Monthly Archives: April 2009

Satu Dari Sekian Banyak

27042009094

Beberapa jam yang lalu saya tertegun di depan rak sikat gigi sebuah supermarket dekat rumah. Saya mau beli sikat gigi, tapi harus beli yg apa ya? Formula? Pepsodent? Oral B? Yang ada tutupnya? Yang bisa dilipet? Yang lehernya lurus atau siku? Yang palanya kecil atau gede? Yang ada bonus odolnya?

Kadang kita hanya sekedar menjadi satu dari sekian banyak. Menjadi satu dari sekian banyak artinya kita tidak memberi alasan cukup kuat untuk dipilih. Sekedar menjadi satu dari sekian banyak artinya kita menggantungkan harapan pada orang lain. Yah, sukur-sukur dia pilih kita. Abis gimana dong, saingannya banyak?

Saat saya mulai menangani divisi Distribusi Ring Back Tone (RBT) di dr.m hampir setahun yang lalu, saya pun sempat bingung. Gimana nggak, ada puluhan bahkan ratusan perusahaan lain yang juga bergerak di bidang Content Provider, partner yang dibutuhkan oleh band atau label indie supaya bisa mendaftarkan lagu mereka menjadi RBT. Saya terancam menjadi sekedar satu dari sekian banyak. Apalagi pengalaman saya mengurus RBT adalah nihil.

Bermodalkan network teman-teman musisi dan pelaku industri musik, saya mulai kasak-kusuk; berusaha keras mempelajari apa yang mereka butuhkan saat berpartner dengan Content Provider. Beberapa insight yang berharga yang berhasil tergali saya jadikan modal untuk melangkah ke arah tepi, tempat yang tidak penuh sesak oleh perang harga dan bajak-membajak client. Mengolah kebutuhan dan menerjemahkannya dalam penyempurnaan layanan.

Hasilnya bukan hanya growth yang lumayan stabil, tapi juga fakta bahwa beberapa client terbesar kami saat ini justru datang berkat rekomendasi teman mereka yang sudah terlebih dahulu bekerjasama dengan kami. Apparently, we managed to create a buzz-worthy service.

So, never stop at being “just another one”. Be “the one”.

https://neonspark.wordpress.com

Advertisements

The Extra Mile

When i was still working in Universal Music back in 2005, I had an interesting chat with one of my most respected colleague, Mr. Aldo Sianturi. I asked for a word of wisdom, and this is what he said: “It’s actually really simple. All you need to do is go the extra mile”.

“Go the extra mile”. It didn’t grab me at the time, but later on I realized how precious that piece of advise really is.

“Going the extra mile” means trying harder.
“Going the extra mile” means giving your 100%, even at times when 80% seems enough.
“Going the extra mile” means refusing to settle for “good” when you can be “great”.

That simple advice really helped me. If you haven’t done it, it’s not too late. The extra mile is always there, waiting for you to break free from mediocrity and step up your game.

https://neonspark.wordpress.com

Jadi Bulan-Bulanan Biaya Bulanan

bca
Saya baru tau kalo mulai sekarang biaya administrasi bulanan untuk tabungan dinaikkan menjadi 25 ribu rupiah, kecuali saldo rata-rata harian mencapai 10 juta rupiah. Damn. Saya (dan mungkin cukup banyak nasabah BCA lainnya) tidak menggunakan rekening BCA untuk tabungan, tapi lebih ke operasional pengeluaran sehari-hari mengingat ATM-nya yang cukup banyak. Rupanya lama-lama BCA sebel juga sama kita…hihihi…

Tak lama setelah SMS itu, saya baru ngeh bahwa Danamon ternyata sedang gencar mempromosikan tabungan tanpa biaya bulanan. Hmmmmmmmm…kebetulan? Rasanya tidak. Apalagi Danamon juga anggota ATM bersama, yang lama kelamaan semakin menyaingi BCA untuk masalah availability mesin ATM. Saya sih nggak lantas hijrah ke Danamon, tapi saya mikir juga, berapa orang ya yang keki gara-gara dipalak 25 ribu lantas pindah bank :).

@ernestprakasa

To Telemarketers Out There

telemarketing

Saya selalu bersimpati terhadap telemarketers. I understand that they’re running a very tough job, hence i always try to be nice to them. Walaupun jarang, tapi terkadang ada juga telemarketer yang begitu pandai menawarkan produk / jasanya dengan cara yang menarik. Sayangnya, mereka hanyalah minoritas di lautan telemarketers medioker yang biasanya sangat annoying.

So, if I may, I’d like to remind a few things to telemarketers out there:

1. We know we’re nobody, so cut the crap.
Banyak telemarketers yang menggunakan jurus “anda adalah pelanggan istimewa yang terpilih untuk mendapatkan penawaran khusus ini”. We know that we’re not that important, plus you would probably fire at all directions anyway. Awalilah dengan sapaan ramah yang lugas, bukan sanjungan yang berlebihan.

2. Take a pause, show that you care.
Tadi pagi saya menerima penawaran telemarketing untuk membuka tabungan pendidikan di bank tempat saya menabung. Sejak “halo”, suara diujung sana langsung memberondong saya tanpa henti dengan berderet-deret kalimat mulai dari intro hingga reffrain. Saya terpaksa memotong (jadinya saya yang nggak sopan ya? 🙂 ) dan minta maaf bahwa saya sedang sibuk. Please, take a pause and insert nice remarks such as “maaf boleh minta waktunya sebentar pak?” or “maaf, apakah saya mengganggu nih pak?”. We’re Indonesians, we rarely return polite gesture with rudeness. Your chance of continuing the conversation is much much bigger that way.

3. Please accept the NO and move on.
Menurut saya, menolak dengan penuh kesopanan adalah tindakan yang penuh rasa hormat terhadap profesi telemarketer, jadi bagi anda telemarketer, berhentilah sampai disitu. Let’s not waste both our time for something unproductive. No means no.

Telemarketing memang pada dasarnya sangat berpotensi untuk “mengganggu”, tapi seberapa menjengkelkannya gangguan tersebut tergantung kepada anda, wahai telemarketers nan budiman 🙂

@ernestprakasa

9 In, 29 Out

9-partai

Menurut quick count beberapa lembaga survey (yang biasanya cukup akurat), hasil pemilu pagi tadi membuahkan hasil yang cukup tragis: hanya 9 partai yang berhak menghuni DPR, dimana mereka saja telah menguras sekitar 82% dari seluruh suara yang masuk. Sisanya ditendang karena tidak mampu memenuhi angka parliamentary threshold sebesar 2,5%. Itu artinya, ada 29 partai yang kandas mimpinya.

Bayangkan, ada berapa banyak orang yang akan depresi berat. Mulai dari pendiri, pengurus, caleg, hingga para “investor” mereka. Miliaran dana sia-sia ditelan bumi. Meskipun saya melihat kampanye sebagai hal yang positif untuk menggerakkan perekonomian karena rejeki ekstra buat designer grafis, tukang sablon, tukang gerobak makanan, tukang pasang reklame, dan tukang-tukang lainnya; tapi tetap saja mereka yang menggelontorkan dana hanya bisa terduduk lunglai.

Dan yang tak kalah ironis, sekitar 18% pemilih alias jutaan orang di seluruh Indonesia yang bangun pagi untuk datang ke TPS dan memberikan suara untuk 29 partai tadi, telah membuang waktu tidur mereka dengan percuma.  NONE of their vote will count whatsoever.

The only way to still get fun out of this, is trying to guess which party will end up at the rockbottom of all 38 once the official count is released 🙂

@ernestprakasa

What’s Next?

cf-coke2

Oke…kalo tisu, sabun, air mineral, bahkan jus dalam kemasan; saya pernah lihat dan tampak masih wajar. Tapi beberapa hari yang lalu saya ke Carrefour dan melihat benda diatas. THEIR VERY OWN COKE! You gotta be kidding me..dare to imagine what comes next? Carrefour Deodorants? Carrefour Boots? Carrefour CELLPHONES?

@ernestprakasa

The (First-Hand) Starbucks Experience

starbucks1

Setelah membaca buku “The Starbucks Experience” milik Joseph Michelli, saya belajar banyak tentang bagaimana Starbucks membangun brand mereka; dimana salah satu fondasi mereka adalah bagaimana menghadirkan “pengalaman”, bukan “produk”. Contoh menarik adalah bagaimana para barista bisa melakukan hal-hal yang sebenarnya merugikan perusahaan secara finansial demi menciptakan “pengalaman” itu tadi; misalkan dengan cara memberi minuman gratis pada pelanggan yang berulang tahun. Saya lantas berpikir, “yeah, right…di Amerika kali yee…disini mana ada…” Tapi, ternyata saya salah.

Beberapa hari yang lalu saya mentraktir 3 orang teman di Starbucks Kemang Square, dekat kantor saya. Seperti biasa, saya selalu menggunakan visa BCA supaya bisa mendapatkan free upsize dari tall ke grande, not bad :). Nah, saat minuman kami sedang dibuat, ternyata entah kenapa chip kartu kredit saya tidak terbaca oleh mesin mereka. Saya pun terpaksa memakai debit card. Sambil menyerahkan kartu, saya berkata kepada si mbak Coffee Master (FYI, barista Starbucks yang bercelemek hitam sudah menyandang gelar “coffee master” hasil pendidikan khusus tentang kopi yang diadakan oleh Starbucks. Ini yang membedakan mereka dengan yang bercelemek hijau): “Wah mbak, free upsize nya ga jadi dong ya? abis kartu saya nggak kebaca…” Tapi diluar ekspektasi saya, si mbak menjawab sambil bercanda: “Ah, gapapa mas…asal nggak sering-sering aja”

There’s a Starbucks Experience right there. Ternyata apa yang saya baca di buku benar-benar saya alami sendiri. Di cafe ato resto manapun rasanya free upsize saya pasti akan dibatalkan, but not in Starbucks.

Giving away a free upsize on four cups of coffee: 20,000 IDR.
Winning the heart of a costumer: priceless.

@ernestprakasa