Monthly Archives: December 2011

Menerima Kekalahan

Ayah saya selalu ingin agar kedua anaknya menjadi atlet.
Sejak usia 9 tahun, saya masuk ke sekolah tenis, dan saya terus aktif hingga saya SMA, dengan pencapaian tertinggi Juara Piala Walikota Jakarta Selatan 1996 :). Setelah itu, karena diterima di UNPAD, ayah saya lebih menuntut saya fokus kuliah. Sementara adik saya Audrey (@audreyjiwajenie) lebih sukses menjadi perenang nasional hingga ke level Sea Games.

Hampir satu dekade aktif di lingkungan atlet, jiwa kompetitif saya jadi lumayan kronis. Saya sering diprotes oleh teman-teman karena sering terlalu kompetitif. Dalam hal APAPUN, bahkan sesimpel permainan Playstation :). For me, losing is simply not an option.

Usmar Ismail Hall, 30 November 2011.

Photo credit: RollingStone Indonesia

Dewan juri Stand-Up Comedy Indonesia Kompas TV yakni Indro Warkop, Butet Kartaradjasa, & Astrid Tiar memutuskan bahwa saya harus close-mic, alias dieliminasi dari kompetisi. Perjalanan saya berakhir di semifinal, menyisakan Ryan Adriandhy (@Adriandhy) dan Insan Nur Akbar (@akbar___) di babak grand final.

Jujur, sejak beberapa hari sebelumnya, saya memang sudah siap mental. Harus diakui, Ryan & Akbar tampil lebih konsisten sepanjang kompetisi, sementara saya, sempat beberapa kali tampil kurang maksimal. Kalimat pamit saya di panggung ketika itu adalah: “Hanya ada satu hal yang membuat saya bisa menerima kekalahan, yakni kalah dari lawan yang memang lebih baik. Ryan & Akbar layak bertarung di grand final”. Dan saya mengatakan itu dengan sepenuh hati. Saya sungguh-sungguh merasa mereka berhak.

***

Keesokan harinya, saya membuka mata dengan perasaan janggal. Seolah perasaan legowo saya di hari sebelumnya, sudah habis masa aktifnya. Saya mulai diserbu rasa bersalah pada diri sendiri. Saya kalah. Harusnya saya tidak kalah. Andai saja saya lebih cermat. Andai saya memilih tema yang berbeda. Andai saya lebih beruntung. Andai, andai, andai. Sisi gelap saya mulai mengejek: “Jadi lo berminggu-minggu karantina buat apaan? Cape-capein doang, akhirnya kalah juga!”. “Harusnya bukan lo yang dieliminasi dong, kan elo lebih bagus!”. And so on.

Saya tidak ingat kapan terakhir saya mengalami pergumulan mental yang begitu dahsyat. Energi saya terkuras untuk berdebat dengan diri sendiri. Sibuk menangkis cacian demi cacian. Berusaha mencari sebanyak mungkin pembenaran atas hasil yang saya peroleh. Selama beberapa hari, saya – istilah anak sekarang – galau.

Untungnya, dengan dukungan moral dari istri tercinta, perlahan saya mulai bisa “nrimo”. Kalimat-kalimat miring tadi bisa saya balas dengan energi positif. “Ini cuma sebuah kompetisi. Karir ke depan masih panjang!”. “Ingat apa kata Mas Indro, you are an inspiration!”. Dan lain-lain. Terdengar konyol memang, tapi saya memang menjalani perang sengit dengan batin sendiri.

Dan akhirnya, sampai pada titik dimana saya sudah sepenuhnya menerima kenyataan. Life is not about condemning failures. It is about getting back on your two feet, then walk on. Biarlah kali ini, saya kalah. Saya kalah karena mereka lebih baik. Itulah hidup.

***

Menjelang babak semifinal, anak saya Sky tinggal di Bandung bersama ayah & ibu mertua saya. Rupanya oleh mereka, Sky diajari berdoa: “Tuhan Yesus, semoga papa menang, amin”.

Malam pertama setibanya saya di Bandung, Sky memamerkan doa tersebut di depan saya. “Tuhan Yesus, semoga papa menang, amin”. Saya tercekat. Tentu ia tidak mengerti, bahwa saya sudah kalah. Dengan mata berkaca-kaca, saya kecup keningnya sambil membatin: “I am a winner, kiddo. I have you, I have your mom. I’ve won everything there is to win”.

God is good 🙂

[@ernestprakasa]

The Birth Of @StandUpIndo

Waktu itu tahun 2001.

Saya sedang menggonta-ganti channel TV ketika tanpa sengaja menemukan sebuah stand-up comedy special di HBO berjudul “The Blue Collar Comedy Tour”. Mereka berempat tampil bergiliran menghibur teater yang penuh sesak. Saya terpana oleh ketangkasan mereka di atas panggung. Panggung yang begitu megah, penonton yang begitu banyak, bisa tersihir oleh satu orang yang berdiri penuh kharisma. Saat itu juga saya jatuh cinta pada stand-up comedy.

Blue Collar Comedy Tour: Larry The Cable Guy, Bill Engvall, Jeff Foxworthy, Ron White | fanpop.com

Stand-up comedy memang bukan barang baru diluar sana. Berasal dari Inggris, stand-up comedy sukses booming di Amerika, dengan nama-nama tokoh seperti Bob Hope, George Carlin, Robin Williams, Eddy Murphy, dan masih banyak lagi. Secara sporadis, sebenarnya saya sudah pernah menyaksikan stand-up comedy sebelum Blue Collar tadi, namun dalam format yang lain, seperti di talkshow maupun berbagai awarding film / musik. Sejak melihat Blue Collar, saya terus diganggu pemikiran “kayak beginian di Indonesia bisa ga ya?”. Terus terang saya pesimistis. Sampai kemudian pada taun 2002, muncullah sitcom Bajaj Bajuri di Trans TV. Sukses pula!

Saya mulai berpikir. Hey, wait a minute. Sitcom? In Indonesia? Wow! Kalo sitcom yang notabene “bule banget” bisa diterima masyakarat, harusnya stand-up comedy juga bisa dong? Kan anyway ini semua hanya masalah format penyajian. Konten adalah sesuatu yang bisa di-localize. Karena tidak tau harus berbuat apa, akhirnya saya lebih sibuk browsing di youtube, dan berkenalan dengan banyak comic (istilah untuk stand-up comedian) luar biasa seperti Ellen Degeneres, Louis CK, Russel Peters, & masih banyak lagi. Semakin banyak yang saya tonton, semakin saya penasaran. This MUST happen in Indonesia!

Fast forward ke 2009. Karena penasaran, saya akhirnya mencoba membuat stand-up saya sendiri. Saya buat naskah lalu saya shoot dengan webcam, lalu upload ke youtube. Beberapa teman saya mintai komentar. Hasilnya ya tentu saja butut, hahaha :p Karena risih sendiri, akhirnya video-video itu saya delete dari youtube. Dan, lagi-lagi, hasrat saya terhadap stand-up comedy kembali terpendam.

Sabtu, 2 Juli 2011.

Saya ingat betul tanggal itu. Di akun twitter @pandji, saya melihat pengumuman audisi program TV “Stand-Up Comedy Indonesia” di Kompas TV. Saya terkejut campur bingung campur excited. SERIUSAN INI?? Disana tertera, bahwa hari Jumat 8 Juli, ada audisi perlombaan stand-up comedy di kantor Kompas TV. Tidak perlu berpikir panjang untuk saya menjerit dalam hati: FINALLY!!!

Rabu, 6 Juli 2011.

Bertempat di Comedy Café Kemang, saya melatih materi yang akan saya pakai untuk audisi. Kebetulan rabu adalah waktunya open mic. Comedy Café yang selama ini saya ketahui memang memberikan wadah untuk para pecinta stand-up comedy, terasa lengang malam itu. Pengunjung tidak sampai 10 orang, termasuk diantaranya Asep Suaji. Saya dan Asep adalah 2 orang peserta open mic malam itu. Dan ternyata, Asep pun sedang mempersiapkan diri untuk audisi yang sama.

Jumat, 8 Juli 2011.

Saya ikut audisi di Kompas TV. Selain kembali bertemu Asep, di hari itu saya bertemu dengan Ryan Adriandhy (@Adriandhy), Arief Budiman (@ariefdidu), dan lain-lain. Kebetulan saya dan Ryan sama-sama mendapatkan golden ticket, lalu terlontarlah ide dari saya untuk mengajak Ryan berlatih bersama di Comedy Café. “Biarin lah yan sepi cuek aja, yang penting kita latihan bareng”, itu kalimat saya pada waktu itu. Ternyata selain menyanggupi, Ryan juga mengajak Pandji, yang kemudian mengajak Raditya Dika. Mereka berdua adalah host program ini. Saya juga mengajak Isman (@ismanhs), seorang penulis komedi yang juga sangat antusias terhadap stand-up comedy. Next thing we know, yang tadinya sekedar latihan bareng, telah menjelma menjadi the very 1st local stand-up comedy night in Indonesia! Kami pun menyiapkan akun @StandUpIndo untuk mengkomunikasikan acara ini. Dan melalui followers Pandji & Radit yang militan, event ini berbunyi nyaring di twitter.

Dari kiri: @ismanhs, @Adriandhy, @radityadika, @pandji, @ernestprakasa (Photo taken: Jan 8, 2012)

Rabu, 13 Juli 2011.

Comedy Café nan mungil itu serasa mau runtuh oleh gelak tawa. Sekitar 200-an orang hadir (sebagian besar terpaksa mencuri dengar dari luar), dan sejarah pun tercipta. Kami berlima (saya, Ryan, Isman, Pandji, & Radit) benar-benar tidak menyangka bahwa ajang kumpul-kumpul sederhana tadi benar-benar telah menjelma menjadi event monumental. Selain kami berlima, turut tampil pula Asep Suaji (@asepsuaji), Arief Budiman (@ariefdidu), & Intan AP (@badutromantis). Video para performer itu kami upload di youtube, dan bagaikan api membakar tumpukan daun kering, kobarannya menyambar tak terkendali. Dalam waktu singkat, video tersebut menyebar hingga ditonton oleh ribuan, lalu puluhan ribu, lalu ratusan ribu, hingga jutaan orang. Teman-teman di luar Jakarta pun menggeliat. Tercatat Jogjakarta sebagai kota pertama yang ikut membuat event serupa. Disusul oleh teman-teman di Samarinda, lalu kota-kota lainnya di berbagai pelosok nusantara. Secara de facto, memang akhirnya saya, Ryan, Isman, Pandji, & Radit lah yang bisa dibilang secara tanpa sengaja telah “mendirikan” Stand-Up Indo.

Senin, 5 Desember 2011.

Saat tulisan ini dibuat, tercatat total views di youtube.com/standupcomedyindo telah menembus 4 juta, sementara akun @StandUpIndo di-follow oleh lebih dari 26 ribu orang.

Event stand-up reguler membahana tidak hanya di Jabodetabek, tapi juga di kota-kota seperti Jogjakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Bandung, Samarinda, Bali, Surabaya, Medan, Palembang, Pekanbaru, Jambi, dan sebagainya. Ada juga yang mendirikan komunitas berbasis kampus, seperti UIN, STAN, Atma Jaya, UNTIRTA, dan lain-lain. Sebuah embrio cilik telah menjelma menjadi jejaring komunitas lintas nusantara, dengan excitement yang luar biasa untuk memasyarakatkan stand-up comedy di tanah air. UNBELIEVABLE. Sungguh sesuatu yang amat mengharukan.

Belakangan ini, pertanyaan yang kerap diajukan banyak orang termasuk teman-teman dari media massa adalah: “apakah ini hanya sekedar trend?”. Dengan tegas, kami selalu menjawab: TIDAK. This is a birth of a new comedy genre. A baby that will grow bigger & stronger. Indonesia, prepare yourself, for stand-up comedy. 🙂

[@ernestprakasa]