Misconception Of “Word Of Mouth”

Belakangan ini, istilah “word of mouth” atau disingkat WOM semakin sering digunakan oleh kalangan pelaku pemasaran, atau istilah kerennya, “marketer”. Sesuai arti harafiahnya, WOM memang mengacu kepada sebuah teknik pemasaran yang menitikberatkan upaya untuk memicu buzz / pergunjingan di kalangan tertentu, yang kemudian diharapkan menular ke kalangan yang lebih luas.

Tidak sedikit orang yang lantas terinspirasi untuk mempraktekkan WOM dengan memeras kreativitas. Ide-ide ekstrim pun bermunculan, semua dengan satu tujuan: menciptakan sebuah produk / layanan yang begitu “out of the box” atau luar biasa hingga cukup layak untuk dipergunjingkan. Tentunya, menggali kreativitas demi memperebutkan perhatian konsumen adalah hal yang sangat positif. Tapi menurut saya, sebelum mengarah pada itu, mungkin ada baiknya kita mulai dari langkah yang lebih sederhana, yakni mengoptimalkan apa yang memang sudah ada.

Yang saya maksud kurang lebih begini. Saya memiliki rekening di BCA & Niaga. Saya dengan senang hati akan merekomendasikan BCA kepada teman-teman saya, salah satunya adalah karena kualitas call centernya. Bagi saya, call center BCA selama ini senantiasa memberikan layanan yang prima dalam bentuk petugas yang kompeten. Bandingkan dengan pengalaman buruk saya di Niaga, dimana petugasnya beberapa kali terdengar ragu dan harus mengkroscek ke petugas lainnya (menyebabkan saya harus menunggu, tentunya) sebelum bisa menjawab dengan akurat.

Jadi, menurut saya dalam hal ini call center BCA telah menjadi buzz-worthy, without having to be extraordinary. Tanpa perlu repot-repot menciptakan inovasi yang luar biasa, mereka telah layak dipergunjingkan, simply because they live up to the customer’s expectation.

Tentu menyenangkan kalo kita bisa menemukan sebuah ide brilian untuk WOM campaign. Tapi, sebelum repot-repot brainstorming sampai camping di kantor demi menelurkan ide WOM yang bombastis, mari kita mengevaluasi apa yang memang sudah kita punya. Apakah semua layanan sudah berfungsi dengan optimal?

Remember, people like to share likable experiences, so let’s give them one.

 

@ernestprakasa

About @ernestprakasa

a husband, a father, comedian. guess which one makes me laugh the hardest?

Posted on March 22, 2009, in marketing and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Finally getting here after read all of your post until now, 2016. Ternyata dulu sering ngeblog yaa koo. tapi skg mungkin udah lebih sibuk jadi ngga bisa sesering dulu well, There are so much changes in your life so far based on your posts. dari cerita sebelum terkenal, masuk tv tapi nggak terkenal terkenal banget, lumayan terkenal, sampe terkenal banget (ceileh) saat ini. And my fave posts after all is your post about your wife. Semoga makin sukses dan semakin petjaaaaaaaaaaaaahh ya koo. God bless your and your family.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: