Monthly Archives: January 2013

Menabung Itu…

…hanya bisa dilakukan di awal bulan.

Iya, saya hanya ingin menekankan itu saja.

Karena “Gue akan irit trus nanti sisa duitnya gue tabung” itu hanya MITOS.

Karena begitu terima gaji, yg dominan bukanlah hasrat menabung, melainkan kalimat “Gue udah cape kerja sebulan ini, sekarang saatnya gue nikmatin hasil kerja gue!,” lalu berangkat ke mall.

Jadi, kalo memang berniat menabung, sisihkan di awal, saat uang baru diterima.

Karena bila tidak, niat menabung hanya akan seperti melakukan threesome dengan Kardashian bersaudara – atau untuk perempuan – Hemsworth bersaudara. Sering dibayangkan, tapi tidak pernah jadi kenyataan.

[@ernestprakasa]

Advertisements

Safety Net

Salah satu atraksi tradisional paling menarik dan wajib ada dalam pertunjukan sirkus adalah trapeze, yakni akrobat dimana satu orang atau lebih bergelantungan dan berpindah dari satu tali gantungan ke tali gantungan yang lain, sambil melakukan berbagai manuver yang mengundang decak kagum. Kesemuanya ini, dilakukan pada ketinggian yang ekstrim, sehingga jatuh akan berakibat fatal bagi para pelakunya.

Trapeze diciptakan oleh seorang Perancis bernama Jules Leotard pada tahun 1859. Awalnya, ia menggunakan matras sebagai pengaman. Otomatis, tinggi trapeze pun belum seperti sekarang, karena kemampuan kasur sebagai alas pengaman sangat terbatas. Namun seiring perkembangan waktu, sirkus-sirkus mulai menggunakan jaring pengaman alias safety net. Dan inovasi penggunaan safety net inilah yang memungkinkan atraksi trapeze untuk dilakukan dengan ketinggian yang semakin menjulang.

***

Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima berkaitan dengan karir saya sebagai comic:

“Koq berani sih terjun full-time ke stand-up comedy yang waktu itu baru muncul & belum jelas masa depannya?”

Memang, keputusan saya terkesan nekat. Apalagi pada waktu saya resign dari kantor tersebut (Agustus 2011), saya notabene merupakan seorang suami dan ayah dari satu anak balita, artinya bukan hanya bertanggungjawab terhadap diri sendiri, tapi juga anak sendiri, dan anak orang (istri saya). Tapi sebenarnya, keputusan saya tadi tidak nekat, melainkan penuh kalkulasi. Saya akan jelaskan maksudnya.

Tapi sebelumnya, saya ingin ceritakan alasan kenapa saya ingin berbagi soal hal ini. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, muncul berbagai gerakan yang menyemangati orang-orang untuk hidup sesuai passion. Untuk mengerjakan apa yang kita cintai & membuat kita bahagia, bukan sekedar mencari gaji belaka. Konon dengan menjalani hidup yang seperti ini, kita akan memiliki kepuasan batin yang nilainya tidak terbeli dengan uang.

Apakah benar? Berdasarkan pengalaman saya, iya. Tapi, menurut saya, hal ini tidak mudah diterapkan. Setiap orang punya kondisi, ekspektasi, dan nyali yang berbeda-beda. Justru salah satu tujuan saya menulis post ini adalah untuk menunjukkan, bahwa untuk “banting stir” dan meninggalkan comfort zone demi mengejar passion, saya butuh sebuah modal besar. Modal yang saya ibaratkan sebagai safety net dalam permainan trapeze, untuk menjaga seandainya “lompatan” saya gagal dan saya terjatuh.

Safety net saya pada waktu itu ada dua. Yang pertama tentunya tabungan. Saya sudah hitung, seandainya gaji bulanan saya hilang, minimal kami sekeluarga tidak akan kelaparan selama tiga bulan kedepan. Tentunya, angka rupiahnya akan berbeda-beda untuk tiap orang.

Tapi safety net yang pertama tadi tidak akan membuat saya berani untuk naik ke tangga trapeze yang tinggi, seandainya saya tidak punya safety net yang kedua, yakni pengalaman kerja. Saat kuliah, saya bekerja di salah satu radio anak muda di Bandung. Setelah lulus, saya melanjutkan siaran di salah satu radio anak muda di Jakarta. Total, saya punya pengalaman lima tahun siaran plus satu tahun menjadi Music Director.

Pekerjaan sebagai Music Director di radio tadi pula yang mengantarkan saya untuk bekerja di industri musik. Sejak bulan Mei 2005, saya berkantor di salah satu major label internasional di Jakarta. Di Agustus 2011, berarti saya sudah punya pengalaman enam tahun lebih bekerja di industri rekaman, dan secara keseluruhan, saya sudah sebelas tahun berkecimpung di industri musik. Ini safety net saya. Saya sudah punya portfolio yang cukup. Saya berani “melompat” dengan pemikiran:

“Yaudah lah, kalo stand-up comedy ternyata gagal, gue bisa keliling bawa CV. Masa iya kaga ada yang mau nampung.”

Begitulah kira-kira.

Kesimpulannya? Hidup sesuai passion itu adalah kebahagiaan, sekeping surga. Namun untuk sampai kesana, butuh proses yang tidak mudah dan mungkin berbeda-beda untuk masing-masing orang.

Jangan lupa, sama halnya dengan permainan trapeze modern, yang berani melompat tinggi tanpa safety net pun ada. Tapi, lagi-lagi, sama seperti trapeze: jatuh akan mengakibatkan semuanya GAME OVER.

[@ernestprakasa]

Ernest Prakasa & The Oriental Bandits (#GKJ9Feb)

Tanggal 10 Juli 2012 adalah salah satu momen terindah dalam hidup saya. Di Gedung Kesenian Jakarta, #MMTJKT alias Merem Melek Tour Jakarta, penutup dari rangkaian Merem Melek Tour, sebuah stand-up comedy tour yang tercatat sebagai yang pertama kali diadakan di Indonesia.

Saya tidak menyangka tiket malam itu akan sold-out, dan saya tidak berharap mendapatkan full-house standing ovation. Tapi kedua hal tersebut benar-benar terjadi, dan saya sungguh bersyukur. Saya anggap itu cherry on top dari perjuangan panjang yang melelahkan. Momen-momen terbaik di hari itu dirangkum dalam video 1,5 menit ini.

Tanggal 9 Februari 2013, saya akan mengadakan stand-up special saya yang kedua kalinya di Jakarta. Tanggal yang sangat spesial, karena itu adalah satu hari sebelum Imlek. Sudah tentu, saya akan banyak membahas soal being a chinese in Indonesia. Judulnya adalah “Ernest Prakasa & The Oriental Bandits”, atau yang akan disingkat dengan hashtag #GKJ9Feb.

Ada banyak hal yang akan saya bahas disini, dan sebagian besar menyangkut hidup saya sendiri. Tentang pengalaman saya jadi minoritas selama di SMP, dan sebaliknya, menjadi mayoritas ketika SMA di daerah Kota. Tentang keresahan saya menjadi anak, suami, dan ayah. Dan tentu, tentang isu-isu sosial yang menurut saya perlu untuk dibahas, dan kadang, diolok-olok.

[photo & design by @okkyprasetyo]

[photo & design by @okkyprasetyo]

Saya bukan satu-satunya orang bermata sipit yang akan muncul di panggung megah GKJ. Akan ada empat orang opener yang juga memiliki ukuran mata minimalis dan berbagi garis etnis dengan saya, yakni: Barry Williem (@jekibarr), Yullianto Lin (@LiantLin), Dwika Putra (@dwikaputra), dan Alonk (@alonkii). Masing-masing dari mereka akan tampil selama 15 menit, lalu saya akan tampil selama satu jam penuh.

Akan ada dua pertunjukan di hari itu, dan mengingat sebagian teman-teman harus berkumpul bersama keluarga di malam sebelum Imlek, maka show pertama akan digelar siang hari, yakni 14:00 – 16:30. Show kedua akan diadakan jam 19:00 – 21:30. Berikut harga tiket beserta denah tempat duduk GKJ:

Tiket akan mulai dijual hari Sabtu 12 Januari jam 12 siang di ernestprakasa.multiply.com. Ada promo buy 3 get 1 free selama satu minggu pertama.

Hope to see you there guys! 🙂

[@ernestprakasa]

I’m A Boring Guy

Saya ini orangnya membosankan. Terlalu teratur.

Kadang saya iri sama teman-teman yang hidupnya penuh hal-hal spontan. Seru aja gitu. Kayak dateng ke airport tanpa tau mau kemana, asal beli tiket, trus berangkat. Saya ga pernah tertarik untuk melakukan hal-hal kayak gitu.

Tapi ya mau gimana lagi. Saya tidak nyaman dengan ketidakteraturan. Saya terlalu cinta ritual.

Bangun pagi, ngopi kapal api special mix panas, sambil baca timeline. Kalo ini keganggu, pasti uring-uringan.

Malem sebelum tidur ya minimal empat jam duduk di karpet pake meja lipet, trus ngerjain macem-macem. Kalo ini ga kejadian, pasti kesel.

Kalo mau tidur di perjalanan, ya earphone yang nyumbat kuping harus muterin Kings Of Convenience. Kalo dikasih album lain, pasti susah pules.

Kayaknya satu-satunya hal dimana saya masih lumayan adventurous itu hanya, ehem, urusan “pribadi” dengan istri. Untuk yang satu itu, saya masih mau mencoba hal-hal baru. Satu, tapi justru yang paling krusial, ya ga? Hehehe.. 😀

[@ernestprakasa]

Lima Komika Paling Melesat Di 2012

Tahun 2012 menjadi tahun yang amat sangat luar biasa bagi stand-up comedy di Indonesia. Ada begitu banyak special event, tur, hingga berbagai program regional komunitas lokal yang patut diacungi jempol.

Di tahun 2012 ini pula, beberapa nama baru yang di 2011 belum diperhitungkan – atau belum pernah terdengar sama sekali – mendadak muncul ke permukaan kancar stand-up comedy nasional. Nama-nama yang sepertinya akan menjadi semakin cemerlang di 2013.

Berdasarkan urutan abjad, inilah 5 rising stars stand-up comedy Indonesia 2012 versi saya:

1. Adriano Qalbi / @adrianoqalbi

Sebenarnya, Adriano Qalbi mulai menjajal panggung open mic sejak awal-awal heboh stand-up comedy di akhir 2011 silam. Tapi sepanjang 2012, pria yang sebelumnya berprofesi sebagai copywriter di advertising agency ini bertransformasi kilat dari “just one of the open mic participants”, menjadi “indonesia’s comic’s comic”, alias komika yang menjadi panutan bagi banyak komika lain.

Pengalamannya sebagai copywriter terbukti membekalinya dengan ketajaman menulis yang mengundang rasa iri dari komika manapun. Dengan kemampuannya menemukan, mengolah, dan menyampaikan premis yang ciamik, Adri secara tidak resmi pun ditahbiskan sebagai Chris Rock-nya Indonesia. Adri menutup 2012 dengan dua catatan penting: Menjadi pembuka stand-up special Pandji Pragiwaksono “INDONESIA:”, serta mengambil alih tongkat estafet dari Pandji untuk salah satu program paling berpengaruh di Hard Rock FM – bahkan mungkin di radio manapun di Indonesia – Provocative Proactive.

2. Bintang Timur / @bintangbete

Sebagai seni, stand-up comedy juga tidak luput dari faktor bakat. Dan bagi beberapa komika tertentu seperti Soleh Solihun dan Mongol Stres, bakat yang begitu besar membantu mereka untuk bersinar tanpa bekal teknik dasar sekalipun. Komika yang satu ini, masuk ke kategori barusan. Bagi Bintang, mengalirkan punchline demi punchline tampak begitu mudah. Effortless. Gayanya yang slengean dan ignorant bisa dengan mudah diterima penonton karena tampak begitu alami. Tidak dibuat-buat. Dan entah disengaja atau tidak, Bintang menggunakan persona tadi untuk menyampaikan materi-materi yang memang cocok dengan penampakannya di mata penonton.

Terbukti, pertengahan 2012 lalu komika Bekasi ini sukses menggondol Juara 1 di ajang bergengsi #StreetComedy2, sebuah gelaran rutin @StandUpIndo yang diikuti oleh banyak komika-komika handal. Dalam perkembangan stand-up comedy di dalam negeri, masih sangat sedikit komika Indonesia yang memiliki daya penetrasi ke berbagai lapisan masyarakat. Dan Bintang, adalah salah satu dari komika-komika istimewa tersebut.

3. Ge Pamungkas / @GePamungkas

Mengikuti jejak Ryan Adriandhy yang menjuarai SUCI Kompas TV Season 1, Ge Pamungkas juga menunjukkan dominasinya sejak awal Season 2. Sebagai peserta yang tampak paling kokoh sepanjang kompetisi, banyak yang memprediksi bahwa Ge akan muncul sebagai juara. Dan hari itu di malam final, Ge membuktikan ramalan tersebut dengan penampilan yang memukau Indonesia.

Salah satu faktor yang membuat komika didikan komunitas @StandUpIndoBDG ini mudah dikenali adalah gaya penyampaian materinya yang unik. Totalitasnya dalam melakukan ekspresi wajah dan gestur tubuh kerap mengundang decak kagum, baik dari penonton maupun dari rekan sejawat. Ditambah dengan semangat belajar dan kerja keras yang mengalir deras, Ge berhasil menorehkan namanya di hati para penikmat stand-up comedy sepanjang tahun yang silam.

4. Jui Purwoto / @juijuijuijui

Jui. Nama ini bisa dibilang adalah komika yang “menjajah” berbagai program stand-up comedy di Metro TV sepanjang tahun 2012. Kemunculannya semakin hari semakin dinanti, terutama di paruh kedua tahun 2012. Semoga ini berarti, penampilan Jui memang membawa berkah bagi rating Metro TV. 🙂

Menurut saya, wajar bila Jui jadi idola baru layar kaca. Format penayangan stand-up comedy di televisi sangat menuntut kesederhanaan materi dan kepadatan titik tawa, dua hal yang dikuasai dengan baik oleh komika asal Bogor ini. Sebagian besar dari kita pasti punya temen yang paling ngocol, yang setiap lagi nongkrong selalu bisa bikin yang lain tertawa. Jui, adalah orang itu, dalam versi yang (seringkali) lebih lucu.

5. Kemal Palevi / @kemalpalevi

Banyak yang setuju bahwa tahun 2012 adalah tahunnya Kemal. Gagal melaju ke grand final SUCI Kompas TV Season 2, Kemal justru unjuk gigi lewat #AbsurdTour, tur stand-up comedy yang melintasi Pulau Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Persona panggungnya yang tulus dan candid membantu Kemal mendekatkan diri dengan fansnya, yang menamakan diri mereka Kemalicious.

Dan kebintangan Kemal memang istimewa. Saya menyaksikan sendiri bagaimana para Kemalicious menyambut idolanya dengan jerit histeria, seolah itu adalah sosok Justin Beiber yang hadir di hadapan mereka. Dan mungkin saat ini, hanya Kemal yang memiliki kekuatan seperti itu. Kemal Palevi telah membuktikan bahwa komika bisa menjadi idola remaja, dan ini, adalah kontribusi yang manis bagi perkembangan stand-up comedy di Indonesia.

[@ernestprakasa]

Dua Ribu Tiga Belas

Ah, sudah 2013.

Dalam waktu beberapa minggu lagi, saya akan genap berusia 31 tahun. Tidak semengerikan tahun lalu, dimana saya resmi berkepala tiga dan merelakan era 20-an saya digilas waktu.

Saya masi ingat betul di tanggal 6 Januari 2012 lalu, saya menyambut 2012 dengan sebuah cita-cita: Bisa mengadakan sebuah tur stand-up comedy. Pada saat itu, belum ada komika di Indonesia yang mengadakan tur. Dan ternyata, kesampaian. Magic. Well, ga magic-magic amat sih. Ada banyak keringat, air mata, dan tentunya uang tabungan yang saya habiskan disana. Tapi semuanya sepadan. Lebih, malah. 🙂

Memasuki 2013, saya ingin menyatakan kembali cita-cita saya di blog ini. Semoga, tercapai lagi.

Saya berharap agar di 2013:

1. Saya bersama teman2 @StandUpIndo bisa mewujudkan festival akbar yang telah lama kami cita-citakan, berbarengan dengan ultah kami yang ke-2 di bulan Juli ini.

2. Saya bisa merapihkan jam tidur. Udah hampir setahun terakhir tidurnya berantakan, merem subuh, melek siang. Ga beres! *_*

3. Lastly, ini yang terdengar simple tapi pada prakteknya susah minta ampun. Saya harus bisa membuat minimal empat blog post per bulan. Saya tau, kuantitas tidak lebih penting dari kualitas. Tapi untuk yang satu ini, rasanya mendisiplinkan diri dengan kuantitas adalah hal yang tidak bisa ditawar. Napsu? Bodo amat! Harus bisa!

The year 2012 has taught me that dreams do come true. So this year, let’s dream HARDER! 🙂

[@ernestprakasa]