Monthly Archives: July 2009

Budi, Teruslah Bermain Bola

Tak lama setelah bom di Kuningan meledak tanggal 17 Juli lalu, saya mengirim SMS turut bersimpati kepada teman saya Yoga, VAS Manager dari 3, operator seluler yang menjadi partner exclusive Manchester United di Indonesia. Saya hanya membayangkan betapa ribetnya harus menghadapi hajat sebesar itu yang mendadak dibatalkan. I would hate to be in his shoes.

Saya sempat terpikir, apa yang akan dilakukan oleh 3 setelah tragedi ini. Belum juga muncul bayangan di benak saya, tiba-tiba saya melihat billboard ini:

untitled

I’m impressed. Mungkin tidak sedikit orang yang iba atau miris membayangkan kerugian yang dialami oleh 3. But by doing this, they’re showing that they’re taking the MU fiasco lightly, which suggest nothing but solid strength. Clever comeback. Kudos to 3! πŸ™‚

@ernestprakasa

His Name Is Guinness. Arthur Guinness.

Leixlip, 1755. Berbekal uang warisan senilai 100 pounds, seorang pemuda Irlandia berusia 30 tahun memutuskan untuk mendirikan sebuah tempat penyulingan bir kecil-kecilan. Selama empat tahun ia menjalankan usahanya tersebut, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengambil langkah penuh resiko: menyewa sebuah pabrik penyulingan seluas empat hektar di Dublin, lalu mendirikan sebuah perusahaan bir.

*****

Saya tidak suka bir. Atau lebih tepatnya, saya tidak begitu menyukai semua minuman beralkohol. Melihat orang lain mereguk segelas bir dingin memang tampak sungguh nikmat. Namun entah kenapa, tubuh saya tidak dibekali dengan ketahanan yang tinggi akan alkohol. Setengah gelas bir saja sudah cukup untuk membuat wajah saya memerah dan terasa panas. Sayang, memang.

Itulah sebabnya saya awalnya tidak begitu tertarik saat mengetahui tentang kompetisi blogging tentang Guinness dari sebuah iklan di Facebook. Namun menimbang hadiah yang luar biasa menarik (jalan-jalan ke Dublin? siapa yang cukup tidak waras untuk menolak kesempatan seperti ini?), saya mulai mencoba untuk membaca lebih jauh tentang Guinness, selebrasi 250 tahun, dan kemeriahan Arthur’s Day.

Guinness. Saya yang bukan peminum bir pun sangat familiar dengan merk yang satu ini. Tapi saya sungguh tidak menyangka bahwa Guinness ternyata sudah ada sejak tahun 1759. Bayangkan sebuah produk yang terus konsisten selama 250 tahun. Seperempat milenia. Benar-benar mencengangkan.

Saya lantas penasaran, bila Guinness ternyata sudah sedemikian lama hadir, bagaimana dengan bir-bir yang lain? Iseng-iseng saya pun mulai mencari tahu tentang beberapa merk bir ternama yang terlintas dalam kepala saya, dan inilah hasilnya:
– Budweiser: didirikan di Belgia pada tahun 1876
– Heineken: Belanda, 1847
– Carlsberg: Denmark, 1873
– Miller: Amerika Serikat, 1855
Ternyata diantara nama-nama tadi, yang paling dahulu muncul adalah Heineken. Namun perhatikan, Heineken baru ada di tahun 1847. Itu artinya 88 tahun setelah Guinness. Bayangkan, 88 tahun! Artinya inovasi Guinness telah jauh mendahului semua kompetitornya.

Semakin banyak saya membaca tentang Guinness, semakin saya terkesan. Kisah sebuah perjalanan selama 250 tahun yang menunjukkan upaya tak kenal lelah untuk membuktikan bahwa batasan hanyalah sebuah ilusi yang didengungkan oleh mereka yang takut akan kegagalan. Ternyata dibalik sebotol bir hitam itu, tersimpan cerita yang sungguh inspiratif dan layak diceritakan kepada banyak orang. Baik penggemar bir ataupun bukan.

*****

Dublin, 2009. Seluruh bangsa bersiap merayakan sebuah hari yang monumental. Sebuah perusahaan bir yang dibangun dengan modal tekad baja dan kerja keras seorang pemuda sederhana, telah menjelma menjadi sebuah kerajaan nan kokoh berdiri dan mengibarkan benderanya di seantero penjuru Bumi. Arthur Guinness mungkin memang sudah meninggal 206 tahun yang lalu, namun semangatnya terus hidup dalam setiap tetes racikan Guinness, yang kini merayakan 250 tahun kejayaannya.

Guinness bukan sekedar bir. Guinness adalah sebuah kisah heroik.
Happy Arthur’s Day!

(This posting is an entry for Guinness 250 Years Celebration Blog Competition)

@ernestprakasa

An Afternoon With Bob Sadino

I was having our dr.m book club session with Nike, Amet, & Mariska at Kemciks’ terrace earlier today when a very familiar-looking man approaches. “Hai, lagi pada ngapain?”, he greets with a warm smile. That man is Bob Sadino – founder of Kemciks, the anti-academic billionaire entrepreneur who’s famous for his modesty.

With his ever-present pair of washed out denim shorts, he sat down and joined the talk; giving us a bit of advise on business. It was brief and simple: “Always try to be the FIRST. If you’re not the first, then you have to be BETTER. If you can’t be neither, just be DIFFERENT”. Nice πŸ™‚

Seems like we could chat for hours and he won’t ran out of stories. But unfortunately about half an hour later, he left. Just before that, we took a picture: (Mariska, Amet, Nike, him, me)

13072009169

Thanks, sir. You’re one in a million.

@ernestprakasa

Being A Leader Sucks…

lead by example

…because it demands so much of you. Patience, wisdom, courage, consistency, and other serious stuffs. Plus, it’s inescapable. Once we start to have at least one subordinate – or team member if you prefer – that means the baton’s passed on. We can’t choose to not lead. It’s not a choice, it’s a responsibility.

This captainhood is quite new to me. Only for the last seven months, I’m starting to learn the ropes; leading a team of three bright youngsters. As the old saying goes, the best leaders lead by example. That’s very true, but unfortunately that doesn’t cover the whole nine yards. Setting good examples is one thing, but developing a human being both personally and career-wise is a whole different ball game. It’s clearly an uphill ride. Luckily, challenge does nothing but gets me fired up πŸ™‚

Richard Bronson said, “Don’t lead sheep, herd cats.” Well Mr. Bronson, I’ve handpicked my team of cats, and now I’ll try my best to herd them. Wish me luck.

@ernestprakasa

Again, Again

Aristoteles once said:
“We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit.”

So if you think you’re doing something good, then keep doing it. Constantly. Otherwise it won’t mean a thing.

@ernestprakasa

With Features Like These, Who Needs A Website?

untitled

Beberapa hari yang lalu saya ngobrol sama seorang teman manajer artis yang sedang mempersiapkan rilisan barunya, dimana salah satu persiapan yang ia lakukan adalah mendevelop website baru sebagai sarana interaksi si artis dengan fansnya. Saran saya sih, lebih baik lupakan website, dan garap serius Facebook Page.

Ada 3 alasan mengapa menurut saya untuk para artis/musisi, membuat Facebook Page lebih menarik dibandingkan membangun sebuah website baru:

1. Cost
Facebook page (sampai saat ini masih) gratis. Lebih baik gunakan bujetnya untuk memasang Facebook Ad dan mengembangkan Facebook Application yang menarik.

2. Interactivity
Bagi saya, membuat Page di dalam Facebook bagaikan membuka kios di tengah pasar ramai yang sudah terjamin volume transaksinya. Sebaliknya, membuat website baru dari nol bagaikan membangun sebuah ruko mewah di lokasi terpencil, dimana untuk bisa membuat orang sekedar mampir pun dibutuhkan upaya serius. Apalagi berharap mereka berbelanja.

3. Profiling
Tanpa perlu menyediakan mekanisme registrasi, kita sudah disuguhi statistik dengan detail mengagumkan.

Jadi, masih butuh website? πŸ™‚

@ernestprakasa