Monthly Archives: April 2013

Istri Saya = Sergio Busquets

Tidak bisa dipungkiri, Barcelona adalah salah satu klub sepakbola paling fenomenal selama beberapa tahun terakhir. Kedigdayaannya di Eropa bukan hanya dari segi jumlah piala yang mereka raih, tapi juga dari gaya permainan mereka yang sangat mempesona.

Bila penggemar sepakbola awam diminta untuk menyebutkan satu orang pemain yang menjadi kunci sukses Barcelona, sebagian besar akan menjawab Lionel Messi. Wajar memang. Secara kasat mata, semua orang bisa menyaksikan bagaimana briliannya Lionel Messi di lapangan hijau, baik sebagai kreator maupun sebagai penghasil gol.

Namun, dalam sebuah tim sepakbola, kerap ada “unsung heroes”. Para pahlawan yang luput dari perhatian orang banyak. Bagi Barcelona, orang tersebut adalah Sergio Busquets. Sebagaimana sering ditekankan oleh penulis sepakbola favorit saya Pangeran Siahaan, Sergio Busquets adalah salah satu elemen krusial dari keseluruhan ritme tim Barcelona. Hanya karena nyaris tidak pernah melakukan aksi spektakuler saat menggocek atau mencetak gol, banyak yang tidak menyadari pentingnya Busquets.

Barisan penyerang Barca bisa beraksi dengan tenang, karena Busquets berada di belakang mereka. Siap untuk menjadi penghadang yang cerdik dan siap mengantisipasi serangan lawan. Bagi Busquets, yang penting bukan tampil atraktif, tapi efektif. Tackling dan distribusi bola ke barisan depan jauh lebih penting dibandingkan mencetak assist atau gol. Singkat kata, bagi timnya, Busquets adalah penyeimbang.

Dan dalam “tim” rumah tangga kami, istri saya adalah Sergio Busquets. Ia adalah penyeimbang. Saya boleh jadi bagaikan Lionel Messi, menciptakan peluang dan mencetak “gol”. Tapi tanpa jangkar yang menjaga keseimbangan kapal, rasanya hal itu tidak mungkin.

My wife Meira Anastasia is the “unsung hero” in my career. She’s the steel in the walls. She’s the glue that holds everything together, so that I don’t crumble. Dan persis seperti Busquets, tidak banyak orang yang bisa paham, betapa penting peranannya dalam “tim” kami.

So my darling wife/pal/sex-buddy Meira Anastasia, happy 30th birthday & 6th wedding anniversary.
You’ve been an indispensable squad player & an inspiration to the whole team.
Please keep guarding the defense while I go out there and score us some goals 🙂

[@ernestprakasa]

Advertisements

Perihal Bahagia

Bahagialah.

Bahagialah karna harta ataupun tahta.

Bahagialah di tepi hamparan laut. Bahagialah di hingar bingar kota.

Bahagialah karna dicinta. Bahagialah karna mencinta.

Bahagialah oleh tawa dan pesta pora. Bahagialah oleh buai sunyi.

Bahagialah oleh ujian. Bahagialah oleh pujian.

Bahagialah karna langit terang membiru. Bahagialah oleh gemuruh derap hujan.

Maknai. Temukan. Nikmati.

Sebab hidup terlalu singkat untuk membiarkan orang lain menentukan apa yang membuat kita bahagia.

[@ernestprakasa]
Bandung, 21-4-’13

My Japan Trip

Tanggal 18 Maret lalu, saya berangkat ke Jepang, menemani rombongan pemenang kuis #XLaluHore. Karena semua itenerary sudah diatur, jadi tugas saya tinggal duduk manis dan foto-foto 🙂

Kami berangkat dari Soekarno-Hatta sedikit lewat tengah malam, dan paginya kami tiba di Bandara Narita, Tokyo. Tujuan pertama kami adalah Gotenba. Gotenba adalah sebuah kota kecil di kaki Gunung Fuji, dan disana ada sebuah pusat perbelanjaan bernama Gotenba Factory Outlet. Ini tujuan pertama kami. Konon disini banyak brand-brand ternama yang mendiskon barang-barang mereka. Diskon bukan karena barang reject, melainkan karena modelnya sudah lama dan tidak lagi masuk display di mall-mall.

Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam dan dijeda makan siang, kami pun tiba di Gotenba Factory Outlet.

Gotenba Factory Outlet

Gotenba Factory Outlet

Berbeda dengan factory outlet di Bandung atau Jakarta, yang satu ini nuansanya outdoor, melimpah udara segar. Tapi jangan kaget jika mendengar celetukan-celetukan yang familiar disana-sini. Ternyata tempat ini diserbu turis Indonesia! 🙂 Karena ini masih awal perjalanan, saya mencoba untuk menahan diri & sukses “hanya” membeli 1 buah barang saja. Prestasi yang membanggakan.. Hahaha..

Selesai belanja, kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Kawaguchi. Hotel kami terletak persis di tepi danau yang juga ada di kaki Gunung Fuji ini. Menjelang sore, di tengah-tengah perjalanan, Gunung Fuji sudah bisa terlihat dengan jelas. Yeay!

OTW to Mount Fuji

OTW to Mount Fuji

Tiba di hotel, matahari sudah terbenam, jadi pemandangan danau pun tidak tampak. Karena sudah capek, setelah makan malam saya tidur, dengan alarm terpasang pukul 5 pagi. Mau menikmati subuh di tepi danau.

Keesokan harinya saya bangun dan langsung turun ke tepi danau. Yang saya tidak ketahui adalah, ternyata suhu di pagi hari itu benar-benar DINGIN, sekitar 18 derajat celcius. Karena saya tidak memakai sarung tangan, jari-jari saya simpan rapat-rapat di dalam kantong jaket. Terasa kaku saking dinginnya! Mungkin karena sedang mendung juga, entahlah. Yang pasti karena cuaca cukup berawan, Gunung Fuji jadi terhalang kabut 😦

Lake Kawaguchi

Lake Kawaguchi

Untungnya, kekecewaan saya langsung terobati karena setelah sarapan, kami check-out & langsung menuju Mount Fuji Museum & Mount Fuji Ski Resort. Tidak untuk bermain ski tentunya, tapi sekedar melihat pemandangan dan meet & greet dengan salju. Salah satu cita-cita saya sejak lama. Terharu juga.. Hahaha..

View from Mount Fuji Museum

View from Mount Fuji Museum

Tourist wall at Mount Fuji Museum

Tourist wall at Mount Fuji Museum

Mount Fuji Ski Resort

Mount Fuji Ski Resort

Setelah itu, kami menempuh perjalanan empat jam kembali ke Tokyo. Tujuan pertama kami adalah Harajuku, salah satu pusat belanja yang terkenal murah meriah. Dan begitu tiba di Takeshita Street – titik teramai disana – langsung tampak bahwa terlepas dari benar murah atau tidak, yang pasti tempat ini meriah. Beberapa detik kemudian, rombongan pun langsung terpecah belah, masing-masing blusukan dengan ceria 🙂

Takeshita Street, Harajuku

Takeshita Street, Harajuku

Hari itu kami isi dengan mengunjungi beberapa pusat perbelanjaan. Theme of the day: “Ngosongin Dompet.”
Meski menyenangkan, tapi ada satu yang masih saya cari: Sakura! Dan ternyata, inilah yang menjadi pemandangan di keesokan harinya.

Esoknya, kami memulai hari dengan mengunjungi Asakusa Temple, salah satu kuil Buddha tertua di Jepang. Dan di sekitar kuil, mulai tampak Sakura bermekaran dengan indahnya 🙂

Asakusa Temple

Asakusa Temple

Asakusa Temple

Asakusa Temple

Selesai jalan-jalan di kuil, kami makan siang, lalu mampir di Ginza sebelum melanjutkan perjalanan ke Odaiba. Tempat ini berbentuk seperti teluk, terletak di dekat Rainbow Bridge Tokyo. Dari teluk, diuruk, lalu disulap jadi pusat bisnis dan perbelanjaan. Bahkan ada replika patung Liberty disini.

Rainbow Bridge

Rainbow Bridge

Odaiba

Odaiba

Rainbow Bridge viewed from Odaiba

Rainbow Bridge viewed from Odaiba

Setelah menikmati Odaiba, kami pun berangkat ke Narita untuk kembali pulang. Cukup singkat memang perjalanannya. Anggaplah ini preview untuk trip berikutnya 🙂

PS: All photos are taken with Panasonic Lumix digital camera.

[@ernestprakasa]

Pengembangan Komunitas Stand-Up Comedy Lokal: Part 3 – Manajemen Keuangan (End)

Di dua bagian sebelumnya, saya sudah membahas tentang pentingnya open mic, dan bagaimana mengadakan sebuah event stand-up nite ataupun tour. Sekarang, apa yang terjadi apabila kedua hal tersebut sudah berjalan dengan baik? Jawabannya, uang akan datang.

MENGATUR KEUANGAN DI KOMUNITAS.

Menurut saya, ada dua hal krusial yang harus diingat saat mengatur keuangan di komunitas:

1. Sepakati dari awal.

Orang Indonesia cenderung menggampangkan urusan keuangan karena sungkan untuk tegas di awal, apalagi ini bukan organisasi formal. Jangan. Sejak semuanya dimulai, semua harus menyepakati beberapa hal yang mendasar, seperti:
– Siapa yang menjadi penanggungjawab keuangan? Apakah ketua? Bendahara?
– Bila komunitas mendapatkan penghasilan dari event, merchandise, atau lainnya, berapa persen yang harus disimpan menjadi uang kas?
– Uang kas tersebut akan digunakan untuk kegiatan apa saja?
Hal-hal sederhana seperti ini sangatlah penting untuk disepakati sejak awal komunitas terbentuk. Bila perlu, buat kesepakatan tertulis.

2. Transparansi = harga mati.

Tanpa transparansi keuangan, kehancuran tinggal tunggu waktu. Transparansi artinya ada pertanggungjawaban keuangan yang jelas bagi komunitas secara umum, bukan hanya bagi beberapa orang tertentu. Komunikasikan dengan baik arus keluar masuknya uang, agar tidak berkembang bibit prasangka buruk yang akan berujung perpecahan.

KOMUNITAS SEBAGAI TALENT MANAGEMENT

Matangnya sebuah komunitas stand-up comedy lokal normalnya akan dibarengi dengan semakin banyaknya pihak yang tertarik untuk meng-hire comic dari komunitas tersebut untuk menjadi pengisi acara. Ini proses yang sudah dialami langsung oleh cukup banyak komunitas stand-up comedy di Indonesia. Dan secara alamiah, akhirnya beberapa komunitas jadi bertindak seperti talent management untuk comic-comic yang ada. Ini bukan sesuatu yang buruk, tapi memang harus dijalankan dengan penuh kehati-hatian. Ingat, masalah uang bisa berakibat fatal. Ada beberapa hal yang penting untuk diingat:

1. Pisahkan urusan pribadi dengan urusan komunitas.

Saya melihat ada dua variasi dari praktek talent management ini, yakni komunitas yang bertindak sebagai talent management, atau individu di dalam komunitas tersebut yang secara personal bertindak sebagai talent management. Keduanya sah-sah saja, asalkan paham dengan resikonya. Apabila ada “pejabat” di komunitas yang juga bertindak sebagai manajemen dari comic tertentu, ia tetap harus bijak memilah kapan memposisikan diri sebagai manajer, kapan sebagai pemegang keputusan di komunitasnya. Pada prakteknya, ini adalah hal yang amat sulit dan rentan konflik, meskipun tidak mustahil. Asalkan semuanya dijalankan dengan itikad baik dan menjunjung tinggi rasa keadilan.

2. Rundingkan dan tetapkan pembagian keuntungan sejak awal.

Berapa persen yang harus diterima talent management, tentunya sangat bervariasi, tergantung dari job description yang diemban oleh management tersebut. Di dalam industri hiburan, besarannya biasa berkisar antara 15% hingga 30%. Sangat relatif. Sekali lagi, ini perkara sensitif. Sebaiknya gunakan surat kesepakatan tertulis.

3. Selalu aktif mencari perbandingan.

Sebagai pihak yang baru menjalankan hal-hal seperti ini, sebaiknya kedua pihak baik talent management maupun si comic selalu proaktif untuk mencari tahu tentang kerjasama serupa yang sudah lebih dahulu dijalankan oleh comin atau talent management lain. Ini penting untuk evaluasi dan mengokohkan kerjasama agar lebih solid dan bisa berjalan untuk jangka waktu yang panjang.

***

Saya paham masalah keuangan ini cukup rumit dan tidak mungkin diselesaikan dalam satu blog post. Bila teman-teman komunitas ada yang ingin ditanyakan perihal ini, silakan e-mail ke ernest.prakasa@live.com. Semoga saya bisa berbagi pengalaman 🙂

[@ernestprakasa]

Pengembangan Komunitas Stand-Up Comedy Lokal: Part 2 – Stand-Up Nite & Tour

Di bagian pertama, saya sudah membahas tentang pentingnya open mic sebagai tulang punggung dari pengembangan komunitas stand-up comedy di sebuah kota (atau kampus dan sekolah, sama saja prinsipnya).

Sekarang, fase kedua. Seandainya open mic sudah bisa terselenggara dengan rutin dan relatif lancar, maka yang berikutnya adalah menyelenggarakan event sendiri. Ada dua jenis event yang biasanya dilakukan: stand-up nite & tour. Keduanya memiliki tujuan yang sama: Menarik lebih banyak massa dan memperkenalkan stand-up comedy ke lebih banyak orang. Juga, memberikan “panggung” untuk comic lokal yang memang dianggap sudah layak tampil.

1. STAND-UP NITE

Istilah “stand-up nite” sendiri awalnya adalah judul event tanggal 13 Juli 2011, yang akhirnya tercatat menjadi event bersejarah. Namun seiring perkembangannya, istilah “stand-up nite” sinonim dengan sebuah penyelenggaraan event stand-up comedy yang di Amerika lebih dikenal dengan istilah “line-up show”, alias mempertontonkan banyak comic sekaligus.

Bicara event, pasti bicara modal dan untung/rugi. Disinilah panitia sudah harus berhitung. Komponen biaya yang paling besar biasanya adalah:
– Sewa tempat berikut kelengkapannya (sound / lighting)
– Publikasi (poster, spanduk, dll.)
– Guest comic (honor + transportasi/akomodasi)

Biasanya, guest comic akan jadi magnet untuk menarik penonton. Itulah mengapa komunitas sebaiknya melakukan riset yang teliti tentang siapa comic yang akan diundang. Yang disukai oleh internal komunitas, belum tentu diminati oleh penonton secara umum. Perlu ada keseimbangan.

Demi menghemat biaya, saya menyarankan dalam sebuah penyelenggaraan stand-up nite sebaiknya cukup mengundang 1-2 guest comic saja. Dan soal honor, jangan khawatir. Masih banyak sekali comic yang meskipun sudah sering wara-wiri di TV, tapi punya ketulusan untuk membantu pengembangan komunitas.

2. TOUR

Menjadi bagian dari rangkaian tour seorang comic akan memberikan berdampak positif bagi sebuah komunitas. Ada dua keunggulan tour dibandingkan stand-up nite:

1. Hype di social media.

Comic yang melakukan tur sudah pasti akan melakukan promosi secara intens. Belum lagi didukung oleh comic-comic lainnya, plus diamplifikasi oleh semua kota yang ia datangi. Hype ini yang sulit ditandingi oleh stand-up nite berskala lokal.

2. Menyontek ilmu.

Dibandingkan stand-up nite, sudah pasti persiapan dan penampilan dari seorang comic yang melakukan tour akan jauh lebih intens. Durasi tampilnya saja jauh berbeda. Ini bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi para comic lokal.

Namun dibandingkan dengan stand-up nite, tour juga memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Ini utamanya disebabkan oleh idealisme dari comic yang melakukan tour. Dan tentunya ini adalah sesuatu yang wajar, mengingat perlunya ada keseragaman dari konsep tour tersebut di setiap kota dimana ia diadakan. Seringkali, idealisme comic ini menyebabkan biaya produksi event menjadi lebih mahal dibandingkan dengan stand-up nite. Bisa jadi karena tuntutan untuk kapasitas gedung yang lebih besar, sound system yang lebih baik, dan lain-lain.

Mengingat tour adalah kerjasama antara kedua pihak yang sama-sama berkepentingan yakni comic dan komunitas, maka hal paling krusial yang harus disepakati di awal adalah bagaimana sistem pendanaan dan pembagian keuntungannya. Sifat orang Indonesia yang seringkali sungkan untuk membahas masalah uang harus disingkirkan jauh-jauh kali ini, karena justru bisa menyebabkan konflik di kemudian hari.

Karena tour sendiri masih merupakan sesuatu yang baru, jadi sulit juga bila ditanya bentuk kerjasama apakah yang paling ideal. Ini tergantung dari banyak faktor. Menurut saya, mana bentuk kerjasama yang ideal adalah sebuah kerjasama dimana kedua belah pihak merasa tidak merasa dirugikan, alias win-win. Apapun bentuknya.

Dilihat dari segi keuangan, berikut beberapa contoh bentuk kerjasama tour berikut contohnya, dengan asumsi kondisi tanpa sponsor:

1. Comic sebagai pemodal (no risk, no gain).

Ini adalah bentuk kerjasama yang saya jalankan waktu #MeremMelekTour kota 1-5, April-Mei 2012. Dalam format ini, 100% modal dibiayai oleh comic (sewa tempat, perlengkapan, dll.), dan komunitas mendapatkan kompensasi sejumlah uang untuk kerja tim mereka dalam penyelenggaraan acara. Format ini menurut saya paling masuk akal pada saat itu, karena resiko 100% ditanggung oleh saya sendiri. Tiket laku atau tidak, jumlah uang yang diterima oleh komunitas tetap sesuai dengan kesepakatan awal. Bagi komunitas, plus minusnya adalah sebagai berikut:
(+) Zero risk. Tidak keluar modal sepeser pun.
(-) Seandainya tiketnya sold-out sekalipun, komunitas tidak akan mendapatkan bagian.
Sampai saat ini, bentuk kerjasama seperti ini belum pernah terjadi lagi, karena menurut saya ini memang terlalu beresiko bagi si comic.

2. Komunitas sebagai pemodal (high risk, high gain).

Ini adalah kebalikan dari sistem sebelumnya. Disini, 100% pemodalan dilakukan oleh komunitas, dan seluruh hasil penjualan tiket pun menjadi milik komunitas. Tapi, agak mirip seperti stand-up nite, disini komunitas harus menanggung penuh biaya fee (bila ada), transportasi, dan akomodasi si comic beserta rombongannya. Plus minusnya bagi komunitas:
(+) Seandainya tiketnya laku, maka hasil yang didapat bisa sangat besar.
(-) Seandainya penjualan tiketnya tidak mencapai target, maka harus siap merugi.
Bentuk kerjasama ini termasuk salah satu yang paling populer saat ini. Meski tidak pukul rata di semua kota, namun praktek ini sudah dijalankan oleh beberapa tour seperti #AbsurdTour Kemal Palevi, #tanpabatas Sammy DP, dan #TACL Ryan Adriandhy.

3. Partnership (low risk, low gain).

Ini adalah sistem hibrida yang menggabungkan dua bentuk diatas. Ge Pamungkas dan #3GPtour-nya menjalankan sistem ini, demikian pula dengan #MarahTawa milik Setiawan Yogy. Disini, baik modal maupun hasil ditanggung bersama. Sebagai contoh, untuk #3GPtour, Merem Melek Management menanggung biaya fee comic, akomodasi, & transportasi. Sementara komunitas menanggung biaya penyelenggaraan event. Kemudian hasilnya dibagi dua, sesuai dengan persentase yang disepakati bersama. Plus minusnya bagi komunitas:
(+) Meski tetap butuh modal, namun resikonya berkurang.
(-) Karena hasil pendapatan harus dibagi dua, maka potensi profit pun terbatas.

Dari tiga format diatas, mana yang paling ideal? Tergantung selera masing-masing. Yang terpenting menurut saya, baik komunitas ataupun comic sudah paham resikonya dari awal, dan tidak ada yang merasa diperlakukan secara tidak adil.

***

Demikian bagian kedua dari serial tulisan saya tentang pengembangan komunitas stand-up comedy lokal. Di bagian terakhir nanti, saya akan membahas soal manajemen keuangan bagi komunitas lokal. Semoga berguna 🙂

[@ernestprakasa]