Monthly Archives: October 2012

Misplaced Sympathy

Beberapa hari yang lalu, saya sedang membeli mangga di abang-abang yang jualan mangga keliling komplek dengan menggunakan gerobak. Terjadilah dialog ini:

Saya: Berapaan bang?
Tukang mangga: Sekilonya sepuluh ribu mas.
Saya: Oke, beli tiga kilo ya.

Kemudian, datang seorang ibu-ibu. Dan dari pakaian plus kalung emasnya, ibu ini rasanya bukan orang miskin. Si ibu lalu bertanya:

Ibu: Berapaan bang?
Tukang mangga: Sekilo sepuluh ribu aja bu.
Ibu: Ah, mahal amat. Delapan ya?
Tukang mangga: Mmmm..nggak bisa bu, udah harga pas..
Ibu: Masa ga bisa kurang sih. Sembilan deh?
Tukang mangga: Maaf bu nggak bisa..

Dalam hati, ingin rasanya saya menghardik si ibu: “Bu, gue traktir aja sekalian mau ga? Mau berapa kilo?”. Geregetan rasanya.

Saya jadi mikir, kayaknya ada yang aneh dengan mindset kebanyakan orang di negeri ini. Kita cenderung mudah iba pada pengemis di lampu merah, tapi rajin menawar pedagang kecil. Ada yang salah, menurut saya. Coba kita renungkan perjuangan pengemis. Apa dia keluar modal? Tidak, dia tidak perlu membeli barang untuk dijual lagi. Apa dia lebih lelah? Jelas tidak, dia hanya cukup mondar-mandir di satu tempat.

Sementara pedagang seperti halnya si abang tukang mangga? Dia keluar modal, artinya bisa saja rugi. Dia harus keliling menjajakan dagangannya, artinya dia pasti menghabiskan banyak tenaga. Apalagi di tengah panasnya Jakarta yang luar biasa ini. Jakarta itu sangat panas, ibarat melihat mantan pacar tiba-tiba nikah sama orang yang dari dulu udah kita curigain sebagai selingkuhan tapi selalu dibilang “cuma teman”. PANAS.

Jadi menurut saya, mari kita bersimpati pada para pedagang, apalagi pedagang keliling. Mereka bekerja teramat keras. Tidak ada salahnya membeli tanpa menawar. Beberapa ribu rupiah bagi kita mungkin tidak lebih dari sekedar recehan. Tapi bagi mereka, itu bisa jadi secercah senyuman.

[@ernestprakasa]

Advertisements