Mereka Bilang “Persib Nu Aing!”

Beberapa saat yang lalu, saya baru saja menyaksikan tayangan langsung Liga Super antara Persib – Persisam, yang berakhir dengan skor 2-0. Sebuah partai yang cukup mengharukan, karena sekaligus farewell bagi penjaga gawang andalan Persib, Sinthaweechai Hathairattanakool, kiper nasional Thailand yang sudah berakhir kontraknya. Menyaksikan partai tersebut, terbersit rasa bangga akan kemajuan liga sepakbola nasional. Liga lokal kita yang dulu rutin jadi bahan olok-olok, kini mampu menghadirkan tontonan sepakbola yang menarik dan berkualitas.

Semua setuju, bahwa fundamen prestasi timnas sepakbola negara manapun adalah liganya masing-masing. Itulah mengapa saya miris menyaksikan ditengah menanjaknya kualitas liga lokal, prestasi timnas justru semakin jeblok. Something is definitely wrong.

Melancong sedikit ke Jepang. Apakah Anda sadar bahwa Jepang baru bisa menembus Piala Dunia di tahun 1998? Perkembangan sepakbola mereka memang luar biasa pesat. Tidak banyak yang tahu bahwa pada akhir tahun 70-an, mereka mengirim tim khusus ke Indonesia untuk belajar dari Galatama, liga kita di kala itu. Setelah lebih dari satu dekade membangun basis liga yang kuat hingga mengakar ke setiap kota, barulah kemudian di tahun 1992 liga profesional mereka lahir: Japan Football League atau bekennya disebut J-League. Kini, J-League adalah sebuah industri yang mencengangkan, terutama dari sisi tingginya omzet penjualan tiket stadion dan official merchandise.

Kembali ke liga dalam negeri, menurut saya Indonesia sudah memiliki sebuah modal berharga: fanatisme yang berakar pada chauvinisme. Orang-orang Bandung yang saya kenal, misalnya. Rata-rata pasti memiliki ikatan emosional dengan Persib, meski mungkin sebagian dari mereka belum pernah menyaksikan Persib tampil dari layar kaca sekalipun. Ada sense of belonging yang sulit dijabarkan disana. Dan saya yakin ini bukan hanya terjadi di Bandung. Dan saya yakin juga, tingginya minat akan suatu bidang olahraga adalah modal krusial bagi kemajuan olahraga yang bersangkutan.

Sekarang tinggal bobroknya PSSI yang jadi kendala. Apakah akan datang saatnya mereka keluar dari ICU dan berjalan sehat? Semoga iya. Supaya liga kita semakin mumpuni, dan berimbas pada bangkitnya kualitas tim nasional bagai di era 60-an.

By the way, saya salut pada ANTV yang terus mendukung sepakbola kita lewat tayangan LIVE nya. Saya yakin kontribusi ANTV sangat signifikan; bayangkan jika Anda adalah atlet sepakbola yang akan bertanding sambil disaksikan jutaan rakyat Indonesia. Suntikan semangat dosis tinggi, bukan?🙂

@ernestprakasa

About @ernestprakasa

a husband, a father, comedian. guess which one makes me laugh the hardest?

Posted on February 21, 2010, in football and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: