Monthly Archives: May 2009

Happy Anniversally, Sour Sally!

soursally
Saya termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang terkejut saat mengetahui bahwa ternyata merk yang satu ini bukanlah franchise dari luar negeri, melainkan 100% asli kreasi anak bangsa. Wow! Terus terang saya sangat kagum akan kiprah Sour Sally, yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang pertama.

Frozen yoghurt bukanlah hal yang 100% baru di Indonesia. Sebelumnya, bila memikirkan โ€œes krim tapi yoghurtโ€, mungkin top of mind kita adalah Yogen Fruz. Atau sebagian orang mungkin teringat New Zealand Natural, yang juga menyajikan frozen yoghurt. Namun memang baik Yogen Fruz maupun brand sejenis tidak pernah memanfaatkan peluang untuk mengolah sisi kreatif mereka.

Sour Sally lahir dari benih insight yang luar biasa tajam. Dengan konsep yang dirancang dengan cermat untuk memikat kaum perempuan perkotaan, mereka sukses menyetrum konsumen yang memang merindukan cemilan yang enak tapi tidak menggemukkan. Tanpa perlu waktu lama, semua outlet Sour Sally diserbu oleh mereka yang ingin menikmati dessert yang nikmat tanpa perlu khawatir akan rasa bersalah. Tentu kecerdikan ini diimbangi dengan konsistensi kualitas produk. Semua yoghurt mereka diimport langsung dari Amerika. Dan memang sebagai pecinta yoghurt, saya mengakui bahwa Sour Sally memang wuenak ๐Ÿ™‚

So, happy anniversally, Sour Sally!

@ernestprakasa

Si Cantik Terminal 3

bandara

Minggu lalu saya pertama kali mengunjungi Terminal 3 Cengkareng, yang baru beroperasi sebulan ini. Kesan pertama sih ga jauh ama KL & Bangkok, kaca gede dimana-mana plus bentuk atap yang seperti payung. Ternyata saya baru tau kalo dua unsur tadi adalah untuk optimalisasi pencahayaan ruang menggunakan tenaga matahari, jadi hemat listrik. Go green gitu ceritanya.

Anyway, sampai saat ini baru 2 maskapai penerbangan domestik yang menggunakan terminal ini, yaitu Mandala & Air Asia. Apakah orang akan berpaling ke 2 airlines ini demi menikmati kenyamanan ekstra? Menurut saya sih sangat mungkin, apalagi kompetitor lain seperti Lion & Batavia sepertinya belum punya added value tandingan.

Setelah saya intip, ternyata Mandala sendiri sudah memajang pemberitahuan di situs mereka tentang hal ini. Yang saya bingung, Air Asia yang biasanya inovatif malah belum mempromosikan hal ini, padahal mereka relatif sering mengirimkan promo melalui SMS. Apa sengaja menunggu semua tennant di Terminal 3 fully operating? Rasanya kok sayang ya. Justru mumpung masih anget, bukannya justru akan bikin orang penasaran? ๐Ÿ™‚

@ernestprakasa

Berani Berlibur

Saat menulis ini, saya sedang berada di Bali untuk mengambil liburan 4 hari ditengah padatnya pekerjaan di kantor. Terus terang, saya patut berterimakasih kepada Tim Ferriss atas liburan ini. Tanpa bukunya “The Four-Hour Work Week”, mungkin saya akan menunda berlibur karna begitu banyak pekerjaan yang seolah tak bisa ditinggal.

Saya yakin banyak diantara kita yang juga tidak memanfaatkan waktu liburan dengan alasan pekerjaan. Jatah cuti? Ada. Izin bos? Bisa nego sih. Tapi ninggalin kerjaan yang menumpuk? Ntar dulu deh. Does that sound familiar? Menurut Tim Ferriss, sebagian besar kekhawatiran kita biasanya tidak terjadi. So if you are worrying, write down the worst scenario that could happen. Ask yourself these 2 questions:
(1) How big is the possibility for that to actually happen?
(2) If it does happen, is it possible for you to fix it?

Setelah melakukan simulasi diatas, saya menyimpulkan bahwa saya harus berani berlibur! Who doesn’t need a nice break? Thanks, Tim ๐Ÿ™‚

@ernestprakasa

Why Employees Are The First Customers

pancious2

Saat makan di Pancious beberapa waktu lalu, saya bengong membaca tulisan di buku menu halaman paling belakang:

“Menu price is 150,000 IDR. To purchase this menu, please contact our restaurant manager. Thank you.”

Okeโ€ฆmemang cetakannya bagus sih, tapi apa iya ada yang mau beli merchandise Pancious berupa buku menu seharga 150 ribu perak? Karena penasaran, saya bertanya kepada seorang waitress. Tanpa disangka, jawabannya ternyata cukup mengejutkan.

Saya: “Mbak, ini menu dijual 150 ribu perak, emangnya ada yang beli?”
Waitress: “Hmm…sebenernya nggak juga sih mas”
Saya: “Lha, trus?”
Waitress: “Sebenernya gini mas. Itu kan menu lumayan mahal ongkos cetaknya, jadi kalo sampe hilang, waitress yang bertugas di meja yang bersangkutan bakal dipotong gajinya sejumlah itu…”

Whoa. I’m stunned. Saya rasa Pancious sah-sah saja menerapkan peraturan semacam itu. Pertanyaannya, kenapa begitu mudah bagi si waitress buat ngedumel ke customernya?

Kejadian itu mengingatkan saya pada salah satu metode yang dijalankan oleh Starbucks sejak awal berdiri, yakni memasarkan kepada karyawannya sendiri sebelum memasarkan kepada konsumen. From what i experienced, it seems that Pancious failed to make their employee a “customer” to the company’s values and principles, hence the inevitable. Ouch!

https://neonspark.wordpress.com

Jangan Galak-Galak Ah Sama Konsumen

Daripada bilang:

“Peringatan: toko ini dilengkapi oleh kamera pengaman. Segala bentuk pencurian akan dilaporkan ke pihak berwajib”

Lebih baik seperti ini kan?

Daripada begini:

“Dilarang keras membuka kemasan sebelum melakukan pembayaran”

Kan lebih enak begini:

03042009083

Kepada siapa anda berbicara menentukan bagaimana cara anda berbicara. In this case, I think Ace Hardware has done a great job. Kudos!

https://neonspark.wordpress.com