Category Archives: poem

Surat Kepada Teman-Teman Di Seberang

Wahai teman-teman, saya ingin minta maaf.

Saya minta maaf karena saya tidak bisa memahami pilihan kalian.

Saya mencoba, sungguh saya mencoba.

Saya betul-betul ingin paham.

Tapi saya gagal.

Saya tidak mengerti kenapa begitu mudah jutaan pasang mata berpaling dari semua kengerian masa lampau.

Saya tidak mengerti kenapa seseorang dengan jejak darah begitu merah, bisa sedekat ini dengan pintu istana.

Saya tidak mengerti lagi.

Saya ingin kita tetap berteman. Tapi tidak sebesar keinginan saya untuk menjauhkan seorang tiran dari singgasana.

Bila kelak pilihan saya menang, semoga kalian pun mendapat kebaikan.

Bila kelak pilihan kalian menang, semoga dugaan saya salah besar.

Tapi untuk saat ini, saya hanya ingin mengatakan satu hal.

Di dalam bilik suara, saat semua pekak menjadi sunyi dan nurani menjadi jernih. Saya berdoa agar tangan kalian dijauhkan dari dia yang telah mencabut nyawa-nyawa.

[@ernestprakasa]

Advertisements

Perihal Bahagia

Bahagialah.

Bahagialah karna harta ataupun tahta.

Bahagialah di tepi hamparan laut. Bahagialah di hingar bingar kota.

Bahagialah karna dicinta. Bahagialah karna mencinta.

Bahagialah oleh tawa dan pesta pora. Bahagialah oleh buai sunyi.

Bahagialah oleh ujian. Bahagialah oleh pujian.

Bahagialah karna langit terang membiru. Bahagialah oleh gemuruh derap hujan.

Maknai. Temukan. Nikmati.

Sebab hidup terlalu singkat untuk membiarkan orang lain menentukan apa yang membuat kita bahagia.

[@ernestprakasa]
Bandung, 21-4-’13