Category Archives: life

Sibuk vs Nganggur

Sejak pensiun jadi karyawan kantoran, periode puasa-lebaran adalah masa-masa yang membuat gue cemas. Di bulan-bulan itu, event-event biasanya akan banyak bertemakan religi. Cina Kristen kayak gue pasti seret job. Itu yang terjadi di 2011, 2012, dan just recently, 2013.

Di 2013, paceklik bulan puasa terasa lebih berat buat gue dan keluarga. Bukan apa-apa, soalnya kami sekeluarga baru aja pindah ke Denpasar. Namanya baru pindahan, pasti banyak pengeluaran, mulai dari yang ter-amsyong, bayar kontrakan setaun di muka. Bayangin, udah job dikit, pengeluaran banyak. Gokil men.

Tapi ya Puji Tuhan masa itu udah berlalu.

Selepas lebaran, gue mulai dihujani kesibukan. Dua terbesar adalah buku #NGENEST dan film #Comic8. Dua proyek ini sangat amat gue perlakukan dengan serius. Untuk buku, gue super serius karna gue pengen bisa melakukan yang lebih baik dibandingkan buku pertama gue “Dari Merem Ke Melek”. Untuk film, gue juga gak main-main karna ini film perdana gue. Masa iya gue ga kerjain dengan niat, gila apah. Well technically, film pertama gue sih sebenernya “Make Money” bareng Pandji, yang dijadwalkan rilis November 2013. Tapi di situ gue cuma muncul tiga scene. Gak afdhol. Walaupun di salah satu scene ada yang berkesan banget, yakni gue berantem sama Pandji sampe jaket kulit gue sobek beneran. Ji, Bershka kesayangan gue ji :”(

Dua proyek gede ini harus gue selesaikan segera supaya abis itu gue bisa fokus jalanin #illucinati_tour, tur stand-up gue yang kedua, kali ini di 17 kota.

Jadi ya, sejak September lalu, gue lumayan stress. Cape fisik dan otak.
Tapi justru di saat-saat kayak gini gue teringat bulan paceklik di Juli-Agustus lalu. Lalu mikir, sebenernya gue ini maunya apa ya. Gak ada job ngeluh, banyak kerjaan ngeluh.

Akhirnya gue pun nemu mantra sakti:

“Secapek-capeknya kerja, lebih capek nganggur.”

Iya ga? 🙂

[@ernestprakasa]

Advertisements

Tentang Nurani

Terkadang saat menyaksikan kelakuan para pejabat rakus yang menyengsarakan rakyat, kita kerap bergumam, “dasar enggak punya nurani.”

“Enggak punya nurani.”

Saya jadi merenung. Apa yang terjadi dengan nurani orang-orang itu? Apakah ia pergi begitu saja? Benarkah nurani bisa mati? Ataukah mungkin ia ada, tapi memutuskan untuk diam?

Menurut saya pribadi, sampai kita mati, nurani tidak akan pernah berhenti berbicara. Ia bagai sekeping zat Tuhan yang bersemayam di dalam diri kita. A moral compass, constantly reminding us of what’s right or wrong.

Ia tidak akan berhenti berbicara. Tapi kita bisa memilih untuk tidak mendengarkan. Dan saat kita semakin fasih terlatih untuk tidak mendengarkan, suaranya yang lantang perlahan akan menjadi lirih.

Mendengarkan nurani ataupun mengabaikan nurani, adalah keterampilan yang bisa dilatih.

Tapi selama kita bernafas, nurani tidak akan pernah diam. Ia hanya bisa dibungkam.

[@ernestprakasa]

Saya Tidak Punya Pilihan…

…adalah kalimat yang diucapkan banyak orang untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Sebuah vonis yang fatal, dan seringkali tidak benar.

Bagaimana jika pilihan itu ada, tapi kita yang dengan sengaja memalingkan muka?
Bagaimana jika dibalik pilihan itu, tersimpan hari-hari yang lebih indah?
Bagaimana jika pilihan itu duduk manis di ujung sana, menanti kita melangkah ke arahnya?

Saat kita tidak bahagia, pilihan selalu ada.
Saat kita layak akan yang lebih baik, pilihan selalu ada.
Saat kita cukup berani, pilihan selalu ada.

Pilihan memang selalu ada. Tapi ia tidak akan menunggu selamanya.

[@ernestprakasa]

Istri Saya = Sergio Busquets

Tidak bisa dipungkiri, Barcelona adalah salah satu klub sepakbola paling fenomenal selama beberapa tahun terakhir. Kedigdayaannya di Eropa bukan hanya dari segi jumlah piala yang mereka raih, tapi juga dari gaya permainan mereka yang sangat mempesona.

Bila penggemar sepakbola awam diminta untuk menyebutkan satu orang pemain yang menjadi kunci sukses Barcelona, sebagian besar akan menjawab Lionel Messi. Wajar memang. Secara kasat mata, semua orang bisa menyaksikan bagaimana briliannya Lionel Messi di lapangan hijau, baik sebagai kreator maupun sebagai penghasil gol.

Namun, dalam sebuah tim sepakbola, kerap ada “unsung heroes”. Para pahlawan yang luput dari perhatian orang banyak. Bagi Barcelona, orang tersebut adalah Sergio Busquets. Sebagaimana sering ditekankan oleh penulis sepakbola favorit saya Pangeran Siahaan, Sergio Busquets adalah salah satu elemen krusial dari keseluruhan ritme tim Barcelona. Hanya karena nyaris tidak pernah melakukan aksi spektakuler saat menggocek atau mencetak gol, banyak yang tidak menyadari pentingnya Busquets.

Barisan penyerang Barca bisa beraksi dengan tenang, karena Busquets berada di belakang mereka. Siap untuk menjadi penghadang yang cerdik dan siap mengantisipasi serangan lawan. Bagi Busquets, yang penting bukan tampil atraktif, tapi efektif. Tackling dan distribusi bola ke barisan depan jauh lebih penting dibandingkan mencetak assist atau gol. Singkat kata, bagi timnya, Busquets adalah penyeimbang.

Dan dalam “tim” rumah tangga kami, istri saya adalah Sergio Busquets. Ia adalah penyeimbang. Saya boleh jadi bagaikan Lionel Messi, menciptakan peluang dan mencetak “gol”. Tapi tanpa jangkar yang menjaga keseimbangan kapal, rasanya hal itu tidak mungkin.

My wife Meira Anastasia is the “unsung hero” in my career. She’s the steel in the walls. She’s the glue that holds everything together, so that I don’t crumble. Dan persis seperti Busquets, tidak banyak orang yang bisa paham, betapa penting peranannya dalam “tim” kami.

So my darling wife/pal/sex-buddy Meira Anastasia, happy 30th birthday & 6th wedding anniversary.
You’ve been an indispensable squad player & an inspiration to the whole team.
Please keep guarding the defense while I go out there and score us some goals 🙂

[@ernestprakasa]

Life Is An Arena

Sometimes, it’s good to look down and be thankful for where you are. For how high you have climbed.

But that’s gotta stop soon. The longer you bask in pride, the further they leave you behind.

Stop. Look up. Pick the next spot.

You’ve beaten someone’s achievement, now pick someone else to beat.

Someone better, bigger, stronger.

Life is an arena. Your nearest idol is now your rival.

GO.

[@ernestprakasa]

Menabung Itu…

…hanya bisa dilakukan di awal bulan.

Iya, saya hanya ingin menekankan itu saja.

Karena “Gue akan irit trus nanti sisa duitnya gue tabung” itu hanya MITOS.

Karena begitu terima gaji, yg dominan bukanlah hasrat menabung, melainkan kalimat “Gue udah cape kerja sebulan ini, sekarang saatnya gue nikmatin hasil kerja gue!,” lalu berangkat ke mall.

Jadi, kalo memang berniat menabung, sisihkan di awal, saat uang baru diterima.

Karena bila tidak, niat menabung hanya akan seperti melakukan threesome dengan Kardashian bersaudara – atau untuk perempuan – Hemsworth bersaudara. Sering dibayangkan, tapi tidak pernah jadi kenyataan.

[@ernestprakasa]

Safety Net

Salah satu atraksi tradisional paling menarik dan wajib ada dalam pertunjukan sirkus adalah trapeze, yakni akrobat dimana satu orang atau lebih bergelantungan dan berpindah dari satu tali gantungan ke tali gantungan yang lain, sambil melakukan berbagai manuver yang mengundang decak kagum. Kesemuanya ini, dilakukan pada ketinggian yang ekstrim, sehingga jatuh akan berakibat fatal bagi para pelakunya.

Trapeze diciptakan oleh seorang Perancis bernama Jules Leotard pada tahun 1859. Awalnya, ia menggunakan matras sebagai pengaman. Otomatis, tinggi trapeze pun belum seperti sekarang, karena kemampuan kasur sebagai alas pengaman sangat terbatas. Namun seiring perkembangan waktu, sirkus-sirkus mulai menggunakan jaring pengaman alias safety net. Dan inovasi penggunaan safety net inilah yang memungkinkan atraksi trapeze untuk dilakukan dengan ketinggian yang semakin menjulang.

***

Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima berkaitan dengan karir saya sebagai comic:

“Koq berani sih terjun full-time ke stand-up comedy yang waktu itu baru muncul & belum jelas masa depannya?”

Memang, keputusan saya terkesan nekat. Apalagi pada waktu saya resign dari kantor tersebut (Agustus 2011), saya notabene merupakan seorang suami dan ayah dari satu anak balita, artinya bukan hanya bertanggungjawab terhadap diri sendiri, tapi juga anak sendiri, dan anak orang (istri saya). Tapi sebenarnya, keputusan saya tadi tidak nekat, melainkan penuh kalkulasi. Saya akan jelaskan maksudnya.

Tapi sebelumnya, saya ingin ceritakan alasan kenapa saya ingin berbagi soal hal ini. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, muncul berbagai gerakan yang menyemangati orang-orang untuk hidup sesuai passion. Untuk mengerjakan apa yang kita cintai & membuat kita bahagia, bukan sekedar mencari gaji belaka. Konon dengan menjalani hidup yang seperti ini, kita akan memiliki kepuasan batin yang nilainya tidak terbeli dengan uang.

Apakah benar? Berdasarkan pengalaman saya, iya. Tapi, menurut saya, hal ini tidak mudah diterapkan. Setiap orang punya kondisi, ekspektasi, dan nyali yang berbeda-beda. Justru salah satu tujuan saya menulis post ini adalah untuk menunjukkan, bahwa untuk “banting stir” dan meninggalkan comfort zone demi mengejar passion, saya butuh sebuah modal besar. Modal yang saya ibaratkan sebagai safety net dalam permainan trapeze, untuk menjaga seandainya “lompatan” saya gagal dan saya terjatuh.

Safety net saya pada waktu itu ada dua. Yang pertama tentunya tabungan. Saya sudah hitung, seandainya gaji bulanan saya hilang, minimal kami sekeluarga tidak akan kelaparan selama tiga bulan kedepan. Tentunya, angka rupiahnya akan berbeda-beda untuk tiap orang.

Tapi safety net yang pertama tadi tidak akan membuat saya berani untuk naik ke tangga trapeze yang tinggi, seandainya saya tidak punya safety net yang kedua, yakni pengalaman kerja. Saat kuliah, saya bekerja di salah satu radio anak muda di Bandung. Setelah lulus, saya melanjutkan siaran di salah satu radio anak muda di Jakarta. Total, saya punya pengalaman lima tahun siaran plus satu tahun menjadi Music Director.

Pekerjaan sebagai Music Director di radio tadi pula yang mengantarkan saya untuk bekerja di industri musik. Sejak bulan Mei 2005, saya berkantor di salah satu major label internasional di Jakarta. Di Agustus 2011, berarti saya sudah punya pengalaman enam tahun lebih bekerja di industri rekaman, dan secara keseluruhan, saya sudah sebelas tahun berkecimpung di industri musik. Ini safety net saya. Saya sudah punya portfolio yang cukup. Saya berani “melompat” dengan pemikiran:

“Yaudah lah, kalo stand-up comedy ternyata gagal, gue bisa keliling bawa CV. Masa iya kaga ada yang mau nampung.”

Begitulah kira-kira.

Kesimpulannya? Hidup sesuai passion itu adalah kebahagiaan, sekeping surga. Namun untuk sampai kesana, butuh proses yang tidak mudah dan mungkin berbeda-beda untuk masing-masing orang.

Jangan lupa, sama halnya dengan permainan trapeze modern, yang berani melompat tinggi tanpa safety net pun ada. Tapi, lagi-lagi, sama seperti trapeze: jatuh akan mengakibatkan semuanya GAME OVER.

[@ernestprakasa]

Misplaced Sympathy

Beberapa hari yang lalu, saya sedang membeli mangga di abang-abang yang jualan mangga keliling komplek dengan menggunakan gerobak. Terjadilah dialog ini:

Saya: Berapaan bang?
Tukang mangga: Sekilonya sepuluh ribu mas.
Saya: Oke, beli tiga kilo ya.

Kemudian, datang seorang ibu-ibu. Dan dari pakaian plus kalung emasnya, ibu ini rasanya bukan orang miskin. Si ibu lalu bertanya:

Ibu: Berapaan bang?
Tukang mangga: Sekilo sepuluh ribu aja bu.
Ibu: Ah, mahal amat. Delapan ya?
Tukang mangga: Mmmm..nggak bisa bu, udah harga pas..
Ibu: Masa ga bisa kurang sih. Sembilan deh?
Tukang mangga: Maaf bu nggak bisa..

Dalam hati, ingin rasanya saya menghardik si ibu: “Bu, gue traktir aja sekalian mau ga? Mau berapa kilo?”. Geregetan rasanya.

Saya jadi mikir, kayaknya ada yang aneh dengan mindset kebanyakan orang di negeri ini. Kita cenderung mudah iba pada pengemis di lampu merah, tapi rajin menawar pedagang kecil. Ada yang salah, menurut saya. Coba kita renungkan perjuangan pengemis. Apa dia keluar modal? Tidak, dia tidak perlu membeli barang untuk dijual lagi. Apa dia lebih lelah? Jelas tidak, dia hanya cukup mondar-mandir di satu tempat.

Sementara pedagang seperti halnya si abang tukang mangga? Dia keluar modal, artinya bisa saja rugi. Dia harus keliling menjajakan dagangannya, artinya dia pasti menghabiskan banyak tenaga. Apalagi di tengah panasnya Jakarta yang luar biasa ini. Jakarta itu sangat panas, ibarat melihat mantan pacar tiba-tiba nikah sama orang yang dari dulu udah kita curigain sebagai selingkuhan tapi selalu dibilang “cuma teman”. PANAS.

Jadi menurut saya, mari kita bersimpati pada para pedagang, apalagi pedagang keliling. Mereka bekerja teramat keras. Tidak ada salahnya membeli tanpa menawar. Beberapa ribu rupiah bagi kita mungkin tidak lebih dari sekedar recehan. Tapi bagi mereka, itu bisa jadi secercah senyuman.

[@ernestprakasa]

Bangun Dari Mimpi

Me & @meiraa_ after #MMTJKT. Captured by @Pio_Kharisma.

Sudah selesai.

Mimpi saya sudah terwujud.
Bukan karna keajaiban, bukan karna keberuntungan di luar akal sehat.
Semua semata karna kerja keras. Bukan cuma saya, tapi semua orang yang turut terlibat.

Kerja keras yang dimulai sejak #MeremMelekTour digagas bulan Februari lalu, berlanjut hingga bulan ini, bulan Juli. Lima bulan penuh dera tapi juga bangga. Sebelas kota penuh peluh dan tentunya tawa. Tur stand-up comedy pertama di Indonesia. Ternyata, saya bisa. Sebuah cita-cita yang berawal dari mimpi, dan berakhir dengan senyum.

Saya cuma orang biasa dengan sedikit talenta. Belum tentu lebih istimewa dari sebagian besar orang di luar sana. Tapi paling tidak saya sudah membuktikan sesuatu.

Mungkin saya tidak diberkati dengan jiwa yang mampu menenun komedi secantik Raditya Dika.
Mungkin saya belum bisa tangguh berdiri dan menekuklututkan segala medan seperti Pandji Pragiwaksono.
Mungkin saya hanya bisa berharap memiliki talenta seni seindah Ryan Adriandhy.

Tapi saya punya sesuatu yang berani saya adu dengan mereka. Saya punya tekad. Saya punya nyali. Dan saya punya ketekunan.

Yang saya punya, adalah hal-hal biasa.
Hal-hal yang kalian pun punya. Jadi apa alasan kalian untuk tidak mengejar mimpi?

Jawaban “saya masih menanti kesempatan” hanya milik para pecundang.
Hidup mengajarkan saya bahwa kesempatan itu diciptakan, bukan ditunggu.

Bangun. Dan berlarilah.

[@ernestprakasa]

Menerima Kekalahan

Ayah saya selalu ingin agar kedua anaknya menjadi atlet.
Sejak usia 9 tahun, saya masuk ke sekolah tenis, dan saya terus aktif hingga saya SMA, dengan pencapaian tertinggi Juara Piala Walikota Jakarta Selatan 1996 :). Setelah itu, karena diterima di UNPAD, ayah saya lebih menuntut saya fokus kuliah. Sementara adik saya Audrey (@audreyjiwajenie) lebih sukses menjadi perenang nasional hingga ke level Sea Games.

Hampir satu dekade aktif di lingkungan atlet, jiwa kompetitif saya jadi lumayan kronis. Saya sering diprotes oleh teman-teman karena sering terlalu kompetitif. Dalam hal APAPUN, bahkan sesimpel permainan Playstation :). For me, losing is simply not an option.

Usmar Ismail Hall, 30 November 2011.

Photo credit: RollingStone Indonesia

Dewan juri Stand-Up Comedy Indonesia Kompas TV yakni Indro Warkop, Butet Kartaradjasa, & Astrid Tiar memutuskan bahwa saya harus close-mic, alias dieliminasi dari kompetisi. Perjalanan saya berakhir di semifinal, menyisakan Ryan Adriandhy (@Adriandhy) dan Insan Nur Akbar (@akbar___) di babak grand final.

Jujur, sejak beberapa hari sebelumnya, saya memang sudah siap mental. Harus diakui, Ryan & Akbar tampil lebih konsisten sepanjang kompetisi, sementara saya, sempat beberapa kali tampil kurang maksimal. Kalimat pamit saya di panggung ketika itu adalah: “Hanya ada satu hal yang membuat saya bisa menerima kekalahan, yakni kalah dari lawan yang memang lebih baik. Ryan & Akbar layak bertarung di grand final”. Dan saya mengatakan itu dengan sepenuh hati. Saya sungguh-sungguh merasa mereka berhak.

***

Keesokan harinya, saya membuka mata dengan perasaan janggal. Seolah perasaan legowo saya di hari sebelumnya, sudah habis masa aktifnya. Saya mulai diserbu rasa bersalah pada diri sendiri. Saya kalah. Harusnya saya tidak kalah. Andai saja saya lebih cermat. Andai saya memilih tema yang berbeda. Andai saya lebih beruntung. Andai, andai, andai. Sisi gelap saya mulai mengejek: “Jadi lo berminggu-minggu karantina buat apaan? Cape-capein doang, akhirnya kalah juga!”. “Harusnya bukan lo yang dieliminasi dong, kan elo lebih bagus!”. And so on.

Saya tidak ingat kapan terakhir saya mengalami pergumulan mental yang begitu dahsyat. Energi saya terkuras untuk berdebat dengan diri sendiri. Sibuk menangkis cacian demi cacian. Berusaha mencari sebanyak mungkin pembenaran atas hasil yang saya peroleh. Selama beberapa hari, saya – istilah anak sekarang – galau.

Untungnya, dengan dukungan moral dari istri tercinta, perlahan saya mulai bisa “nrimo”. Kalimat-kalimat miring tadi bisa saya balas dengan energi positif. “Ini cuma sebuah kompetisi. Karir ke depan masih panjang!”. “Ingat apa kata Mas Indro, you are an inspiration!”. Dan lain-lain. Terdengar konyol memang, tapi saya memang menjalani perang sengit dengan batin sendiri.

Dan akhirnya, sampai pada titik dimana saya sudah sepenuhnya menerima kenyataan. Life is not about condemning failures. It is about getting back on your two feet, then walk on. Biarlah kali ini, saya kalah. Saya kalah karena mereka lebih baik. Itulah hidup.

***

Menjelang babak semifinal, anak saya Sky tinggal di Bandung bersama ayah & ibu mertua saya. Rupanya oleh mereka, Sky diajari berdoa: “Tuhan Yesus, semoga papa menang, amin”.

Malam pertama setibanya saya di Bandung, Sky memamerkan doa tersebut di depan saya. “Tuhan Yesus, semoga papa menang, amin”. Saya tercekat. Tentu ia tidak mengerti, bahwa saya sudah kalah. Dengan mata berkaca-kaca, saya kecup keningnya sambil membatin: “I am a winner, kiddo. I have you, I have your mom. I’ve won everything there is to win”.

God is good 🙂

[@ernestprakasa]

Setiap Ucapan Adalah Janji

Waktu saya berusia 7 tahun, saya diajak oleh ibu saya dan kakaknya ke Melawai Plaza, salah satu pusat perbelanjaan paling happening di Jakarta pada era tersebut. Seperti bocah laki2 pada umumnya, saat melewati toko mainan, saya pun merengek minta dibelikan. Saya masih ingat betul, waktu itu mainannya adalah action figure dari serial kartun 80-an berjudul MASK. Pada saat itu, respon ibu saya adalah, “Iya, nanti ya”. Dan kami pun lanjut berkeliling, lalu pulang ke rumah kakak ibu saya. Saya pun lupa akan kejadian di toko mainan tadi.

Malamnya, saat ayah saya menjemput saya dan ibu saya di rumah kakaknya, saya kembali merengek di jalan pulang. “Tadi kata mama nanti, nanti, manaaa? Kapan beli mainannya?”, kira2 begitulah protes saya. Lalu terjadilah percakapan berikut antara ayah dengan ibu saya:

“Bener kamu tadi bilang mau beliin?”
“Iya, tapi udahlah gausah. Mainan di rumah udah numpuk pa!”
“Ya ga bisa. Biar gimanapun, kamu udah janji.”

Singkat cerita, kami pun kembali ke Melawai Plaza saat itu juga, dan mainan itupun saya bawa pulang.

***

Sampai detik ini, saya yakin ayah saya tidak menyadari, bahwa peristiwa sepele itu tertanam begitu lekat dalam ingatan saya.

KAMU UDAH JANJI.

Padahal, ibu saya kan pada waktu itu nggak bilang “Iya mama janji”. Tapi dengan contoh yang begitu gamblang, ayah saya mengajarkan pada saya, bahwa setiap ucapan adalah janji.

SETIAP UCAPAN ADALAH JANJI.

Serem ya?
Tapi kalo mau diperhatikan, seberapa sering di lingkungan kerja atau pergaulan, kita mendengar kalimat2 seperti:

“Iya ntar gue kabarin ya”
“Iya abis ini gue imelin ke elo pokonya”
“Sip, nanti deh”

Too familiar, rite? Baik kita sebagai si pengucap, maupun pendengar. Berapa persen yang jadi kenyataan?
Me too, often guilty as charged.

Kalo mengacu ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata yang paling tepat untuk sifat ini adalah KONSEKUEN, yang diartikan sebagai “Sesuai dengan apa yg telah dikatakan atau diperbuat; berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yg sudah diputuskan”.

Sounds so simple, yet so difficult to implement. But then again, difficult doesn’t mean impossible, rite? 🙂

@ernestprakasa

Membeli Gaji

GAJI. Empat huruf saja. Yang paling ditunggu karyawan tiap akhir bulan. Yang kehadirannya bisa membuat nafsu konsumtif membara, membuat kita tak kuasa menolak godaan untuk segera masuk ke pusat perbelanjaan. “Hey, I earned this money with hard work! I have every right to use it the way i please!”, kira-kira begitu bukan? 🙂

Memang, karna kita bekerja, gaji adalah sesuatu yang kita terima. Imbalan atas kontribusi kita untuk pihak yang menggaji kita. But for once, let’s shift perspective.

In a way, sebenarnya gaji itu bukan sesuatu yg kita dapatkan.
Tapi sesuatu yang kita BELI.

Kita membeli gaji dengan segenap pikiran dan tenaga. Kita membeli gaji dengan waktu kita. Kita membeli GAJI, dengan PENGORBANAN.

Bisa jadi yang dikorbankan adalah kebahagiaan, passion, pacar/suami/istri, hobi, atau hal-hal lainnya. Semakin besar pengorbanan, semakin mahal harga yang kita bayar untuk gaji kita.

Mungkin gaji kita cukup “wah”, dan membuat banyak orang iri. Namun bisa jadi, tanpa mereka ketahui, gaji tersebut dibeli dengan harga yang teramat mahal, yakni kebahagiaan bersama orang-orang tersayang.

Sebaliknya, mungkin gaji kita so-so, tidak mampu memancing dengki. Namun dibalik itu, sebenarnya gaji tersebut dibeli dengan harga yang teramat murah, karena setiap waktu yang kita habiskan saat bekerja adalah waktu yang sangat menyenangkan.

So for a while, stop thinking about how much your salary is.
Ask yourself instead: “how much did I pay for this?”.

@ernestprakasa

PS: Seorang teman merespon dengan postingan ini: “Time vs Money” by passionswing. I’m profoundly happy to be able to inspire :).

A Wisdom That Lasts

I’ve just finished reading Dale Carnegie’s “How to Win Friends and Influence People”. It surprises me that the book was written in 1934. That’s 75 years ago. Apparently, as opposed to business, psychology is an area where theories last longer.

This book offer still-very-relevant theories on how to make the best out of a human interaction, in a positive sense that is. At the end of the day, I think the key word that Mr. Dale’s trying to convey is “empathy”.

Evidently, “empathy” is an underrated quality in working environment. I believe that anyone who’s mastered it well, will go a long long way. Try it.

@ernestprakasa

Again, Again

Aristoteles once said:
“We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit.”

So if you think you’re doing something good, then keep doing it. Constantly. Otherwise it won’t mean a thing.

@ernestprakasa

Not For What They Are, But For What They Might Become

“Saya cuma punya satu pesan buat kamu. Always treat people with respect. Karena hidup sulit diduga. Orang yang saat ini kamu remehkan bisa jadi suatu saat menjadi seseorang yang sangat kamu butuhkan”.

Pekerjaan seperti yang saya lakukan sekarang menuntut saya untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Sebagai konsekuensinya, kadang saya bertemu dengan orang yang karena satu dan lain hal, sepertinya tidak cocok dengan saya. Tentu sangat manusiawi bila kita bereaksi terhadap ketidaksukaan kita dengan berbagai cara. Bisa dengan sekedar menjauhkan diri, atau bisa juga dengan terang-terangan menunjukkan bahwa kita tidak suka kepada orang tersebut.

Seorang kolega yang saya hormati pernah memberi saya wejangan diatas. Buat saya kata-kata itu sangat berkesan, bukan hanya karena teorinya masuk akal, tapi saya rasa banyak dari kita yang pernah mengalaminya secara langsung.

So, the next time your emotions get the best of you, remember this: disrespecting people intentionally is a stupid thing to do. God knows someday he/she might very well be someone important to you. Like your boss. Or worse, your father/mother in law 🙂

@ernestprakasa

Time To Move On?

Take a pause and try answering these questions:
1. Do you wake up every morning feeling disgruntled because you have to spend an entire day at work, doing something that you can’t enjoy?
2. Do you have any concern in what your company’s destination and how it may affect you?
3. Do you believe that your boss won’t be able to groom you into a better person both personally and career-wise?
4. Do you drain yourself emotionally and physically believing that your current job is only a “phase” until you finally find the right time to pursue your passion?
5. Do you constantly wish today is Friday?

If you answer “yes” to at least three of the five questions above, then it’s time to move on. There’s no such thing as perfect timing, someone told me. And I truly believe that. MAKE your timing. Your fate is in YOUR hands.

@ernestprakasa

Berani Berlibur

Saat menulis ini, saya sedang berada di Bali untuk mengambil liburan 4 hari ditengah padatnya pekerjaan di kantor. Terus terang, saya patut berterimakasih kepada Tim Ferriss atas liburan ini. Tanpa bukunya “The Four-Hour Work Week”, mungkin saya akan menunda berlibur karna begitu banyak pekerjaan yang seolah tak bisa ditinggal.

Saya yakin banyak diantara kita yang juga tidak memanfaatkan waktu liburan dengan alasan pekerjaan. Jatah cuti? Ada. Izin bos? Bisa nego sih. Tapi ninggalin kerjaan yang menumpuk? Ntar dulu deh. Does that sound familiar? Menurut Tim Ferriss, sebagian besar kekhawatiran kita biasanya tidak terjadi. So if you are worrying, write down the worst scenario that could happen. Ask yourself these 2 questions:
(1) How big is the possibility for that to actually happen?
(2) If it does happen, is it possible for you to fix it?

Setelah melakukan simulasi diatas, saya menyimpulkan bahwa saya harus berani berlibur! Who doesn’t need a nice break? Thanks, Tim 🙂

@ernestprakasa

The Extra Mile

When i was still working in Universal Music back in 2005, I had an interesting chat with one of my most respected colleague, Mr. Aldo Sianturi. I asked for a word of wisdom, and this is what he said: “It’s actually really simple. All you need to do is go the extra mile”.

“Go the extra mile”. It didn’t grab me at the time, but later on I realized how precious that piece of advise really is.

“Going the extra mile” means trying harder.
“Going the extra mile” means giving your 100%, even at times when 80% seems enough.
“Going the extra mile” means refusing to settle for “good” when you can be “great”.

That simple advice really helped me. If you haven’t done it, it’s not too late. The extra mile is always there, waiting for you to break free from mediocrity and step up your game.

https://neonspark.wordpress.com

our teachers were right: reading IS important!

i-hate-reading-icookadafishblogspotcom

Ayah saya tergolong maniak membaca. Lemari besar di rumahnya dipenuhi berderet-deret buku mulai dari Encyclopedia Britannica sampai novel-novel Frederick Forsythe. Sialnya, hobinya yang satu ini nggak nurun ke saya, tapi ke adik saya. Saya sendiri dari dulu memang males banget baca. And i never thought that would be an issue, until last year.

Bulan Mei 2008 lalu saya bergabung dengan perusahaan saya saat ini, dr.m, dimana salah satu bos saya adalah Yoris Sebastian, entrepeneur muda Indonesia yang cukup disegani, khususnya di dunia marketing dan industri kreatif. Semakin sering saya berdiskusi ataupun sekedar ngobrol dengan bapak yang satu itu, semakin bingung saya. Why does he seem to know anything about everything?

Suatu hari, saya kebetulan lagi ngobrol-ngobrol sama supirnya Yoris. One subject leads to another, lantas pak supir pun berkata: “…iya mas, Pak Yoris itu, di rumah isinya buuuukuuuuu semua. Di ruang tamu, di kamar, pokonya buku dimana-mana.” DING! Of course. That must be it! Sejak saat itu saya jadi termotivasi untuk membaca berbagai buku non-fiksi, terutama yang berhubungan dengan marketing dan management. I have soooooooooooo much to catch up, secara selama ini kalo suruh baca malesnya minta ampun 😦

Sekarang sih lumayanlah, dalam sebulan saya menargetkan minimal 1 buku yang bisa saya baca. Belum ngerasa pinter sih, tapi paling nggak udah nambah pengetahuan dan wawasan 🙂 Biar tambah seru, saya juga buka account di Shelfari, semacam social networking buat orang-orang yang doyan baca buku. Lumayan buat nambah referensi tentang buku-buku baru yang menarik. Buat teman-teman yang males baca kayak saya, coba deh dilatih pelan-pelan. Semakin dini sih rasanya semakin baik. Our clock is ticking, euy!

https://neonspark.wordpress.com

(image taken from: icookdafish.blogspot.com)