Monthly Archives: March 2009

The Sexy Gerindra

logo_partai_gerindra1

Jauh sebelum hingar-bingar foto caleg mempolusikan pemandangan di jalanan, saya sudah terkesan akan manuver salah satu parpol peserta Pemilu. Meski saya tetap tidak tergiur untuk memilih mereka – tetapi secara marketing, kiprah mereka sangat menarik untuk diamati. I’m talking about Gerindra.

Sebagai pendatang baru, Gerindra sedikit mengingatkan saya akan Partai Demokrat di 2004 lalu. Partai yang masih sangat baru, tapi meroket popularitasnya. Bedanya, benteng bagi kokohnya Demokrat adalah sesosok jenderal santun yang terzalimi, yang tampak begitu gagah dan bersahaja, yang akhirnya menjadi presiden kita. Sementara Gerindra? It’s all about how you play the game, baby.

Menurut saya, ada 2 hal menarik yang terlihat pada campaign Gerindra:

1. Very clear positioning
Sementara semua partai berenang-renang di red ocean yang penuh dengan isu-isu mengawang seperti “membuka lapangan pekerjaan” dan “menggerakkan ekonomi kerakyatan”, Gerindra tegas menusuk dengan isu-isu yang sangat konkret, misalnya mengajak masyarakat untuk membeli produk pangan dalam negeri guna meningkatkan kesejahteraan petani. Simple, precise, doable. Dan sebagai fondasinya – ini yang menurut saya sangat krusial – mereka menyebut diri mereka Gerakan Indonesia Raya, bukan Partai Indonesia Raya. Pay close attention on how those two words bring opposite psychological effects. “Gerakan” = mengajak, memotivasi, melibatkan, memiliki tujuan jelas. “Partai” = politik, kekuasaan, kotor. “Gerakan” menimbulkan persepsi positif, sementara “Partai” bikin ilfil.

2. Re-branding Prabowo
Tidak seperti SBY, karir Prabowo sarat dengan tudingan-tudingan miring, mulai dari penculikan aktivis, dalang kerusuhan Mei 98, dan lain-lain. Bukan perkara gampang untuk menggapai simpati publik. Dan hal apa yang pertama kali mereka berikan kepada Prabowo? Sebuah setelan safari cokelat. Lihatlah Prabowo di semua iklan Gerindra. What does his look remind us of? Karyawan. Guru. Orang biasa. Brilliant! Sutrisno Bachir tried to look modest in his polo shirt and vest, yet he ends up like a mogul on a hunting trip. Bukan itu saja. Satu taktik pendukung yang brilian adalah menggunakan voice over Prabowo di semua iklan audio / video Gerindra. Suara seorang jenderal yang berwibawa dan membangkitkan semangat. And we’ve gotta hand it to the guy, he’s done a great job in that particular area.

Seperti kata Seth Godin di bukunya “All Marketer Are Liars”, sejatinya tugas seorang pemasar adalah membuat cerita. Dan menurut saya, (the geniuses behind) Gerindra berhasil. Menyatakan bahwa anda mendukung Gerindra menceritakan bahwa anda adalah seseorang yang anti status-quo, peduli pada kesejahteraan rakyat kecil, dan percaya bahwa Indonesia bisa bangkit dan menghidupi dirinya sendiri.

Saya bukan simpatisan, kader, apalagi caleg Gerindra. Nyontreng di pemilu nanti pun saya males. Tapi saya menduga berkat marketing campaign yang cerdik ini Gerindra akan menjadi kuda hitam yang siap mengancam nama-nama besar. We’ll see.

@ernestprakasa

our teachers were right: reading IS important!

i-hate-reading-icookadafishblogspotcom

Ayah saya tergolong maniak membaca. Lemari besar di rumahnya dipenuhi berderet-deret buku mulai dari Encyclopedia Britannica sampai novel-novel Frederick Forsythe. Sialnya, hobinya yang satu ini nggak nurun ke saya, tapi ke adik saya. Saya sendiri dari dulu memang males banget baca. And i never thought that would be an issue, until last year.

Bulan Mei 2008 lalu saya bergabung dengan perusahaan saya saat ini, dr.m, dimana salah satu bos saya adalah Yoris Sebastian, entrepeneur muda Indonesia yang cukup disegani, khususnya di dunia marketing dan industri kreatif. Semakin sering saya berdiskusi ataupun sekedar ngobrol dengan bapak yang satu itu, semakin bingung saya. Why does he seem to know anything about everything?

Suatu hari, saya kebetulan lagi ngobrol-ngobrol sama supirnya Yoris. One subject leads to another, lantas pak supir pun berkata: “…iya mas, Pak Yoris itu, di rumah isinya buuuukuuuuu semua. Di ruang tamu, di kamar, pokonya buku dimana-mana.” DING! Of course. That must be it! Sejak saat itu saya jadi termotivasi untuk membaca berbagai buku non-fiksi, terutama yang berhubungan dengan marketing dan management. I have soooooooooooo much to catch up, secara selama ini kalo suruh baca malesnya minta ampun 😦

Sekarang sih lumayanlah, dalam sebulan saya menargetkan minimal 1 buku yang bisa saya baca. Belum ngerasa pinter sih, tapi paling nggak udah nambah pengetahuan dan wawasan πŸ™‚ Biar tambah seru, saya juga buka account di Shelfari, semacam social networking buat orang-orang yang doyan baca buku. Lumayan buat nambah referensi tentang buku-buku baru yang menarik. Buat teman-teman yang males baca kayak saya, coba deh dilatih pelan-pelan. Semakin dini sih rasanya semakin baik. Our clock is ticking, euy!

https://neonspark.wordpress.com

(image taken from: icookdafish.blogspot.com)

Be Sure To Measure

Berkat teknologi canggih, sekarang ini orang sudah bisa berpromosi menggunakan mesin pengirim SMS. Sekali klik, ribuan orang langsung terjangkau. “SMS blast”,Β  istilah kerennya. Di nama pengirim pun otomatis langsung tertera si pengirim SMS, meskipun belum pernah kenalan apalagi nge-save nomernya di phonebook.

Ada dua pihak yang rutin mengirimi saya SMS blast. Kebetulan dua-duanya adalah tempat clubbing yang cukup ternama di Jakarta Selatan. Sayangnya, upaya mereka sia-sia belaka karena saya sama sekali ga doyan clubbing. Saya lantas berpikir. Kenapa ya mereka tetap membuang biaya untuk mengirimi saya SMS setiap minggu padahal saya tidak pernah datang?

Mengukur dampak promosi memang pekerjaan yang menyebalkan, apalagi kalo ternyata efektivitasnya tidak maksimal. SMS promo tempat clubbing tadi, misalnya. Kalo saja mereka memberi insentif khusus bagi orang yang menunjukkan SMS dari mereka tadi, mungkin akan ketahuan bahwa orang-orang seperti saya ini nggak pernah datang. Sayang khan mereka terus-terusan mengirim SMS ke orang-orang yang bukan target market mereka? Padahal tidak sulit untuk mereka melakukan upaya ekstra, misalnya dengan cara menyediakan satu form untuk pengunjung bertuliskan: “Mau masuk guestlist di event-event kami? Isi data diri Anda disini!”.

Cukup dengan cara simpel seperti itu, saya optimistis akan banyak orang yang bersedia meluangkan waktu untuk memberikan nomor HP mereka demi mendapatkan free entry di berbagai event seru. Nah, dapet deh setumpuk nomor HP untuk di-blast. Daripada membuang biaya nge-blast SMS ke orang-orang seperti saya, yang lebih suka menghabiskan waktu malamnya untuk internetan, persis seperti sekarang ini πŸ™‚

Jadi, mari kita berevaluasi. Capek dan tak jarang menyebalkan, memang. Tapi bagaimana mau belajar dari kesalahan kalo nggak tau salahnya dimana, ya nggak?

@ernestprakasa

Wahai Penjaga Lift

elevators

Di beberapa mall seperti Pasific Place & Senayan City, setiap lift memiliki penjaga. Kira-kira apa ya gunanya penjaga lift? Apakah tombol lift terlalu rumit untuk dipahami oleh orang awam? Atau pernah ada yang nyasar di dalem situ? Selain untuk mengurangi angka pengangguran, saya bener-bener ga ngerti fungsinya penjaga lift.

@ernestprakasa

Misconception Of “Word Of Mouth”

Belakangan ini, istilah “word of mouth” atau disingkat WOM semakin sering digunakan oleh kalangan pelaku pemasaran, atau istilah kerennya, “marketer”. Sesuai arti harafiahnya, WOM memang mengacu kepada sebuah teknik pemasaran yang menitikberatkan upaya untuk memicu buzz / pergunjingan di kalangan tertentu, yang kemudian diharapkan menular ke kalangan yang lebih luas.

Tidak sedikit orang yang lantas terinspirasi untuk mempraktekkan WOM dengan memeras kreativitas. Ide-ide ekstrim pun bermunculan, semua dengan satu tujuan: menciptakan sebuah produk / layanan yang begitu “out of the box” atau luar biasa hingga cukup layak untuk dipergunjingkan. Tentunya, menggali kreativitas demi memperebutkan perhatian konsumen adalah hal yang sangat positif. Tapi menurut saya, sebelum mengarah pada itu, mungkin ada baiknya kita mulai dari langkah yang lebih sederhana, yakni mengoptimalkan apa yang memang sudah ada.

Yang saya maksud kurang lebih begini. Saya memiliki rekening di BCA & Niaga. Saya dengan senang hati akan merekomendasikan BCA kepada teman-teman saya, salah satunya adalah karena kualitas call centernya. Bagi saya, call center BCA selama ini senantiasa memberikan layanan yang prima dalam bentuk petugas yang kompeten. Bandingkan dengan pengalaman buruk saya di Niaga, dimana petugasnya beberapa kali terdengar ragu dan harus mengkroscek ke petugas lainnya (menyebabkan saya harus menunggu, tentunya) sebelum bisa menjawab dengan akurat.

Jadi, menurut saya dalam hal ini call center BCA telah menjadi buzz-worthy, without having to be extraordinary. Tanpa perlu repot-repot menciptakan inovasi yang luar biasa, mereka telah layak dipergunjingkan, simply because they live up to the customer’s expectation.

Tentu menyenangkan kalo kita bisa menemukan sebuah ide brilian untuk WOM campaign. Tapi, sebelum repot-repot brainstorming sampai camping di kantor demi menelurkan ide WOM yang bombastis, mari kita mengevaluasi apa yang memang sudah kita punya. Apakah semua layanan sudah berfungsi dengan optimal?

Remember, people like to share likable experiences, so let’s give them one.

 

@ernestprakasa