Category Archives: stand-up comedy

ILLUCINATI – DD & DVD

Sekitar pertengahan tahun lalu, gue dan Pandji ngobrolin soal apa yang dilakukan oleh Louis CK, salah satu comic papan atas Amerika. Louis CK merekam special show-nya, lalu menjualnya via website dengan harga 5 dollar. Kami penasaran, apa iya sistem ini bisa diterapkan di Indonesia, dengan maraknya semangat pembajakan yang menggebu-gebu. Gimana mungkin bisa laku, kan orang tinggal download abis itu mereka bisa copy-paste sesuka mereka. Bisa beredar dengan gratis.

Terus terang, gue skeptis. Tapi Pandji gigih. Dia pengen ngebuktiin kalo cukup banyak orang Indonesia yang mau menghargai karya dengan cara membeli produk original, asalkan kita bisa menyediakan akses yang mudah dan harga yang masuk akal.

Bulan April lalu, DD (Digital Download) Mesakke Bangsaku dirilis ke pasaran dengan harga Rp 75,000. Hasilnya? Gila. Gue gak perlu ceritain berapa angka penjualannya, yang pasti itu cukup untuk meyakinkan gue bahwa skeptisisme gue salah. Pandji benar, masih banyak orang di luar sana yang mau menghargai karya dengan cara yang sportif. Gue bingung, terkesima, dan lumayan terharu. Kalo begini caranya, para pekarya seni di Indonesia harusnya optimis.

Singkat cerita, gue memutuskan untuk memberanikan diri untuk ikut merilis video Illucinati Tour dalam format DD. Video ini isinya lengkap, diambil dari show GKJ gue tanggal 25 Januari lalu, termasuk:
– Opening act by Arie Kriting
– Main show
– Closing session featuring Ahok.
DD seharga Rp 65,000 ini file size nya sekitar 800 MB, dan nanti pembeli bisa memilih bisa mengunduh sekaligus atau per chapter, yang terdiri atas 11 chapter.

Tanggal 27 Juni, baru gue akan ngerilis versi DVD-nya. Beda konten DD & DVD cuma satu, yaitu di versi DVD akan ada dua keping cakram. Yang satu berisikan video yang persis sama dengan versi digital download, sementara yang satu lagi berisikan film dokumenter 40 menit, yang menceritakan tentang perjalanan gue selama Illucinati Tour di 17 kota.
DVD ini akan dibanderol Rp 135,000.

Kalo pengen liat-liat dulu sebelum beli, silakan kesini:

Jadi buat lo yang gak sempet nonton langsung Illucinati Tour, atau udah nonton tapi tetep pengen ngoleksi karya gue, silakan langsung ke Hahaha Store aja 🙂

Thanks a lot!

[@ernestprakasa]

Advertisements

Ernest Prakasa – FAQ (Frequently Asked Questions)

Berikut adalah kumpulan pertanyaan yang paling sering gue terima. Artikel ini sekalian untuk referensi bagi teman-teman media yang butuh informasi, biar gak usah repot-repot nanya lagi 🙂

Bagaimana ceritanya bisa terjun jadi stand-up comedian? Sebelum itu menggeluti bidang apa?

Setelah lulus kuliah tahun 2005, saya bekerja di recording company sampai tahun 2011, melanjutkan minat di musik yang memang sudah saya mulai ketika menjadi penyiar di tahun 2001 silam.

Awal mulanya bisa menjadi komika adalah ketika Kompas TV mengadakan program “Stand-Up Comedy Indonesia” Season 1, atau yang lebih dikenal dengan SUCI1. Programnya berjalan dari September hingga Desember 2011. Saya finish di posisi ke-3, dan setelah itu memutuskan untuk terjun full-time sebagai seorang komika, sampai hari ini.

Bagaimana cerita lahirnya @StandUpIndo?

Komunitas @StandUpIndo lahir secara tidak disengaja. Ini semua berawal ketika saya mengajak Ryan Adriandhy, sesama peserta audisi SUCI1, untuk menjajal open mic di Comedy Café yang ketika itu berada di Kemang. Comedy Café itu sendiri sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1997, namun tidak pernah benar-benar bisa mewabahkan stand-up comedy karena kurangnya dukungan terutama dari media.

Singkat cerita, Ryan mengajak Pandji Pragiwaksono, lalu Pandji mengajak Raditya Dika. Kebetulan Pandji dan Radit adalah duo host SUCI1. Saya juga mengajak Isman HS, seorang penulis komedi yang saya kenal lewat Twitter. Akhirnya kami berlima dan beberapa komika lain sepakat open mic bareng di tanggal 13 Juli 2011. Karena banyaknya followers Pandji dan Radit di Twitter, kafe mungil berkapasitas sekitar lima puluh orang itu pun luluh lantak diserbu sekitar 200-an pengunjung.

Event hari itu kami promosikan melalui Twitter @StandUpIndo, dan videonya kami upload ke Youtube. Dari sana, bola salju bergulir dengan dahsyat. Event berikutnya tanggal 17 Agustus di Rolling Stone Café Jakarta diserbu sekitar 600 orang, lalu menembus 1,000 penonton ketiga digelar event ketiga di tempat yang sama, 24 Agustus 2011.

Hanya dalam hitungan minggu, respon dari kota-kota lain pun bermunculan, ingin membuat event serupa. Bandung, Jogjakarta, dan Samarinda tercatat sebagai tiga kota pertama yang menyusul. Dan dalam waktu beberapa bulan, puluhan kota lain menyusul. Hingga saat ini, @StandUpIndo mencatat sekitar empat puluh komunitas lokal yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tanggal 13 Juli 2011 tadi kami tahbiskan sebagai hari lahirnya @StandUpIndo, komunitas stand-up comedy di Indonesia, dengan lima orang co-founder: Saya, Ryan Adriandhy, Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, dan Isman HS. Saya dan Isman HS menjabat sebagai ketua hingga akhir 2012, kemudian dilanjutkan oleh Sammy @Notaslimboy hingga sekarang.

Stand-up comedy di Indonesia cukup happening di beberapa tahun terakhir. Apakah akan tetap eksis, atau ini hanya trend sementara?

Menurut saya, stand-up comedy bukan trend. Ini adalah genre komedi baru yang lahir dan akan terus tumbuh. Ada tiga hal yang menurut saya menjadi indikator kokohnya stand-up comedy di Indonesia:

1. Terus lahir & berkembangnya komunitas lokal di puluhan kota di Indonesia, dari Sumatra hingga Sulawesi. Komunitas-komunitas ini bertumbuh secara organik dan mengakar dengan kuat, memberikan fondasi yang kuat bagi kemajuan stand-up comedy di Indonesia.

2. Semakin banyaknya komika karier. Selain saya sendiri dan Pandji Pragiwaksono sebelum saya, semakin bermunculan komika-komika yang bisa menggantungkan hidupnya dengan cara menggeluti stand-up comedy. Mereka bisa berkarya, sekaligus mendapatkan penghasilan yang amat layak.

3. Semakin derasnya invasi komika di televisi dan layar lebar. Tidak bisa dipungkiri, gelombang stand-up comedy ini menyapu di segala lini, tidak terkecuali televisi dan bioskop. Semakin banyak komika mendapatkan kesempatan, dan membayar lunas kesempatan yang diberikan, sehingga membukakan jalan untuk lebih banyak komika bisa membanjiri industri.

Apakah bedanya stand-up comedy dengan komedi yang selama ini dikenal luas di masyarakat Indonesia?

Dibandingkan dengan berbagai komedi tradisional yang selama ini kita kenal, stand-up comedy memiliki dua ciri utama yang mutlak dan tidak bisa diganggu-gugat:

1. Dilakukan sendiri di atas panggung, tanpa tandem. Tidak harus sambil berdiri, tapi harus sendiri.

2. Membawakan materi hasil karya sendiri. Kekuatan stand-up comedy ada pada perspektif subjektif dari si komika. Jadi materinya merupakan hasil pemikiran dan pengamatan pribadi. Bukan dari teman, buku, internet, dan lain-lain.

Apakah semua orang bisa menjadi komika?

Apakah semua orang bisa menjadi pelukis? Apakah semua orang bisa menjadi penari? Seperti halnya seni yang lain, menurut saya komedi membutuhkan bakat. Teknik memang bisa dilatih, namun comedic sense itu bawaan lahir. Intuisi untuk mengenali apa yang lucu, bukan hanya bagi kita, tapi juga bagi orang awam. Ketajaman intuisi ini berbeda-beda bagi tiap orang. Bila intuisinya tajam, maka menurut saya itulah modal awal untuk menjadi seorang komedian.

Ernest seringkali membahas tentang etnis Cina di Indonesia. Apakah itu tidak tergolong rasis? Bagaimana reaksi dari golongan etnis Cina di Indonesia terhadap materi tersebut?

Saat belajar stand-up kami, diarahkan untuk mencari materi dari keresahan yang paling jujur. Salah satu keresahan saya yang utama adalah tentang menjadi orang Cina di Indonesia. Maka itulah yang sejak awal menjadi ciri khas yang saya miliki.

Soal rasis atau tidak, menurut saya indikatornya sederhana. Saya berdarah Cina. Maka ketika saya membahas orang Cina, saya sedang membahas tentang apa yang saya ketahui, jadi ini tidak rasis. Akan berbeda bila saya membahas etnis lain.

Jujur saja, hingga saat ini saya belum pernah mendapatkan protes keras sama sekali. Kritik sesekali di media sosial tentu ada, tapi tidak signifikan. Saya malah lebih banyak mendapat dukungan, karena mereka merasa terwakilkan dengan apa yang saya suarakan.

Apa yang mendasari lahirnya Merem Melek Tour, yang notabene adalah tur stand-up comedy pertama di Indonesia?

Setelah lulus dari SUCI1, saya coba merenung. Saya ini ingin jadi komika, seperti komika idola saya, Pandji Pragiwaksono. Salah satu hal yang saya pelajari dari Pandji adalah konsistensinya dalam menjadi pionir. Ia selalu berusaha menjadi yang terdepan, menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejaknya. Bulan Desember 2011, saya menjadi pembuka Pandji di Bhinneka Tunggal Tawa, stand-up comedy special pertama di Indonesia. Dan disitu saya sadar bahwa untuk bisa menjadi seperti Pandji, saya harus nekad melakukan sesuatu yang belum dilakukan orang lain.

Di Amerika, tur stand-up comedy adalah hal yang lumrah. Namun di Indonesia, ini belum pernah dilakukan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengumpulkan segenap keberanian, dan menghubungi beberapa teman di komunitas untuk bekerjasama mengadakan sebuah tur. Awalnya saya hanya merencanakan tur lima kota. Namun berkat dukungan dari Coffee Toffee Indonesia, tur saya bisa diperpanjang hingga ke sepuluh kota. Singkat cerita, lahirlah “Merem Melek Tour”, yang mengelilingi 10 kota di Indonesia dan ditutup di titik ke-11, Gedung Kesenian Jakarta, tanggal 10 Juli 2012 silam.

Ernest melakukan debut layar lebar di film Comic 8. Bagaimana rasanya? Apa tantangannya dibandingkan stand-up comedy?

Sebenarnya debut layar lebar saya ada di film Make Money (2013), namun waktu itu saya hanya kebagian tiga scene. Baru di Comic 8, saya menjadi satu dari delapan komika yang menjadi pemeran utama.

Tentunya, akting di film berbeda sekali dengan stand-up comedy. Ada dua hal mendasar yang menjadi tantangan tersendiri menurut saya:

1. Blocking kamera. Dalam stand-up, saya terbiasa sendiri di panggung, bebas bergerak, bebas melakukan manuver apa pun. Tapi pada saat syuting, saya harus memikirkan blocking kamera, posisi saya di depan kamera dan juga posisi saya terhadap rekan-rekan lain dalam satu frame yang sama. Bagi pemula seperti saya, ini sungguh merepotkan.

2. Dialog, bukan monolog. Dalam stand-up, saya terbiasa monolog. Saya tidak memiliki lawan bicara. Namun saat syuting, saya terlibat dalam percakapan, bahkan terkadang dengan banyak lawan bicara di saat yang bersamaan. Ini membutuhkan kerjasama dan timing yang baik, yang juga jadi sebuah pelajaran baru bagi saya.

Namun menariknya, ada satu kesamaan yang kuat antara stand-up dan akting. Dalam stand-up comedy, saat kita naik ke panggung, kita sudah bukan lagi mencurahkan fokus pada “apa yang mau disampaikan”, tapi “bagaimana cara menyampaikan”. Konten apa yang mau disampaikan seharusnya sudah kita hafalkan dengan baik, karena di panggung tidak ada waktu untuk mengingat-ngingat, hanya ada waktu untuk memikirkan bagaimana konten tersebut ingin disampaikan. Istilah teknisnya, fokus pada delivery, bukan pada materi. Hal ini yang menurut saya juga terjadi dalam dunia akting. Saat kamera sudah menyala, fokus sudah harus pada delivery. Pada blocking, intonasi, gestur, dan sebagainya. Tidak bisa lagi memakai waktu untuk mengingat-ingat dialog.

Tapi itu semua bahasan teknis. Secara filosofis, akting dan stand-up comedy sebenarnya sungguh berbalik 180 derajat. Saat akting, kita menjadi orang lain. Saat stand-up, saya menjadi diri saya yang sejati.

Apakah Ernest menikmati pekerjaan sebagai aktor? Berminat untuk menekuni profesi ini lebih lanjut?

Jujur, saya sangat menikmati akting. Menurut saya, seluruh prosesnya amat melelahkan namun menyenangkan. Tentu saya berminat untuk bermain di film yang lain selama saya rasa skenarionya cocok. Namun yang terutama bagi saya tetap stand-up comedy.

Stand-up comedy bagi saya bukan sekedar sebentuk seni atau profesi, tapi juga media penyampai pesan. Ada banyak keresahan yang bisa saya utarakan melalui orasi di atas panggung stand-up comedy, itulah yang membuat saya yakin bahwa selama masih bisa berkata-kata, saya akan tetap menjadi komika.

[@ernestprakasa]

ILLUCINATI Jakarta – A Thank You Note

Illucinati_23

Waktu “Ernest Prakasa & The Oriental Bandits” tahun lalu sukses sold-out di dua pertunjukan dalam sehari, jujur gue bingung, abis ini harus bikin apa lagi coba? How do I top myself (again)?

Akhirnya gue mutusin untuk bikin tiga show dalam sehari. Dua kali kan udah, yaudah sekarang cobain tiga. Plus dengan durasi performance yang lebih panjang, yakni sekitar 1,5 jam per show. Jujur, orang-orang terdekat gue meragukan ini bisa dilakukan. Istri dan manager gue sendiri waswas kalo stamina gue bakal drop dan gak akan bisa tampil prima sebanyak tiga kali.

Sabtu, 25 Januari 2014, gue berhasil memaksa diri gue untuk melalui itu semua. Gak ada jamu atau obat cina, cuma tidur dan makan yang cukup. Dari tiga show yang digelar hari itu, hanya show pertama yang gagal sold-out, cuma bisa terjual sekitar 80%-nya. Mungkin orang belum terbiasa dengan stand-up special yang digelar jam 12 siang. But it’s all good. Gue bahagia.

Gue bahagia bukan hanya karena ada sekitar 1,300 orang yang dateng ke GKJ hari itu, tapi juga karena gue puas sama materi show yang menurut gue pribadi udah mengalami peningkatan bobot dari special sebelumnya. Gue bahagia karena gue udah menuntaskan keresahan gue di awal tur ini, yaitu supaya lebih banyak orang sadar akan betapa krusialnya menentukan pilihan yang tepat di Pemilu 2014 yang akan datang. Bahwa orang jahat tidak boleh menang.

Seperti biasa, gue selalu bikin credit title setelah bikin special. Sebelum gue absen thank you list untuk finale di Jakarta, gue mau say thank you banget buat teman-teman yang udah mau bekerjasama untuk nyelenggarain #ILLUCINATI di kota mereka:
1. Makassar – @StandUpIndoMKSR
2. Samarinda – @StandUpSMD
3. Balikpapan – @StandUpBPN
4. Banjarmasin – @StandUpBJM
5. Banda Aceh – @StandUpIndoBNA
6. Semarang – @StandUpIndoSMG
7. Solo – @StandUpSOLO
8. Jogjakarta – @standupindojgj
9. Padang – @StandUpIndo_Pdg
10. Depok – @StandUpIndoDPK
11. Bandung – @StandUpIndoBDG
12. Bogor – @StandUpIndo_BGR
13. Malang – @StandUpIndo_MLG
14. Sidoarjo – @StandUpIndo_SDA
15. Surabaya – @StandUpIndo_SBY
16. Denpasar – @StandUpIndoBali

It was helluva journey. Thank you for being a part of it.
And now, for the Jakarta Finale. I would like to thank:

My best buddy J-Christ. Thanks man.

My 2nd best buddy, Meira Anastasia. What would I do without you?

My daughter Sky Tierra Solana, who made her debut on stage 🙂

My manager Dipa Andika. Thank you for understanding me, partner. Sorry for being a constant control freak.

My road manager Aditya Parajita Hadiwijaya. I always feel safe when you’re around.

My opener Arie Kriting. Proud to have you by my side, bro.

My project director Sessa Xuanthi. Bumil yang mobilitasnya berkurang tapi kegalakannya nambah. Well done as always!

My personal assistant & captain of @HAHAHA_Store, Fauzan Taufik. Thanks for your hard work & dedication.

My co-producer for the #ILLUCINATI Tour teaser trailer, Edward Mulianto.

Our documentation coordinator & co-producer for #ILLUCINATI DVD, Okky Prasetyo.

Our stage talents: David Nurbianto as MC, Budi Setianto & Aprizal Wahyu as the bodyguards. Also Henry & Christina from Vihara Tanah Bakti Bandung, our wushu artists.

Our hosts: Dimas Yudhistira, Pardede Reza, Abdul Wahab, Ariyanti Tjiang, Octria Revalina Kawengian.

Our good friends at XL Axiata Digital, Jasmina Dewi Nashya and team. Thanks a lot for the kind support.

Our broadcasting partner, Kompas TV. To Arga Laras, Tezar Sjamsudin, and the whole production team. Thank you for believing in me. Can’t wait to rock harder with you guys!

Our event partner: Gedung Kesenian Jakarta, Sinou Steak, Bakso Kade Hang Jebat, @HAHAHA_Store.

Our event management team from Sessa Xuanthi Project & Gala Event Management: Anandy Satriyo, Recky Resanto, Benni, Ajie Andika, Erwin Hendarwin, Jikun, Riza Saputra, Rico A., Andy, Iyus, Windy.

Our @HAHAHA_store merchandising team: Fairuz Ramadhan, Afandy Amer, Ahmad Habibi.

Our documentation team from Cone Camera: Okky Prasetyo & team.

Last but not leat, our graphic designers: Kuncir Satya Vikhu & Wangsit Firmantika.

To wrap things off, I just wanna dedicate this tour to each and every single one of you that came to see my show. All 6,000 people in 17 cities.

And for everyone that shook my hand at the show, know this:
When I looked into your eyes and said “Thank You”, I meant it. With all my heart.

THANK YOU.

PS: Berikut adalah beberapa blog post dari para penonton #ILLUCINATI Jakarta:
“Menguak Konspirasi Tawa” by Mycel Pancho (@mycelpancho)
“ILLUCINATI #GKJ25Jan” by Santi Fang (@santifang)
“Illucinati Tour Jakarta Finale” by Yuanita Handoko (@yuanita_handoko)
“ILLUCINATI: Indonesia Yang Bersuku China” – Thiodora C. Nadeak (@dora_himmawari)
“ILLUCINATI – #GKJ25Jan” by Sarah Puspita Lukman (@sarahpuspita)
“Review #ILLUCINATI #GKJ25Jan by Ernest Prakasa” – Cindy Kusuma (@cindy_kusuma)
“Illucinati, Stand-Up Comedy Show By Ernest Prakasa” – Sessa Xuanthi (@sessaxuanthi)

[@ernestprakasa]

ILLUCINATI Jakarta: The Finale! #GKJ25Jan

Yes. Setelah keliling ke 16 kota, #ILLUCINATI TOUR akan mendarat di Gedung Kesenian Jakarta pada tanggal 25 Januari 2014. 

Banyak yang nanya, “GKJ melulu lo nes!”. Bener, gue itu orangnya emang gak terlalu eksperimental, kalo udah ketauan enak kenapa harus pindah? Lokasinya mudah dijangkau, dan kualitas akustiknya adalah salah satu yang terbaik di Indonesia. Apakah special gue yang berikutnya masih akan di GKJ? Sepertinya enggak. But of course, for now, the bar must be raised. Setelah #MeremMelekTour yang digelar satu kali pada tanggal 8 Juli 2012, lalu #OrientalBandits yang digelar dua kali pada tanggal 9 Februari 2013, kali ini #ILLUCINATI akan digelar tiga kali sehari. 

Yap, you hear me. Three shows in one day.

Berat? Pasti. Tapi gue pengen buktiin kalo gue bisa. Dan kalo ini berhasil, maka show ini akan tercatat sebagai stand-up special pertama yang digelar sebanyak tiga kali di hari yang sama.

 Ada 3 pilihan jam pertunjukan sebagai berikut:

Show 1: 12.00 – 14.00
Show 2: 16.00 – 18.00
Show 3: 20.00 – 22.00

Berikut harga tiket dan denah tempat duduknya:

Image

Di masing-masing show, gue akan ditemani oleh penampilan dari Arie Kriting, juara 3 Stand-Up Comedy Indonesia Kompas TV Season 3, sekaligus patriot yang menyuarakan keluh-kesah Indonesia Timur. Gue sendiri bakal nyerocos soal capres 2014, isu-isu sosial di sekitar kita, dan seperti biasa, soal keluarga 🙂

Tertarik untuk nonton? Tiket presale bisa diperoleh dengan memilih satu dari tiga metode dibawah ini:

1. Telepon langsung ke hotline 021-3441892
2. SMS ke 085715911169
3. Datang langsung ke ticket box di GKJ.

Tiga jalur diatas dibuka hari Selasa-Sabtu, jam 10 pagi sampe jam 4 sore, mulai 7 Januari 2014.

Oh iya, satu lagi yang penting untuk diingat soal ticketing. Berbeda dengan acara-acara gue di GKJ sebelumnya, kali ini pemilihan kursi langsung dilakukan pada saat pemesanan, bukan pada saat hari-H. Tapi tenang, seperti halnya di bioskop, para petugas ticketing GKJ pasti akan ngasih rekomendasi tempat duduk mana yang paling nyaman 🙂

Are you excited? Coz I sure am. Meet you there! 🙂

[@ernestprakasa]

Back On The Road!

Tanpa terasa, udah 1,5 tahun berlalu sejak #MeremMelekTour, tur stand-up comedy pertama di Indonesia. Pamer? Gapapa, emang itu salah satu hal yang paling gue banggain seumur hidup gue. Haha.

Buat lo yang ga sempet ngikutin, waktu #MeremMelekTour itu gue sempet dateng ke 11 kota, yakni:
1. Bandung
2. Semarang
3. Solo
4. Denpasar
5. Malang
6. Surabaya
7. Makassar
8. Kendari
9. Samarinda
10. Palangkaraya
11. Jakarta.
Dari 11 kota tadi, kota ke 6-10 gue didukung penuh sama teman-teman yang baik di Coffee Toffee.

Banyak hal yang sudah berubah dalam diri gue sejak #MeremMelekTour. Dulu, gue belum merasa nemu persona yang pas di atas panggung. Tapi sekarang, kayak yang pernah gue bahas disini, gue udah merasa jauh lebih nyaman karena udah lebih kenal kelemahan dan kekuatan gue sendiri.

Dan sekarang, gue akan ngegelar tur kedua, yang kali ini berjudul #ILLUCINATI:

[design by: @kuncirsv]

[design by: @kuncirsv]

Sebenernya kata “illucinati” berawal dari bit gue soal Ahok. Gue cuman iseng bercanda, kalo di Amerika ada Illuminati, di Indonesia juga ada pergerakan underground, namanya Illucinati. Tujuannya adalah menjadikan Ahok presiden. Entah kenapa, ternyata kata “illucinati” itu catchy banget. Yaudah sekalian aja gue jadiin judul tur 🙂

Nah, tentang pose gue di poster (mata tertutup & tangan terikat). Sebenernya simpel aja sih. Gue mau memetaforakan sebuah keresahan sama generasi muda zaman sekarang yang gampang kehilangan kekritisannya. Di tengah derasnya arus informasi, kita jadi terbiasa “disuapin” berita dan informasi. Ini jadi ironis kalo kita inget bahwa sebenernya kalo kita mau punya inisiatif untuk tau lebih dalam, informasi itu bisa diakses dengan gratis dan mudah melalui kecanggihan teknologi.

Dan juga kalo lo perhatiin, walau terikat, tapi tangan gue itu megang mic. Itu melambangkan keyakinan gue bahwa meskipun kita kerap dibelenggu, tapi melalui kebebasan berbicara di atas panggung, kita bisa memicu perubahan. Jangan anggap remeh kekuatan ide yang disebar lalu tertanam.

Di tur ini, gue akan dateng ke 17 kota dengan jadwal sebagai berikut:
1. Makassar, 16 Nov
2. Samarinda, 22 Nov
3. Balikpapan, 23 Nov
4. Banjarmasin, 24 Nov
5. Banda Aceh, 30 Nov
6. Semarang, 6 Des
7. Solo, 7 Des
8. Jogjakarta, 8 Des
9. Padang, 14 Des
10. Depok, 15 Des
11. Bandung, 28 Des
12. Bogor, 29 Des
13. Malang, 3 Jan
14. Sidoarjo, 4 Jan
15. Surabaya, 5 Jan
16. Denpasar, 11 Jan
17. Jakarta, 25 Jan.

Kalo di #MeremMelekTour ada Ge Pamungkas yang jadi opener gue, kali ini opener #ILLUCINATI adalah Arie Kriting. Gue pilih Arie karna sejak pertama kali nonton dia di Malang, gue udah terkesima. Ada sesuatu yang sangat unik dan tajam dari cara dia berorasi dan berkomedi. Gue pilih dia tanpa ragu.

Oh iya, bicara soal opener, ada sesuatu yang baru yang gue coba lakukan, dengan bekerjasama dengan teman-teman di @StandUpIndoBali. Jadi di #ILLUCINATI, gue akan bawa opener dari Bali untuk perform di berbagai kota lain. Karena gue gak ada sponsor, jadi biaya transportasi dan akomodasi anak-anak ini akan ditanggung oleh kas urunan @StandUpIndoBali. Jadi semacam beasiswa dari komunitas, supaya para comic ini bisa dapet pengalaman berharga dengan ikutan gue tur. Keren ya? 🙂

Comic Bali yang akan ikutan adalah sebagai berikut:
1. Yullianto Lin (Malang, Sidoarjo, Surabaya)
2. Kuncir Satya Viku (Bandung, Bogor)
3. Agam Zahid (Semarang, Solo, Jogjakarta)
4. Abdul Hadi (Padang, Depok)
5. Koji Asoy (Makassar, Banda Aceh).

Terlepas dari semua hal yang udah gue ceritain tadi, tantangan terberat gue di #ILLUCINATI sebenernya lebih ke fisik. Tur gue ini padet banget, bahkan ada tiga weekend dimana gue akan tur di tiga hari berturut-turut di tiga kota berbeda. Plus, berbeda dengan #MeremMelekTour yang hanya satu jam, kali ini gue akan perform selama satu setengah jam. FYI, rekor gue sebelum ini hanya satu jam lima belas menit. Harus berlatih ekstra keras!

So please, wish me luck. I’m gonna need it 🙂

Sampai jumpa di #ILLUCINATI TOUR! Silakan intip video trailernya disini 🙂

[@ernestprakasa]

#MondayCanWait Edisi 2 – Minggu 25 Agustus 2013!

Screen Shot 2013-08-12 at 4.02.10 PM

Seperti yang pernah dijelaskan disini, bulan Juli lalu saya menggelar sebuah event berjudul “Monday Can Wait”.

Untuk teman-teman yang tidak sempat hadir, video highlight nya bisa ditonton disini.

Nah, sekarang saatnya saya mengumumkan #MondayCanWait edisi kedua, yang akan diadakan di Tryst Kemang pada Hari Minggu, 25 Agustus 2013 jam 4-6 sore. Yang akan turut meramaikan adalah:

1. Rachman Avri (Rookie Of The Month)
Apa jadinya bila mantan petugas cleaning service bertransformasi menjadi seorang comic? Simak penampilan newcomer dari komunitas Jakarta Utara ini.

2. Gilang Bhaskara (The Spotlight)
Oleh rekan-rekan sejawat, Gilang dijuluki “The Indonesian Jerry Seinfeld”. Di tangan Gilang, hal-hal yang setiap hari lalu-lalang dihadapan kita akan diolah menjadi materi yang amat menggelikan. Runner-Up Stand-Up Comedy Indonesia Kompas TV Season 2 ini akan memamerkan skill-nya dalam melakukan stand-up comedy observasi yang berkelas.

3. M. Iqbal Lubekran (Hot Seat)
Jangan heran bila namanya terdengar asing, karena Iqbal memang bukan artis. Sejak tahun 2008, ia mengabdi sebagai staff khusus bagi pria yang sekarang menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Bapak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Iqbal pasti tau betul seperti apa sosok jagoan kontroversial yang sedang naik daun tersebut, jadi obrolan ini dijamin akan seru!

4. Ernest Prakasa – Ge Pamungkas – Arie Kriting (Improv Comedy)
Seperti edisi sebelumnya, #MondayCanWait juga akan menampilkan sesi improv comedy. Kali ini, yang akan mendampingi Saya dan Ge adalah juara 3 Stand-Up Comedy Indonesia Kompas TV Season 3, Arie Kriting. It’s gonna be so much fun.

Diluar itu semua, tentu masih ada segmen From The Desk, dimana saya akan membawakan highlight berita-berita penting dengan gaya berbeda, dan juga segmen Head2Head, dimana saya akan mengajak penonton untuk saling mengadu ketangkasan dan kecerdasan dalam berbagai permainan seru.

Masih sama seperti bulan lalu, ada dua macam tiket masuk yang bisa dipilih:
1. Rp 100,000: First drink only
2. Rp 150,000: First drink + dinner set

Tiket sudah bisa dibeli mulai 14 Agustus 2013, dengan cara berikut ini:
– Transfer ke rekening BCA a/n Fauzan Taufik 6640436865
– Konfirmasi melalui 0899 9967 383 / 29E875D2 / fauzan.taufik@gmail.com
– Tiket akan diimel dalam bentuk PDF, silakan di-print & dibawa pada saat acara.

Demi kenyamanan, penonton akan dibatasi hanya 100 orang, jadi jangan sampai kehabisan! 🙂

Thanks & can’t wait to see you there!

[@ernestprakasa]

Introducing: #MondayCanWait

#MCW 1 - Jul'13

Jadi begini teman-teman..

Mulai Juli 2013, saya akan membuat event bulanan yang bertajuk “Monday Can Wait”. Kenapa dinamai demikian? Karena akan selalu diadakan di hari Minggu sore / malam. Saat-saat dimana kita mulai merasa “Oh shit, Monday is coming”. Saat itulah saya ingin bilang, “Yes, I know. But it’s still tomorrow. Let’s just have fun for a while, Monday can wait.” 🙂

Edisi perdananya akan digelar tanggal 21 Juli 2013 jam 4-6 sore di Tryst Kemang. Itung-itung sambil ngabuburit untuk teman-teman yang berpuasa.

Tapi pertanyaanya, event apa sih ini?

#MondayCanWait itu konsepnya semacam variety show versi off-air. Saya sebagai host akan menjamu teman-teman, dengan mengundang para penampil yang bisa jadi belum anda kenal, tapi pastinya layak untuk disimak. Bayangkan suasana nongkrong di cafe dengan teman-teman, dihibur oleh penampilan berkualitas. It’s gonna be fun, intimate, & memorable. Untuk episode perdana ini, saya akan mengundang:

1. Krisna Harefa (The Spotlight)
Krisna adalah salah satu comic muda yang paling saya kagumi. Bulan September mendatang, ia akan menggelar special berjudul “Ruang Tamu”. Bila belum pernah menyaksikan Krisna secara langsung, silakan datang dan simak mengapa “Ruang Tamu” tidak boleh dilewatkan.

2. Wiranto Ariez (Rookie Of The Month)
Setelah Fico dan Alphi yang telah meramaikan #SUCI3, kini komunitas stand-up comedy Depok siap mengorbitkan bintang baru. Namanya Wiranto. Jangan terkecoh namanya yang mirip jenderal, karena Wiranto yang ini sangatlah jinak & menggemaskan.

3. Dwika Putra (Lazy Tunes)
Selain dikenal sebagai comic, Dwika Putra juga adalah seorang penyanyi yang sudah merilis albumnya sendiri secara indie. Di #MondayCanWait, Dwika akan menunjukkan sisi merdunya. Harusnya sih merdu ya.

4. Special Guest (Improv Comedy Trio)
Ada tiga orang comic handal yang membentuk trio dan akan mencoba menghibur kita dengan atraksi improv comedy. Nama-nama yang sudah dikenal, sebenarnya, tapi sebaiknya dirahasiakan biar seru.

Lalu, ada apalagi? Well, sebagai host, saya bukan hanya akan mengantarkan para bintang tamu, tapi juga akan melakukan stand-up dengan gaya yang berbeda dengan yang biasanya saya lakukan. Plus, akan ada juga game show interaktif dengan penonton dengan hadiah yang semoga cukup menggembirakan.

Interested? Well, you should be 🙂

Ada dua macam tiket masuk yang bisa dipilih:
1. Rp 100,000: FDC + tajil only.
2. Rp 150,000: FDC + tajil + dinner set (main course + soft drink)*
*Pilihan main course: Nasi & Sop Buntut / Nasi Goreng Bebek / Fettucine Bolognaise

Tiket sudah bisa dibeli mulai 1 Juli 2013, dengan cara berikut ini:
– Transfer ke rekening BCA a/n Fauzan Taufik 6640436865
– Konfirmasi melalui 0899 9967 383 / 29E875D2 / fauzan.taufik@gmail.com
– Tiket akan diimel dalam bentuk PDF, silakan di-print & dibawa pada saat acara.

Demi kenyamanan, penonton akan dibatasi hanya 100 orang, jadi jangan sampai kehabisan! 🙂

Thanks & can’t wait to see you there!

[@ernestprakasa]

#StandUpFest 2013

Rabu, 13 Juli 2011.

Kafe dengan kapasitas sekitar 40-an tempat duduk mendadak diserbu sekitar hampir 200 orang. Mereka datang untuk menyaksikan sebuah pertunjukan stand-up comedy yang pada waktu itu, adalah sesuatu yang aneh. “Masa sih di Indonesia ada stand-up comedy?”

Well, ternyata ada. Ada bayi yang terlahir pada hari itu. Bayi mungil bernama @StandUpIndo.

Minggu, 16 Juni 2013.

Sebuah pagelaran dua hari di Hall Basket Senayan ditutup dengan tangis haru dan peluk bahagia. Sebuah perayaan ulang tahun si bayi yang kini berusia dua tahun, dihadiri oleh sekitar 8,000 orang. Selama dua hari, sekitar 100 komika silih berganti menghibur para penonton mulai jam 1 siang hingga 11 malam.

Yang memang suka stand-up comedy, datang untuk menjadi bagian dari sejarah.
Yang belum pernah nonton stand-up comedy, datang untuk menuntaskan rasa penasaran.
Keduanya, pulang dengan letih karena terlalu banyak tertawa.

Sebagai co-founder @StandUpIndo bersama Ryan Adriandhy (@Adriandhy), Isman HS (@ismanhs), Pandji Pragiwaksono (@pandji), & Raditya Dika (@radityadika); saya sulit mengungkapkan apa yang kami rasakan. Saya yakin hal yang sama juga dirasakan oleh segenap komika dan penggiat komunitas yang hadir dan atau terlibat dalam kepanitiaan. SPEECHLESS.

Lidah saya kelu, oleh karenanya saya akan merangkum #StandUpFest dengan foto ini:

["Buat para sinis yang 2 tahun lalu bilang 'stand-up comedy di Indonesia ga ada penontonnya', foto ini buat lo" - @Adriandhy]

[“Buat para sinis yang 2 tahun lalu bilang ‘stand-up comedy di Indonesia ga ada penontonnya’, foto ini buat lo” – @Adriandhy]

Well said, Ryan. Well said.

Terimakasih untuk keluarga besar @StandUpIndo, kekompakan kalian sungguh mengagumkan. Lintas kota, lintas pulau, satu semangat. Terimakasih khusus untuk Pak Ketua @StandUpIndo Sammy (@notaslimboy) dan Pak Ketua #StandUpFest Awe (@awwe_).

Terimakasih untuk Metro TV atas dukungan dan kepercayaannya terhadap seni ini, khususnya untuk Koh Agus Mulyadi (@Agus_Mulyadi) & Jeung Lanny Bergmann (@justElBee).

Terimakasih untuk yang sudah hadir. Terimakasih, terimakasih, terimakasih. Viva La Komtung!

Tertanda,
Seorang komika yang teramat berbahagia.

[@ernestprakasa]

Pengembangan Komunitas Stand-Up Comedy Lokal: Part 3 – Manajemen Keuangan (End)

Di dua bagian sebelumnya, saya sudah membahas tentang pentingnya open mic, dan bagaimana mengadakan sebuah event stand-up nite ataupun tour. Sekarang, apa yang terjadi apabila kedua hal tersebut sudah berjalan dengan baik? Jawabannya, uang akan datang.

MENGATUR KEUANGAN DI KOMUNITAS.

Menurut saya, ada dua hal krusial yang harus diingat saat mengatur keuangan di komunitas:

1. Sepakati dari awal.

Orang Indonesia cenderung menggampangkan urusan keuangan karena sungkan untuk tegas di awal, apalagi ini bukan organisasi formal. Jangan. Sejak semuanya dimulai, semua harus menyepakati beberapa hal yang mendasar, seperti:
– Siapa yang menjadi penanggungjawab keuangan? Apakah ketua? Bendahara?
– Bila komunitas mendapatkan penghasilan dari event, merchandise, atau lainnya, berapa persen yang harus disimpan menjadi uang kas?
– Uang kas tersebut akan digunakan untuk kegiatan apa saja?
Hal-hal sederhana seperti ini sangatlah penting untuk disepakati sejak awal komunitas terbentuk. Bila perlu, buat kesepakatan tertulis.

2. Transparansi = harga mati.

Tanpa transparansi keuangan, kehancuran tinggal tunggu waktu. Transparansi artinya ada pertanggungjawaban keuangan yang jelas bagi komunitas secara umum, bukan hanya bagi beberapa orang tertentu. Komunikasikan dengan baik arus keluar masuknya uang, agar tidak berkembang bibit prasangka buruk yang akan berujung perpecahan.

KOMUNITAS SEBAGAI TALENT MANAGEMENT

Matangnya sebuah komunitas stand-up comedy lokal normalnya akan dibarengi dengan semakin banyaknya pihak yang tertarik untuk meng-hire comic dari komunitas tersebut untuk menjadi pengisi acara. Ini proses yang sudah dialami langsung oleh cukup banyak komunitas stand-up comedy di Indonesia. Dan secara alamiah, akhirnya beberapa komunitas jadi bertindak seperti talent management untuk comic-comic yang ada. Ini bukan sesuatu yang buruk, tapi memang harus dijalankan dengan penuh kehati-hatian. Ingat, masalah uang bisa berakibat fatal. Ada beberapa hal yang penting untuk diingat:

1. Pisahkan urusan pribadi dengan urusan komunitas.

Saya melihat ada dua variasi dari praktek talent management ini, yakni komunitas yang bertindak sebagai talent management, atau individu di dalam komunitas tersebut yang secara personal bertindak sebagai talent management. Keduanya sah-sah saja, asalkan paham dengan resikonya. Apabila ada “pejabat” di komunitas yang juga bertindak sebagai manajemen dari comic tertentu, ia tetap harus bijak memilah kapan memposisikan diri sebagai manajer, kapan sebagai pemegang keputusan di komunitasnya. Pada prakteknya, ini adalah hal yang amat sulit dan rentan konflik, meskipun tidak mustahil. Asalkan semuanya dijalankan dengan itikad baik dan menjunjung tinggi rasa keadilan.

2. Rundingkan dan tetapkan pembagian keuntungan sejak awal.

Berapa persen yang harus diterima talent management, tentunya sangat bervariasi, tergantung dari job description yang diemban oleh management tersebut. Di dalam industri hiburan, besarannya biasa berkisar antara 15% hingga 30%. Sangat relatif. Sekali lagi, ini perkara sensitif. Sebaiknya gunakan surat kesepakatan tertulis.

3. Selalu aktif mencari perbandingan.

Sebagai pihak yang baru menjalankan hal-hal seperti ini, sebaiknya kedua pihak baik talent management maupun si comic selalu proaktif untuk mencari tahu tentang kerjasama serupa yang sudah lebih dahulu dijalankan oleh comin atau talent management lain. Ini penting untuk evaluasi dan mengokohkan kerjasama agar lebih solid dan bisa berjalan untuk jangka waktu yang panjang.

***

Saya paham masalah keuangan ini cukup rumit dan tidak mungkin diselesaikan dalam satu blog post. Bila teman-teman komunitas ada yang ingin ditanyakan perihal ini, silakan e-mail ke ernest.prakasa@live.com. Semoga saya bisa berbagi pengalaman 🙂

[@ernestprakasa]

Pengembangan Komunitas Stand-Up Comedy Lokal: Part 2 – Stand-Up Nite & Tour

Di bagian pertama, saya sudah membahas tentang pentingnya open mic sebagai tulang punggung dari pengembangan komunitas stand-up comedy di sebuah kota (atau kampus dan sekolah, sama saja prinsipnya).

Sekarang, fase kedua. Seandainya open mic sudah bisa terselenggara dengan rutin dan relatif lancar, maka yang berikutnya adalah menyelenggarakan event sendiri. Ada dua jenis event yang biasanya dilakukan: stand-up nite & tour. Keduanya memiliki tujuan yang sama: Menarik lebih banyak massa dan memperkenalkan stand-up comedy ke lebih banyak orang. Juga, memberikan “panggung” untuk comic lokal yang memang dianggap sudah layak tampil.

1. STAND-UP NITE

Istilah “stand-up nite” sendiri awalnya adalah judul event tanggal 13 Juli 2011, yang akhirnya tercatat menjadi event bersejarah. Namun seiring perkembangannya, istilah “stand-up nite” sinonim dengan sebuah penyelenggaraan event stand-up comedy yang di Amerika lebih dikenal dengan istilah “line-up show”, alias mempertontonkan banyak comic sekaligus.

Bicara event, pasti bicara modal dan untung/rugi. Disinilah panitia sudah harus berhitung. Komponen biaya yang paling besar biasanya adalah:
– Sewa tempat berikut kelengkapannya (sound / lighting)
– Publikasi (poster, spanduk, dll.)
– Guest comic (honor + transportasi/akomodasi)

Biasanya, guest comic akan jadi magnet untuk menarik penonton. Itulah mengapa komunitas sebaiknya melakukan riset yang teliti tentang siapa comic yang akan diundang. Yang disukai oleh internal komunitas, belum tentu diminati oleh penonton secara umum. Perlu ada keseimbangan.

Demi menghemat biaya, saya menyarankan dalam sebuah penyelenggaraan stand-up nite sebaiknya cukup mengundang 1-2 guest comic saja. Dan soal honor, jangan khawatir. Masih banyak sekali comic yang meskipun sudah sering wara-wiri di TV, tapi punya ketulusan untuk membantu pengembangan komunitas.

2. TOUR

Menjadi bagian dari rangkaian tour seorang comic akan memberikan berdampak positif bagi sebuah komunitas. Ada dua keunggulan tour dibandingkan stand-up nite:

1. Hype di social media.

Comic yang melakukan tur sudah pasti akan melakukan promosi secara intens. Belum lagi didukung oleh comic-comic lainnya, plus diamplifikasi oleh semua kota yang ia datangi. Hype ini yang sulit ditandingi oleh stand-up nite berskala lokal.

2. Menyontek ilmu.

Dibandingkan stand-up nite, sudah pasti persiapan dan penampilan dari seorang comic yang melakukan tour akan jauh lebih intens. Durasi tampilnya saja jauh berbeda. Ini bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi para comic lokal.

Namun dibandingkan dengan stand-up nite, tour juga memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Ini utamanya disebabkan oleh idealisme dari comic yang melakukan tour. Dan tentunya ini adalah sesuatu yang wajar, mengingat perlunya ada keseragaman dari konsep tour tersebut di setiap kota dimana ia diadakan. Seringkali, idealisme comic ini menyebabkan biaya produksi event menjadi lebih mahal dibandingkan dengan stand-up nite. Bisa jadi karena tuntutan untuk kapasitas gedung yang lebih besar, sound system yang lebih baik, dan lain-lain.

Mengingat tour adalah kerjasama antara kedua pihak yang sama-sama berkepentingan yakni comic dan komunitas, maka hal paling krusial yang harus disepakati di awal adalah bagaimana sistem pendanaan dan pembagian keuntungannya. Sifat orang Indonesia yang seringkali sungkan untuk membahas masalah uang harus disingkirkan jauh-jauh kali ini, karena justru bisa menyebabkan konflik di kemudian hari.

Karena tour sendiri masih merupakan sesuatu yang baru, jadi sulit juga bila ditanya bentuk kerjasama apakah yang paling ideal. Ini tergantung dari banyak faktor. Menurut saya, mana bentuk kerjasama yang ideal adalah sebuah kerjasama dimana kedua belah pihak merasa tidak merasa dirugikan, alias win-win. Apapun bentuknya.

Dilihat dari segi keuangan, berikut beberapa contoh bentuk kerjasama tour berikut contohnya, dengan asumsi kondisi tanpa sponsor:

1. Comic sebagai pemodal (no risk, no gain).

Ini adalah bentuk kerjasama yang saya jalankan waktu #MeremMelekTour kota 1-5, April-Mei 2012. Dalam format ini, 100% modal dibiayai oleh comic (sewa tempat, perlengkapan, dll.), dan komunitas mendapatkan kompensasi sejumlah uang untuk kerja tim mereka dalam penyelenggaraan acara. Format ini menurut saya paling masuk akal pada saat itu, karena resiko 100% ditanggung oleh saya sendiri. Tiket laku atau tidak, jumlah uang yang diterima oleh komunitas tetap sesuai dengan kesepakatan awal. Bagi komunitas, plus minusnya adalah sebagai berikut:
(+) Zero risk. Tidak keluar modal sepeser pun.
(-) Seandainya tiketnya sold-out sekalipun, komunitas tidak akan mendapatkan bagian.
Sampai saat ini, bentuk kerjasama seperti ini belum pernah terjadi lagi, karena menurut saya ini memang terlalu beresiko bagi si comic.

2. Komunitas sebagai pemodal (high risk, high gain).

Ini adalah kebalikan dari sistem sebelumnya. Disini, 100% pemodalan dilakukan oleh komunitas, dan seluruh hasil penjualan tiket pun menjadi milik komunitas. Tapi, agak mirip seperti stand-up nite, disini komunitas harus menanggung penuh biaya fee (bila ada), transportasi, dan akomodasi si comic beserta rombongannya. Plus minusnya bagi komunitas:
(+) Seandainya tiketnya laku, maka hasil yang didapat bisa sangat besar.
(-) Seandainya penjualan tiketnya tidak mencapai target, maka harus siap merugi.
Bentuk kerjasama ini termasuk salah satu yang paling populer saat ini. Meski tidak pukul rata di semua kota, namun praktek ini sudah dijalankan oleh beberapa tour seperti #AbsurdTour Kemal Palevi, #tanpabatas Sammy DP, dan #TACL Ryan Adriandhy.

3. Partnership (low risk, low gain).

Ini adalah sistem hibrida yang menggabungkan dua bentuk diatas. Ge Pamungkas dan #3GPtour-nya menjalankan sistem ini, demikian pula dengan #MarahTawa milik Setiawan Yogy. Disini, baik modal maupun hasil ditanggung bersama. Sebagai contoh, untuk #3GPtour, Merem Melek Management menanggung biaya fee comic, akomodasi, & transportasi. Sementara komunitas menanggung biaya penyelenggaraan event. Kemudian hasilnya dibagi dua, sesuai dengan persentase yang disepakati bersama. Plus minusnya bagi komunitas:
(+) Meski tetap butuh modal, namun resikonya berkurang.
(-) Karena hasil pendapatan harus dibagi dua, maka potensi profit pun terbatas.

Dari tiga format diatas, mana yang paling ideal? Tergantung selera masing-masing. Yang terpenting menurut saya, baik komunitas ataupun comic sudah paham resikonya dari awal, dan tidak ada yang merasa diperlakukan secara tidak adil.

***

Demikian bagian kedua dari serial tulisan saya tentang pengembangan komunitas stand-up comedy lokal. Di bagian terakhir nanti, saya akan membahas soal manajemen keuangan bagi komunitas lokal. Semoga berguna 🙂

[@ernestprakasa]

Pengembangan Komunitas Stand-Up Comedy Lokal: Part 1 – Open Mic

Sejak mulai bermunculan di akhir 2011 lalu, berbagai komunitas stand-up comedy di kota-kota se-Indonesia telah mencapai kemajuan yang luar biasa. Sebagian sudah bisa menggelar stand-up nite, menjadi host untuk tur, bahkan ada yang sudah membuat special show untuk comic lokalnya sendiri.

Namun harus diakui, laju perkembangan komunitas-komunitas ini tidak merata di semua daerah. Dan ini pun diakibatkan oleh kendala yang berbeda-beda. Sayangnya, ketidakmerataan akselerasi ini kerap ditanggapi negatif oleh pihak-pihak yang merasa ketinggalan. Tidak sedikit yang mulai putus asa karena merasa komunitas mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan kota-kota lain. Padahal, faktornya ada banyak, belum tentu salah mereka juga.

Melihat kondisi yang ada ini, saya ingin mencoba berkontribusi dengan membuat beberapa tulisan berseri, yang benang merahnya adalah bagaimana cara mengembangkan komunitas stand-up comedy di kota masing-masing. Tentu, tulisan ini lebih relevan untuk komunitas yang relatif baru, yang masih mencari cara untuk bisa memantapkan jejak kaki. Semua yang saya tulis bersumber dari buku-buku yang saya baca dan pengalaman saya yang baru 2.5 tahun ini. Of course, I could be wrong. But I’ll try my best.

Mari kita mulai dengan hal yang paling fundamental: Open mic.

Ibarat membangun rumah, open mic itu fondasi. Stand-up nite, stand-up tour, dan kawan-kawannya itu ornamen. Aneh kan kalo lebih fokus pada warna cat dan model kusen padahal rumahnya bisa ambruk sewaktu-waktu? Ini mungkin terdengar aneh. Stand-up comedy sudah berkembang sedemikian rupa, tapi kenapa saya masih mau membahas hal yang sangat basic? Kenyataannya, di beberapa kota yang saya saksikan langsung pun, open mic tidak berjalan dengan optimal. “Tapi kakkkkkk, ada koq kota yang open mic nya ga beres tapi bisa bikin event yang sukses!” Iya, betul. Tapi mereka rapuh. Bagaikan rumah mewah yang mentereng tapi rentan roboh.

Saya bisa mengerti betapa resahnya teman-teman komunitas yang merasa tertinggal oleh kota-kota lain yang lebih maju, tapi coba sadari dulu hal ini: Tanpa open mic yang berkesinambungan, kalian tidak akan bisa berkembang. Semua harus berjalan dengan bertahap. Open mic sangat krusial karena selain menjadi “dojo” bagi para comic untuk melatih jurus-jurus mereka, ini juga menjadi ajang pembibitan pasar. Ini menjadi salah satu sarana vital untuk melakukan penetrasi ke masyarakat, memberikan pengalaman kepada penonton, “Oh ini toh rasanya nonton stand-up comedy”.

Saya akan membahas open mic dari dua aspek, yakni teknis dan non-teknis. Aspek teknis berhubungan erat dengan tempat yang digunakan, sementara aspek non-teknis berhubungan dengan strategi penyelenggaraan acara.

BAGIAN I: ASPEK TEKNIS

Mencari tempat open mic yang ideal memang sangat amat sulit. But then again, mengembangkan komunitas stand-up comedy memang tidak mudah. Saya akan mencoba menjabarkan kondisi ideal yang masih dalam batas kewajaran. Tidak harus sempurna, tapi juga tetap harus memenuhi beberapa syarat mendasar. Berikut 3 hal yang menurut saya harus diperhatikan:

1. Cafe, jangan restoran.

Musuh terbesar dari seorang komedian adalah makanan. Seseorang yang sedang makan, tidak mungkin tertawa. Cafe, adalah tempat dimana orang datang untuk nongkrong, kongkow, atau mungkin bekerja. Restoran adalah tempat dimana orang datang untuk makan. Kecuali komunitasnya sudah bisa membawa massa sendiri, saya sarankan hindari open mic di restoran. Di cafe, lebih besar kemungkinan kita mendapatkan massa baru, yang mungkin tidak datang untuk menonton open mic, tapi kemudian ketagihan. Dan satu hal lagi. Di restoran, rotasi perputaran orang yang hadir akan lebih cepat, sehingga lebih banyak orang lalu-lalang. Belum lagi pelayan yang tak henti-hentinya keliling membawa baki makanan. Tampak sepele, tapi ini adalah gangguan-gangguan visual yang fatal.

2. Panggung harus terang.

Ini masih ada hubungannya dengan faktor visual. Saya sering sekali mendapatkan open mic di panggung yang gelap, atau memiliki penerangan yang sama dengan seisi ruangan. Ini memiliki dua dampak negatif yang sangat besar:
a. Penonton tidak memiliki titik fokus visual. Tanpa titik fokus visual, perhatian penonton sangat mudah teralihkan.
b. Penonton tidak bisa menyimak dengan optimal gestur tubuh dan mimik wajah si comic. Padahal hal-hal tadi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah penampilan stand-up comedy.

3. Waspadai gangguan suara.

Jangan sepelekan bunyi-bunyian yang mengganggu. Setengah detik saja set-up kita tidak terdengar, seluruh punchline bisa lumpuh total. Berdasarkan pengalaman saya, dalam open mic ada dua gangguan suara yang paling sering muncul:
a. Blender. Ini cukup tricky. Terkadang ada cafe yang blendernya terletak di luar / dekat bar, tanpa peredam suara pula.
b. Kendaraan bermotor. Biasanya ini terjadi apabila cafe terletak persis di tepi jalan raya.
(Di cafe yang full indoor sekalipun, gangguan ini bisa terjadi. Apalagi bila menggunakan cafe yang semi-outdoor. Terlalu beresiko.)

BAGIAN II: ASPEK NON-TEKNIS

Venue yang baik adalah modal yang luar biasa berharga. Tapi jangan lupa, perhatikan juga hal-hal berikut:

1. Jangan sepelekan peran MC.

Dalam open mic, MC bukan hanya sekedar pembawa acara. MC dalam open mic bertanggungjawab untuk:
a. Menghangatkan suasana. Berarti, MC harus lumayan lucu.
b. Mengedukasi penonton. Beri penjelasan umum tentang apa itu open mic, agar mereka paham kenapa ada yang berani naik panggung meski belum lucu. MC harus menjaga agar ekspektasi penonton ada di titik terendah. Semakin tinggi ekspektasi penonton, semakin berat tugas comic.
c. Menjaga ritme acara. MC harus pandai mengatur urutan comic yang tampil, agar tidak ada kejadian dua atau lebih berturut-turut comic yang nge-bomb total. MC harus cekatan memodifikasi urutan comic yang tampil demi menjaga kenyamanan penonton.

2. Jaga stabilitas durasi.

Dari minggu ke minggu, sebaiknya durasi open mic tidak berubah-ubah secara drastis. Bila dalam suatu minggu comic yang hadir sedikit, ya sudah. Tapi bila membludak, sebaiknya tetap dibatasi. Open mic yang terlalu lama akan berpotensi merugikan comic yang mendapatkan urutan akhir, karena sebagian penonton sudah beranjak pulang.

3. Beri variasi.

Tidak ada salahnya juga apabila sesekali ada variasi dalam bentuk acara, misalkan ada selingan battle, improv, dan lain-lain. Tidak harus ada, tapi bila ada akan lumayan menyegarkan.

***

Demikian bagian pertama dari serial tulisan saya tentang pengembangan komunitas stand-up comedy lokal. Di bagian kedua nanti, saya akan mulai membahas event stand-up comedy yang bisa diselenggarakan oleh komunitas lokal. Semoga berguna 🙂

[@ernestprakasa]

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits – Post-Event Notes (Part 3 – End)

Screen Shot 2013-02-26 at 9.39.14 AM

10 Juli 2012. Saya menutup rangkaian Merem Melek Tour di Gedung Kesenian Jakarta.
Seharusnya, hari itu ada banyak bangga yang meluap. Tapi nyatanya, lebih banyak rasa kecewa.
Sebagai seorang comic, saya merasa penampilan saya malam itu jauh dari harapan. Ada banyak aspek teknis yang seharusnya bisa diperbaiki.
Meski banyak respon positif yang masuk, saya tetap bersikukuh bahwa malam itu, saya gagal.

Yang ada di benak saya waktu itu hanya satu: Balas dendam. Tepat sehari kemudian, 11 Juli 2012, saya langsung menghubungi pihak GKJ untuk booking gedung lagi, supaya saya bisa segera menebus kegagalan. Dan akhirnya saya menemukan tanggal yang cocok: 9 Februari 2013, tepat sehari sebelum Imlek.

Dan sejak itu, mata saya tertuju ke hari Sabtu 9 Februari 2013. Hari yang harus saya jadikan ajang pembuktian sekaligus penebusan.

Ada banyak yang terjadi antara #MMTJKT dan #GKJ9Feb. Seiring bertambahnya jam terbang (meski belum seberapa), saya semakin mengenal karakter saya sebagai comic. Dulu, saya masih mencari-cari persona, tapi sekarang sepertinya saya mulai bisa mendefinisikan seperti apa stand-up comedy seorang Ernest Prakasa:

1. Santai

Sebagai penonton, saya selalu menikmati penampilan penuh energi & emosi ala Chris Rock. Tapi sebagai comic, saya tidak nyaman melakukan itu. Daripada autoritatif, saya lebih suka tampil persuasif. Daripada preachy & “mencerahkan”, saya lebih suka “mengajak ngobrol”. Menurut saya ini bukan perkara teknik mana yang lebih baik, tapi murni preferensi pribadi. Itulah kenapa saya bahagia membaca beberapa review (link-nya ada di bagian akhir blog post ini) yang secara spesifik mengatakan bahwa penampilan saya itu santai, seperti sedang mengobrol dengan teman. Saya merasa sudah lumayan bisa melemparkan punch tanpa harus selalu ngotot & menarik urat; sesuatu yang selalu saya kagumi dari idola saya, Ellen Degeneres. Paling tidak, saya sudah berusaha mengasah gaya delivery saya, dan hal itu dirasakan langsung oleh penonton.

2. Inner-Self Oriented

Dalam stand-up comedy, istilah “inner-self” mengacu pada teori yang dipopulerkan oleh Judy Carter, tentang sumber materi yang berasal dari dalam diri sendiri, baik itu keresahan, trauma, pengalaman, dan lain-lain. Semakin hari, saya merasa semakin nyaman untuk membahas hal-hal yang dekat dengan saya, dan semakin enggan untuk mengobservasi hal-hal umum yang tidak bersinggungan langsung dengan hidup saya sehari-hari. Itulah kenapa di #GKJ9Feb – selain materi soal Cina tentunya – saya banyak bercerita soal pengalaman saya waktu SD, soal anak saya Sky yang sudah mau masuk TK, bahkan soal babysitter saya, Umi.

3. Politically Correct

Saya rasa, lahir sebagai etnis minoritas telah membentuk saya menjadi pribadi yang non-konfrontatif. Saya cenderung menghindari perselisihan. Dan hal ini yang tidak bisa saya ingkari dari pilihan topik yang saya bawakan. Paling tidak untuk saat ini. Saya merasa tidak nyaman untuk membahas hal-hal yang kontroversial, ataupun secara agresif menghakimi pihak tertentu. Dan saya sadar, ciri ini telah mengarahkan saya untuk bermain di jalur “pop” yang relatif terkesan mainstream. Lebih sering membahas hal yang ringan-ringan. Tapi tentu, ini sah-sah saja. Karena saya percaya berkarya itu bukan soal ingin tampil “indie” atau sok keren, tapi soal jujur pada diri sendiri.

Tapi tentu, mengenal diri sendiri saja tidak cukup. Ada satu blunder krusial saya di #MMTJKT yang wajib saya perbaiki: KURANG LATIHAN.

Waktu mempersiapkan #MMTJKT, saya terlalu asyik writing dan rewriting, berusaha menajamkan bit-bit yang saya bawa selama Merem Melek Tour di 10 kota, sambil menulis bit-bit baru yang memang disiapkan khusus untuk #MMTJKT. Dan ternyata, menulis materi itu mengasyikkan. Saking asyiknya, saya sampai lupa untuk membuat deadline kapan harus berhenti menulis, mengunci bit saya, lalu mulai melatihnya dengan total.

Di #GKJ9Feb, saya bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Deadline saya jelas: H-7, saya sudah tidak boleh lagi fokus di rewriting. Waktunya latihan, latihan, dan latihan. Dan berkat ini, saya bisa menjejakkan kaki dengan percaya diri di panggung GKJ, dua pertunjukan dalam sehari.

Berikut adalah beberapa blog post dari para penonton #GKJ9Feb:
“Ketawa Sampe Nangis Di #GKJ9Feb Ernest Prakasa & The Oriental Bandits” by Regy Kurniawan (@regycleva)
“Apa Yang Gue Bawa Sepulang Dari #GKJ9Feb” by Roy Saputra (@saputraroy)
“First Time Watching Stand-Up Live” by Fiyana (@pipinbush)
“2 Hours Of Laughters” by Syahda Ahyar (@syahda35)
“Review Ernest Prakasa & The Oriental Bandits” by Stephany Josephine (@teppy87)
“Bertumbuh, Berasimilasi Seperti Ernest Prakasa” by Astro Doni
“Ernest Prakasa & The Oriental Bandits #GKJ9Feb” by Santi Fang (@santifang)

Secara pribadi, apakah saya puas dengan #GKJ9Feb? Sangat. Saya merasa senang karena:
1. Saya telah menebus dosa saya di #MMTJKT. Banyak kekurangan teknis yang telah saya perbaiki.
2. Saya telah semakin mengenal diri saya sendiri sebagai seorang comic, dan penonton pun merasakan itu.
3. Saya hampir meng-sold-out-kan 2 kali pertunjukan. Sayang sekali sore itu hujan deras dan banjir menerpa, sehingga show kedua tidak 100% penuh. Still, I’m more than grateful.

Saya bahagia, karena kerja keras saya berbuah manis. Tapi ya sudah. Saya sudah harus kembali menatap jauh ke depan. Time to raise the bar and beat myself. Again.

[@ernestprakasa]

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits – Post-Event Notes (Part 2)

Di bagian kedua ini, gue akan coba nge-review para comic pembuka alias opener.
Sekedar informasi, urutan opener di show 1 & 2 itu berbeda. Urutan di show 1 (14:00) adalah Dwika, Alonk, Lian, Barry. Di show 2 (19:00), kebalikannya: Barry, Lian, Alonk, Dwika.

So, here they are:

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

1. Dwika Putra (@dwikaputra)

Secara jam terbang di arena open mic, Dwika adalah yang paling “senior” diantara empat opener #GKJ9Feb. Itulah kenapa gue percayakan pada Dwika untuk mengemban sebuah tugas berat, yakni menjadi comic pembuka di show pertama. Tapi sesuai prediksi gue, Dwika bisa menjalaninya dengan baik. Sangat baik, malah. Hanya terasa shaky di detik-detik awal, lalu melaju dengan lancar. Dan sebagai pembuka, Dwika directly set the tone for the whole show. Bahwa kita akan membahas soal orang Cina & segala kecinaannya, dengan cara yang belum pernah anda saksikan sebelumnya.

Best bit: “Cina itu bukan ras. Cina itu gaya hidup!”

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

2. Vania “Alonk” Margonoharto (@alonkii)

Kebalikan dari Dwika, Alonk adalah yang paling “junior” diantara para penampil. Tapi sejak awal, saya yakin bahwa Alonk bisa memberikan warna tersendiri, dan itu terbukti di atas panggung. Dengan logat Cina Jakarta yang kental, Alonk membahas isu-isu yang dekat dengan kehidupan anak muda. Melihat penampilan Alonk yang cukup solid di panggung megah GKJ, rasanya agak sulit percaya bahwa ia baru lima kali naik ke panggung open mic. Salute!

Best bit: “LDR itu bukan Long Distance Relationship. Tapi Lu Doang Relationship. Cuma elu doang yang berasa pacaran, dianya kaga!”

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

3. Yullianto “Lian” Lin (@LiantLin)

Menurut saya, Lian ini adalah salah satu bakat menjanjikan di jagad stand-up tanah air. Observasinya menggelitik, dan delivery-nya benar-benar kocak. Cempreng & nyolot, tapi malah bikin lucu. Dengan jam terbang yang relatif masih sedikit, Lian sudah tampak cukup matang. Saya tidak sabar menantikan Lian terus bertumbuh & menjadi salah satu comic (Cina) yang mumpuni.

Best bit: “Orang suka bilang ‘Heh Cina, sana pulang aja ke negara lu!’. Nah masalahnya, di Indonesia kita jadi minoritas, tapi kalo ke Cina, kita pun tetep jadi minoritas. Kenapa? Karna kita ga bisa bahasa Cina!”

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

4. Barry Williem (@jekibarr)

Sepengetahuan saya, Barry adalah comic yang paling banyak dibicarakan hari itu. Mungkin orang terkaget-kaget melihat comic dengan casing Cina tapi audio yang 100% Betawi pinggiran. Medok pula. Tapi tentu bukan hanya itu yang membuat Barry stand-out. Bit-bitnya soal Kampus BSI yang memang sudah ia asah sejak cukup lama, sukses menebas penonton. Secara persona, Barry memang salah satu yang paling “jadi”. Dan untuk ini, sepertinya Barry cukup berhutang budi pada almamater yang senantiasa ia cela tersebut.

Best Bit: “Gue kuliah di kampus saingan UI: BSI. Kenapa gue bilang saingan UI? Karena UI itu luas banget kampusnya. BSI juga. Tapi nyebar.”

Itu dia keempat opener di #GKJ9Feb.
As soon as I can, I will follow up this post with Part 3, which is my review on my own performance. 🙂

[@ernestprakasa]

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits – Post-Event Notes (Part 1)

[photo by @conecamera]

[photo by @conecamera]

I will write about #GKJ9Feb in three separate posts. The first one is the credit title. I want the world to know, that I owe:

JESUS CHRIST ALMIGHTY. Nuff said.

My wife Meira Anastasia. My catalyst. My ever-so-dependable wing(wo)man. My loyal partner for the last 11 years.

My daughter Sky Tierra Solana. My 1/3.

My mom, dad, & sister: Wahyudi Hidayat, Jennie Lim, & Audrey Jiwajennie.

My manager Dipa Andika. The ice to my fire. The one who’s responsible in making sure that everything is taken care of, so that I can focus on my performance. Without him, my head will be torn apart.

My personal assistant Fauzan Taufik. The one who gets everything done & rarely dissapoints.

My babysitter Sulis “Umi” Sumartini, who inspired a 10-mins of hard-rockin’ materials.

My openers: Dwika Putra, Barry Williem, Vania “Alonk” Margonoharto, Yullianto “Lian” Lin. I will write more about them on the next post.

Our main partner, Multiply: Vina Gondosaputro, Mario Fajar, Reginald Suriasubrata, Cicillia Veti Irnawati, Edi Saputra, and the whole team.

Our broadcasting partner, Metro TV: Lanny Bergmann, Agus Mulyadi, and the whole team.

Our event partner: Holycow Radal, CupCakes & Co, Papa Rons Pizza, Coca-Cola Amatil, Beritagar.

#GKJ9Feb event management team:
– Sessa Xuanthi, the rock-solid commander in chief.
– Triantono Adiputro, ever-so-reliable the head of production.
– Production team: Haris Kristyanto, Yogi Trisno Purnama, Dimas Yudhistira, Mardi.
– Show management team: Wahyu Hidayat, Maria Ulfa, Frita Oktaviyani, Febrian.
– Ticketing & usher team: Frans Kertanegara, Melya Puspita, Christian Febriano Romlin, William Piet, Claudie Faustine, Varian Adi Putra, Dionisius Silvester Ferdi, Mario Aditya.
– Merchandise coordinator: Christian Dwi Saputra.

Cone Camera’s awesome photo & video team: Okky Prasetyo, Gusti Satriyo, Bapuk, Gogo Agogo, Ersta Satrya, Danis Pamuka, Dimas Oetomo, Rosyid Akbar.

My comic inspiration:
– Pandji Pragiwaksono, who set an example on how to be a good entertainer.
– Isman H. Suryaman, who taught me to prioritize honesty in writing my materials.
– Muhadkly “Acho”, who showed me that you don’t have to always talk about serious stuff to be a great comic.
– Genrifinadi “Ge” Pamungkas, who gave me an example on how to act it all-out.
– Kevin Hart, who proved that if mastered well, story-telling is a powerful, powerful tool. I owe my closing bit to him.
– Ellen Degeneres, who inspired me every single step of the way. Who instilled self-belief in my style of performance.

And last but most definitely not least, to all that came to see the show. None of this matters without your support. I’m humbled with gratitude 🙂

THANK YOU.

[@ernestprakasa]

4 Alasan Kenapa Nonton Stand-Up Comedy LIVE Lebih Seru Daripada Di TV

Pertama-tama, tujuan saya menulis ini, bukan untuk membela diri dari tudingan garing atau nggak lucu oleh para penonton yang menyaksikan melalui layar kaca. I didn’t write this for the haters, coz they barely deserve my single tweet, let alone a full blog post.

Tulisan ini ditujukan untuk orang-orang yang berminat untuk menikmati stand-up comedy secara penuh, bukan setengah-setengah. Dan sudah jelas, menonton stand-up comedy secara live akan memberikan pengalaman yang jauh lebih mengesankan dibandingkan dengan menonton melalui TV. Kenapa? Berikut empat alasannya:

1. Sensor

TV adalah media massa yang terikat oleh kode etik & undang-undang. Ada banyak batasan, dan tentunya ini bisa dipahami. Konsekuensinya, ada belenggu yang kuat bagi idealisme seorang comic, manakala ia harus patuh pada batasan-batasan ini. Bayangkan seorang vokalis grind-core yang dibatasi volume growling-nya, tidak boleh terlalu keras. Atau lebih sederhananya, bayangkan seorang penyanyi dangdut yang dilarang bergoyang erotis. Kurang lebih seperti itu analoginya. Ada pernik seni yang terpenggal, kreativitas yang terkekang.

2. Emotional Investment.

Menurut Jay Sankey, “emotional investment is the fuel to laughter”. Bila tawa adalah kobaran api, maka agar bisa menyala, butuh bahan bakar. Pada prakteknya, untuk bisa tertawa pada saat punchline dilempar, maka penonton perlu memberikan investasi emosi yang cukup kepada set-up yang disusun. Karena sejatinya, set-up itu bukan hanya perlu didengar, tapi juga harus dimengerti. Ada perbedaan kesiapan mental antara menonton stand-up comedy di TV & secara live. Dan baik disengaja ataupun tidak, menonton stand-up comedy melalui TV akan mengurangi emotional investment karena selain TV, bisa ada hal-hal lain yang menyita perhatian kita. Mulai dari suara kripik yang anda kunyah, hingga tukang siomay yang lewat di depan rumah. Hal-hal yang sepertinya remeh ini, bisa mengakibatkan terdistorsinya pemahaman akan konteks joke secara keseluruhan, dan pada akhirnya, mengurangi kemungkinan terpancingnya tawa.

3. Physical Investment

Menurut saya, selain teori emotional investment Jay Sunkay diatas, sejatinya penonton yang menyaksikan langsung juga secara sadar maupun tidak telah melakukan physical investment. Menonton di TV tidak menuntut physical investment. Tinggal duduk/tiduran, leha-leha, sambil ngemil. Bebas. Sebaliknya, menonton stand-up comedy secara live, berarti anda mau pergi meninggalkan rumah untuk datang ke tempat acara, lalu duduk bersama para penonton lainnya. Semua yang duduk disana sudah meluangkan waktu, tenaga, serta biaya. Dan secara fisik pula, panca indera kita akan mampu untuk lebih fokus. Siap untuk menyimak, siap untuk tertawa.

4. Ambience.

Bila anda pernah menonton konser, pasti paham maksud saya ini. Betapa canggih pun kualitas video maupun audio dari penampilan musisi di layar kaca, tentu tidak bisa menggantikan perasaan yang muncul ketika hadir secara langsung di dalam arena pertunjukan. Menikmati suasana bersama puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan orang lainnya, merasakan pengalaman yang bukan hanya bisa dinikmati oleh mata & telinga, tapi lengkap dengan merindingnya bulu kuduk. Dan jangan lupa, faktanya adalah bahwa seperti halnya menguap, tertawa itu menular. Ini yang tidak bisa dinikmati dengan cara duduk di depan TV. Terjangkit gelombang tawa yang menyapu seisi ruangan.

Yah, kira-kira begitulah. Jadi, bila sampai sekarang anda belum pernah menonton stand-up comedy secara live, saran saya, segera coba, at least once. You’ll see what I’m talking about. Derai tawa yang membahana itu candu, kawan. 🙂

[@ernestprakasa]

Safety Net

Salah satu atraksi tradisional paling menarik dan wajib ada dalam pertunjukan sirkus adalah trapeze, yakni akrobat dimana satu orang atau lebih bergelantungan dan berpindah dari satu tali gantungan ke tali gantungan yang lain, sambil melakukan berbagai manuver yang mengundang decak kagum. Kesemuanya ini, dilakukan pada ketinggian yang ekstrim, sehingga jatuh akan berakibat fatal bagi para pelakunya.

Trapeze diciptakan oleh seorang Perancis bernama Jules Leotard pada tahun 1859. Awalnya, ia menggunakan matras sebagai pengaman. Otomatis, tinggi trapeze pun belum seperti sekarang, karena kemampuan kasur sebagai alas pengaman sangat terbatas. Namun seiring perkembangan waktu, sirkus-sirkus mulai menggunakan jaring pengaman alias safety net. Dan inovasi penggunaan safety net inilah yang memungkinkan atraksi trapeze untuk dilakukan dengan ketinggian yang semakin menjulang.

***

Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima berkaitan dengan karir saya sebagai comic:

“Koq berani sih terjun full-time ke stand-up comedy yang waktu itu baru muncul & belum jelas masa depannya?”

Memang, keputusan saya terkesan nekat. Apalagi pada waktu saya resign dari kantor tersebut (Agustus 2011), saya notabene merupakan seorang suami dan ayah dari satu anak balita, artinya bukan hanya bertanggungjawab terhadap diri sendiri, tapi juga anak sendiri, dan anak orang (istri saya). Tapi sebenarnya, keputusan saya tadi tidak nekat, melainkan penuh kalkulasi. Saya akan jelaskan maksudnya.

Tapi sebelumnya, saya ingin ceritakan alasan kenapa saya ingin berbagi soal hal ini. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, muncul berbagai gerakan yang menyemangati orang-orang untuk hidup sesuai passion. Untuk mengerjakan apa yang kita cintai & membuat kita bahagia, bukan sekedar mencari gaji belaka. Konon dengan menjalani hidup yang seperti ini, kita akan memiliki kepuasan batin yang nilainya tidak terbeli dengan uang.

Apakah benar? Berdasarkan pengalaman saya, iya. Tapi, menurut saya, hal ini tidak mudah diterapkan. Setiap orang punya kondisi, ekspektasi, dan nyali yang berbeda-beda. Justru salah satu tujuan saya menulis post ini adalah untuk menunjukkan, bahwa untuk “banting stir” dan meninggalkan comfort zone demi mengejar passion, saya butuh sebuah modal besar. Modal yang saya ibaratkan sebagai safety net dalam permainan trapeze, untuk menjaga seandainya “lompatan” saya gagal dan saya terjatuh.

Safety net saya pada waktu itu ada dua. Yang pertama tentunya tabungan. Saya sudah hitung, seandainya gaji bulanan saya hilang, minimal kami sekeluarga tidak akan kelaparan selama tiga bulan kedepan. Tentunya, angka rupiahnya akan berbeda-beda untuk tiap orang.

Tapi safety net yang pertama tadi tidak akan membuat saya berani untuk naik ke tangga trapeze yang tinggi, seandainya saya tidak punya safety net yang kedua, yakni pengalaman kerja. Saat kuliah, saya bekerja di salah satu radio anak muda di Bandung. Setelah lulus, saya melanjutkan siaran di salah satu radio anak muda di Jakarta. Total, saya punya pengalaman lima tahun siaran plus satu tahun menjadi Music Director.

Pekerjaan sebagai Music Director di radio tadi pula yang mengantarkan saya untuk bekerja di industri musik. Sejak bulan Mei 2005, saya berkantor di salah satu major label internasional di Jakarta. Di Agustus 2011, berarti saya sudah punya pengalaman enam tahun lebih bekerja di industri rekaman, dan secara keseluruhan, saya sudah sebelas tahun berkecimpung di industri musik. Ini safety net saya. Saya sudah punya portfolio yang cukup. Saya berani “melompat” dengan pemikiran:

“Yaudah lah, kalo stand-up comedy ternyata gagal, gue bisa keliling bawa CV. Masa iya kaga ada yang mau nampung.”

Begitulah kira-kira.

Kesimpulannya? Hidup sesuai passion itu adalah kebahagiaan, sekeping surga. Namun untuk sampai kesana, butuh proses yang tidak mudah dan mungkin berbeda-beda untuk masing-masing orang.

Jangan lupa, sama halnya dengan permainan trapeze modern, yang berani melompat tinggi tanpa safety net pun ada. Tapi, lagi-lagi, sama seperti trapeze: jatuh akan mengakibatkan semuanya GAME OVER.

[@ernestprakasa]

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits (#GKJ9Feb)

Tanggal 10 Juli 2012 adalah salah satu momen terindah dalam hidup saya. Di Gedung Kesenian Jakarta, #MMTJKT alias Merem Melek Tour Jakarta, penutup dari rangkaian Merem Melek Tour, sebuah stand-up comedy tour yang tercatat sebagai yang pertama kali diadakan di Indonesia.

Saya tidak menyangka tiket malam itu akan sold-out, dan saya tidak berharap mendapatkan full-house standing ovation. Tapi kedua hal tersebut benar-benar terjadi, dan saya sungguh bersyukur. Saya anggap itu cherry on top dari perjuangan panjang yang melelahkan. Momen-momen terbaik di hari itu dirangkum dalam video 1,5 menit ini.

Tanggal 9 Februari 2013, saya akan mengadakan stand-up special saya yang kedua kalinya di Jakarta. Tanggal yang sangat spesial, karena itu adalah satu hari sebelum Imlek. Sudah tentu, saya akan banyak membahas soal being a chinese in Indonesia. Judulnya adalah “Ernest Prakasa & The Oriental Bandits”, atau yang akan disingkat dengan hashtag #GKJ9Feb.

Ada banyak hal yang akan saya bahas disini, dan sebagian besar menyangkut hidup saya sendiri. Tentang pengalaman saya jadi minoritas selama di SMP, dan sebaliknya, menjadi mayoritas ketika SMA di daerah Kota. Tentang keresahan saya menjadi anak, suami, dan ayah. Dan tentu, tentang isu-isu sosial yang menurut saya perlu untuk dibahas, dan kadang, diolok-olok.

[photo & design by @okkyprasetyo]

[photo & design by @okkyprasetyo]

Saya bukan satu-satunya orang bermata sipit yang akan muncul di panggung megah GKJ. Akan ada empat orang opener yang juga memiliki ukuran mata minimalis dan berbagi garis etnis dengan saya, yakni: Barry Williem (@jekibarr), Yullianto Lin (@LiantLin), Dwika Putra (@dwikaputra), dan Alonk (@alonkii). Masing-masing dari mereka akan tampil selama 15 menit, lalu saya akan tampil selama satu jam penuh.

Akan ada dua pertunjukan di hari itu, dan mengingat sebagian teman-teman harus berkumpul bersama keluarga di malam sebelum Imlek, maka show pertama akan digelar siang hari, yakni 14:00 – 16:30. Show kedua akan diadakan jam 19:00 – 21:30. Berikut harga tiket beserta denah tempat duduk GKJ:

Tiket akan mulai dijual hari Sabtu 12 Januari jam 12 siang di ernestprakasa.multiply.com. Ada promo buy 3 get 1 free selama satu minggu pertama.

Hope to see you there guys! 🙂

[@ernestprakasa]

Lima Komika Paling Melesat Di 2012

Tahun 2012 menjadi tahun yang amat sangat luar biasa bagi stand-up comedy di Indonesia. Ada begitu banyak special event, tur, hingga berbagai program regional komunitas lokal yang patut diacungi jempol.

Di tahun 2012 ini pula, beberapa nama baru yang di 2011 belum diperhitungkan – atau belum pernah terdengar sama sekali – mendadak muncul ke permukaan kancar stand-up comedy nasional. Nama-nama yang sepertinya akan menjadi semakin cemerlang di 2013.

Berdasarkan urutan abjad, inilah 5 rising stars stand-up comedy Indonesia 2012 versi saya:

1. Adriano Qalbi / @adrianoqalbi

Sebenarnya, Adriano Qalbi mulai menjajal panggung open mic sejak awal-awal heboh stand-up comedy di akhir 2011 silam. Tapi sepanjang 2012, pria yang sebelumnya berprofesi sebagai copywriter di advertising agency ini bertransformasi kilat dari “just one of the open mic participants”, menjadi “indonesia’s comic’s comic”, alias komika yang menjadi panutan bagi banyak komika lain.

Pengalamannya sebagai copywriter terbukti membekalinya dengan ketajaman menulis yang mengundang rasa iri dari komika manapun. Dengan kemampuannya menemukan, mengolah, dan menyampaikan premis yang ciamik, Adri secara tidak resmi pun ditahbiskan sebagai Chris Rock-nya Indonesia. Adri menutup 2012 dengan dua catatan penting: Menjadi pembuka stand-up special Pandji Pragiwaksono “INDONESIA:”, serta mengambil alih tongkat estafet dari Pandji untuk salah satu program paling berpengaruh di Hard Rock FM – bahkan mungkin di radio manapun di Indonesia – Provocative Proactive.

2. Bintang Timur / @bintangbete

Sebagai seni, stand-up comedy juga tidak luput dari faktor bakat. Dan bagi beberapa komika tertentu seperti Soleh Solihun dan Mongol Stres, bakat yang begitu besar membantu mereka untuk bersinar tanpa bekal teknik dasar sekalipun. Komika yang satu ini, masuk ke kategori barusan. Bagi Bintang, mengalirkan punchline demi punchline tampak begitu mudah. Effortless. Gayanya yang slengean dan ignorant bisa dengan mudah diterima penonton karena tampak begitu alami. Tidak dibuat-buat. Dan entah disengaja atau tidak, Bintang menggunakan persona tadi untuk menyampaikan materi-materi yang memang cocok dengan penampakannya di mata penonton.

Terbukti, pertengahan 2012 lalu komika Bekasi ini sukses menggondol Juara 1 di ajang bergengsi #StreetComedy2, sebuah gelaran rutin @StandUpIndo yang diikuti oleh banyak komika-komika handal. Dalam perkembangan stand-up comedy di dalam negeri, masih sangat sedikit komika Indonesia yang memiliki daya penetrasi ke berbagai lapisan masyarakat. Dan Bintang, adalah salah satu dari komika-komika istimewa tersebut.

3. Ge Pamungkas / @GePamungkas

Mengikuti jejak Ryan Adriandhy yang menjuarai SUCI Kompas TV Season 1, Ge Pamungkas juga menunjukkan dominasinya sejak awal Season 2. Sebagai peserta yang tampak paling kokoh sepanjang kompetisi, banyak yang memprediksi bahwa Ge akan muncul sebagai juara. Dan hari itu di malam final, Ge membuktikan ramalan tersebut dengan penampilan yang memukau Indonesia.

Salah satu faktor yang membuat komika didikan komunitas @StandUpIndoBDG ini mudah dikenali adalah gaya penyampaian materinya yang unik. Totalitasnya dalam melakukan ekspresi wajah dan gestur tubuh kerap mengundang decak kagum, baik dari penonton maupun dari rekan sejawat. Ditambah dengan semangat belajar dan kerja keras yang mengalir deras, Ge berhasil menorehkan namanya di hati para penikmat stand-up comedy sepanjang tahun yang silam.

4. Jui Purwoto / @juijuijuijui

Jui. Nama ini bisa dibilang adalah komika yang “menjajah” berbagai program stand-up comedy di Metro TV sepanjang tahun 2012. Kemunculannya semakin hari semakin dinanti, terutama di paruh kedua tahun 2012. Semoga ini berarti, penampilan Jui memang membawa berkah bagi rating Metro TV. 🙂

Menurut saya, wajar bila Jui jadi idola baru layar kaca. Format penayangan stand-up comedy di televisi sangat menuntut kesederhanaan materi dan kepadatan titik tawa, dua hal yang dikuasai dengan baik oleh komika asal Bogor ini. Sebagian besar dari kita pasti punya temen yang paling ngocol, yang setiap lagi nongkrong selalu bisa bikin yang lain tertawa. Jui, adalah orang itu, dalam versi yang (seringkali) lebih lucu.

5. Kemal Palevi / @kemalpalevi

Banyak yang setuju bahwa tahun 2012 adalah tahunnya Kemal. Gagal melaju ke grand final SUCI Kompas TV Season 2, Kemal justru unjuk gigi lewat #AbsurdTour, tur stand-up comedy yang melintasi Pulau Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Persona panggungnya yang tulus dan candid membantu Kemal mendekatkan diri dengan fansnya, yang menamakan diri mereka Kemalicious.

Dan kebintangan Kemal memang istimewa. Saya menyaksikan sendiri bagaimana para Kemalicious menyambut idolanya dengan jerit histeria, seolah itu adalah sosok Justin Beiber yang hadir di hadapan mereka. Dan mungkin saat ini, hanya Kemal yang memiliki kekuatan seperti itu. Kemal Palevi telah membuktikan bahwa komika bisa menjadi idola remaja, dan ini, adalah kontribusi yang manis bagi perkembangan stand-up comedy di Indonesia.

[@ernestprakasa]

#MeremMelekTour – The Credit Title

Merem Melek Tour is nothing but a mere wish if it weren’t for these people. Here’s my thank you list.

First and foremost, my pal Jesus Christ. Thanks dude, you’re the best!

My wife Meira Anastasia. Thanks for being a solid partner in everything I do. I’m truly blessed.

My manager Dipa Andika, who worked almost as hard as I did, every step of the way. Thanks bro.

My man behind the lens, Pio Kharisma. Without him, #MMT wouldn’t have so many stories to share.

My opener in 11 cities, Ge Pamungkas. A brilliant talent whom i learned a lot from.

The local communities and their coordinators. @StandUpIndo_BDG (Nita Sellya & Sanny Durant), @StandUpIndoSMG (Gondrong), @StandUpSOLO (Allan Bona), Eko Julianto & @StandUpIndoBALI (Cok Jayanthi & Kalpika Sari), @StandUpIndo_MLG (Yoel Yaspier), @StandUpIndo_SBY (Angga Prameswara), @StandUpIndoMKSR (Aldy Permana), @StandUpSMD (Setiawan Yogy), @StandUpPLK (Arie Sadewo). You made this happen.

Coffee Toffe Indonesia who sponsored 6th to 10th city. To Mika Affandy thanks for trusting me, I hope you guys enjoyed it as much as I did. To Rachman Maulana, thanks for your hard work. I’m honored.

My guest comics & dear friends: Ence Bagus (Bandung & Surabaya), Asep Suaji (Semarang & Solo), Luqman Baehaqi (Makassar & Kendari), Rindra Dana (Samarinda & Palangkaraya), Adriano Qalbi (Denpasar), Muhadkly Acho (Malang), Reggy Hasibuan (Malang), & Insan Nur Akbar (Surabaya). Thanks for sharing the stage, comrades!

All the cool local comics that opened the show: Gianluigi CH & Sanny Durant (Bandung), Adi Siswowidjono & Hana Medina (Semarang), Hernawan Yoga & Derry Poerba (Solo), Maha Nanda & Rizki Akbar (Denpasar), Fito MD & Arie Kriting (Malang), Topenk & Arief Alfiansyah (Surabaya), Hidayat Rizal & Prayudha Said (Makassar), Ipank (Kendari), Setiawan Yogy & Achmad Rizky (Samarinda), Arie Sadewo & Anggri Lukman (Palangkaraya). Thanks for your support.

Lastly, for #MMTJKT. Special thanks for the super vigilant team:

Project Director: Sessa Xuanthi
Tour Manager: Dipa Andika
Promoter: Hannindiah Wisito & Abdul Ghofur (Delima Production)
Head of Production: Anton Triantono
Show Director: Didit Hidayat
Photographer: Pio Kharisma
Media Relations: Jaqueline Susanto & Dhani Indranila
Talent Coordinator: Frita Oktaviyanti
Ticketing Team: Andi “Awwe” Wijaya, Budisetianto Utomoputro, Gina Mahardika, Setiawan Yogy, Fauzan Taufik
Floor, stage, & foyer team: Cherish Putra, Yogie Purnama, Heri Hertanto, Sari Maria Ulfa, Rizka Kristalia, Aulia, Ferdi, Trin Septiwati, Sherly Nurmiyana, Poppy
Logistics: Mardi & Pi’i

My friends that shared the stage: Raditya Dika, Sakdiyah Ma’ruf, Jessica Farolan, Ge Pamungkas, Soleh Solihun.

Kompas TV, for taking my show on air. Johanna DK & her super team!

Uber thanks for XL as my sponsor. Hotrod 3G+ FTW!

Thank you CupCakes & Co, HolyCow Radal, Papa Rons Pizza, Tee Store, Coffee Toffee, Amidis.

My official ticketing partner Multiply Indonesia, kudos!

Media partners: RollingStone Magazine, Prambors Radio, Delta FM.

Last but not least, to you, all of you, who enjoy what I bring to the stage. That’s what this is all about.

From the bottom of my soul, THANK YOU. THANK YOU. THANK YOU.

Bangun Dari Mimpi

Me & @meiraa_ after #MMTJKT. Captured by @Pio_Kharisma.

Sudah selesai.

Mimpi saya sudah terwujud.
Bukan karna keajaiban, bukan karna keberuntungan di luar akal sehat.
Semua semata karna kerja keras. Bukan cuma saya, tapi semua orang yang turut terlibat.

Kerja keras yang dimulai sejak #MeremMelekTour digagas bulan Februari lalu, berlanjut hingga bulan ini, bulan Juli. Lima bulan penuh dera tapi juga bangga. Sebelas kota penuh peluh dan tentunya tawa. Tur stand-up comedy pertama di Indonesia. Ternyata, saya bisa. Sebuah cita-cita yang berawal dari mimpi, dan berakhir dengan senyum.

Saya cuma orang biasa dengan sedikit talenta. Belum tentu lebih istimewa dari sebagian besar orang di luar sana. Tapi paling tidak saya sudah membuktikan sesuatu.

Mungkin saya tidak diberkati dengan jiwa yang mampu menenun komedi secantik Raditya Dika.
Mungkin saya belum bisa tangguh berdiri dan menekuklututkan segala medan seperti Pandji Pragiwaksono.
Mungkin saya hanya bisa berharap memiliki talenta seni seindah Ryan Adriandhy.

Tapi saya punya sesuatu yang berani saya adu dengan mereka. Saya punya tekad. Saya punya nyali. Dan saya punya ketekunan.

Yang saya punya, adalah hal-hal biasa.
Hal-hal yang kalian pun punya. Jadi apa alasan kalian untuk tidak mengejar mimpi?

Jawaban “saya masih menanti kesempatan” hanya milik para pecundang.
Hidup mengajarkan saya bahwa kesempatan itu diciptakan, bukan ditunggu.

Bangun. Dan berlarilah.

[@ernestprakasa]