Why Employees Are The First Customers

pancious2

Saat makan di Pancious beberapa waktu lalu, saya bengong membaca tulisan di buku menu halaman paling belakang:

“Menu price is 150,000 IDR. To purchase this menu, please contact our restaurant manager. Thank you.”

Oke…memang cetakannya bagus sih, tapi apa iya ada yang mau beli merchandise Pancious berupa buku menu seharga 150 ribu perak? Karena penasaran, saya bertanya kepada seorang waitress. Tanpa disangka, jawabannya ternyata cukup mengejutkan.

Saya: “Mbak, ini menu dijual 150 ribu perak, emangnya ada yang beli?”
Waitress: “Hmm…sebenernya nggak juga sih mas”
Saya: “Lha, trus?”
Waitress: “Sebenernya gini mas. Itu kan menu lumayan mahal ongkos cetaknya, jadi kalo sampe hilang, waitress yang bertugas di meja yang bersangkutan bakal dipotong gajinya sejumlah itu…”

Whoa. I’m stunned. Saya rasa Pancious sah-sah saja menerapkan peraturan semacam itu. Pertanyaannya, kenapa begitu mudah bagi si waitress buat ngedumel ke customernya?

Kejadian itu mengingatkan saya pada salah satu metode yang dijalankan oleh Starbucks sejak awal berdiri, yakni memasarkan kepada karyawannya sendiri sebelum memasarkan kepada konsumen. From what i experienced, it seems that Pancious failed to make their employee a “customer” to the company’s values and principles, hence the inevitable. Ouch!

https://neonspark.wordpress.com

About @ernestprakasa

a husband, a father, comedian. guess which one makes me laugh the hardest?

Posted on May 6, 2009, in marketing and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: