Category Archives: tidbits

Kritik Dan Kedewasaan Berkarya

Kritik.

Sebuah kata yang membuat jeri sebagian orang, terutama seniman.

Sejak terjun sebagai full-time stand-up comedian bulan Agustus 2011 lalu, gue menganggap profesi gue adalah seniman. Orang yang menyandarkan hidupnya pada karya seni yang ia buat, dalam hal gue, seni komedi.

Harus diakui, menerima kritik dengan lapang dada itu butuh proses. Saat awal kita belajar menghasilkan karya, kritik terasa begitu menyakitkan. “Gue udah bikin cape-cape, eh malah dihina-hina. Jahat banget!”, gitu kira-kira perasaan kami.

Tapi lambat laun, gue mulai merasa kritik itu penting. Dan gue ngomong gini biar terkesan sportif atau legowo, enggak. I seriously embrace critics.

Menurut gue, kritikus itu ada 2 macam:

  1. Kritikus Biasa

Ini adalah kritikus pada umumnya. Argumen dalam kritiknya biasanya substansial dan lugas.

  1. Kritikus “Spesial”

Istilah “spesial” ini gue sematkan pada kritikus yang mengkritik sudah bukan pada substansinya saja, melainkan sudah melancarkan serangan yang bersifat pribadi. Ciri-ciri kritik seperti ini biasanya dipenuhi istilah-istilah yang bombastis dengan tujuan memberi hinaan semaksimal mungkin.

Lantas, apakah Kritikus “Spesial” tidak perlu kita dengerin? Enggak juga. Dari kritikus dengan lidah paling tajam sekalipun, hampir selalu ada kebenaran yang bisa dijadikan pelajaran. Hanya saja butuh kedewasaan ekstra. Ibaratnya, ini menu kritik yang disajikan panas dari penggorengan. Butuh kesabaran sebelum menyantap. Tapi tetap, tidak mengurangi esensinya sebagai hidangan yang bergizi.

Dan karena memang butuh kematangan untuk nerima kritik, sebagian orang menghadapi kritik dengan pose defensif. Ada pembelaan yang biasanya dilancarkan, dan meski gue sendiri seniman, gue mau ngebahas betapa pembelaan-pembelaan semacam itu bukan hanya gak valid, tapi juga memupuk pola pikir yang salah.

Berikut adalah dua pembelaan paling umum yang gue sering denger.

  1. “Ah bisanya ngehina doang, bisa bikin ga lo?”

Dengan logika seperti ini, berarti kalo gue makan nasi padang dan protes karena gue gak suka rendangnya, maka gue harus bisa bikin rendang tandingan? Ribet amat.

  1. “Hargain dong, gue udah bikin cape-cape tau!”

Again, mari kita pake analogi nasi padang. Ini sama aja gue protes rendang gue alot, lalu orang warung padangnya jawab, “Eh hargain dong! Kita bikin rendang itu semaleman tau!”. Relevan? Enggak. Audiens itu menilai berdasarkan hasil, bukan usaha. Untuk memaksa mereka mempertimbangkan faktor usaha ke dalam penilaian adalah sesuatu yang egois dan salah kaprah.

Lalu, apakah yang boleh mengkritik hanya kritikus? Enggak juga. Bagi gue, semua orang yang udah meluangkan waktu dan atau uang untuk menikmati karya gue, 100% berhak untuk ngomong apa pun, tanpa harus dilabeli “haters”, tanpa perlu dihakimi seleranya. Tinggal dari sana, tugas gue untuk memilah, mana omongan yang perlu dijadikan masukan dan mana yang tidak, tapi itu tidak mengurangi hak orang untuk berkomentar dengan bebas.

Akhir kata, buat teman-teman yang berkarya, ingat faham klasik ini baik-baik:

“Kritik itu bagaikan jamu. Rasanya pahit, tapi berkhasiat.”

Jadi kalo mau lebih kuat, jangan jauhi jamunya. Tapi latih dirimu supaya kuat minum lebih banyak jamu 🙂

@ernestprakasa

Advertisements

(Hampir) Setahun Berselang

Gue bingung sama Pandji Pragiwaksono. Perasaan doi kegiatannya banyak, tapi kok ngapdet blog bisa tetep rajin ya. Sementara gue, udah hampir setahun nggak posting apa-apa.

HAMPIR SETAHUN.

Mukegile.

I don’t believe in new year resolutions because they usually last for a month, max. Tapi biarin lah, di penghujung 2015 ini, gue mau renew my commitment untuk lebih rajin ngeblog.

Biasanya orang yang (lagi-lagi) berjanji pada dirinya sendiri untuk (kembali) rajin ngeblog akan menargetkan 1 blog post per minggu. Tapi kali ini gue tau diri aja. Bisa 2 post per bulan udah kece. AMIN!

Anywaaaaaaaay. Let’s reflect on 2015.

Bulan Februari, Comic 8: Casino Kings dirilis. Walau banyak keraguan untuk mengejar sukses prequelnya, tapi Casino Kings ternyata masih sanggup nembus satu juta penonton.

Bulan April-Juni gue jalanin tur ketiga gue Happinest yang finale-nya di Balai Sarbini jadi stand-up special yang paling gue hepi sampai saat ini. Sori banget DVD / Digital Download-nya masih terbengkalai gara-gara gue sibuk di film Ngenest, tapi gue targetin di awal 2016 udah harus rilis sih, paling lambat banget Februari.

Bulan Juli, buku Ngenest 3 rilis. Buat yang bertanya-tanya apakah akan ada Ngenest 4, jawabannya adalah: NO. Kenapa? Karena 4 angka sial. Adanya Ngenest 3A. Hahaha. Nggak lah, alasannya karena gue pengen belajar bikin novel. Jadi setelah film Ngenest, next project gue ya si novel ini. Kapan rilisnya? Waduh belum tau. Sekarang gue masih dalam proses milah-milah premis mana yang mau gue explore.

Pasca tur Happinest, mulailah gue mencoba belajar bikin skenario film Ngenest. Proses penulisan skenario berjalan selama kurang lebih empat bulan, lalu lanjut shooting. Saat tulisan ini dibuat, film Ngenest masih menjalani proses editing untuk dirilis di bioskop tanggal 30 Desember 2015. Yang mau liat teaser dan trailernya udah bisa kok. Selengkapnya tentang proses produksi film Ngenest akan gue post terpisah abis ini ya.

What a year.

But then again, I’m proud to admit that lately I always say that at the end of EVERY year.

2012 – Merem Melek Tour, Indonesia’s first ever stand-up comedy tour.
2013 – Oriental Bandits Stand-Up Special & Buku Ngenest.
2014 – Illucinati Tour, Buku Ngenest 2, Film Comic 8.

How about 2016? We’ll see 🙂

@ernestprakasa

 

 

 

I’m A Boring Guy

Saya ini orangnya membosankan. Terlalu teratur.

Kadang saya iri sama teman-teman yang hidupnya penuh hal-hal spontan. Seru aja gitu. Kayak dateng ke airport tanpa tau mau kemana, asal beli tiket, trus berangkat. Saya ga pernah tertarik untuk melakukan hal-hal kayak gitu.

Tapi ya mau gimana lagi. Saya tidak nyaman dengan ketidakteraturan. Saya terlalu cinta ritual.

Bangun pagi, ngopi kapal api special mix panas, sambil baca timeline. Kalo ini keganggu, pasti uring-uringan.

Malem sebelum tidur ya minimal empat jam duduk di karpet pake meja lipet, trus ngerjain macem-macem. Kalo ini ga kejadian, pasti kesel.

Kalo mau tidur di perjalanan, ya earphone yang nyumbat kuping harus muterin Kings Of Convenience. Kalo dikasih album lain, pasti susah pules.

Kayaknya satu-satunya hal dimana saya masih lumayan adventurous itu hanya, ehem, urusan “pribadi” dengan istri. Untuk yang satu itu, saya masih mau mencoba hal-hal baru. Satu, tapi justru yang paling krusial, ya ga? Hehehe.. 😀

[@ernestprakasa]

Dua Ribu Tiga Belas

Ah, sudah 2013.

Dalam waktu beberapa minggu lagi, saya akan genap berusia 31 tahun. Tidak semengerikan tahun lalu, dimana saya resmi berkepala tiga dan merelakan era 20-an saya digilas waktu.

Saya masi ingat betul di tanggal 6 Januari 2012 lalu, saya menyambut 2012 dengan sebuah cita-cita: Bisa mengadakan sebuah tur stand-up comedy. Pada saat itu, belum ada komika di Indonesia yang mengadakan tur. Dan ternyata, kesampaian. Magic. Well, ga magic-magic amat sih. Ada banyak keringat, air mata, dan tentunya uang tabungan yang saya habiskan disana. Tapi semuanya sepadan. Lebih, malah. 🙂

Memasuki 2013, saya ingin menyatakan kembali cita-cita saya di blog ini. Semoga, tercapai lagi.

Saya berharap agar di 2013:

1. Saya bersama teman2 @StandUpIndo bisa mewujudkan festival akbar yang telah lama kami cita-citakan, berbarengan dengan ultah kami yang ke-2 di bulan Juli ini.

2. Saya bisa merapihkan jam tidur. Udah hampir setahun terakhir tidurnya berantakan, merem subuh, melek siang. Ga beres! *_*

3. Lastly, ini yang terdengar simple tapi pada prakteknya susah minta ampun. Saya harus bisa membuat minimal empat blog post per bulan. Saya tau, kuantitas tidak lebih penting dari kualitas. Tapi untuk yang satu ini, rasanya mendisiplinkan diri dengan kuantitas adalah hal yang tidak bisa ditawar. Napsu? Bodo amat! Harus bisa!

The year 2012 has taught me that dreams do come true. So this year, let’s dream HARDER! 🙂

[@ernestprakasa]

Bye 2011, Hi 2012

Saya termasuk orang yang males merayakan tahun baru. Kenapa 1 Januari harus lebih istimewa dibandingkan tanggal-tanggal lain? Tapi ya itulah. We humans love the idea of “fresh start”. Dari nol lagi, kata iklan.

But anyway, bisa dibilang setahun kemarin adalah salah satu tahun paling dramatis dalam hidup saya. Here’s my life recap in 2011:

Januari
Tanggal 29 Januari, saya berulang tahun ke 29. Ini berarti, ulang tahun terakhir saya di usia 20-an. Ulang tahun berikutnya, saya sudah memasuki usia kepala 3. Beban! I’m so gonna miss these 20s days :p

Maret
Tanggal 26, saya naik pesawat Lion Air menuju Yogyakarta. Ketika saya mau duduk, di kursi saya ada Roy Suryo. Dan hari itu menjadi salah satu hari paling gila dalam hidup saya. Puncaknya adalah saat avatar twitter saya dipajang di Metro Hari Ini, sampai saya melongo. Sinting lah.

April
Tanggal 29 April, saya merayakan ultah pernikahan yang keempat (sekaligus ultah istri ke-28). Empat tahun menikah, ditambah 5 tahun pacaran, total saya dan istri saya Meira Anastasia sudah bersama selama 9 tahun. Totally loving it 🙂

Juli
Seperti yang pernah saya ceritakan, bulan Juli adalah bulan yang teramat luar biasa. Di bulan inilah saya mengikuti audisi untuk program Stand-Up Comedy Indonesia di Kompas TV. Sebuah acara yang secara tidak langsung memicu lahirnya komunitas Stand-Up Indo, dan menyebarluaskan virus stand-up comedy di Indonesia.

Agustus
Di akhir bulan ini, saya mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari dr.m, sebuah perusahaan digital content yang menjadi bagian dari hidup saya sejak Mei 2008. Ini sekaligus menandakan saat dimana saya “terjun bebas”. Melepas status pekerja kantoran yang nyaman dengan gaji, jabatan, tunjangan, & jenjang karir yang menjanjikan; demi sesuatu yang abstrak namun layak diperjuangkan. Dan sampai saat ini, sepertinya keputusan yang saya ambil ini sepertinya tepat 🙂

September
Di bulan ini, Stand-Up Comedy Indonesia di Kompas TV dimulai. Saya pun berkenalan dengan banyak teman baru yang mengagumkan.

November
Tgl 20, anak saya Sky Tierra Solana tepat berusia 2 tahun. Dia nyala api saya.

Desember
Kompetisi Stand-up Comedy Indonesia Kompas TV berakhir sudah. Saya finish di posisi ketiga, alias terpaksa menerima kekalahan. Saya gagal lolos ke grand final, tapi berhasil mengerti lebih dalam tentang hidup, dan bagaimana menjadi dewasa.

Sepanjang 2011, berkat stand-up comedy, saya dapet kesempatan untuk menjelajah Indonesia, bertemu dengan teman2 komunitas stand-up comedy di Jogja, Solo, Palembang, Pekanbaru, Medan, Jambi, & Pontianak. Sungguh pengalaman yang membahagiakan!

Menyambut 2012, saya punya 2 cita-cita berkaitan dengan standup-comedy:
1. Bisa jadi headliner untuk stand-up comedy tour
2. Sudah punya action plan yang matang supaya 2013 saya bisa menjalankan mimpi saya menyelenggarakan Kejuaraan Nasional Stand-Up Comedy antar wilayah se-Indonesia.

Tapi secara umum, menurut saya sih kita nggak harus punya resolusi yang muluk-muluk. Cukup 1 hal yang penting: Bagaimana membuat hidup kita bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. Happy new year 🙂

[@ernestprakasa]

Twitter Killed The WordPress Star?

Phew.

Tanpa terasa, sudah nyaris 8 bulan sejak saya posting apapun di blog ini -_-”
Selain kesibukan kantor, saya juga ingin menyalahkan Twitter. Media microblogging yg membuat kita menjadi begitu mudah untuk menuangkan isi pikiran dengan instan.

Jadi kepikiran. Harusnya sih fenomena ini bukan hanya menimpa saya. Apakah secara umum, bloggers menjadi lebih malas akibat Twitter? Berbekal rasa penasaran ini saya pun googling dan menemukan 2 artikel yang cukup menarik.

Sebuah survey dari Technorati menunjukkan, bahwa blogger non-profesional (hobbyist) mengaku lebih jarang mengupdate blog mereka sejak mengenal microblogging.

Baca informasi selengkapnya disini.

Bahkan TechCrunch menunjukkan hasil penelitian mereka dalam grafik berikut ini, dimana peningkatan signifikan di Twitter ternyata dibarengi dengan stagnasi di WordPress.

Jadi kesimpulannya, tidak perlu merasa bersalah secara berlebihan. Saya (dan mungkin juga anda), ternyata punya banyak teman diluar sana; yang gara2 Twitter jadi lupa sama blog sendiri (walau tetep sih, pengennya bisa lebih rajin ngeblog. Amin! :)).

https://neonspark.wordpress.com

Random Notes: Newborn Effect Dan Akhirnya Ber-BB

Tadinya, saya termasuk orang yang kekeuh nggak mau pake Blackberry. Alasan saya sederhana, saya merasa masih bisa berfungsi dengan baik dengan Nokia E71 saya, dan saya enggan menjadi seperti orang2 yang nggak bisa lepas dari layar BB masing2. Tapi akhirnya, saya ber-BB juga, berkat “hadiah” dari Yoris. We’ll see how addicted I will get :).

Lalu, belakangan ini saya memang jarang posting. Talk about consistency :(. Alasannya simpel sih, sejak anak saya Sky Tierra Solana lahir tanggal 20 November lalu, perhatian pun terpecah. Blog menjadi prioritas kesekian. But now, after the storm has quiet down a little, I hope I can update my posts regularly.

See ya around, people 🙂

@ernestprakasa

Hari Batik

It’s nice to see people wearing batik everywhere today. Berbarengan dengan ditetapkannya batik sebagai world heritage oleh UNESCO, Presiden SBY pun menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Which is quite sumfin, I’d say. Soalnya ga ada kan “Hari Angklung Nasional” atau “Hari Keroncong Nasional”. Batik apparently is now the pinnacle of Indonesian cultural heritage.

Yang pasti, beberapa hari kedepan, Facebook dan sejenisnya akan diramaikan oleh hasil foto bareng pasukan berbatik. Do you have yours? Here’s mine if you can find me 🙂

10118_1254787932849_1324085632_735468_2053385_n

@ernestprakasa

Lost In Translation

Kenapa ya, banyak sekali penerjemah dan editor buku kurang kompeten yang berkeliaran? Sedihnya, banyak pulak publisher yang mempekerjakan mereka. Bicara buku marketing, misalnya; rasanya buku yang saya beli dan ternyata terjemahannya sangat memuaskan hanya 1 dari 5. Padahal, bagi saya membeli buku import sepertinya bukan pilihan, mengingat harganya bisa 5x lipat dari versi terjemahannya.

Saya rasa saya tidak sendiri. Pasti ada orang lain diluar sana yang merindukan buku marketing yang terjemahannya akurat namun kontekstual, bukan harfiah. Ini peluang, bukan?

So for you daring publishers out there: Here we are, come reach for us. Jadilah publishing yang secara konstan menghadirkan buku terjemahan berkualitas prima. Saya 100% yakin bahwa meskipun langka, tapi penerjemah dan editor paten selalu ada. Kami menunggu.

@ernestprakasa

Si Cantik Terminal 3

bandara

Minggu lalu saya pertama kali mengunjungi Terminal 3 Cengkareng, yang baru beroperasi sebulan ini. Kesan pertama sih ga jauh ama KL & Bangkok, kaca gede dimana-mana plus bentuk atap yang seperti payung. Ternyata saya baru tau kalo dua unsur tadi adalah untuk optimalisasi pencahayaan ruang menggunakan tenaga matahari, jadi hemat listrik. Go green gitu ceritanya.

Anyway, sampai saat ini baru 2 maskapai penerbangan domestik yang menggunakan terminal ini, yaitu Mandala & Air Asia. Apakah orang akan berpaling ke 2 airlines ini demi menikmati kenyamanan ekstra? Menurut saya sih sangat mungkin, apalagi kompetitor lain seperti Lion & Batavia sepertinya belum punya added value tandingan.

Setelah saya intip, ternyata Mandala sendiri sudah memajang pemberitahuan di situs mereka tentang hal ini. Yang saya bingung, Air Asia yang biasanya inovatif malah belum mempromosikan hal ini, padahal mereka relatif sering mengirimkan promo melalui SMS. Apa sengaja menunggu semua tennant di Terminal 3 fully operating? Rasanya kok sayang ya. Justru mumpung masih anget, bukannya justru akan bikin orang penasaran? 🙂

@ernestprakasa

Jadi Bulan-Bulanan Biaya Bulanan

bca
Saya baru tau kalo mulai sekarang biaya administrasi bulanan untuk tabungan dinaikkan menjadi 25 ribu rupiah, kecuali saldo rata-rata harian mencapai 10 juta rupiah. Damn. Saya (dan mungkin cukup banyak nasabah BCA lainnya) tidak menggunakan rekening BCA untuk tabungan, tapi lebih ke operasional pengeluaran sehari-hari mengingat ATM-nya yang cukup banyak. Rupanya lama-lama BCA sebel juga sama kita…hihihi…

Tak lama setelah SMS itu, saya baru ngeh bahwa Danamon ternyata sedang gencar mempromosikan tabungan tanpa biaya bulanan. Hmmmmmmmm…kebetulan? Rasanya tidak. Apalagi Danamon juga anggota ATM bersama, yang lama kelamaan semakin menyaingi BCA untuk masalah availability mesin ATM. Saya sih nggak lantas hijrah ke Danamon, tapi saya mikir juga, berapa orang ya yang keki gara-gara dipalak 25 ribu lantas pindah bank :).

@ernestprakasa

9 In, 29 Out

9-partai

Menurut quick count beberapa lembaga survey (yang biasanya cukup akurat), hasil pemilu pagi tadi membuahkan hasil yang cukup tragis: hanya 9 partai yang berhak menghuni DPR, dimana mereka saja telah menguras sekitar 82% dari seluruh suara yang masuk. Sisanya ditendang karena tidak mampu memenuhi angka parliamentary threshold sebesar 2,5%. Itu artinya, ada 29 partai yang kandas mimpinya.

Bayangkan, ada berapa banyak orang yang akan depresi berat. Mulai dari pendiri, pengurus, caleg, hingga para “investor” mereka. Miliaran dana sia-sia ditelan bumi. Meskipun saya melihat kampanye sebagai hal yang positif untuk menggerakkan perekonomian karena rejeki ekstra buat designer grafis, tukang sablon, tukang gerobak makanan, tukang pasang reklame, dan tukang-tukang lainnya; tapi tetap saja mereka yang menggelontorkan dana hanya bisa terduduk lunglai.

Dan yang tak kalah ironis, sekitar 18% pemilih alias jutaan orang di seluruh Indonesia yang bangun pagi untuk datang ke TPS dan memberikan suara untuk 29 partai tadi, telah membuang waktu tidur mereka dengan percuma.  NONE of their vote will count whatsoever.

The only way to still get fun out of this, is trying to guess which party will end up at the rockbottom of all 38 once the official count is released 🙂

@ernestprakasa

What’s Next?

cf-coke2

Oke…kalo tisu, sabun, air mineral, bahkan jus dalam kemasan; saya pernah lihat dan tampak masih wajar. Tapi beberapa hari yang lalu saya ke Carrefour dan melihat benda diatas. THEIR VERY OWN COKE! You gotta be kidding me..dare to imagine what comes next? Carrefour Deodorants? Carrefour Boots? Carrefour CELLPHONES?

@ernestprakasa

Wahai Penjaga Lift

elevators

Di beberapa mall seperti Pasific Place & Senayan City, setiap lift memiliki penjaga. Kira-kira apa ya gunanya penjaga lift? Apakah tombol lift terlalu rumit untuk dipahami oleh orang awam? Atau pernah ada yang nyasar di dalem situ? Selain untuk mengurangi angka pengangguran, saya bener-bener ga ngerti fungsinya penjaga lift.

@ernestprakasa