Rosyid Akbar.

My comic inspiration:
– Pandji Pragiwaksono, who set an example on how to be a good entertainer.
– Isman H. Suryaman, who taught me to prioritize honesty in writing my materials.
– Muhadkly “Acho”, who showed me that you don’t have to always talk about serious stuff to be a great comic.
– Genrifinadi “Ge” Pamungkas, who gave me an example on how to act it all-out.
– Kevin Hart, who proved that if mastered well, story-telling is a powerful, powerful tool. I owe my closing bit to him.
– Ellen Degeneres, who inspired me every single step of the way. Who instilled self-belief in my style of performance.

And last but most definitely not least, to all that came to see the show. None of this matters without your support. I’m humbled with gratitude πŸ™‚

THANK YOU.

[@ernestprakasa]

4 Alasan Kenapa Nonton Stand-Up Comedy LIVE Lebih Seru Daripada Di TV

Pertama-tama, tujuan saya menulis ini, bukan untuk membela diri dari tudingan garing atau nggak lucu oleh para penonton yang menyaksikan melalui layar kaca. I didn’t write this for the haters, coz they barely deserve my single tweet, let alone a full blog post.

Tulisan ini ditujukan untuk orang-orang yang berminat untuk menikmati stand-up comedy secara penuh, bukan setengah-setengah. Dan sudah jelas, menonton stand-up comedy secara live akan memberikan pengalaman yang jauh lebih mengesankan dibandingkan dengan menonton melalui TV. Kenapa? Berikut empat alasannya:

1. Sensor

TV adalah media massa yang terikat oleh kode etik & undang-undang. Ada banyak batasan, dan tentunya ini bisa dipahami. Konsekuensinya, ada belenggu yang kuat bagi idealisme seorang comic, manakala ia harus patuh pada batasan-batasan ini. Bayangkan seorang vokalis grind-core yang dibatasi volume growling-nya, tidak boleh terlalu keras. Atau lebih sederhananya, bayangkan seorang penyanyi dangdut yang dilarang bergoyang erotis. Kurang lebih seperti itu analoginya. Ada pernik seni yang terpenggal, kreativitas yang terkekang.

2. Emotional Investment.

Menurut Jay Sankey, “emotional investment is the fuel to laughter”. Bila tawa adalah kobaran api, maka agar bisa menyala, butuh bahan bakar. Pada prakteknya, untuk bisa tertawa pada saat punchline dilempar, maka penonton perlu memberikan investasi emosi yang cukup kepada set-up yang disusun. Karena sejatinya, set-up itu bukan hanya perlu didengar, tapi juga harus dimengerti. Ada perbedaan kesiapan mental antara menonton stand-up comedy di TV & secara live. Dan baik disengaja ataupun tidak, menonton stand-up comedy melalui TV akan mengurangi emotional investment karena selain TV, bisa ada hal-hal lain yang menyita perhatian kita. Mulai dari suara kripik yang anda kunyah, hingga tukang siomay yang lewat di depan rumah. Hal-hal yang sepertinya remeh ini, bisa mengakibatkan terdistorsinya pemahaman akan konteks joke secara keseluruhan, dan pada akhirnya, mengurangi kemungkinan terpancingnya tawa.

3. Physical Investment

Menurut saya, selain teori emotional investment Jay Sunkay diatas, sejatinya penonton yang menyaksikan langsung juga secara sadar maupun tidak telah melakukan physical investment. Menonton di TV tidak menuntut physical investment. Tinggal duduk/tiduran, leha-leha, sambil ngemil. Bebas. Sebaliknya, menonton stand-up comedy secara live, berarti anda mau pergi meninggalkan rumah untuk datang ke tempat acara, lalu duduk bersama para penonton lainnya. Semua yang duduk disana sudah meluangkan waktu, tenaga, serta biaya. Dan secara fisik pula, panca indera kita akan mampu untuk lebih fokus. Siap untuk menyimak, siap untuk tertawa.

4. Ambience.

Bila anda pernah menonton konser, pasti paham maksud saya ini. Betapa canggih pun kualitas video maupun audio dari penampilan musisi di layar kaca, tentu tidak bisa menggantikan perasaan yang muncul ketika hadir secara langsung di dalam arena pertunjukan. Menikmati suasana bersama puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan orang lainnya, merasakan pengalaman yang bukan hanya bisa dinikmati oleh mata & telinga, tapi lengkap dengan merindingnya bulu kuduk. Dan jangan lupa, faktanya adalah bahwa seperti halnya menguap, tertawa itu menular. Ini yang tidak bisa dinikmati dengan cara duduk di depan TV. Terjangkit gelombang tawa yang menyapu seisi ruangan.

Yah, kira-kira begitulah. Jadi, bila sampai sekarang anda belum pernah menonton stand-up comedy secara live, saran saya, segera coba, at least once. You’ll see what I’m talking about. Derai tawa yang membahana itu candu, kawan. πŸ™‚

[@ernestprakasa]

Menabung Itu…

…hanya bisa dilakukan di awal bulan.

Iya, saya hanya ingin menekankan itu saja.

Karena “Gue akan irit trus nanti sisa duitnya gue tabung” itu hanya MITOS.

Karena begitu terima gaji, yg dominan bukanlah hasrat menabung, melainkan kalimat “Gue udah cape kerja sebulan ini, sekarang saatnya gue nikmatin hasil kerja gue!,” lalu berangkat ke mall.

Jadi, kalo memang berniat menabung, sisihkan di awal, saat uang baru diterima.

Karena bila tidak, niat menabung hanya akan seperti melakukan threesome dengan Kardashian bersaudara – atau untuk perempuan – Hemsworth bersaudara. Sering dibayangkan, tapi tidak pernah jadi kenyataan.

[@ernestprakasa]

Safety Net

Salah satu atraksi tradisional paling menarik dan wajib ada dalam pertunjukan sirkus adalah trapeze, yakni akrobat dimana satu orang atau lebih bergelantungan dan berpindah dari satu tali gantungan ke tali gantungan yang lain, sambil melakukan berbagai manuver yang mengundang decak kagum. Kesemuanya ini, dilakukan pada ketinggian yang ekstrim, sehingga jatuh akan berakibat fatal bagi para pelakunya.

Trapeze diciptakan oleh seorang Perancis bernama Jules Leotard pada tahun 1859. Awalnya, ia menggunakan matras sebagai pengaman. Otomatis, tinggi trapeze pun belum seperti sekarang, karena kemampuan kasur sebagai alas pengaman sangat terbatas. Namun seiring perkembangan waktu, sirkus-sirkus mulai menggunakan jaring pengaman alias safety net. Dan inovasi penggunaan safety net inilah yang memungkinkan atraksi trapeze untuk dilakukan dengan ketinggian yang semakin menjulang.

***

Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima berkaitan dengan karir saya sebagai comic:

“Koq berani sih terjun full-time ke stand-up comedy yang waktu itu baru muncul & belum jelas masa depannya?”

Memang, keputusan saya terkesan nekat. Apalagi pada waktu saya resign dari kantor tersebut (Agustus 2011), saya notabene merupakan seorang suami dan ayah dari satu anak balita, artinya bukan hanya bertanggungjawab terhadap diri sendiri, tapi juga anak sendiri, dan anak orang (istri saya). Tapi sebenarnya, keputusan saya tadi tidak nekat, melainkan penuh kalkulasi. Saya akan jelaskan maksudnya.

Tapi sebelumnya, saya ingin ceritakan alasan kenapa saya ingin berbagi soal hal ini. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, muncul berbagai gerakan yang menyemangati orang-orang untuk hidup sesuai passion. Untuk mengerjakan apa yang kita cintai & membuat kita bahagia, bukan sekedar mencari gaji belaka. Konon dengan menjalani hidup yang seperti ini, kita akan memiliki kepuasan batin yang nilainya tidak terbeli dengan uang.

Apakah benar? Berdasarkan pengalaman saya, iya. Tapi, menurut saya, hal ini tidak mudah diterapkan. Setiap orang punya kondisi, ekspektasi, dan nyali yang berbeda-beda. Justru salah satu tujuan saya menulis post ini adalah untuk menunjukkan, bahwa untuk “banting stir” dan meninggalkan comfort zone demi mengejar passion, saya butuh sebuah modal besar. Modal yang saya ibaratkan sebagai safety net dalam permainan trapeze, untuk menjaga seandainya “lompatan” saya gagal dan saya terjatuh.

Safety net saya pada waktu itu ada dua. Yang pertama tentunya tabungan. Saya sudah hitung, seandainya gaji bulanan saya hilang, minimal kami sekeluarga tidak akan kelaparan selama tiga bulan kedepan. Tentunya, angka rupiahnya akan berbeda-beda untuk tiap orang.

Tapi safety net yang pertama tadi tidak akan membuat saya berani untuk naik ke tangga trapeze yang tinggi, seandainya saya tidak punya safety net yang kedua, yakni pengalaman kerja. Saat kuliah, saya bekerja di salah satu radio anak muda di Bandung. Setelah lulus, saya melanjutkan siaran di salah satu radio anak muda di Jakarta. Total, saya punya pengalaman lima tahun siaran plus satu tahun menjadi Music Director.

Pekerjaan sebagai Music Director di radio tadi pula yang mengantarkan saya untuk bekerja di industri musik. Sejak bulan Mei 2005, saya berkantor di salah satu major label internasional di Jakarta. Di Agustus 2011, berarti saya sudah punya pengalaman enam tahun lebih bekerja di industri rekaman, dan secara keseluruhan, saya sudah sebelas tahun berkecimpung di industri musik. Ini safety net saya. Saya sudah punya portfolio yang cukup. Saya berani “melompat” dengan pemikiran:

“Yaudah lah, kalo stand-up comedy ternyata gagal, gue bisa keliling bawa CV. Masa iya kaga ada yang mau nampung.”

Begitulah kira-kira.

Kesimpulannya? Hidup sesuai passion itu adalah kebahagiaan, sekeping surga. Namun untuk sampai kesana, butuh proses yang tidak mudah dan mungkin berbeda-beda untuk masing-masing orang.

Jangan lupa, sama halnya dengan permainan trapeze modern, yang berani melompat tinggi tanpa safety net pun ada. Tapi, lagi-lagi, sama seperti trapeze: jatuh akan mengakibatkan semuanya GAME OVER.

[@ernestprakasa]

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits (#GKJ9Feb)

Tanggal 10 Juli 2012 adalah salah satu momen terindah dalam hidup saya. Di Gedung Kesenian Jakarta, #MMTJKT alias Merem Melek Tour Jakarta, penutup dari rangkaian Merem Melek Tour, sebuah stand-up comedy tour yang tercatat sebagai yang pertama kali diadakan di Indonesia.

Saya tidak menyangka tiket malam itu akan sold-out, dan saya tidak berharap mendapatkan full-house standing ovation. Tapi kedua hal tersebut benar-benar terjadi, dan saya sungguh bersyukur. Saya anggap itu cherry on top dari perjuangan panjang yang melelahkan. Momen-momen terbaik di hari itu dirangkum dalam video 1,5 menit ini.

Tanggal 9 Februari 2013, saya akan mengadakan stand-up special saya yang kedua kalinya di Jakarta. Tanggal yang sangat spesial, karena itu adalah satu hari sebelum Imlek. Sudah tentu, saya akan banyak membahas soal being a chinese in Indonesia. Judulnya adalah “Ernest Prakasa & The Oriental Bandits”, atau yang akan disingkat dengan hashtag #GKJ9Feb.

Ada banyak hal yang akan saya bahas disini, dan sebagian besar menyangkut hidup saya sendiri. Tentang pengalaman saya jadi minoritas selama di SMP, dan sebaliknya, menjadi mayoritas ketika SMA di daerah Kota. Tentang keresahan saya menjadi anak, suami, dan ayah. Dan tentu, tentang isu-isu sosial yang menurut saya perlu untuk dibahas, dan kadang, diolok-olok.

[photo & design by @okkyprasetyo]

[photo & design by @okkyprasetyo]

Saya bukan satu-satunya orang bermata sipit yang akan muncul di panggung megah GKJ. Akan ada empat orang opener yang juga memiliki ukuran mata minimalis dan berbagi garis etnis dengan saya, yakni: Barry Williem (@jekibarr), Yullianto Lin (@LiantLin), Dwika Putra (@dwikaputra), dan Alonk (@alonkii). Masing-masing dari mereka akan tampil selama 15 menit, lalu saya akan tampil selama satu jam penuh.

Akan ada dua pertunjukan di hari itu, dan mengingat sebagian teman-teman harus berkumpul bersama keluarga di malam sebelum Imlek, maka show pertama akan digelar siang hari, yakni 14:00 – 16:30. Show kedua akan diadakan jam 19:00 – 21:30. Berikut harga tiket beserta denah tempat duduk GKJ:

Tiket akan mulai dijual hari Sabtu 12 Januari jam 12 siang di ernestprakasa.multiply.com. Ada promo buy 3 get 1 free selama satu minggu pertama.

Hope to see you there guys! πŸ™‚

[@ernestprakasa]

I’m A Boring Guy

Saya ini orangnya membosankan. Terlalu teratur.

Kadang saya iri sama teman-teman yang hidupnya penuh hal-hal spontan. Seru aja gitu. Kayak dateng ke airport tanpa tau mau kemana, asal beli tiket, trus berangkat. Saya ga pernah tertarik untuk melakukan hal-hal kayak gitu.

Tapi ya mau gimana lagi. Saya tidak nyaman dengan ketidakteraturan. Saya terlalu cinta ritual.

Bangun pagi, ngopi kapal api special mix panas, sambil baca timeline. Kalo ini keganggu, pasti uring-uringan.

Malem sebelum tidur ya minimal empat jam duduk di karpet pake meja lipet, trus ngerjain macem-macem. Kalo ini ga kejadian, pasti kesel.

Kalo mau tidur di perjalanan, ya earphone yang nyumbat kuping harus muterin Kings Of Convenience. Kalo dikasih album lain, pasti susah pules.

Kayaknya satu-satunya hal dimana saya masih lumayan adventurous itu hanya, ehem, urusan “pribadi” dengan istri. Untuk yang satu itu, saya masih mau mencoba hal-hal baru. Satu, tapi justru yang paling krusial, ya ga? Hehehe.. πŸ˜€

[@ernestprakasa]

Lima Komika Paling Melesat Di 2012

Tahun 2012 menjadi tahun yang amat sangat luar biasa bagi stand-up comedy di Indonesia. Ada begitu banyak special event, tur, hingga berbagai program regional komunitas lokal yang patut diacungi jempol.

Di tahun 2012 ini pula, beberapa nama baru yang di 2011 belum diperhitungkan – atau belum pernah terdengar sama sekali – mendadak muncul ke permukaan kancar stand-up comedy nasional. Nama-nama yang sepertinya akan menjadi semakin cemerlang di 2013.

Berdasarkan urutan abjad, inilah 5 rising stars stand-up comedy Indonesia 2012 versi saya:

1. Adriano Qalbi / @adrianoqalbi

Sebenarnya, Adriano Qalbi mulai menjajal panggung open mic sejak awal-awal heboh stand-up comedy di akhir 2011 silam. Tapi sepanjang 2012, pria yang sebelumnya berprofesi sebagai copywriter di advertising agency ini bertransformasi kilat dari “just one of the open mic participants”, menjadi “indonesia’s comic’s comic”, alias komika yang menjadi panutan bagi banyak komika lain.

Pengalamannya sebagai copywriter terbukti membekalinya dengan ketajaman menulis yang mengundang rasa iri dari komika manapun. Dengan kemampuannya menemukan, mengolah, dan menyampaikan premis yang ciamik, Adri secara tidak resmi pun ditahbiskan sebagai Chris Rock-nya Indonesia. Adri menutup 2012 dengan dua catatan penting: Menjadi pembuka stand-up special Pandji Pragiwaksono “INDONESIA:”, serta mengambil alih tongkat estafet dari Pandji untuk salah satu program paling berpengaruh di Hard Rock FM – bahkan mungkin di radio manapun di Indonesia – Provocative Proactive.

2. Bintang Timur / @bintangbete

Sebagai seni, stand-up comedy juga tidak luput dari faktor bakat. Dan bagi beberapa komika tertentu seperti Soleh Solihun dan Mongol Stres, bakat yang begitu besar membantu mereka untuk bersinar tanpa bekal teknik dasar sekalipun. Komika yang satu ini, masuk ke kategori barusan. Bagi Bintang, mengalirkan punchline demi punchline tampak begitu mudah. Effortless. Gayanya yang slengean dan ignorant bisa dengan mudah diterima penonton karena tampak begitu alami. Tidak dibuat-buat. Dan entah disengaja atau tidak, Bintang menggunakan persona tadi untuk menyampaikan materi-materi yang memang cocok dengan penampakannya di mata penonton.

Terbukti, pertengahan 2012 lalu komika Bekasi ini sukses menggondol Juara 1 di ajang bergengsi #StreetComedy2, sebuah gelaran rutin @StandUpIndo yang diikuti oleh banyak komika-komika handal. Dalam perkembangan stand-up comedy di dalam negeri, masih sangat sedikit komika Indonesia yang memiliki daya penetrasi ke berbagai lapisan masyarakat. Dan Bintang, adalah salah satu dari komika-komika istimewa tersebut.

3. Ge Pamungkas / @GePamungkas

Mengikuti jejak Ryan Adriandhy yang menjuarai SUCI Kompas TV Season 1, Ge Pamungkas juga menunjukkan dominasinya sejak awal Season 2. Sebagai peserta yang tampak paling kokoh sepanjang kompetisi, banyak yang memprediksi bahwa Ge akan muncul sebagai juara. Dan hari itu di malam final, Ge membuktikan ramalan tersebut dengan penampilan yang memukau Indonesia.

Salah satu faktor yang membuat komika didikan komunitas @StandUpIndoBDG ini mudah dikenali adalah gaya penyampaian materinya yang unik. Totalitasnya dalam melakukan ekspresi wajah dan gestur tubuh kerap mengundang decak kagum, baik dari penonton maupun dari rekan sejawat. Ditambah dengan semangat belajar dan kerja keras yang mengalir deras, Ge berhasil menorehkan namanya di hati para penikmat stand-up comedy sepanjang tahun yang silam.

4. Jui Purwoto / @juijuijuijui

Jui. Nama ini bisa dibilang adalah komika yang “menjajah” berbagai program stand-up comedy di Metro TV sepanjang tahun 2012. Kemunculannya semakin hari semakin dinanti, terutama di paruh kedua tahun 2012. Semoga ini berarti, penampilan Jui memang membawa berkah bagi rating Metro TV. πŸ™‚

Menurut saya, wajar bila Jui jadi idola baru layar kaca. Format penayangan stand-up comedy di televisi sangat menuntut kesederhanaan materi dan kepadatan titik tawa, dua hal yang dikuasai dengan baik oleh komika asal Bogor ini. Sebagian besar dari kita pasti punya temen yang paling ngocol, yang setiap lagi nongkrong selalu bisa bikin yang lain tertawa. Jui, adalah orang itu, dalam versi yang (seringkali) lebih lucu.

5. Kemal Palevi / @kemalpalevi

Banyak yang setuju bahwa tahun 2012 adalah tahunnya Kemal. Gagal melaju ke grand final SUCI Kompas TV Season 2, Kemal justru unjuk gigi lewat #AbsurdTour, tur stand-up comedy yang melintasi Pulau Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Persona panggungnya yang tulus dan candid membantu Kemal mendekatkan diri dengan fansnya, yang menamakan diri mereka Kemalicious.

Dan kebintangan Kemal memang istimewa. Saya menyaksikan sendiri bagaimana para Kemalicious menyambut idolanya dengan jerit histeria, seolah itu adalah sosok Justin Beiber yang hadir di hadapan mereka. Dan mungkin saat ini, hanya Kemal yang memiliki kekuatan seperti itu. Kemal Palevi telah membuktikan bahwa komika bisa menjadi idola remaja, dan ini, adalah kontribusi yang manis bagi perkembangan stand-up comedy di Indonesia.

[@ernestprakasa]

Dua Ribu Tiga Belas

Ah, sudah 2013.

Dalam waktu beberapa minggu lagi, saya akan genap berusia 31 tahun. Tidak semengerikan tahun lalu, dimana saya resmi berkepala tiga dan merelakan era 20-an saya digilas waktu.

Saya masi ingat betul di tanggal 6 Januari 2012 lalu, saya menyambut 2012 dengan sebuah cita-cita: Bisa mengadakan sebuah tur stand-up comedy. Pada saat itu, belum ada komika di Indonesia yang mengadakan tur. Dan ternyata, kesampaian. Magic. Well, ga magic-magic amat sih. Ada banyak keringat, air mata, dan tentunya uang tabungan yang saya habiskan disana. Tapi semuanya sepadan. Lebih, malah. πŸ™‚

Memasuki 2013, saya ingin menyatakan kembali cita-cita saya di blog ini. Semoga, tercapai lagi.

Saya berharap agar di 2013:

1. Saya bersama teman2 @StandUpIndo bisa mewujudkan festival akbar yang telah lama kami cita-citakan, berbarengan dengan ultah kami yang ke-2 di bulan Juli ini.

2. Saya bisa merapihkan jam tidur. Udah hampir setahun terakhir tidurnya berantakan, merem subuh, melek siang. Ga beres! *_*

3. Lastly, ini yang terdengar simple tapi pada prakteknya susah minta ampun. Saya harus bisa membuat minimal empat blog post per bulan. Saya tau, kuantitas tidak lebih penting dari kualitas. Tapi untuk yang satu ini, rasanya mendisiplinkan diri dengan kuantitas adalah hal yang tidak bisa ditawar. Napsu? Bodo amat! Harus bisa!

The year 2012 has taught me that dreams do come true. So this year, let’s dream HARDER! πŸ™‚

[@ernestprakasa]

Misplaced Sympathy

Beberapa hari yang lalu, saya sedang membeli mangga di abang-abang yang jualan mangga keliling komplek dengan menggunakan gerobak. Terjadilah dialog ini:

Saya: Berapaan bang?
Tukang mangga: Sekilonya sepuluh ribu mas.
Saya: Oke, beli tiga kilo ya.

Kemudian, datang seorang ibu-ibu. Dan dari pakaian plus kalung emasnya, ibu ini rasanya bukan orang miskin. Si ibu lalu bertanya:

Ibu: Berapaan bang?
Tukang mangga: Sekilo sepuluh ribu aja bu.
Ibu: Ah, mahal amat. Delapan ya?
Tukang mangga: Mmmm..nggak bisa bu, udah harga pas..
Ibu: Masa ga bisa kurang sih. Sembilan deh?
Tukang mangga: Maaf bu nggak bisa..

Dalam hati, ingin rasanya saya menghardik si ibu: “Bu, gue traktir aja sekalian mau ga? Mau berapa kilo?”. Geregetan rasanya.

Saya jadi mikir, kayaknya ada yang aneh dengan mindset kebanyakan orang di negeri ini. Kita cenderung mudah iba pada pengemis di lampu merah, tapi rajin menawar pedagang kecil. Ada yang salah, menurut saya. Coba kita renungkan perjuangan pengemis. Apa dia keluar modal? Tidak, dia tidak perlu membeli barang untuk dijual lagi. Apa dia lebih lelah? Jelas tidak, dia hanya cukup mondar-mandir di satu tempat.

Sementara pedagang seperti halnya si abang tukang mangga? Dia keluar modal, artinya bisa saja rugi. Dia harus keliling menjajakan dagangannya, artinya dia pasti menghabiskan banyak tenaga. Apalagi di tengah panasnya Jakarta yang luar biasa ini. Jakarta itu sangat panas, ibarat melihat mantan pacar tiba-tiba nikah sama orang yang dari dulu udah kita curigain sebagai selingkuhan tapi selalu dibilang “cuma teman”. PANAS.

Jadi menurut saya, mari kita bersimpati pada para pedagang, apalagi pedagang keliling. Mereka bekerja teramat keras. Tidak ada salahnya membeli tanpa menawar. Beberapa ribu rupiah bagi kita mungkin tidak lebih dari sekedar recehan. Tapi bagi mereka, itu bisa jadi secercah senyuman.

[@ernestprakasa]

#MeremMelekTour – The Credit Title

Merem Melek Tour is nothing but a mere wish if it weren’t for these people. Here’s my thank you list.

First and foremost, my pal Jesus Christ. Thanks dude, you’re the best!

My wife Meira Anastasia. Thanks for being a solid partner in everything I do. I’m truly blessed.

My manager Dipa Andika, who worked almost as hard as I did, every step of the way. Thanks bro.

My man behind the lens, Pio Kharisma. Without him, #MMT wouldn’t have so many stories to share.

My opener in 11 cities, Ge Pamungkas. A brilliant talent whom i learned a lot from.

The local communities and their coordinators. @StandUpIndo_BDG (Nita Sellya & Sanny Durant), @StandUpIndoSMG (Gondrong), @StandUpSOLO (Allan Bona), Eko Julianto & @StandUpIndoBALI (Cok Jayanthi & Kalpika Sari), @StandUpIndo_MLG (Yoel Yaspier), @StandUpIndo_SBY (Angga Prameswara), @StandUpIndoMKSR (Aldy Permana), @StandUpSMD (Setiawan Yogy), @StandUpPLK (Arie Sadewo). You made this happen.

Coffee Toffe Indonesia who sponsored 6th to 10th city. To Mika Affandy thanks for trusting me, I hope you guys enjoyed it as much as I did. To Rachman Maulana, thanks for your hard work. I’m honored.

My guest comics & dear friends: Ence Bagus (Bandung & Surabaya), Asep Suaji (Semarang & Solo), Luqman Baehaqi (Makassar & Kendari), Rindra Dana (Samarinda & Palangkaraya), Adriano Qalbi (Denpasar), Muhadkly Acho (Malang), Reggy Hasibuan (Malang), & Insan Nur Akbar (Surabaya). Thanks for sharing the stage, comrades!

All the cool local comics that opened the show: Gianluigi CH & Sanny Durant (Bandung), Adi Siswowidjono & Hana Medina (Semarang), Hernawan Yoga & Derry Poerba (Solo), Maha Nanda & Rizki Akbar (Denpasar), Fito MD & Arie Kriting (Malang), Topenk & Arief Alfiansyah (Surabaya), Hidayat Rizal & Prayudha Said (Makassar), Ipank (Kendari), Setiawan Yogy & Achmad Rizky (Samarinda), Arie Sadewo & Anggri Lukman (Palangkaraya). Thanks for your support.

Lastly, for #MMTJKT. Special thanks for the super vigilant team:

Project Director: Sessa Xuanthi
Tour Manager: Dipa Andika
Promoter: Hannindiah Wisito & Abdul Ghofur (Delima Production)
Head of Production: Anton Triantono
Show Director: Didit Hidayat
Photographer: Pio Kharisma
Media Relations: Jaqueline Susanto & Dhani Indranila
Talent Coordinator: Frita Oktaviyanti
Ticketing Team: Andi “Awwe” Wijaya, Budisetianto Utomoputro, Gina Mahardika, Setiawan Yogy, Fauzan Taufik
Floor, stage, & foyer team: Cherish Putra, Yogie Purnama, Heri Hertanto, Sari Maria Ulfa, Rizka Kristalia, Aulia, Ferdi, Trin Septiwati, Sherly Nurmiyana, Poppy
Logistics: Mardi & Pi’i

My friends that shared the stage: Raditya Dika, Sakdiyah Ma’ruf, Jessica Farolan, Ge Pamungkas, Soleh Solihun.

Kompas TV, for taking my show on air. Johanna DK & her super team!

Uber thanks for XL as my sponsor. Hotrod 3G+ FTW!

Thank you CupCakes & Co, HolyCow Radal, Papa Rons Pizza, Tee Store, Coffee Toffee, Amidis.

My official ticketing partner Multiply Indonesia, kudos!

Media partners: RollingStone Magazine, Prambors Radio, Delta FM.

Last but not least, to you, all of you, who enjoy what I bring to the stage. That’s what this is all about.

From the bottom of my soul, THANK YOU. THANK YOU. THANK YOU.

Bangun Dari Mimpi

Me & @meiraa_ after #MMTJKT. Captured by @Pio_Kharisma.

Sudah selesai.

Mimpi saya sudah terwujud.
Bukan karna keajaiban, bukan karna keberuntungan di luar akal sehat.
Semua semata karna kerja keras. Bukan cuma saya, tapi semua orang yang turut terlibat.

Kerja keras yang dimulai sejak #MeremMelekTour digagas bulan Februari lalu, berlanjut hingga bulan ini, bulan Juli. Lima bulan penuh dera tapi juga bangga. Sebelas kota penuh peluh dan tentunya tawa. Tur stand-up comedy pertama di Indonesia. Ternyata, saya bisa. Sebuah cita-cita yang berawal dari mimpi, dan berakhir dengan senyum.

Saya cuma orang biasa dengan sedikit talenta. Belum tentu lebih istimewa dari sebagian besar orang di luar sana. Tapi paling tidak saya sudah membuktikan sesuatu.

Mungkin saya tidak diberkati dengan jiwa yang mampu menenun komedi secantik Raditya Dika.
Mungkin saya belum bisa tangguh berdiri dan menekuklututkan segala medan seperti Pandji Pragiwaksono.
Mungkin saya hanya bisa berharap memiliki talenta seni seindah Ryan Adriandhy.

Tapi saya punya sesuatu yang berani saya adu dengan mereka. Saya punya tekad. Saya punya nyali. Dan saya punya ketekunan.

Yang saya punya, adalah hal-hal biasa.
Hal-hal yang kalian pun punya. Jadi apa alasan kalian untuk tidak mengejar mimpi?

Jawaban β€œsaya masih menanti kesempatan” hanya milik para pecundang.
Hidup mengajarkan saya bahwa kesempatan itu diciptakan, bukan ditunggu.

Bangun. Dan berlarilah.

[@ernestprakasa]