Monthly Archives: February 2014

Ernest Prakasa – FAQ (Frequently Asked Questions)

Berikut adalah kumpulan pertanyaan yang paling sering gue terima. Artikel ini sekalian untuk referensi bagi teman-teman media yang butuh informasi, biar gak usah repot-repot nanya lagi 🙂

Bagaimana ceritanya bisa terjun jadi stand-up comedian? Sebelum itu menggeluti bidang apa?

Setelah lulus kuliah tahun 2005, saya bekerja di recording company sampai tahun 2011, melanjutkan minat di musik yang memang sudah saya mulai ketika menjadi penyiar di tahun 2001 silam.

Awal mulanya bisa menjadi komika adalah ketika Kompas TV mengadakan program “Stand-Up Comedy Indonesia” Season 1, atau yang lebih dikenal dengan SUCI1. Programnya berjalan dari September hingga Desember 2011. Saya finish di posisi ke-3, dan setelah itu memutuskan untuk terjun full-time sebagai seorang komika, sampai hari ini.

Bagaimana cerita lahirnya @StandUpIndo?

Komunitas @StandUpIndo lahir secara tidak disengaja. Ini semua berawal ketika saya mengajak Ryan Adriandhy, sesama peserta audisi SUCI1, untuk menjajal open mic di Comedy Café yang ketika itu berada di Kemang. Comedy Café itu sendiri sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1997, namun tidak pernah benar-benar bisa mewabahkan stand-up comedy karena kurangnya dukungan terutama dari media.

Singkat cerita, Ryan mengajak Pandji Pragiwaksono, lalu Pandji mengajak Raditya Dika. Kebetulan Pandji dan Radit adalah duo host SUCI1. Saya juga mengajak Isman HS, seorang penulis komedi yang saya kenal lewat Twitter. Akhirnya kami berlima dan beberapa komika lain sepakat open mic bareng di tanggal 13 Juli 2011. Karena banyaknya followers Pandji dan Radit di Twitter, kafe mungil berkapasitas sekitar lima puluh orang itu pun luluh lantak diserbu sekitar 200-an pengunjung.

Event hari itu kami promosikan melalui Twitter @StandUpIndo, dan videonya kami upload ke Youtube. Dari sana, bola salju bergulir dengan dahsyat. Event berikutnya tanggal 17 Agustus di Rolling Stone Café Jakarta diserbu sekitar 600 orang, lalu menembus 1,000 penonton ketiga digelar event ketiga di tempat yang sama, 24 Agustus 2011.

Hanya dalam hitungan minggu, respon dari kota-kota lain pun bermunculan, ingin membuat event serupa. Bandung, Jogjakarta, dan Samarinda tercatat sebagai tiga kota pertama yang menyusul. Dan dalam waktu beberapa bulan, puluhan kota lain menyusul. Hingga saat ini, @StandUpIndo mencatat sekitar empat puluh komunitas lokal yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tanggal 13 Juli 2011 tadi kami tahbiskan sebagai hari lahirnya @StandUpIndo, komunitas stand-up comedy di Indonesia, dengan lima orang co-founder: Saya, Ryan Adriandhy, Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, dan Isman HS. Saya dan Isman HS menjabat sebagai ketua hingga akhir 2012, kemudian dilanjutkan oleh Sammy @Notaslimboy hingga sekarang.

Stand-up comedy di Indonesia cukup happening di beberapa tahun terakhir. Apakah akan tetap eksis, atau ini hanya trend sementara?

Menurut saya, stand-up comedy bukan trend. Ini adalah genre komedi baru yang lahir dan akan terus tumbuh. Ada tiga hal yang menurut saya menjadi indikator kokohnya stand-up comedy di Indonesia:

1. Terus lahir & berkembangnya komunitas lokal di puluhan kota di Indonesia, dari Sumatra hingga Sulawesi. Komunitas-komunitas ini bertumbuh secara organik dan mengakar dengan kuat, memberikan fondasi yang kuat bagi kemajuan stand-up comedy di Indonesia.

2. Semakin banyaknya komika karier. Selain saya sendiri dan Pandji Pragiwaksono sebelum saya, semakin bermunculan komika-komika yang bisa menggantungkan hidupnya dengan cara menggeluti stand-up comedy. Mereka bisa berkarya, sekaligus mendapatkan penghasilan yang amat layak.

3. Semakin derasnya invasi komika di televisi dan layar lebar. Tidak bisa dipungkiri, gelombang stand-up comedy ini menyapu di segala lini, tidak terkecuali televisi dan bioskop. Semakin banyak komika mendapatkan kesempatan, dan membayar lunas kesempatan yang diberikan, sehingga membukakan jalan untuk lebih banyak komika bisa membanjiri industri.

Apakah bedanya stand-up comedy dengan komedi yang selama ini dikenal luas di masyarakat Indonesia?

Dibandingkan dengan berbagai komedi tradisional yang selama ini kita kenal, stand-up comedy memiliki dua ciri utama yang mutlak dan tidak bisa diganggu-gugat:

1. Dilakukan sendiri di atas panggung, tanpa tandem. Tidak harus sambil berdiri, tapi harus sendiri.

2. Membawakan materi hasil karya sendiri. Kekuatan stand-up comedy ada pada perspektif subjektif dari si komika. Jadi materinya merupakan hasil pemikiran dan pengamatan pribadi. Bukan dari teman, buku, internet, dan lain-lain.

Apakah semua orang bisa menjadi komika?

Apakah semua orang bisa menjadi pelukis? Apakah semua orang bisa menjadi penari? Seperti halnya seni yang lain, menurut saya komedi membutuhkan bakat. Teknik memang bisa dilatih, namun comedic sense itu bawaan lahir. Intuisi untuk mengenali apa yang lucu, bukan hanya bagi kita, tapi juga bagi orang awam. Ketajaman intuisi ini berbeda-beda bagi tiap orang. Bila intuisinya tajam, maka menurut saya itulah modal awal untuk menjadi seorang komedian.

Ernest seringkali membahas tentang etnis Cina di Indonesia. Apakah itu tidak tergolong rasis? Bagaimana reaksi dari golongan etnis Cina di Indonesia terhadap materi tersebut?

Saat belajar stand-up kami, diarahkan untuk mencari materi dari keresahan yang paling jujur. Salah satu keresahan saya yang utama adalah tentang menjadi orang Cina di Indonesia. Maka itulah yang sejak awal menjadi ciri khas yang saya miliki.

Soal rasis atau tidak, menurut saya indikatornya sederhana. Saya berdarah Cina. Maka ketika saya membahas orang Cina, saya sedang membahas tentang apa yang saya ketahui, jadi ini tidak rasis. Akan berbeda bila saya membahas etnis lain.

Jujur saja, hingga saat ini saya belum pernah mendapatkan protes keras sama sekali. Kritik sesekali di media sosial tentu ada, tapi tidak signifikan. Saya malah lebih banyak mendapat dukungan, karena mereka merasa terwakilkan dengan apa yang saya suarakan.

Apa yang mendasari lahirnya Merem Melek Tour, yang notabene adalah tur stand-up comedy pertama di Indonesia?

Setelah lulus dari SUCI1, saya coba merenung. Saya ini ingin jadi komika, seperti komika idola saya, Pandji Pragiwaksono. Salah satu hal yang saya pelajari dari Pandji adalah konsistensinya dalam menjadi pionir. Ia selalu berusaha menjadi yang terdepan, menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejaknya. Bulan Desember 2011, saya menjadi pembuka Pandji di Bhinneka Tunggal Tawa, stand-up comedy special pertama di Indonesia. Dan disitu saya sadar bahwa untuk bisa menjadi seperti Pandji, saya harus nekad melakukan sesuatu yang belum dilakukan orang lain.

Di Amerika, tur stand-up comedy adalah hal yang lumrah. Namun di Indonesia, ini belum pernah dilakukan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengumpulkan segenap keberanian, dan menghubungi beberapa teman di komunitas untuk bekerjasama mengadakan sebuah tur. Awalnya saya hanya merencanakan tur lima kota. Namun berkat dukungan dari Coffee Toffee Indonesia, tur saya bisa diperpanjang hingga ke sepuluh kota. Singkat cerita, lahirlah “Merem Melek Tour”, yang mengelilingi 10 kota di Indonesia dan ditutup di titik ke-11, Gedung Kesenian Jakarta, tanggal 10 Juli 2012 silam.

Ernest melakukan debut layar lebar di film Comic 8. Bagaimana rasanya? Apa tantangannya dibandingkan stand-up comedy?

Sebenarnya debut layar lebar saya ada di film Make Money (2013), namun waktu itu saya hanya kebagian tiga scene. Baru di Comic 8, saya menjadi satu dari delapan komika yang menjadi pemeran utama.

Tentunya, akting di film berbeda sekali dengan stand-up comedy. Ada dua hal mendasar yang menjadi tantangan tersendiri menurut saya:

1. Blocking kamera. Dalam stand-up, saya terbiasa sendiri di panggung, bebas bergerak, bebas melakukan manuver apa pun. Tapi pada saat syuting, saya harus memikirkan blocking kamera, posisi saya di depan kamera dan juga posisi saya terhadap rekan-rekan lain dalam satu frame yang sama. Bagi pemula seperti saya, ini sungguh merepotkan.

2. Dialog, bukan monolog. Dalam stand-up, saya terbiasa monolog. Saya tidak memiliki lawan bicara. Namun saat syuting, saya terlibat dalam percakapan, bahkan terkadang dengan banyak lawan bicara di saat yang bersamaan. Ini membutuhkan kerjasama dan timing yang baik, yang juga jadi sebuah pelajaran baru bagi saya.

Namun menariknya, ada satu kesamaan yang kuat antara stand-up dan akting. Dalam stand-up comedy, saat kita naik ke panggung, kita sudah bukan lagi mencurahkan fokus pada “apa yang mau disampaikan”, tapi “bagaimana cara menyampaikan”. Konten apa yang mau disampaikan seharusnya sudah kita hafalkan dengan baik, karena di panggung tidak ada waktu untuk mengingat-ngingat, hanya ada waktu untuk memikirkan bagaimana konten tersebut ingin disampaikan. Istilah teknisnya, fokus pada delivery, bukan pada materi. Hal ini yang menurut saya juga terjadi dalam dunia akting. Saat kamera sudah menyala, fokus sudah harus pada delivery. Pada blocking, intonasi, gestur, dan sebagainya. Tidak bisa lagi memakai waktu untuk mengingat-ingat dialog.

Tapi itu semua bahasan teknis. Secara filosofis, akting dan stand-up comedy sebenarnya sungguh berbalik 180 derajat. Saat akting, kita menjadi orang lain. Saat stand-up, saya menjadi diri saya yang sejati.

Apakah Ernest menikmati pekerjaan sebagai aktor? Berminat untuk menekuni profesi ini lebih lanjut?

Jujur, saya sangat menikmati akting. Menurut saya, seluruh prosesnya amat melelahkan namun menyenangkan. Tentu saya berminat untuk bermain di film yang lain selama saya rasa skenarionya cocok. Namun yang terutama bagi saya tetap stand-up comedy.

Stand-up comedy bagi saya bukan sekedar sebentuk seni atau profesi, tapi juga media penyampai pesan. Ada banyak keresahan yang bisa saya utarakan melalui orasi di atas panggung stand-up comedy, itulah yang membuat saya yakin bahwa selama masih bisa berkata-kata, saya akan tetap menjadi komika.

[@ernestprakasa]

Advertisements

ILLUCINATI Jakarta – A Thank You Note

Illucinati_23

Waktu “Ernest Prakasa & The Oriental Bandits” tahun lalu sukses sold-out di dua pertunjukan dalam sehari, jujur gue bingung, abis ini harus bikin apa lagi coba? How do I top myself (again)?

Akhirnya gue mutusin untuk bikin tiga show dalam sehari. Dua kali kan udah, yaudah sekarang cobain tiga. Plus dengan durasi performance yang lebih panjang, yakni sekitar 1,5 jam per show. Jujur, orang-orang terdekat gue meragukan ini bisa dilakukan. Istri dan manager gue sendiri waswas kalo stamina gue bakal drop dan gak akan bisa tampil prima sebanyak tiga kali.

Sabtu, 25 Januari 2014, gue berhasil memaksa diri gue untuk melalui itu semua. Gak ada jamu atau obat cina, cuma tidur dan makan yang cukup. Dari tiga show yang digelar hari itu, hanya show pertama yang gagal sold-out, cuma bisa terjual sekitar 80%-nya. Mungkin orang belum terbiasa dengan stand-up special yang digelar jam 12 siang. But it’s all good. Gue bahagia.

Gue bahagia bukan hanya karena ada sekitar 1,300 orang yang dateng ke GKJ hari itu, tapi juga karena gue puas sama materi show yang menurut gue pribadi udah mengalami peningkatan bobot dari special sebelumnya. Gue bahagia karena gue udah menuntaskan keresahan gue di awal tur ini, yaitu supaya lebih banyak orang sadar akan betapa krusialnya menentukan pilihan yang tepat di Pemilu 2014 yang akan datang. Bahwa orang jahat tidak boleh menang.

Seperti biasa, gue selalu bikin credit title setelah bikin special. Sebelum gue absen thank you list untuk finale di Jakarta, gue mau say thank you banget buat teman-teman yang udah mau bekerjasama untuk nyelenggarain #ILLUCINATI di kota mereka:
1. Makassar – @StandUpIndoMKSR
2. Samarinda – @StandUpSMD
3. Balikpapan – @StandUpBPN
4. Banjarmasin – @StandUpBJM
5. Banda Aceh – @StandUpIndoBNA
6. Semarang – @StandUpIndoSMG
7. Solo – @StandUpSOLO
8. Jogjakarta – @standupindojgj
9. Padang – @StandUpIndo_Pdg
10. Depok – @StandUpIndoDPK
11. Bandung – @StandUpIndoBDG
12. Bogor – @StandUpIndo_BGR
13. Malang – @StandUpIndo_MLG
14. Sidoarjo – @StandUpIndo_SDA
15. Surabaya – @StandUpIndo_SBY
16. Denpasar – @StandUpIndoBali

It was helluva journey. Thank you for being a part of it.
And now, for the Jakarta Finale. I would like to thank:

My best buddy J-Christ. Thanks man.

My 2nd best buddy, Meira Anastasia. What would I do without you?

My daughter Sky Tierra Solana, who made her debut on stage 🙂

My manager Dipa Andika. Thank you for understanding me, partner. Sorry for being a constant control freak.

My road manager Aditya Parajita Hadiwijaya. I always feel safe when you’re around.

My opener Arie Kriting. Proud to have you by my side, bro.

My project director Sessa Xuanthi. Bumil yang mobilitasnya berkurang tapi kegalakannya nambah. Well done as always!

My personal assistant & captain of @HAHAHA_Store, Fauzan Taufik. Thanks for your hard work & dedication.

My co-producer for the #ILLUCINATI Tour teaser trailer, Edward Mulianto.

Our documentation coordinator & co-producer for #ILLUCINATI DVD, Okky Prasetyo.

Our stage talents: David Nurbianto as MC, Budi Setianto & Aprizal Wahyu as the bodyguards. Also Henry & Christina from Vihara Tanah Bakti Bandung, our wushu artists.

Our hosts: Dimas Yudhistira, Pardede Reza, Abdul Wahab, Ariyanti Tjiang, Octria Revalina Kawengian.

Our good friends at XL Axiata Digital, Jasmina Dewi Nashya and team. Thanks a lot for the kind support.

Our broadcasting partner, Kompas TV. To Arga Laras, Tezar Sjamsudin, and the whole production team. Thank you for believing in me. Can’t wait to rock harder with you guys!

Our event partner: Gedung Kesenian Jakarta, Sinou Steak, Bakso Kade Hang Jebat, @HAHAHA_Store.

Our event management team from Sessa Xuanthi Project & Gala Event Management: Anandy Satriyo, Recky Resanto, Benni, Ajie Andika, Erwin Hendarwin, Jikun, Riza Saputra, Rico A., Andy, Iyus, Windy.

Our @HAHAHA_store merchandising team: Fairuz Ramadhan, Afandy Amer, Ahmad Habibi.

Our documentation team from Cone Camera: Okky Prasetyo & team.

Last but not leat, our graphic designers: Kuncir Satya Vikhu & Wangsit Firmantika.

To wrap things off, I just wanna dedicate this tour to each and every single one of you that came to see my show. All 6,000 people in 17 cities.

And for everyone that shook my hand at the show, know this:
When I looked into your eyes and said “Thank You”, I meant it. With all my heart.

THANK YOU.

PS: Berikut adalah beberapa blog post dari para penonton #ILLUCINATI Jakarta:
“Menguak Konspirasi Tawa” by Mycel Pancho (@mycelpancho)
“ILLUCINATI #GKJ25Jan” by Santi Fang (@santifang)
“Illucinati Tour Jakarta Finale” by Yuanita Handoko (@yuanita_handoko)
“ILLUCINATI: Indonesia Yang Bersuku China” – Thiodora C. Nadeak (@dora_himmawari)
“ILLUCINATI – #GKJ25Jan” by Sarah Puspita Lukman (@sarahpuspita)
“Review #ILLUCINATI #GKJ25Jan by Ernest Prakasa” – Cindy Kusuma (@cindy_kusuma)
“Illucinati, Stand-Up Comedy Show By Ernest Prakasa” – Sessa Xuanthi (@sessaxuanthi)

[@ernestprakasa]