Tentang Nurani

Terkadang saat menyaksikan kelakuan para pejabat rakus yang menyengsarakan rakyat, kita kerap bergumam, “dasar enggak punya nurani.”

“Enggak punya nurani.”

Saya jadi merenung. Apa yang terjadi dengan nurani orang-orang itu? Apakah ia pergi begitu saja? Benarkah nurani bisa mati? Ataukah mungkin ia ada, tapi memutuskan untuk diam?

Menurut saya pribadi, sampai kita mati, nurani tidak akan pernah berhenti berbicara. Ia bagai sekeping zat Tuhan yang bersemayam di dalam diri kita. A moral compass, constantly reminding us of what’s right or wrong.

Ia tidak akan berhenti berbicara. Tapi kita bisa memilih untuk tidak mendengarkan. Dan saat kita semakin fasih terlatih untuk tidak mendengarkan, suaranya yang lantang perlahan akan menjadi lirih.

Mendengarkan nurani ataupun mengabaikan nurani, adalah keterampilan yang bisa dilatih.

Tapi selama kita bernafas, nurani tidak akan pernah diam. Ia hanya bisa dibungkam.

[@ernestprakasa]

About @ernestprakasa

a husband, a father, comedian. guess which one makes me laugh the hardest?

Posted on July 4, 2013, in life. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. menurutku nurani itu bahasa jiwa, sedangkan kata-kata kita adalah bahasa raga.
    nurani bukannya bisa dibungkam, ia hanya bisa diabaikan oleh sang raga. nggak didengerin.

  2. cukup setuju sama tulisan Kak Ernest di atas. tapi saya juga mau coba share pikiran, pengalaman, dan pelajaran yang udah saya dapet…

    Berdasarkan salah satu kuliah di kelas, nurani itu suatu hal yang selalu menentukan tindakan kita. Gak bisa hilang, gak pernah diabaikan. Tapi nurani itu dipengaruhi juga oleh pengalaman dan pelajaran yang kita dapet sepanjang hidup kita. Jadi nurani seseorang itu bisa (relatif) baik atau buruk.

    Mungkin bisa diabaikan, tapi kebanyakan tindakan kita itu ditentukan oleh nurani kita, baik itu buruk maupun baik.

    Cuma pengen coba menyampaikan pengalaman aja. Kalo ada yang kurang/salah, ditunggu kritiknya😀

    • @ernestprakasa

      saya kurang setuju kalo dibilang nurani itu bisa buruk. menurut saya, nurani itu seperti kompas, sampai kapanpun arahnya akan tetap. tinggal masalah kita mau nurut apa engga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: