Monthly Archives: February 2012

Stand-Up Comedy Tips By @pandji: #riffing

Pandji Pragiwaksono dikenal sebagai salah satu comic dengan skill riffing paling gawat. Berikut sharing soal riffing, langsung dari akun twitternya, @pandji:

——————————

#riffing adalah ketika seorang comic ngobrol penonton dgn tujuan menggali tawa dari penonton tsb.

Byk orang pikir #riffing itu spontan, entah utk org lain, tp utk gue, sekitar 60% riffing gue itu sudah disiapkan / terlatih.

Byk yg blg #Riffing itu “Making something out of nothing”. Sebenarnya, itu ilusinya, krn realitanya, Riffing itu sebenarnya sudah dilatih.

Istilahnya, #riffing itu “rehearsed spontanity”. Scr umum dlm stand-up jg kt hrs latih diri utk bs bawakan bit2 kita seakan spontan & segar.

Beberapa #riffing gue, pada awalnya memang spontan. Tapi setelah itu, kalau sukses menuai tawa sering gue pake di kesempatan2 lain.

Salah satu #Riffing-an standar gue: “Tinggal di mana?”. Nanti jawaban mereka akan gue tutup dgn bbrp punchline disesuaikan dgn jawaban dia.

Cth sederhana, misalnya gue nanya: “Tinggal di mana?” | Penonton: “Bintaro” | Gue: “Pantesan muka lo jauh kayak rumah lo” #riffing

Jatohnya #Riffing juga tetap menggunakan set-up + punchline. Bedanya, set-upnya dipancing dari jawaban si penonton, punchline-nya dari kita.

Ada jg #riffing yg spontan. Agak susah & beresiko. Byk yg mau spontan riffing tp gagal bikin ktawa, akhirnya cm tanya-jawab biasa tanpa tawa.

Mind-set kalo mau #riffing spontan: Setiap org pasti lucu, tinggal kita temukan di mana kelucuannya. Jgn mikir “gmn caranya bikin dia lucu”.

Menemukan kelucuan dlm diri seorang penonton bisa dilihat dari penampilan, atau dari fakta2 tentang dirinya yg kita tanya #riffing

Tapi #riffing harusnya jadi pelengkap bukan sebagai suguhan utama. Kadang gue suka kebablasan nge-riffing & ngeluarin bitnya malah dikit.

——————————

Semoga berguna ya teman-teman 🙂

[@ernestprakasa]

Advertisements

Jadi Comic Itu Gampang, Tapi…

…jadi comic yg TERUS-MENERUS lucu, itu luar biasa sulit.

Photo taken on “Stand-Up Nite Kompas TV” by @Pio_Kharisma

Malam tadi, saya bersama 9 comic lain perform di acara “Stand-Up Nite Kompas TV”, yang diadakan di Rolling Stone Cafe. Ada sesuatu yang aneh dengan malam ini. Jumlah penonton tidak sedikit, namun seperti ada yang kurang. Pecah tawa tidak seperti yang diharapkan. Kami, para comic, menutup hari dengan banyak perenungan. What went wrong?

Ada banyak analisis yang muncul, dari mulai yang njelimet sampai se-sederhana “let it go, it’s just one of those nights when things go bad”. Tapi buat saya dan beberapa comic lain, malam ini menjadi tamparan keras.

Saya teringat ucapan Pandji, bahwa menjadi lucu itu gampang. Tapi menjadi lucu terus-menerus, itu yang susah. Dengan kata lain, untuk seorang comic bisa muncul lalu memukau banyak orang, itu baru awal perjalanan. Pendakian masih terjal dan berliku. Menurut Sammy (@notaslimboy), semakin “besar” nama seorang comic, maka semakin besar ekspektasi orang terhadap comic tersebut. Bits yang tadinya “cukup”, menjadi “kurang memuaskan”, karena meningkatnya standar yang ditetapkan oleh penonton atas comic yang bersangkutan. Menurut saya, ini cukup akurat. Seorang comic yang cepat puas lalu lupa untuk terus berlari, akan tergilas roda persaingan. Credo Steve Jobs benar adanya: “Stay Hungry, Stay Foolish”. Yang benar bukan “ah, penontonnya ga asik!”, tapi “apa yang harus gue benerin ya?”.

Saya sendiri mau mengaku dosa.
Makin hari, dengan padatnya jadwal dan letihnya fisik, saya jadi jarang punya kesempatan untuk melakukan persiapan yang maksimal, setiap akan naik ke panggung. Dan malam ini rasanya menjadi titik nadir.

Stand-up comedy adalah sebuah seni yang teramat rumit dan indah. Rumit karena begitu banyak elemen yang terlibat di dalam sebuah penampilan, baik dari dalam maupun luar diri si comic. Namun menjadi teramat indah, manakala berbagai elemen kompleks tersebut berhasil dipadukan bak orkestra nan syahdu. Dan seorang comic tidak akan mampu menjadi konduktor orkestra handal, tanpa 3 hal berikut ini: latihan, latihan, dan latihan.

Saat ini, boomingnya stand-up comedy memunculkan begitu banyak comic bertalenta di seluruh Indonesia. Ini adalah pertanda bagus, tentunya. Namun tak bisa dipungkiri, lambat laun kuantitasnya akan tergerus. Siapa yang punya determinasi sekeras baja, ia yang akan bertahan.

A mighty warrior is not forged in the comfort of their dens, but in the bloody cries of the battlefield.

Viva La Komtung!

[@ernestprakasa]