The Sexy Gerindra

logo_partai_gerindra1

Jauh sebelum hingar-bingar foto caleg mempolusikan pemandangan di jalanan, saya sudah terkesan akan manuver salah satu parpol peserta Pemilu. Meski saya tetap tidak tergiur untuk memilih mereka – tetapi secara marketing, kiprah mereka sangat menarik untuk diamati. I’m talking about Gerindra.

Sebagai pendatang baru, Gerindra sedikit mengingatkan saya akan Partai Demokrat di 2004 lalu. Partai yang masih sangat baru, tapi meroket popularitasnya. Bedanya, benteng bagi kokohnya Demokrat adalah sesosok jenderal santun yang terzalimi, yang tampak begitu gagah dan bersahaja, yang akhirnya menjadi presiden kita. Sementara Gerindra? It’s all about how you play the game, baby.

Menurut saya, ada 2 hal menarik yang terlihat pada campaign Gerindra:

1. Very clear positioning
Sementara semua partai berenang-renang di red ocean yang penuh dengan isu-isu mengawang seperti “membuka lapangan pekerjaan” dan “menggerakkan ekonomi kerakyatan”, Gerindra tegas menusuk dengan isu-isu yang sangat konkret, misalnya mengajak masyarakat untuk membeli produk pangan dalam negeri guna meningkatkan kesejahteraan petani. Simple, precise, doable. Dan sebagai fondasinya – ini yang menurut saya sangat krusial – mereka menyebut diri mereka Gerakan Indonesia Raya, bukan Partai Indonesia Raya. Pay close attention on how those two words bring opposite psychological effects. “Gerakan” = mengajak, memotivasi, melibatkan, memiliki tujuan jelas. “Partai” = politik, kekuasaan, kotor. “Gerakan” menimbulkan persepsi positif, sementara “Partai” bikin ilfil.

2. Re-branding Prabowo
Tidak seperti SBY, karir Prabowo sarat dengan tudingan-tudingan miring, mulai dari penculikan aktivis, dalang kerusuhan Mei 98, dan lain-lain. Bukan perkara gampang untuk menggapai simpati publik. Dan hal apa yang pertama kali mereka berikan kepada Prabowo? Sebuah setelan safari cokelat. Lihatlah Prabowo di semua iklan Gerindra. What does his look remind us of? Karyawan. Guru. Orang biasa. Brilliant! Sutrisno Bachir tried to look modest in his polo shirt and vest, yet he ends up like a mogul on a hunting trip. Bukan itu saja. Satu taktik pendukung yang brilian adalah menggunakan voice over Prabowo di semua iklan audio / video Gerindra. Suara seorang jenderal yang berwibawa dan membangkitkan semangat. And we’ve gotta hand it to the guy, he’s done a great job in that particular area.

Seperti kata Seth Godin di bukunya “All Marketer Are Liars”, sejatinya tugas seorang pemasar adalah membuat cerita. Dan menurut saya, (the geniuses behind) Gerindra berhasil. Menyatakan bahwa anda mendukung Gerindra menceritakan bahwa anda adalah seseorang yang anti status-quo, peduli pada kesejahteraan rakyat kecil, dan percaya bahwa Indonesia bisa bangkit dan menghidupi dirinya sendiri.

Saya bukan simpatisan, kader, apalagi caleg Gerindra. Nyontreng di pemilu nanti pun saya males. Tapi saya menduga berkat marketing campaign yang cerdik ini Gerindra akan menjadi kuda hitam yang siap mengancam nama-nama besar. We’ll see.

@ernestprakasa

About @ernestprakasa

a husband, a father, comedian. guess which one makes me laugh the hardest?

Posted on March 31, 2009, in marketing, politic and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: