Ernest Prakasa – FAQ (Frequently Asked Questions)

Berikut adalah kumpulan pertanyaan yang paling sering gue terima. Artikel ini sekalian untuk referensi bagi teman-teman media yang butuh informasi, biar gak usah repot-repot nanya lagi🙂

Bagaimana ceritanya bisa terjun jadi stand-up comedian? Sebelum itu menggeluti bidang apa?

Setelah lulus kuliah tahun 2005, saya bekerja di recording company sampai tahun 2011, melanjutkan minat di musik yang memang sudah saya mulai ketika menjadi penyiar di tahun 2001 silam.

Awal mulanya bisa menjadi komika adalah ketika Kompas TV mengadakan program “Stand-Up Comedy Indonesia” Season 1, atau yang lebih dikenal dengan SUCI1. Programnya berjalan dari September hingga Desember 2011. Saya finish di posisi ke-3, dan setelah itu memutuskan untuk terjun full-time sebagai seorang komika, sampai hari ini.

Bagaimana cerita lahirnya @StandUpIndo?

Komunitas @StandUpIndo lahir secara tidak disengaja. Ini semua berawal ketika saya mengajak Ryan Adriandhy, sesama peserta audisi SUCI1, untuk menjajal open mic di Comedy Café yang ketika itu berada di Kemang. Comedy Café itu sendiri sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1997, namun tidak pernah benar-benar bisa mewabahkan stand-up comedy karena kurangnya dukungan terutama dari media.

Singkat cerita, Ryan mengajak Pandji Pragiwaksono, lalu Pandji mengajak Raditya Dika. Kebetulan Pandji dan Radit adalah duo host SUCI1. Saya juga mengajak Isman HS, seorang penulis komedi yang saya kenal lewat Twitter. Akhirnya kami berlima dan beberapa komika lain sepakat open mic bareng di tanggal 13 Juli 2011. Karena banyaknya followers Pandji dan Radit di Twitter, kafe mungil berkapasitas sekitar lima puluh orang itu pun luluh lantak diserbu sekitar 200-an pengunjung.

Event hari itu kami promosikan melalui Twitter @StandUpIndo, dan videonya kami upload ke Youtube. Dari sana, bola salju bergulir dengan dahsyat. Event berikutnya tanggal 17 Agustus di Rolling Stone Café Jakarta diserbu sekitar 600 orang, lalu menembus 1,000 penonton ketiga digelar event ketiga di tempat yang sama, 24 Agustus 2011.

Hanya dalam hitungan minggu, respon dari kota-kota lain pun bermunculan, ingin membuat event serupa. Bandung, Jogjakarta, dan Samarinda tercatat sebagai tiga kota pertama yang menyusul. Dan dalam waktu beberapa bulan, puluhan kota lain menyusul. Hingga saat ini, @StandUpIndo mencatat sekitar empat puluh komunitas lokal yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tanggal 13 Juli 2011 tadi kami tahbiskan sebagai hari lahirnya @StandUpIndo, komunitas stand-up comedy di Indonesia, dengan lima orang co-founder: Saya, Ryan Adriandhy, Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, dan Isman HS. Saya dan Isman HS menjabat sebagai ketua hingga akhir 2012, kemudian dilanjutkan oleh Sammy @Notaslimboy hingga sekarang.

Stand-up comedy di Indonesia cukup happening di beberapa tahun terakhir. Apakah akan tetap eksis, atau ini hanya trend sementara?

Menurut saya, stand-up comedy bukan trend. Ini adalah genre komedi baru yang lahir dan akan terus tumbuh. Ada tiga hal yang menurut saya menjadi indikator kokohnya stand-up comedy di Indonesia:

1. Terus lahir & berkembangnya komunitas lokal di puluhan kota di Indonesia, dari Sumatra hingga Sulawesi. Komunitas-komunitas ini bertumbuh secara organik dan mengakar dengan kuat, memberikan fondasi yang kuat bagi kemajuan stand-up comedy di Indonesia.

2. Semakin banyaknya komika karier. Selain saya sendiri dan Pandji Pragiwaksono sebelum saya, semakin bermunculan komika-komika yang bisa menggantungkan hidupnya dengan cara menggeluti stand-up comedy. Mereka bisa berkarya, sekaligus mendapatkan penghasilan yang amat layak.

3. Semakin derasnya invasi komika di televisi dan layar lebar. Tidak bisa dipungkiri, gelombang stand-up comedy ini menyapu di segala lini, tidak terkecuali televisi dan bioskop. Semakin banyak komika mendapatkan kesempatan, dan membayar lunas kesempatan yang diberikan, sehingga membukakan jalan untuk lebih banyak komika bisa membanjiri industri.

Apakah bedanya stand-up comedy dengan komedi yang selama ini dikenal luas di masyarakat Indonesia?

Dibandingkan dengan berbagai komedi tradisional yang selama ini kita kenal, stand-up comedy memiliki dua ciri utama yang mutlak dan tidak bisa diganggu-gugat:

1. Dilakukan sendiri di atas panggung, tanpa tandem. Tidak harus sambil berdiri, tapi harus sendiri.

2. Membawakan materi hasil karya sendiri. Kekuatan stand-up comedy ada pada perspektif subjektif dari si komika. Jadi materinya merupakan hasil pemikiran dan pengamatan pribadi. Bukan dari teman, buku, internet, dan lain-lain.

Apakah semua orang bisa menjadi komika?

Apakah semua orang bisa menjadi pelukis? Apakah semua orang bisa menjadi penari? Seperti halnya seni yang lain, menurut saya komedi membutuhkan bakat. Teknik memang bisa dilatih, namun comedic sense itu bawaan lahir. Intuisi untuk mengenali apa yang lucu, bukan hanya bagi kita, tapi juga bagi orang awam. Ketajaman intuisi ini berbeda-beda bagi tiap orang. Bila intuisinya tajam, maka menurut saya itulah modal awal untuk menjadi seorang komedian.

Ernest seringkali membahas tentang etnis Cina di Indonesia. Apakah itu tidak tergolong rasis? Bagaimana reaksi dari golongan etnis Cina di Indonesia terhadap materi tersebut?

Saat belajar stand-up kami, diarahkan untuk mencari materi dari keresahan yang paling jujur. Salah satu keresahan saya yang utama adalah tentang menjadi orang Cina di Indonesia. Maka itulah yang sejak awal menjadi ciri khas yang saya miliki.

Soal rasis atau tidak, menurut saya indikatornya sederhana. Saya berdarah Cina. Maka ketika saya membahas orang Cina, saya sedang membahas tentang apa yang saya ketahui, jadi ini tidak rasis. Akan berbeda bila saya membahas etnis lain.

Jujur saja, hingga saat ini saya belum pernah mendapatkan protes keras sama sekali. Kritik sesekali di media sosial tentu ada, tapi tidak signifikan. Saya malah lebih banyak mendapat dukungan, karena mereka merasa terwakilkan dengan apa yang saya suarakan.

Apa yang mendasari lahirnya Merem Melek Tour, yang notabene adalah tur stand-up comedy pertama di Indonesia?

Setelah lulus dari SUCI1, saya coba merenung. Saya ini ingin jadi komika, seperti komika idola saya, Pandji Pragiwaksono. Salah satu hal yang saya pelajari dari Pandji adalah konsistensinya dalam menjadi pionir. Ia selalu berusaha menjadi yang terdepan, menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejaknya. Bulan Desember 2011, saya menjadi pembuka Pandji di Bhinneka Tunggal Tawa, stand-up comedy special pertama di Indonesia. Dan disitu saya sadar bahwa untuk bisa menjadi seperti Pandji, saya harus nekad melakukan sesuatu yang belum dilakukan orang lain.

Di Amerika, tur stand-up comedy adalah hal yang lumrah. Namun di Indonesia, ini belum pernah dilakukan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengumpulkan segenap keberanian, dan menghubungi beberapa teman di komunitas untuk bekerjasama mengadakan sebuah tur. Awalnya saya hanya merencanakan tur lima kota. Namun berkat dukungan dari Coffee Toffee Indonesia, tur saya bisa diperpanjang hingga ke sepuluh kota. Singkat cerita, lahirlah “Merem Melek Tour”, yang mengelilingi 10 kota di Indonesia dan ditutup di titik ke-11, Gedung Kesenian Jakarta, tanggal 10 Juli 2012 silam.

Ernest melakukan debut layar lebar di film Comic 8. Bagaimana rasanya? Apa tantangannya dibandingkan stand-up comedy?

Sebenarnya debut layar lebar saya ada di film Make Money (2013), namun waktu itu saya hanya kebagian tiga scene. Baru di Comic 8, saya menjadi satu dari delapan komika yang menjadi pemeran utama.

Tentunya, akting di film berbeda sekali dengan stand-up comedy. Ada dua hal mendasar yang menjadi tantangan tersendiri menurut saya:

1. Blocking kamera. Dalam stand-up, saya terbiasa sendiri di panggung, bebas bergerak, bebas melakukan manuver apa pun. Tapi pada saat syuting, saya harus memikirkan blocking kamera, posisi saya di depan kamera dan juga posisi saya terhadap rekan-rekan lain dalam satu frame yang sama. Bagi pemula seperti saya, ini sungguh merepotkan.

2. Dialog, bukan monolog. Dalam stand-up, saya terbiasa monolog. Saya tidak memiliki lawan bicara. Namun saat syuting, saya terlibat dalam percakapan, bahkan terkadang dengan banyak lawan bicara di saat yang bersamaan. Ini membutuhkan kerjasama dan timing yang baik, yang juga jadi sebuah pelajaran baru bagi saya.

Namun menariknya, ada satu kesamaan yang kuat antara stand-up dan akting. Dalam stand-up comedy, saat kita naik ke panggung, kita sudah bukan lagi mencurahkan fokus pada “apa yang mau disampaikan”, tapi “bagaimana cara menyampaikan”. Konten apa yang mau disampaikan seharusnya sudah kita hafalkan dengan baik, karena di panggung tidak ada waktu untuk mengingat-ngingat, hanya ada waktu untuk memikirkan bagaimana konten tersebut ingin disampaikan. Istilah teknisnya, fokus pada delivery, bukan pada materi. Hal ini yang menurut saya juga terjadi dalam dunia akting. Saat kamera sudah menyala, fokus sudah harus pada delivery. Pada blocking, intonasi, gestur, dan sebagainya. Tidak bisa lagi memakai waktu untuk mengingat-ingat dialog.

Tapi itu semua bahasan teknis. Secara filosofis, akting dan stand-up comedy sebenarnya sungguh berbalik 180 derajat. Saat akting, kita menjadi orang lain. Saat stand-up, saya menjadi diri saya yang sejati.

Apakah Ernest menikmati pekerjaan sebagai aktor? Berminat untuk menekuni profesi ini lebih lanjut?

Jujur, saya sangat menikmati akting. Menurut saya, seluruh prosesnya amat melelahkan namun menyenangkan. Tentu saya berminat untuk bermain di film yang lain selama saya rasa skenarionya cocok. Namun yang terutama bagi saya tetap stand-up comedy.

Stand-up comedy bagi saya bukan sekedar sebentuk seni atau profesi, tapi juga media penyampai pesan. Ada banyak keresahan yang bisa saya utarakan melalui orasi di atas panggung stand-up comedy, itulah yang membuat saya yakin bahwa selama masih bisa berkata-kata, saya akan tetap menjadi komika.

[@ernestprakasa]

About @ernestprakasa

a husband, a father, comedian. guess which one makes me laugh the hardest?

Posted on February 14, 2014, in stand-up comedy. Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. Numpang nanya’ koh🙂
    koh ernest itu lahir di china trus pindah ke indo atau bapa/ibunya yg orang china?

  2. Semangaat dan terus berkarya ko..
    Jangan lupa mampir2 ke Malang yaa..:-)
    JBU….

  3. fighthing koh!!! (ngomong ala ala drama korea)

  4. Dimas Fiki Ramansyah

    Selamat siang. Koh ernest mau nanya dong biasa’a yang paling penting dalam penjurian lomba kaya acara street comedy dsb’a itu yang dinilai apa’a sih? Apa harus wajib lucu koh? Sebelum’a terima kasih koh ernest.

  5. Kak ernest , minta contact person nya donk, kmi dari salah satu even organizer di Batam pengen mengundang kak ernest utk show di batam,
    Bole kak?

  6. stlh jadi host bareng babe di SUCI4, mata koh ernest agak kebuka atau tambah sipit?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: