His Name Is Guinness. Arthur Guinness.

Leixlip, 1755. Berbekal uang warisan senilai 100 pounds, seorang pemuda Irlandia berusia 30 tahun memutuskan untuk mendirikan sebuah tempat penyulingan bir kecil-kecilan. Selama empat tahun ia menjalankan usahanya tersebut, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengambil langkah penuh resiko: menyewa sebuah pabrik penyulingan seluas empat hektar di Dublin, lalu mendirikan sebuah perusahaan bir.

*****

Saya tidak suka bir. Atau lebih tepatnya, saya tidak begitu menyukai semua minuman beralkohol. Melihat orang lain mereguk segelas bir dingin memang tampak sungguh nikmat. Namun entah kenapa, tubuh saya tidak dibekali dengan ketahanan yang tinggi akan alkohol. Setengah gelas bir saja sudah cukup untuk membuat wajah saya memerah dan terasa panas. Sayang, memang.

Itulah sebabnya saya awalnya tidak begitu tertarik saat mengetahui tentang kompetisi blogging tentang Guinness dari sebuah iklan di Facebook. Namun menimbang hadiah yang luar biasa menarik (jalan-jalan ke Dublin? siapa yang cukup tidak waras untuk menolak kesempatan seperti ini?), saya mulai mencoba untuk membaca lebih jauh tentang Guinness, selebrasi 250 tahun, dan kemeriahan Arthur’s Day.

Guinness. Saya yang bukan peminum bir pun sangat familiar dengan merk yang satu ini. Tapi saya sungguh tidak menyangka bahwa Guinness ternyata sudah ada sejak tahun 1759. Bayangkan sebuah produk yang terus konsisten selama 250 tahun. Seperempat milenia. Benar-benar mencengangkan.

Saya lantas penasaran, bila Guinness ternyata sudah sedemikian lama hadir, bagaimana dengan bir-bir yang lain? Iseng-iseng saya pun mulai mencari tahu tentang beberapa merk bir ternama yang terlintas dalam kepala saya, dan inilah hasilnya:
– Budweiser: didirikan di Belgia pada tahun 1876
– Heineken: Belanda, 1847
– Carlsberg: Denmark, 1873
– Miller: Amerika Serikat, 1855
Ternyata diantara nama-nama tadi, yang paling dahulu muncul adalah Heineken. Namun perhatikan, Heineken baru ada di tahun 1847. Itu artinya 88 tahun setelah Guinness. Bayangkan, 88 tahun! Artinya inovasi Guinness telah jauh mendahului semua kompetitornya.

Semakin banyak saya membaca tentang Guinness, semakin saya terkesan. Kisah sebuah perjalanan selama 250 tahun yang menunjukkan upaya tak kenal lelah untuk membuktikan bahwa batasan hanyalah sebuah ilusi yang didengungkan oleh mereka yang takut akan kegagalan. Ternyata dibalik sebotol bir hitam itu, tersimpan cerita yang sungguh inspiratif dan layak diceritakan kepada banyak orang. Baik penggemar bir ataupun bukan.

*****

Dublin, 2009. Seluruh bangsa bersiap merayakan sebuah hari yang monumental. Sebuah perusahaan bir yang dibangun dengan modal tekad baja dan kerja keras seorang pemuda sederhana, telah menjelma menjadi sebuah kerajaan nan kokoh berdiri dan mengibarkan benderanya di seantero penjuru Bumi. Arthur Guinness mungkin memang sudah meninggal 206 tahun yang lalu, namun semangatnya terus hidup dalam setiap tetes racikan Guinness, yang kini merayakan 250 tahun kejayaannya.

Guinness bukan sekedar bir. Guinness adalah sebuah kisah heroik.
Happy Arthur’s Day!

(This posting is an entry for Guinness 250 Years Celebration Blog Competition)

@ernestprakasa

About @ernestprakasa

a husband, a father, comedian. guess which one makes me laugh the hardest?

Posted on July 15, 2009, in blog competition and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Dari pembahasan Rio ke F1, lebih tertarik baca ini.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: