Yet Another New Phase

“Nanti kamu aja ya sutradaranya.”

It was April, 2015. I can vividly remember the look on his face when he said that to me.

Mr. Chand Parwez Servia of Starvision, the guy who gave directorial debut to Iqbal Rais, Fajar Bustomi, and of course Raditya Dika, now wants me to take the chair. The holy chair.

Pengalaman gue sebagai pemain film mengajarkan gue bahwa jadi sutradara itu adalah pekerjaan yang amat sulit. Pertama, sutradara harus punya visi yang solid. Ibaratnya, sebelum film itu mulai disyuting, sutradara sudah punya bayangan yang kuat seperti apa hasil akhirnya kelak. Kedua, sutradara harus punya skill secara teknis tentang perfilman. Gue ngerasa dua hal itu nggak ada di gue, apalagi yang kedua. Mana gue ngerti soal komposisi, teknik pengambilan gambar, dan lain-lain.

Tapi Pak Parwez punya pandangan lain. Menurut beliau, modal utama seorang sutradara adalah kemampuan bercerita. Buku Ngenest adalah cerita gue, jadi gue harusnya bisa menceritakan kisah gue sendiri dengan cukup baik. Oke, masuk akal. Tapi gimana dengan perkara teknis? Gue nggak ngerti apa-apa soal teknik penyutradaraan. Lagi-lagi, Pak Parwez meyakinkan gue. Menurut beliau, selama gue didukung oleh tim yang kuat dan lebih berpengalaman, harusnya gue gak perlu takut.

He’s done this before. Giving newbies a chance to direct movies. So he ain’t bullshittin’ me.

Akhirnya gue mengiyakan dengan dua syarat. Pertama, gue nggak mau dibayar dengan standar honor sutradara. Buat gue ini semacam beasiswa, sebuah kesempatan belajar gratis. Kalo dibayar layaknya seorang sutradara, gue ngerasa bebannya terlalu besar. Kedua, gue minta dua orang personil Comic 8 untuk mendampingi gue, yakni Dicky R. Maland (Director of Photography) dan Alwin Adink Liwutang (Co-Director). Mereka dua orang yang intens bekerjasama bareng gue di Comic 8 dan Comic 8 Casino Kings. Meski disitu gue sebagai pemain bukan sutradara, tapi paling enggak chemistry kita udah terjalin. I need people I can trust.

Fast forward to eight months later.

Hari ini, 30 Desember 2015, film Ngenest rilis di bioskop. Film yang gue tulis dan sutradarai (dan mainkan tentunya), akan bisa ditonton oleh orang-orang se-Indonesia.

Rasa gugup gue emang udah sedikit mereda setelah melihat riuhnya respon penonton di Gala Premiere dua hari yang lalu. Tapi tetep aja sekarang perut gue mules. Bioskop Indonesia lagi dikepung oleh film-film box office dalam negeri. Siapa yang bakal nonton film gue?

But like my producer said, we have done our part, now let the audience decide.

Now, all I need to do is take a deep breath.

Here we go.

@ernestprakasa

About @ernestprakasa

a husband, a father, comedian. guess which one makes me laugh the hardest?

Posted on December 30, 2015, in movie and tagged . Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. Ridha Bella Ayanda

    Abis UAS besok aku bakal nonton sama temen-temen loh baang.
    Sukses, bang!

  2. Filmnya keren bang ,kisah cinta bang ernest sama teh mei jg bikin melting dan ngiri,,😁😁dan lucunya petcah ….

  3. film nya keren banget bang,menghibur banget.
    salam gemes pengen nyubit buat sky dan snow:)))

  4. film nya keren banget koh,menghibur dan petjah parah.
    salam gemes pengen nyubit buat sky dan snow:)))

  5. Sumpah gw bru nton semalam, pecah abis dr awal mpe abis ga berhenti ngakak, sampe2 gw lupa jemput cew gw yg balik dinas gara2 keasikan nton film ini, *nton tanpa spengetahuan pasangan*
    *Dtunggu versi dvd nya biar bs nton di rmh*
    Hahaha
    Sukses bro..

  6. keren kak filmnya, jd mw nnton lg
    kocak abis pokoknya
    gw tunggu DVD’y kak

  7. PETJAAAAAAAAAH. seru and all your efforts are paid with the audience’s enthusiasm! Semoga dapat berkarya lagi ko. mau jadi komika, penulis, aktor, maupun sutradara. mumpung masih muda banyak banyakin coba sesuatu yang baru. I’ll be waiting for your another project. pokoknya apapun itu semoga sukses dan selalu sayang sama keluarga ya ko. Salam sama teh meira, sky, dan the cutest baby snow.

  8. Thanks a lot guys :’)

  9. KO ERNEST filmnya bagus OWSOME. untuk debut pertama sebagai sutradara. kalau kata orang awam gak gerti soal teknis perfilman dan ga gerti buat film mah itu gak ada cacatnya. alur ceritanya bagus, sedihnya dapet pas galau-galau, LUCUKNYA juga dapet. Terus berkarya Papa kece!

  10. Ristituta Nur Hidayati

    waa baru buka ini…pas d twiter sih udah sempet mention kokoh…film nya bagus, cuma 1 yg bikin gimna gitu…bahasa sunda nya nggak ada artiannya..:(…disitu jadi agak nggak paham kalo pas ada guyonan bahasa sunda..:(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: