Safety Net

Salah satu atraksi tradisional paling menarik dan wajib ada dalam pertunjukan sirkus adalah trapeze, yakni akrobat dimana satu orang atau lebih bergelantungan dan berpindah dari satu tali gantungan ke tali gantungan yang lain, sambil melakukan berbagai manuver yang mengundang decak kagum. Kesemuanya ini, dilakukan pada ketinggian yang ekstrim, sehingga jatuh akan berakibat fatal bagi para pelakunya.

Trapeze diciptakan oleh seorang Perancis bernama Jules Leotard pada tahun 1859. Awalnya, ia menggunakan matras sebagai pengaman. Otomatis, tinggi trapeze pun belum seperti sekarang, karena kemampuan kasur sebagai alas pengaman sangat terbatas. Namun seiring perkembangan waktu, sirkus-sirkus mulai menggunakan jaring pengaman alias safety net. Dan inovasi penggunaan safety net inilah yang memungkinkan atraksi trapeze untuk dilakukan dengan ketinggian yang semakin menjulang.

***

Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima berkaitan dengan karir saya sebagai comic:

“Koq berani sih terjun full-time ke stand-up comedy yang waktu itu baru muncul & belum jelas masa depannya?”

Memang, keputusan saya terkesan nekat. Apalagi pada waktu saya resign dari kantor tersebut (Agustus 2011), saya notabene merupakan seorang suami dan ayah dari satu anak balita, artinya bukan hanya bertanggungjawab terhadap diri sendiri, tapi juga anak sendiri, dan anak orang (istri saya). Tapi sebenarnya, keputusan saya tadi tidak nekat, melainkan penuh kalkulasi. Saya akan jelaskan maksudnya.

Tapi sebelumnya, saya ingin ceritakan alasan kenapa saya ingin berbagi soal hal ini. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, muncul berbagai gerakan yang menyemangati orang-orang untuk hidup sesuai passion. Untuk mengerjakan apa yang kita cintai & membuat kita bahagia, bukan sekedar mencari gaji belaka. Konon dengan menjalani hidup yang seperti ini, kita akan memiliki kepuasan batin yang nilainya tidak terbeli dengan uang.

Apakah benar? Berdasarkan pengalaman saya, iya. Tapi, menurut saya, hal ini tidak mudah diterapkan. Setiap orang punya kondisi, ekspektasi, dan nyali yang berbeda-beda. Justru salah satu tujuan saya menulis post ini adalah untuk menunjukkan, bahwa untuk “banting stir” dan meninggalkan comfort zone demi mengejar passion, saya butuh sebuah modal besar. Modal yang saya ibaratkan sebagai safety net dalam permainan trapeze, untuk menjaga seandainya “lompatan” saya gagal dan saya terjatuh.

Safety net saya pada waktu itu ada dua. Yang pertama tentunya tabungan. Saya sudah hitung, seandainya gaji bulanan saya hilang, minimal kami sekeluarga tidak akan kelaparan selama tiga bulan kedepan. Tentunya, angka rupiahnya akan berbeda-beda untuk tiap orang.

Tapi safety net yang pertama tadi tidak akan membuat saya berani untuk naik ke tangga trapeze yang tinggi, seandainya saya tidak punya safety net yang kedua, yakni pengalaman kerja. Saat kuliah, saya bekerja di salah satu radio anak muda di Bandung. Setelah lulus, saya melanjutkan siaran di salah satu radio anak muda di Jakarta. Total, saya punya pengalaman lima tahun siaran plus satu tahun menjadi Music Director.

Pekerjaan sebagai Music Director di radio tadi pula yang mengantarkan saya untuk bekerja di industri musik. Sejak bulan Mei 2005, saya berkantor di salah satu major label internasional di Jakarta. Di Agustus 2011, berarti saya sudah punya pengalaman enam tahun lebih bekerja di industri rekaman, dan secara keseluruhan, saya sudah sebelas tahun berkecimpung di industri musik. Ini safety net saya. Saya sudah punya portfolio yang cukup. Saya berani “melompat” dengan pemikiran:

“Yaudah lah, kalo stand-up comedy ternyata gagal, gue bisa keliling bawa CV. Masa iya kaga ada yang mau nampung.”

Begitulah kira-kira.

Kesimpulannya? Hidup sesuai passion itu adalah kebahagiaan, sekeping surga. Namun untuk sampai kesana, butuh proses yang tidak mudah dan mungkin berbeda-beda untuk masing-masing orang.

Jangan lupa, sama halnya dengan permainan trapeze modern, yang berani melompat tinggi tanpa safety net pun ada. Tapi, lagi-lagi, sama seperti trapeze: jatuh akan mengakibatkan semuanya GAME OVER.

[@ernestprakasa]

About @ernestprakasa

a husband, a father, comedian. guess which one makes me laugh the hardest?

Posted on January 24, 2013, in life, stand-up comedy. Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. Ernest, numpang share cerita ini ya. Krn sangat memberkati banget. Rencana saya mau nulis buku ttg mimpi. Saya mau pake topik “safety net” sebagai ilustrasi cerita. boleh ya🙂

  2. koh ernest… kalo ga keberatan boleh minta testimoni/pernyataannya utk buku yg sedang saya kerjakan, testinya nanti untuk di situs saya : http://dreamsbook.weebly.com/dreamstatements.html

    saya yg pernah minta cerita safety net koh ernest utk di buku DREAMS saya🙂
    gmn koh? keberatan ga? ini pun kalo ada waktu hehehe, kalo engga juga gpp🙂

    kalo memang koh ernest bisa nanti saya email pdfnya😀
    thx ya sebelumnya.

    oh iya utk sinopsis ato ttg buku saya ini, bisa diliat di http://dreamsbook.weebly.com

    thx😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: