Monthly Archives: November 2009

GSM Yang Baik Berubah Jadi Jahat?

Picture 3

Beberapa hari terakhir, saya dan teman-teman lumayan seru mengomentari iklan terbaru dari Axis, yang menekankan bahwa merekalah GSM paling murah dengan cara menyidang Saykoji & Luna Maya, icon dari IM3 dan XL, yang selama ini mengaku-ngaku paling murah. Saykoji & Luna Maya boongan, tentunya. Reaksi yang muncul pun beragam:
– “gila kocak banget, Saykoji-nya mirip!”
– “Axis berani juga ya nantangin Indosat sama XL”
– “garing ih”
Dan lain-lain.

Sebelum lanjut, saya ingin flashback sejenak ke beberapa tahun silam.
Saya ingat betul bahwa pada waktu itu, munculnya Axis cukup menarik perhatian. Bagaimana tidak, ditengah monotonnya logo dan warna para operator seluler yang ada – kecuali warna-warni Flexi yang nggak monoton tapi norak abis, tiba-tiba Axis menggebrak dengan semburat segar kuning dan ungu, menyiratkan dinamisme dan kreativitas yang kental. Bukan hanya itu, Axis langsung membrainwash dengan slogan mereka “GSM Yang Baik”, yang saya percaya lahir dari insight yang kuat bahwa promo tarif dari operator seringkali menyimpan udang dibalik batu. In a way, Axis adalah operator pertama yang secara marketing berani menyentuh ranah emotional benefit, bukan hanya menyecar functional benefit seperti yang sudah-sudah.

Namun, tiba-tiba muncul ini. Gaya iklan ofensif yang sungguh tidak Axis. Pertanyaannya, apakah Axis akan mencederai image “baik” yang mereka telah bangun? Dan yang juga menarik untuk ditunggu, apakah Indosat & XL akan menyerang balik? Kalo iya, dengan cara apa? Apakah akan ada yang menggoreng si ayam raksasa yang belakangan ini jadi maskotnya Axis? :p

Yah, paling tidak kalo sampe terjadi lagi balas-membalas iklan tarif operator seperti episode Rp 0,1 vs 0,001 vs 0,0000001 beberapa waktu lalu, advertising agency akan kebanjiran order, dan industri kreatif akan makin bergairah πŸ™‚

@ernestprakasa

Calling All 2014 President Wannabes

kpk3

Sekitar jam 21:00 tadi, sebuah berita yang lumayan mengejutkan muncul: Polisi Menangguhkan Penahanan Chandra Hamzah & Bibit Samad Rianto. Rupanya tekanan publik yang menentang keras kriminalisasi dua petinggi KPK ini membuat polisi gerah juga. Meskipun kekeuh bahwa diperdengarkannya rekaman pembicaraan di Mahkamah Konstitusi tidak membuktikan bahwa Chandra & Bibit tidak bersalah, namun akhirnya mereka dibebaskan, paling tidak untuk sementara.

Yang menarik adalah pergolakan yang terjadi di dunia maya. Sejak di-create hari Jumat 30 Oktober yang lalu, Facebook Page “Gerakan 1,000,000 Facebook-ers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Rianto” berhasil mengumpulkan lebih dari 650,000 orang dalam waktu lima hari. Sepanjang sejarah politik di Indonesia, mungkin ini adalah rekor baru yang mengangkangi musim Pemilu 2009 sekalipun, dimana berbagai gerakan dan partai politik mencoba meraih simpati publik lewat Facebook.

Salah satu viral lainnya seputar isu KPK ini adalah gerakan pemakaian atribut serba hitam di hari Senin kemarin sebagai tanda rasa dukacita atas matinya keadilan di Indonesia. Tidak ada pengumuman di media massa. Hanya ajakan yang bergulir bagai bola salju di berbagai Facebook, mailing list, Twitter, dll. Alhasil, hari Senin kemarin diramaikan oleh orang-orang berpakaian warna hitam.

Apakah ini pertanda bahwa media online telah memainkan peranan penting dalam politik di Indonesia? Gejalanya sih sudah sangat kuat. Walau tertinggal oleh Obama yang sukses menjadi presiden Amrik berkat (salah satunya) menggarap serius campaign di internet, namun saya yakin di 2014 nanti, peranan media online akan semakin dahsyat dalam menentukan arah perpolitikan.

Karena mengumpulkan 650,000 orang dalam waktu lima hari membutuhkan sebuah event yang monumental, maka para politisi yang bermimpi meraih simpati masyarakat dunia maya di pemilu mendatang sudah harus berinvestasi dari sekarang; sedikit demi sedikit, bangunlah brand image dengan kreatif dan konsisten. Seperti telah dibuktikan oleh tim konsultan SBY dari Fox, menggolkan presiden tak ubahnya menjual sebuah brand.

Jadi buat anda para politisi, dunia maya menanti. Go gather your online marketing geeks and start doing some work.

@ernestprakasa