Kritik Dan Kedewasaan Berkarya

Kritik.

Sebuah kata yang membuat jeri sebagian orang, terutama seniman.

Sejak terjun sebagai full-time stand-up comedian bulan Agustus 2011 lalu, gue menganggap profesi gue adalah seniman. Orang yang menyandarkan hidupnya pada karya seni yang ia buat, dalam hal gue, seni komedi.

Harus diakui, menerima kritik dengan lapang dada itu butuh proses. Saat awal kita belajar menghasilkan karya, kritik terasa begitu menyakitkan. “Gue udah bikin cape-cape, eh malah dihina-hina. Jahat banget!”, gitu kira-kira perasaan kami.

Tapi lambat laun, gue mulai merasa kritik itu penting. Dan gue ngomong gini biar terkesan sportif atau legowo, enggak. I seriously embrace critics.

Menurut gue, kritikus itu ada 2 macam:

  1. Kritikus Biasa

Ini adalah kritikus pada umumnya. Argumen dalam kritiknya biasanya substansial dan lugas.

  1. Kritikus “Spesial”

Istilah “spesial” ini gue sematkan pada kritikus yang mengkritik sudah bukan pada substansinya saja, melainkan sudah melancarkan serangan yang bersifat pribadi. Ciri-ciri kritik seperti ini biasanya dipenuhi istilah-istilah yang bombastis dengan tujuan memberi hinaan semaksimal mungkin.

Lantas, apakah Kritikus “Spesial” tidak perlu kita dengerin? Enggak juga. Dari kritikus dengan lidah paling tajam sekalipun, hampir selalu ada kebenaran yang bisa dijadikan pelajaran. Hanya saja butuh kedewasaan ekstra. Ibaratnya, ini menu kritik yang disajikan panas dari penggorengan. Butuh kesabaran sebelum menyantap. Tapi tetap, tidak mengurangi esensinya sebagai hidangan yang bergizi.

Dan karena memang butuh kematangan untuk nerima kritik, sebagian orang menghadapi kritik dengan pose defensif. Ada pembelaan yang biasanya dilancarkan, dan meski gue sendiri seniman, gue mau ngebahas betapa pembelaan-pembelaan semacam itu bukan hanya gak valid, tapi juga memupuk pola pikir yang salah.

Berikut adalah dua pembelaan paling umum yang gue sering denger.

  1. “Ah bisanya ngehina doang, bisa bikin ga lo?”

Dengan logika seperti ini, berarti kalo gue makan nasi padang dan protes karena gue gak suka rendangnya, maka gue harus bisa bikin rendang tandingan? Ribet amat.

  1. “Hargain dong, gue udah bikin cape-cape tau!”

Again, mari kita pake analogi nasi padang. Ini sama aja gue protes rendang gue alot, lalu orang warung padangnya jawab, “Eh hargain dong! Kita bikin rendang itu semaleman tau!”. Relevan? Enggak. Audiens itu menilai berdasarkan hasil, bukan usaha. Untuk memaksa mereka mempertimbangkan faktor usaha ke dalam penilaian adalah sesuatu yang egois dan salah kaprah.

Lalu, apakah yang boleh mengkritik hanya kritikus? Enggak juga. Bagi gue, semua orang yang udah meluangkan waktu dan atau uang untuk menikmati karya gue, 100% berhak untuk ngomong apa pun, tanpa harus dilabeli “haters”, tanpa perlu dihakimi seleranya. Tinggal dari sana, tugas gue untuk memilah, mana omongan yang perlu dijadikan masukan dan mana yang tidak, tapi itu tidak mengurangi hak orang untuk berkomentar dengan bebas.

Akhir kata, buat teman-teman yang berkarya, ingat faham klasik ini baik-baik:

“Kritik itu bagaikan jamu. Rasanya pahit, tapi berkhasiat.”

Jadi kalo mau lebih kuat, jangan jauhi jamunya. Tapi latih dirimu supaya kuat minum lebih banyak jamu🙂

@ernestprakasa

785,786

Poster-NGENEST-The-Movie.jpg

Tanggal 30 Desember lalu, gue nge-post blog tentang film Ngenest. Di hari itu, Ngenest rilis serempak di seluruh bioskop tanah air. Dan sejak hari itu, hidup gue berubah.

Minggu depan, genap sebulan Ngenest pamit dari bioskop, setelah bertengger selama enam minggu. Kalo lo belum tau betapa kerasnya persaingan film di tanah air, percayalah, enam minggu itu LAMA BANGET.

Selama enam minggu tadi, Ngenest mengumpulkan total 785,786 penonton, dan sukses bertengger di posisi ke-6 dari daftar film terlaris 2015 (berdasarkan tanggal rilis). Semua orang, termasuk gue dan produser gue, terkejut.

Screen Shot 2016-03-05 at 2.58.20 AM.png

Bagaimana mungkin?

Kok bisa-bisanya seorang penulis dan sutradara debutan bisa meraih hasil yang sungguh diluar dugaan?

Bukannya mau sok rahasia, tapi jawabannya memang sulit dicari.

Film adalah sebuah kerja kolektif yang dahsyat, dan keberhasilannya akan sulit untuk digiring ke satu titik secara spesifik. Sukses Ngenest adalah hasil komitmen dan kekompakan ratusan orang, mulai dari produser yang mendanai semuanya hingga kru yang kerjanya bikin minuman panas buat menghangatkan semua orang di lokasi syuting.

Lalu, what next?

Tahun 2016 ini, rencananya gue bakal bikin satu film lagi. Ya nulis, ya nyutradarain, ya main. Kurang lebih sama lah kayak di Ngenest. Tapi kali ini, beban gue berpuluh kali lipat, karena orang sudah punya ekspektasi. Gue punya tanggungjawab untuk menghasilkan karya yang lebih bagus lagi.

So, yeah. Saatnya kembali memeras otak. Ada skenario yang menanti untuk ditulis.

Another first step. Another beginning of something very very exciting.

Wish me luck!🙂

@ernestprakasa

Seratus Milyar Untuk Rio

Rencana pemerintah mengeluarkan uang APBN sebesar 100 milyar untuk memuluskan langkah Rio Haryanto ke gelanggang F1 menuai pro kontra.

Sebagai warga negara yang setiap tahun harus mengisi SPT, saya juga sempat terhenyak ketika mengetahui ada 100 milyar uang pajak rakyat yang akan mengalir untuk Manor, sebuah tim gurem yang kiprahnya di F1 sungguh memprihatinkan.

Tapi, saya sendiri termasuk orang yang mendukung kiprah Rio.

Meski tidak sepopuler olahraga yang merakyat seperti misalnya sepakbola, balap F1 adalah sebuah sirkus mahamegah dengan prestise selangit. Nama “Indonesia” bersanding dengan kata “F1”, adalah sesuatu yang menurut saya pantas dibayar dengan harga mahal.

Anggaran Kemenpora di tahun 2016 ini (masih pengajuan, belum disahkan) sekitar 3,3 trilyun. Bila kita asumsikan angka itu gol, artinya 100 milyar ada di kisaran 3% dari angka keseluruhan. Ini sesuai penjelasan Menpora Imam Nahrawi tanggal 28 Desember 2015 lalu bahwa mendukung Rio Haryanto ke F1 adalah salah satu prioritas Kemenpora di tahun 2016.

Banyak orang yang mencibir dengan bilang, “Uang 100 milyar lebih baik untuk membangun sekolah!”. Ada benarnya, tapi juga ada salahnya. Sekolah itu urusan Kemendikbud dan pemerintah daerah, bukan Kemenpora. Dan sebagai pemilik anggaran, tidakkah wajar bila Kemenpora mengalokasikan 3% anggaran mereka untuk sesuatu yang konkret?

Ada juga yang bilang, “Apa hebatnya Rio, modal bayar doang!”. Rasanya pernyataan ini tidak adil bagi Rio, yang sudah bekerja keras selama delapan tahun untuk sampai di posisi dia sekarang. Lagipula kursi Rio bukan dilelang ke penawar tertinggi. Si pembalap tentunya harus memenuhi kualifikasi yang ketat.

Sederhananya begini. Bagi saya, langkah pemerintah untuk melakukan investasi di diri Rio Haryanto adalah sebuah langkah yang masih masuk akal. Rio memang belum tentu berprestasi, tapi masuknya Indonesia untuk pertama kalinya di ajang F1 sudah merupakan sebuah keistimewaan.

Sebagai pembayar pajak, saya rela. Sebagai warga negara, saya bangga.

@ernestprakasa

LGBT Itu Dosa!

Ketika SD, saya punya seorang teman. Namanya Daniel.

Daniel adalah seorang anak laki-laki yang berbeda. Saat kita terkena demam Street Fighter dan bermain berantem-beranteman di jam istirahat, saat saya dan teman-teman sibuk menjadi Ken, Ryu atau Blanka, Daniel lebih senang memutarkan badannya lalu berpura-pura berubah menjadi Wonder Woman. Gerak-gerik Daniel begitu gemulai, persis perempuan pada umumnya.

Ketika SMP, saya punya seorang kawan lain. Namanya Richard.

Richard tidak pernah mau bermain basket atau sepakbola bersama kami. Ia lebih gembira ketawa-ketiwi genit bersama anak-anak perempuan. Disaat anak-anak laki-laki lain ingin disebut “ganteng” atau “keren”, Richard lebih bahagia dilabeli “cantik”.

Saya adalah seorang Kristen sejak lahir, dan menurut ajaran agama saya homoseksualitas adalah sesuatu yang mutlak salah. Malah dahulu, saya cenderung antipati terhadap teman-teman gay / lesbian.

Hingga pada suatu hari, saya datang ke sebuah acara gereja. Di gereja itu, ada sesuatu yang bagi saya janggal. Tidak seperti gereja pada umumnya dimana gay / lesbian dianggap tabu dan dipinggirkan, di sana justru saya lihat beberapa laki-laki pengerjanya yang dari gesturnya terlihat sangat kemayu. Saya pun bertanya kepada pendeta disana, kenapa ia begitu terbuka. Dan jawaban beliau lah yang selamanya mengubah pola pandang saya.

“Ya begini lho. Daripada kita musuhi dan jauhi, bukankah kita seharusnya merangkul mereka?”, jawabnya bijak. “Ya tapi kan itu sudah jelas dosa, Pak?” tanya saya lagi. Ia tersenyum tabah, menyiratkan pengalamannya ditanyakan pertanyaan yang sama ratusan atau mungkin ribuan kali. “Iya, memang homoseksualitas itu dosa. Tapi dosa lain kan juga banyak? Kenapa kita tidak bisa memandang dosa secara proporsional? Kenapa homoseksualitas harus ditempatkan lebih hina?”.

Ia lalu memberikan saya sebuah perikop di Perjanjian Baru, tepatnya di 1 Korintus 6:9B-10.

“(9B) Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, pemburit (=homoseks -red), (10) pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

Di ayat tadi, Rasul Paulus tidak bilang “terutama pemburit lho ya, itu yang paling gawat”. Berzinah, pemabuk, pemfitnah, bahkan orang kikir, disebut sebagai orang-orang yang tidak akan masuk surga.

Saya sendiri juga pendosa. Saya menduga, sebagian teman-teman gay / lesbian juga sadar bahwa homoseksualitas adalah dosa. Biarlah itu menjadi salib yang mereka pikul. Saya merasa cukup tau diri bahwa saya pun orang berdosa yang tidak layak menghakimi dosa orang lain.

Jadi, apakah menurut saya homoseksualitas itu dosa? Jelas iya.

Lalu apakah saya lantas menganggap mereka lebih hina? Jelas tidak.

Bagi saya, menuding hina seseorang karena ia homoseks bagaikan seorang bodoh yang menertawakan orang lain yang belepotan lumpur, padahal mereka berkubang di kolam yang sama.

Kiranya Tuhan mengampuni kita semua.

@ernestprakasa

 

Yet Another New Phase

“Nanti kamu aja ya sutradaranya.”

It was April, 2015. I can vividly remember the look on his face when he said that to me.

Mr. Chand Parwez Servia of Starvision, the guy who gave directorial debut to Iqbal Rais, Fajar Bustomi, and of course Raditya Dika, now wants me to take the chair. The holy chair.

Pengalaman gue sebagai pemain film mengajarkan gue bahwa jadi sutradara itu adalah pekerjaan yang amat sulit. Pertama, sutradara harus punya visi yang solid. Ibaratnya, sebelum film itu mulai disyuting, sutradara sudah punya bayangan yang kuat seperti apa hasil akhirnya kelak. Kedua, sutradara harus punya skill secara teknis tentang perfilman. Gue ngerasa dua hal itu nggak ada di gue, apalagi yang kedua. Mana gue ngerti soal komposisi, teknik pengambilan gambar, dan lain-lain.

Tapi Pak Parwez punya pandangan lain. Menurut beliau, modal utama seorang sutradara adalah kemampuan bercerita. Buku Ngenest adalah cerita gue, jadi gue harusnya bisa menceritakan kisah gue sendiri dengan cukup baik. Oke, masuk akal. Tapi gimana dengan perkara teknis? Gue nggak ngerti apa-apa soal teknik penyutradaraan. Lagi-lagi, Pak Parwez meyakinkan gue. Menurut beliau, selama gue didukung oleh tim yang kuat dan lebih berpengalaman, harusnya gue gak perlu takut.

He’s done this before. Giving newbies a chance to direct movies. So he ain’t bullshittin’ me.

Akhirnya gue mengiyakan dengan dua syarat. Pertama, gue nggak mau dibayar dengan standar honor sutradara. Buat gue ini semacam beasiswa, sebuah kesempatan belajar gratis. Kalo dibayar layaknya seorang sutradara, gue ngerasa bebannya terlalu besar. Kedua, gue minta dua orang personil Comic 8 untuk mendampingi gue, yakni Dicky R. Maland (Director of Photography) dan Alwin Adink Liwutang (Co-Director). Mereka dua orang yang intens bekerjasama bareng gue di Comic 8 dan Comic 8 Casino Kings. Meski disitu gue sebagai pemain bukan sutradara, tapi paling enggak chemistry kita udah terjalin. I need people I can trust.

Fast forward to eight months later.

Hari ini, 30 Desember 2015, film Ngenest rilis di bioskop. Film yang gue tulis dan sutradarai (dan mainkan tentunya), akan bisa ditonton oleh orang-orang se-Indonesia.

Rasa gugup gue emang udah sedikit mereda setelah melihat riuhnya respon penonton di Gala Premiere dua hari yang lalu. Tapi tetep aja sekarang perut gue mules. Bioskop Indonesia lagi dikepung oleh film-film box office dalam negeri. Siapa yang bakal nonton film gue?

But like my producer said, we have done our part, now let the audience decide.

Now, all I need to do is take a deep breath.

Here we go.

@ernestprakasa

(Hampir) Setahun Berselang

Gue bingung sama Pandji Pragiwaksono. Perasaan doi kegiatannya banyak, tapi kok ngapdet blog bisa tetep rajin ya. Sementara gue, udah hampir setahun nggak posting apa-apa.

HAMPIR SETAHUN.

Mukegile.

I don’t believe in new year resolutions because they usually last for a month, max. Tapi biarin lah, di penghujung 2015 ini, gue mau renew my commitment untuk lebih rajin ngeblog.

Biasanya orang yang (lagi-lagi) berjanji pada dirinya sendiri untuk (kembali) rajin ngeblog akan menargetkan 1 blog post per minggu. Tapi kali ini gue tau diri aja. Bisa 2 post per bulan udah kece. AMIN!

Anywaaaaaaaay. Let’s reflect on 2015.

Bulan Februari, Comic 8: Casino Kings dirilis. Walau banyak keraguan untuk mengejar sukses prequelnya, tapi Casino Kings ternyata masih sanggup nembus satu juta penonton.

Bulan April-Juni gue jalanin tur ketiga gue Happinest yang finale-nya di Balai Sarbini jadi stand-up special yang paling gue hepi sampai saat ini. Sori banget DVD / Digital Download-nya masih terbengkalai gara-gara gue sibuk di film Ngenest, tapi gue targetin di awal 2016 udah harus rilis sih, paling lambat banget Februari.

Bulan Juli, buku Ngenest 3 rilis. Buat yang bertanya-tanya apakah akan ada Ngenest 4, jawabannya adalah: NO. Kenapa? Karena 4 angka sial. Adanya Ngenest 3A. Hahaha. Nggak lah, alasannya karena gue pengen belajar bikin novel. Jadi setelah film Ngenest, next project gue ya si novel ini. Kapan rilisnya? Waduh belum tau. Sekarang gue masih dalam proses milah-milah premis mana yang mau gue explore.

Pasca tur Happinest, mulailah gue mencoba belajar bikin skenario film Ngenest. Proses penulisan skenario berjalan selama kurang lebih empat bulan, lalu lanjut shooting. Saat tulisan ini dibuat, film Ngenest masih menjalani proses editing untuk dirilis di bioskop tanggal 30 Desember 2015. Yang mau liat teaser dan trailernya udah bisa kok. Selengkapnya tentang proses produksi film Ngenest akan gue post terpisah abis ini ya.

What a year.

But then again, I’m proud to admit that lately I always say that at the end of EVERY year.

2012 – Merem Melek Tour, Indonesia’s first ever stand-up comedy tour.
2013 – Oriental Bandits Stand-Up Special & Buku Ngenest.
2014 – Illucinati Tour, Buku Ngenest 2, Film Comic 8.

How about 2016? We’ll see🙂

@ernestprakasa

 

 

 

Buku #NGENEST2!

Jujur nih ya, waktu #NGENEST rilis tuh harapan gue gak terlalu muluk-muluk, bisa cetak ulang aja gue udah seneng banget. Gak disangka-sangka, ternyata responnya bagus banget. Sampe tulisan ini dibuat #NGENEST udah masuk cetakan ke-5 dan masih suka nyelip di rak-rak best-seller Gramedia se-Indonesia. Thanks a lot ya guys🙂

Dari awal #NGENEST dibuat, gue emang udah ngobrol sama penerbit. Kalo sampe #NGENEST sukses, gue pengen ini jadi trilogi. Tiga buku dengan isi yang beda, tapi dengan format yang sama: Komedi yang bersumber dari observasi dan pengalaman, dibumbui dengan ilustrasi-ilustrasi yang menggelitik.

Dan akhirnya, nyaris satu tahun setelah #NGENEST, adiknya yang berjudul #NGENEST2 udah siap dirilis. Kalo lo berminat beli, berikut ada beberapa informasi penting tentang buku ini:

Harga dan tanggal rilis?
#NGENEST2 akan presale di hahaha-store.com tanggal 18 – 24 Juli, harga Rp 55,000 udah bonus tandatangan. Tanggal 24 Juli, diperkirakan stok #NGENEST2 udah akan merata untuk toko-toko buku se-Jabodetabek. Untuk diluar Jabodetabek, stok diperkirakan baru akan merata di awal Agustus, mengingat distribusi logistik akan terhenti sementara karna libur lebaran.

Paket bundling dengan #NGENEST?
Iya, saat presale dibuka di hahaha-store.com, akan ada juga produk bundling, yakni pembelian #NGENEST dan #NGENEST2 sekaligus, dengan harga diskon tentunya. Dengan harga normal, dua buku tadi totalnya Rp 105,000. Tapi dengan Pembelian paket, harganya didiskon jadi Rp 95,000.

Event launching?
Supaya keseruan rilis #NGENEST2 bisa diikutin juga sama temen-temen di seluruh Indonesia, gue bakal bikin launching event di Twitter tepat saat presale dimulai tanggal 18 Juli, bertajuk #NGENEST2DAY. Kayak gimana sih #NGENEST2DAY? Begini:
– Dalam satu hari, gue akan gelar 3x kuis yakni di tepat di jam 13:00, 17:00, dan 21:00 (WIB).
– Hadiah kuisnya adalah voucher belanja produk apa pun di hahaha-store.com, senilai total Rp 1,500,000.
– Kuis terbuka untuk siapa pun, tidak terbatas lokasi dan usia.
Tertarik? Yaudah pantengin akun @ernestprakasa di jam-jam tadi ya.

Lastly, ini cover buku #NGENEST2:

[cover depan]

[cover depan]

[cover belakang]

[cover belakang]

So, sampai jumpa di #NGENEST2DAY!🙂

[@ernestprakasa]

Surat Kepada Teman-Teman Di Seberang

Wahai teman-teman, saya ingin minta maaf.

Saya minta maaf karena saya tidak bisa memahami pilihan kalian.

Saya mencoba, sungguh saya mencoba.

Saya betul-betul ingin paham.

Tapi saya gagal.

Saya tidak mengerti kenapa begitu mudah jutaan pasang mata berpaling dari semua kengerian masa lampau.

Saya tidak mengerti kenapa seseorang dengan jejak darah begitu merah, bisa sedekat ini dengan pintu istana.

Saya tidak mengerti lagi.

Saya ingin kita tetap berteman. Tapi tidak sebesar keinginan saya untuk menjauhkan seorang tiran dari singgasana.

Bila kelak pilihan saya menang, semoga kalian pun mendapat kebaikan.

Bila kelak pilihan kalian menang, semoga dugaan saya salah besar.

Tapi untuk saat ini, saya hanya ingin mengatakan satu hal.

Di dalam bilik suara, saat semua pekak menjadi sunyi dan nurani menjadi jernih. Saya berdoa agar tangan kalian dijauhkan dari dia yang telah mencabut nyawa-nyawa.

[@ernestprakasa]

ILLUCINATI – DD & DVD

Sekitar pertengahan tahun lalu, gue dan Pandji ngobrolin soal apa yang dilakukan oleh Louis CK, salah satu comic papan atas Amerika. Louis CK merekam special show-nya, lalu menjualnya via website dengan harga 5 dollar. Kami penasaran, apa iya sistem ini bisa diterapkan di Indonesia, dengan maraknya semangat pembajakan yang menggebu-gebu. Gimana mungkin bisa laku, kan orang tinggal download abis itu mereka bisa copy-paste sesuka mereka. Bisa beredar dengan gratis.

Terus terang, gue skeptis. Tapi Pandji gigih. Dia pengen ngebuktiin kalo cukup banyak orang Indonesia yang mau menghargai karya dengan cara membeli produk original, asalkan kita bisa menyediakan akses yang mudah dan harga yang masuk akal.

Bulan April lalu, DD (Digital Download) Mesakke Bangsaku dirilis ke pasaran dengan harga Rp 75,000. Hasilnya? Gila. Gue gak perlu ceritain berapa angka penjualannya, yang pasti itu cukup untuk meyakinkan gue bahwa skeptisisme gue salah. Pandji benar, masih banyak orang di luar sana yang mau menghargai karya dengan cara yang sportif. Gue bingung, terkesima, dan lumayan terharu. Kalo begini caranya, para pekarya seni di Indonesia harusnya optimis.

Singkat cerita, gue memutuskan untuk memberanikan diri untuk ikut merilis video Illucinati Tour dalam format DD. Video ini isinya lengkap, diambil dari show GKJ gue tanggal 25 Januari lalu, termasuk:
– Opening act by Arie Kriting
– Main show
– Closing session featuring Ahok.
DD seharga Rp 65,000 ini file size nya sekitar 800 MB, dan nanti pembeli bisa memilih bisa mengunduh sekaligus atau per chapter, yang terdiri atas 11 chapter.

Tanggal 27 Juni, baru gue akan ngerilis versi DVD-nya. Beda konten DD & DVD cuma satu, yaitu di versi DVD akan ada dua keping cakram. Yang satu berisikan video yang persis sama dengan versi digital download, sementara yang satu lagi berisikan film dokumenter 40 menit, yang menceritakan tentang perjalanan gue selama Illucinati Tour di 17 kota.
DVD ini akan dibanderol Rp 135,000.

Kalo pengen liat-liat dulu sebelum beli, silakan kesini:

Jadi buat lo yang gak sempet nonton langsung Illucinati Tour, atau udah nonton tapi tetep pengen ngoleksi karya gue, silakan langsung ke Hahaha Store aja🙂

Thanks a lot!

[@ernestprakasa]

Ernest Prakasa – FAQ (Frequently Asked Questions)

Berikut adalah kumpulan pertanyaan yang paling sering gue terima. Artikel ini sekalian untuk referensi bagi teman-teman media yang butuh informasi, biar gak usah repot-repot nanya lagi🙂

Bagaimana ceritanya bisa terjun jadi stand-up comedian? Sebelum itu menggeluti bidang apa?

Setelah lulus kuliah tahun 2005, saya bekerja di recording company sampai tahun 2011, melanjutkan minat di musik yang memang sudah saya mulai ketika menjadi penyiar di tahun 2001 silam.

Awal mulanya bisa menjadi komika adalah ketika Kompas TV mengadakan program “Stand-Up Comedy Indonesia” Season 1, atau yang lebih dikenal dengan SUCI1. Programnya berjalan dari September hingga Desember 2011. Saya finish di posisi ke-3, dan setelah itu memutuskan untuk terjun full-time sebagai seorang komika, sampai hari ini.

Bagaimana cerita lahirnya @StandUpIndo?

Komunitas @StandUpIndo lahir secara tidak disengaja. Ini semua berawal ketika saya mengajak Ryan Adriandhy, sesama peserta audisi SUCI1, untuk menjajal open mic di Comedy Café yang ketika itu berada di Kemang. Comedy Café itu sendiri sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1997, namun tidak pernah benar-benar bisa mewabahkan stand-up comedy karena kurangnya dukungan terutama dari media.

Singkat cerita, Ryan mengajak Pandji Pragiwaksono, lalu Pandji mengajak Raditya Dika. Kebetulan Pandji dan Radit adalah duo host SUCI1. Saya juga mengajak Isman HS, seorang penulis komedi yang saya kenal lewat Twitter. Akhirnya kami berlima dan beberapa komika lain sepakat open mic bareng di tanggal 13 Juli 2011. Karena banyaknya followers Pandji dan Radit di Twitter, kafe mungil berkapasitas sekitar lima puluh orang itu pun luluh lantak diserbu sekitar 200-an pengunjung.

Event hari itu kami promosikan melalui Twitter @StandUpIndo, dan videonya kami upload ke Youtube. Dari sana, bola salju bergulir dengan dahsyat. Event berikutnya tanggal 17 Agustus di Rolling Stone Café Jakarta diserbu sekitar 600 orang, lalu menembus 1,000 penonton ketiga digelar event ketiga di tempat yang sama, 24 Agustus 2011.

Hanya dalam hitungan minggu, respon dari kota-kota lain pun bermunculan, ingin membuat event serupa. Bandung, Jogjakarta, dan Samarinda tercatat sebagai tiga kota pertama yang menyusul. Dan dalam waktu beberapa bulan, puluhan kota lain menyusul. Hingga saat ini, @StandUpIndo mencatat sekitar empat puluh komunitas lokal yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tanggal 13 Juli 2011 tadi kami tahbiskan sebagai hari lahirnya @StandUpIndo, komunitas stand-up comedy di Indonesia, dengan lima orang co-founder: Saya, Ryan Adriandhy, Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, dan Isman HS. Saya dan Isman HS menjabat sebagai ketua hingga akhir 2012, kemudian dilanjutkan oleh Sammy @Notaslimboy hingga sekarang.

Stand-up comedy di Indonesia cukup happening di beberapa tahun terakhir. Apakah akan tetap eksis, atau ini hanya trend sementara?

Menurut saya, stand-up comedy bukan trend. Ini adalah genre komedi baru yang lahir dan akan terus tumbuh. Ada tiga hal yang menurut saya menjadi indikator kokohnya stand-up comedy di Indonesia:

1. Terus lahir & berkembangnya komunitas lokal di puluhan kota di Indonesia, dari Sumatra hingga Sulawesi. Komunitas-komunitas ini bertumbuh secara organik dan mengakar dengan kuat, memberikan fondasi yang kuat bagi kemajuan stand-up comedy di Indonesia.

2. Semakin banyaknya komika karier. Selain saya sendiri dan Pandji Pragiwaksono sebelum saya, semakin bermunculan komika-komika yang bisa menggantungkan hidupnya dengan cara menggeluti stand-up comedy. Mereka bisa berkarya, sekaligus mendapatkan penghasilan yang amat layak.

3. Semakin derasnya invasi komika di televisi dan layar lebar. Tidak bisa dipungkiri, gelombang stand-up comedy ini menyapu di segala lini, tidak terkecuali televisi dan bioskop. Semakin banyak komika mendapatkan kesempatan, dan membayar lunas kesempatan yang diberikan, sehingga membukakan jalan untuk lebih banyak komika bisa membanjiri industri.

Apakah bedanya stand-up comedy dengan komedi yang selama ini dikenal luas di masyarakat Indonesia?

Dibandingkan dengan berbagai komedi tradisional yang selama ini kita kenal, stand-up comedy memiliki dua ciri utama yang mutlak dan tidak bisa diganggu-gugat:

1. Dilakukan sendiri di atas panggung, tanpa tandem. Tidak harus sambil berdiri, tapi harus sendiri.

2. Membawakan materi hasil karya sendiri. Kekuatan stand-up comedy ada pada perspektif subjektif dari si komika. Jadi materinya merupakan hasil pemikiran dan pengamatan pribadi. Bukan dari teman, buku, internet, dan lain-lain.

Apakah semua orang bisa menjadi komika?

Apakah semua orang bisa menjadi pelukis? Apakah semua orang bisa menjadi penari? Seperti halnya seni yang lain, menurut saya komedi membutuhkan bakat. Teknik memang bisa dilatih, namun comedic sense itu bawaan lahir. Intuisi untuk mengenali apa yang lucu, bukan hanya bagi kita, tapi juga bagi orang awam. Ketajaman intuisi ini berbeda-beda bagi tiap orang. Bila intuisinya tajam, maka menurut saya itulah modal awal untuk menjadi seorang komedian.

Ernest seringkali membahas tentang etnis Cina di Indonesia. Apakah itu tidak tergolong rasis? Bagaimana reaksi dari golongan etnis Cina di Indonesia terhadap materi tersebut?

Saat belajar stand-up kami, diarahkan untuk mencari materi dari keresahan yang paling jujur. Salah satu keresahan saya yang utama adalah tentang menjadi orang Cina di Indonesia. Maka itulah yang sejak awal menjadi ciri khas yang saya miliki.

Soal rasis atau tidak, menurut saya indikatornya sederhana. Saya berdarah Cina. Maka ketika saya membahas orang Cina, saya sedang membahas tentang apa yang saya ketahui, jadi ini tidak rasis. Akan berbeda bila saya membahas etnis lain.

Jujur saja, hingga saat ini saya belum pernah mendapatkan protes keras sama sekali. Kritik sesekali di media sosial tentu ada, tapi tidak signifikan. Saya malah lebih banyak mendapat dukungan, karena mereka merasa terwakilkan dengan apa yang saya suarakan.

Apa yang mendasari lahirnya Merem Melek Tour, yang notabene adalah tur stand-up comedy pertama di Indonesia?

Setelah lulus dari SUCI1, saya coba merenung. Saya ini ingin jadi komika, seperti komika idola saya, Pandji Pragiwaksono. Salah satu hal yang saya pelajari dari Pandji adalah konsistensinya dalam menjadi pionir. Ia selalu berusaha menjadi yang terdepan, menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejaknya. Bulan Desember 2011, saya menjadi pembuka Pandji di Bhinneka Tunggal Tawa, stand-up comedy special pertama di Indonesia. Dan disitu saya sadar bahwa untuk bisa menjadi seperti Pandji, saya harus nekad melakukan sesuatu yang belum dilakukan orang lain.

Di Amerika, tur stand-up comedy adalah hal yang lumrah. Namun di Indonesia, ini belum pernah dilakukan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengumpulkan segenap keberanian, dan menghubungi beberapa teman di komunitas untuk bekerjasama mengadakan sebuah tur. Awalnya saya hanya merencanakan tur lima kota. Namun berkat dukungan dari Coffee Toffee Indonesia, tur saya bisa diperpanjang hingga ke sepuluh kota. Singkat cerita, lahirlah “Merem Melek Tour”, yang mengelilingi 10 kota di Indonesia dan ditutup di titik ke-11, Gedung Kesenian Jakarta, tanggal 10 Juli 2012 silam.

Ernest melakukan debut layar lebar di film Comic 8. Bagaimana rasanya? Apa tantangannya dibandingkan stand-up comedy?

Sebenarnya debut layar lebar saya ada di film Make Money (2013), namun waktu itu saya hanya kebagian tiga scene. Baru di Comic 8, saya menjadi satu dari delapan komika yang menjadi pemeran utama.

Tentunya, akting di film berbeda sekali dengan stand-up comedy. Ada dua hal mendasar yang menjadi tantangan tersendiri menurut saya:

1. Blocking kamera. Dalam stand-up, saya terbiasa sendiri di panggung, bebas bergerak, bebas melakukan manuver apa pun. Tapi pada saat syuting, saya harus memikirkan blocking kamera, posisi saya di depan kamera dan juga posisi saya terhadap rekan-rekan lain dalam satu frame yang sama. Bagi pemula seperti saya, ini sungguh merepotkan.

2. Dialog, bukan monolog. Dalam stand-up, saya terbiasa monolog. Saya tidak memiliki lawan bicara. Namun saat syuting, saya terlibat dalam percakapan, bahkan terkadang dengan banyak lawan bicara di saat yang bersamaan. Ini membutuhkan kerjasama dan timing yang baik, yang juga jadi sebuah pelajaran baru bagi saya.

Namun menariknya, ada satu kesamaan yang kuat antara stand-up dan akting. Dalam stand-up comedy, saat kita naik ke panggung, kita sudah bukan lagi mencurahkan fokus pada “apa yang mau disampaikan”, tapi “bagaimana cara menyampaikan”. Konten apa yang mau disampaikan seharusnya sudah kita hafalkan dengan baik, karena di panggung tidak ada waktu untuk mengingat-ngingat, hanya ada waktu untuk memikirkan bagaimana konten tersebut ingin disampaikan. Istilah teknisnya, fokus pada delivery, bukan pada materi. Hal ini yang menurut saya juga terjadi dalam dunia akting. Saat kamera sudah menyala, fokus sudah harus pada delivery. Pada blocking, intonasi, gestur, dan sebagainya. Tidak bisa lagi memakai waktu untuk mengingat-ingat dialog.

Tapi itu semua bahasan teknis. Secara filosofis, akting dan stand-up comedy sebenarnya sungguh berbalik 180 derajat. Saat akting, kita menjadi orang lain. Saat stand-up, saya menjadi diri saya yang sejati.

Apakah Ernest menikmati pekerjaan sebagai aktor? Berminat untuk menekuni profesi ini lebih lanjut?

Jujur, saya sangat menikmati akting. Menurut saya, seluruh prosesnya amat melelahkan namun menyenangkan. Tentu saya berminat untuk bermain di film yang lain selama saya rasa skenarionya cocok. Namun yang terutama bagi saya tetap stand-up comedy.

Stand-up comedy bagi saya bukan sekedar sebentuk seni atau profesi, tapi juga media penyampai pesan. Ada banyak keresahan yang bisa saya utarakan melalui orasi di atas panggung stand-up comedy, itulah yang membuat saya yakin bahwa selama masih bisa berkata-kata, saya akan tetap menjadi komika.

[@ernestprakasa]

ILLUCINATI Jakarta – A Thank You Note

Illucinati_23

Waktu “Ernest Prakasa & The Oriental Bandits” tahun lalu sukses sold-out di dua pertunjukan dalam sehari, jujur gue bingung, abis ini harus bikin apa lagi coba? How do I top myself (again)?

Akhirnya gue mutusin untuk bikin tiga show dalam sehari. Dua kali kan udah, yaudah sekarang cobain tiga. Plus dengan durasi performance yang lebih panjang, yakni sekitar 1,5 jam per show. Jujur, orang-orang terdekat gue meragukan ini bisa dilakukan. Istri dan manager gue sendiri waswas kalo stamina gue bakal drop dan gak akan bisa tampil prima sebanyak tiga kali.

Sabtu, 25 Januari 2014, gue berhasil memaksa diri gue untuk melalui itu semua. Gak ada jamu atau obat cina, cuma tidur dan makan yang cukup. Dari tiga show yang digelar hari itu, hanya show pertama yang gagal sold-out, cuma bisa terjual sekitar 80%-nya. Mungkin orang belum terbiasa dengan stand-up special yang digelar jam 12 siang. But it’s all good. Gue bahagia.

Gue bahagia bukan hanya karena ada sekitar 1,300 orang yang dateng ke GKJ hari itu, tapi juga karena gue puas sama materi show yang menurut gue pribadi udah mengalami peningkatan bobot dari special sebelumnya. Gue bahagia karena gue udah menuntaskan keresahan gue di awal tur ini, yaitu supaya lebih banyak orang sadar akan betapa krusialnya menentukan pilihan yang tepat di Pemilu 2014 yang akan datang. Bahwa orang jahat tidak boleh menang.

Seperti biasa, gue selalu bikin credit title setelah bikin special. Sebelum gue absen thank you list untuk finale di Jakarta, gue mau say thank you banget buat teman-teman yang udah mau bekerjasama untuk nyelenggarain #ILLUCINATI di kota mereka:
1. Makassar – @StandUpIndoMKSR
2. Samarinda – @StandUpSMD
3. Balikpapan – @StandUpBPN
4. Banjarmasin – @StandUpBJM
5. Banda Aceh – @StandUpIndoBNA
6. Semarang – @StandUpIndoSMG
7. Solo – @StandUpSOLO
8. Jogjakarta – @standupindojgj
9. Padang – @StandUpIndo_Pdg
10. Depok – @StandUpIndoDPK
11. Bandung – @StandUpIndoBDG
12. Bogor – @StandUpIndo_BGR
13. Malang – @StandUpIndo_MLG
14. Sidoarjo – @StandUpIndo_SDA
15. Surabaya – @StandUpIndo_SBY
16. Denpasar – @StandUpIndoBali

It was helluva journey. Thank you for being a part of it.
And now, for the Jakarta Finale. I would like to thank:

My best buddy J-Christ. Thanks man.

My 2nd best buddy, Meira Anastasia. What would I do without you?

My daughter Sky Tierra Solana, who made her debut on stage🙂

My manager Dipa Andika. Thank you for understanding me, partner. Sorry for being a constant control freak.

My road manager Aditya Parajita Hadiwijaya. I always feel safe when you’re around.

My opener Arie Kriting. Proud to have you by my side, bro.

My project director Sessa Xuanthi. Bumil yang mobilitasnya berkurang tapi kegalakannya nambah. Well done as always!

My personal assistant & captain of @HAHAHA_Store, Fauzan Taufik. Thanks for your hard work & dedication.

My co-producer for the #ILLUCINATI Tour teaser trailer, Edward Mulianto.

Our documentation coordinator & co-producer for #ILLUCINATI DVD, Okky Prasetyo.

Our stage talents: David Nurbianto as MC, Budi Setianto & Aprizal Wahyu as the bodyguards. Also Henry & Christina from Vihara Tanah Bakti Bandung, our wushu artists.

Our hosts: Dimas Yudhistira, Pardede Reza, Abdul Wahab, Ariyanti Tjiang, Octria Revalina Kawengian.

Our good friends at XL Axiata Digital, Jasmina Dewi Nashya and team. Thanks a lot for the kind support.

Our broadcasting partner, Kompas TV. To Arga Laras, Tezar Sjamsudin, and the whole production team. Thank you for believing in me. Can’t wait to rock harder with you guys!

Our event partner: Gedung Kesenian Jakarta, Sinou Steak, Bakso Kade Hang Jebat, @HAHAHA_Store.

Our event management team from Sessa Xuanthi Project & Gala Event Management: Anandy Satriyo, Recky Resanto, Benni, Ajie Andika, Erwin Hendarwin, Jikun, Riza Saputra, Rico A., Andy, Iyus, Windy.

Our @HAHAHA_store merchandising team: Fairuz Ramadhan, Afandy Amer, Ahmad Habibi.

Our documentation team from Cone Camera: Okky Prasetyo & team.

Last but not leat, our graphic designers: Kuncir Satya Vikhu & Wangsit Firmantika.

To wrap things off, I just wanna dedicate this tour to each and every single one of you that came to see my show. All 6,000 people in 17 cities.

And for everyone that shook my hand at the show, know this:
When I looked into your eyes and said “Thank You”, I meant it. With all my heart.

THANK YOU.

PS: Berikut adalah beberapa blog post dari para penonton #ILLUCINATI Jakarta:
“Menguak Konspirasi Tawa” by Mycel Pancho (@mycelpancho)
“ILLUCINATI #GKJ25Jan” by Santi Fang (@santifang)
“Illucinati Tour Jakarta Finale” by Yuanita Handoko (@yuanita_handoko)
“ILLUCINATI: Indonesia Yang Bersuku China” – Thiodora C. Nadeak (@dora_himmawari)
“ILLUCINATI – #GKJ25Jan” by Sarah Puspita Lukman (@sarahpuspita)
“Review #ILLUCINATI #GKJ25Jan by Ernest Prakasa” – Cindy Kusuma (@cindy_kusuma)
“Illucinati, Stand-Up Comedy Show By Ernest Prakasa” – Sessa Xuanthi (@sessaxuanthi)

[@ernestprakasa]

ILLUCINATI Jakarta: The Finale! #GKJ25Jan

Yes. Setelah keliling ke 16 kota, #ILLUCINATI TOUR akan mendarat di Gedung Kesenian Jakarta pada tanggal 25 Januari 2014. 

Banyak yang nanya, “GKJ melulu lo nes!”. Bener, gue itu orangnya emang gak terlalu eksperimental, kalo udah ketauan enak kenapa harus pindah? Lokasinya mudah dijangkau, dan kualitas akustiknya adalah salah satu yang terbaik di Indonesia. Apakah special gue yang berikutnya masih akan di GKJ? Sepertinya enggak. But of course, for now, the bar must be raised. Setelah #MeremMelekTour yang digelar satu kali pada tanggal 8 Juli 2012, lalu #OrientalBandits yang digelar dua kali pada tanggal 9 Februari 2013, kali ini #ILLUCINATI akan digelar tiga kali sehari. 

Yap, you hear me. Three shows in one day.

Berat? Pasti. Tapi gue pengen buktiin kalo gue bisa. Dan kalo ini berhasil, maka show ini akan tercatat sebagai stand-up special pertama yang digelar sebanyak tiga kali di hari yang sama.

 Ada 3 pilihan jam pertunjukan sebagai berikut:

Show 1: 12.00 – 14.00
Show 2: 16.00 – 18.00
Show 3: 20.00 – 22.00

Berikut harga tiket dan denah tempat duduknya:

Image

Di masing-masing show, gue akan ditemani oleh penampilan dari Arie Kriting, juara 3 Stand-Up Comedy Indonesia Kompas TV Season 3, sekaligus patriot yang menyuarakan keluh-kesah Indonesia Timur. Gue sendiri bakal nyerocos soal capres 2014, isu-isu sosial di sekitar kita, dan seperti biasa, soal keluarga🙂

Tertarik untuk nonton? Tiket presale bisa diperoleh dengan memilih satu dari tiga metode dibawah ini:

1. Telepon langsung ke hotline 021-3441892
2. SMS ke 085715911169
3. Datang langsung ke ticket box di GKJ.

Tiga jalur diatas dibuka hari Selasa-Sabtu, jam 10 pagi sampe jam 4 sore, mulai 7 Januari 2014.

Oh iya, satu lagi yang penting untuk diingat soal ticketing. Berbeda dengan acara-acara gue di GKJ sebelumnya, kali ini pemilihan kursi langsung dilakukan pada saat pemesanan, bukan pada saat hari-H. Tapi tenang, seperti halnya di bioskop, para petugas ticketing GKJ pasti akan ngasih rekomendasi tempat duduk mana yang paling nyaman🙂

Are you excited? Coz I sure am. Meet you there!🙂

[@ernestprakasa]

Back On The Road!

Tanpa terasa, udah 1,5 tahun berlalu sejak #MeremMelekTour, tur stand-up comedy pertama di Indonesia. Pamer? Gapapa, emang itu salah satu hal yang paling gue banggain seumur hidup gue. Haha.

Buat lo yang ga sempet ngikutin, waktu #MeremMelekTour itu gue sempet dateng ke 11 kota, yakni:
1. Bandung
2. Semarang
3. Solo
4. Denpasar
5. Malang
6. Surabaya
7. Makassar
8. Kendari
9. Samarinda
10. Palangkaraya
11. Jakarta.
Dari 11 kota tadi, kota ke 6-10 gue didukung penuh sama teman-teman yang baik di Coffee Toffee.

Banyak hal yang sudah berubah dalam diri gue sejak #MeremMelekTour. Dulu, gue belum merasa nemu persona yang pas di atas panggung. Tapi sekarang, kayak yang pernah gue bahas disini, gue udah merasa jauh lebih nyaman karena udah lebih kenal kelemahan dan kekuatan gue sendiri.

Dan sekarang, gue akan ngegelar tur kedua, yang kali ini berjudul #ILLUCINATI:

[design by: @kuncirsv]

[design by: @kuncirsv]

Sebenernya kata “illucinati” berawal dari bit gue soal Ahok. Gue cuman iseng bercanda, kalo di Amerika ada Illuminati, di Indonesia juga ada pergerakan underground, namanya Illucinati. Tujuannya adalah menjadikan Ahok presiden. Entah kenapa, ternyata kata “illucinati” itu catchy banget. Yaudah sekalian aja gue jadiin judul tur🙂

Nah, tentang pose gue di poster (mata tertutup & tangan terikat). Sebenernya simpel aja sih. Gue mau memetaforakan sebuah keresahan sama generasi muda zaman sekarang yang gampang kehilangan kekritisannya. Di tengah derasnya arus informasi, kita jadi terbiasa “disuapin” berita dan informasi. Ini jadi ironis kalo kita inget bahwa sebenernya kalo kita mau punya inisiatif untuk tau lebih dalam, informasi itu bisa diakses dengan gratis dan mudah melalui kecanggihan teknologi.

Dan juga kalo lo perhatiin, walau terikat, tapi tangan gue itu megang mic. Itu melambangkan keyakinan gue bahwa meskipun kita kerap dibelenggu, tapi melalui kebebasan berbicara di atas panggung, kita bisa memicu perubahan. Jangan anggap remeh kekuatan ide yang disebar lalu tertanam.

Di tur ini, gue akan dateng ke 17 kota dengan jadwal sebagai berikut:
1. Makassar, 16 Nov
2. Samarinda, 22 Nov
3. Balikpapan, 23 Nov
4. Banjarmasin, 24 Nov
5. Banda Aceh, 30 Nov
6. Semarang, 6 Des
7. Solo, 7 Des
8. Jogjakarta, 8 Des
9. Padang, 14 Des
10. Depok, 15 Des
11. Bandung, 28 Des
12. Bogor, 29 Des
13. Malang, 3 Jan
14. Sidoarjo, 4 Jan
15. Surabaya, 5 Jan
16. Denpasar, 11 Jan
17. Jakarta, 25 Jan.

Kalo di #MeremMelekTour ada Ge Pamungkas yang jadi opener gue, kali ini opener #ILLUCINATI adalah Arie Kriting. Gue pilih Arie karna sejak pertama kali nonton dia di Malang, gue udah terkesima. Ada sesuatu yang sangat unik dan tajam dari cara dia berorasi dan berkomedi. Gue pilih dia tanpa ragu.

Oh iya, bicara soal opener, ada sesuatu yang baru yang gue coba lakukan, dengan bekerjasama dengan teman-teman di @StandUpIndoBali. Jadi di #ILLUCINATI, gue akan bawa opener dari Bali untuk perform di berbagai kota lain. Karena gue gak ada sponsor, jadi biaya transportasi dan akomodasi anak-anak ini akan ditanggung oleh kas urunan @StandUpIndoBali. Jadi semacam beasiswa dari komunitas, supaya para comic ini bisa dapet pengalaman berharga dengan ikutan gue tur. Keren ya?🙂

Comic Bali yang akan ikutan adalah sebagai berikut:
1. Yullianto Lin (Malang, Sidoarjo, Surabaya)
2. Kuncir Satya Viku (Bandung, Bogor)
3. Agam Zahid (Semarang, Solo, Jogjakarta)
4. Abdul Hadi (Padang, Depok)
5. Koji Asoy (Makassar, Banda Aceh).

Terlepas dari semua hal yang udah gue ceritain tadi, tantangan terberat gue di #ILLUCINATI sebenernya lebih ke fisik. Tur gue ini padet banget, bahkan ada tiga weekend dimana gue akan tur di tiga hari berturut-turut di tiga kota berbeda. Plus, berbeda dengan #MeremMelekTour yang hanya satu jam, kali ini gue akan perform selama satu setengah jam. FYI, rekor gue sebelum ini hanya satu jam lima belas menit. Harus berlatih ekstra keras!

So please, wish me luck. I’m gonna need it🙂

Sampai jumpa di #ILLUCINATI TOUR! Silakan intip video trailernya disini🙂

[@ernestprakasa]

Tentang Buku Kedua Gue, #NGENEST

Thank God, buku kedua gue akhirnya rilis. Berikut beberapa informasi tentang buku #NGENEST, dikemas dalam format wawancara tanya-jawab dengan Susi, seorang abege imajiner:

Selamat ya Kak buat dirilisnya #NGENEST. Ini buku komedi kan? Kenapa judulnya begitu sih Kak?
Iya, komedi. Ada yang sumbernya dari pengalaman, ada yang dari pengamatan. “Ngenest” itu sebenernya punya makna ganda. Di satu sisi, itu singkatan dari “Ngetawain Hidup Ala Ernest”. Tapi juga sekaligus memberikan gambaran tentang isi buku ini, yang banyak menceritakan hal-hal “ngenes” di hidup gue.

Oh gituuuu.. Kayaknya sih seru. Tapi mahal ga Kak?
Harga bukunya Rp 55,000 aja koq. Kira-kira sama lah sama behel yang lo beli di jembatan penyebrangan Benhil itu.

Ih Kak Ernest koq tau???
Itu semua impor dari Cina. Om gue yang bawa masuk.

Pantes. Oke, tapi denger-denger ada pre-sale ya Kak? Biasanya kan pre-sale tuh ada promo apaaa gitu..
Iya. Kalo pesan online selama periode pre-sale 9-13 Oktober, bakal dapet buku bertandatangan. Dan bukan cuma tandatangan, gue juga bakal tulisin ucapan.

Hah? Ucapan gimana maksudnya Kak? Kita bebas minta Kak Ernest nulisin apa, gitu?
Iya. Jadi bukan cuma tandatangan, tapi kalo elo mau, bisa sekalian gue tulisin: “Untuk Susi Spesialawati. Kamu yang paling spesial pokonya.”

Wah seru amat! Gimana cara mintanya?
Nanti di form pemesanan ada kolom “Ucapan Yang Diinginkan”. Isi aja disitu, maksimal dua kalimat.

Trus form-nya bisa didapetin dimana?
Semua keterangan lengkap soal pre-sale, termasuk form-nya, ada di bukukafe.com. Cari aja banner ini nih:
Pre-Sale

Lho, koq itu katanya ada hadiah paket spesial segala? Diundi ya? Dapetnya apaaaa?
Iya, diundi. Paketnya isinya karya-karya gue, yaitu Buku+DVD #DMKM, kaos @HAHAHA_Store, dan DVD “Ernest Prakasa & The Oriental Bandits”, semuanya gue tandatangan. Kecuali kaos ya, nanti luntur trus lo jadi cemong.

Eh tapi berarti pre-sale itu cuma online kan ya Kak? Trus kapan dong mulai masuk ke toko buku?
Per 16 Oktober, buku #NGENEST bakal mulai beredar di Gramedia dan lain-lain. Penyebarannya mulai di Jabodetabek-Bandung, trus pelan-pelan nanti merata ke seluruh Indonesia.

Oh gitu. Trus pas nanti Kak Ernest tur, bukunya dibawa juga? Emang gak berat tuh tur bawa-bawa buku?
Iyalah, darah Cina gue bisa mendidih kalo gue tur gak sambil jualan buku. Berat sih berat, tapi yang penting bisa cuan lah.

Cuan? Apaan tuh kak?
Cuan itu artinya untung alias laba. Koq lo gitu aja ga ngerti sih?

Aku kan Arab kak.
Oh iya lupa.

Ya udah, sukses buat buku #NGENEST kak. Target laku berapa juta kopi?
Yaelah. Target gue gak muluk-muluk. Bisa cetak ulang aja gue udah seneng. Soalnya buku pertama gue kurang bagus penjualannya.

Koq bisa sih kak?
Ga tau juga. Mungkin karna di cover ada muka gue kali ya.

Ah suka gitu deh, Kak Ernest kan ganteng abisssss!
Makasih.

Sip deh Kak, sukses ya. Semoga #NGENEST bisa memenuhi harapan. Oh iya, terakhir, ngintip cover-nya #NGENEST boleh kak?
Boleh dong. Nih🙂

[cover depan]

[cover depan]

[cover belakang]

[cover belakang]

Wah keren!!! Sekali lagi, sukses ya Kak!
Makasih, makasih. Nih ongkos pulang.

[@ernestprakasa]

Sibuk vs Nganggur

Sejak pensiun jadi karyawan kantoran, periode puasa-lebaran adalah masa-masa yang membuat gue cemas. Di bulan-bulan itu, event-event biasanya akan banyak bertemakan religi. Cina Kristen kayak gue pasti seret job. Itu yang terjadi di 2011, 2012, dan just recently, 2013.

Di 2013, paceklik bulan puasa terasa lebih berat buat gue dan keluarga. Bukan apa-apa, soalnya kami sekeluarga baru aja pindah ke Denpasar. Namanya baru pindahan, pasti banyak pengeluaran, mulai dari yang ter-amsyong, bayar kontrakan setaun di muka. Bayangin, udah job dikit, pengeluaran banyak. Gokil men.

Tapi ya Puji Tuhan masa itu udah berlalu.

Selepas lebaran, gue mulai dihujani kesibukan. Dua terbesar adalah buku #NGENEST dan film #Comic8. Dua proyek ini sangat amat gue perlakukan dengan serius. Untuk buku, gue super serius karna gue pengen bisa melakukan yang lebih baik dibandingkan buku pertama gue “Dari Merem Ke Melek”. Untuk film, gue juga gak main-main karna ini film perdana gue. Masa iya gue ga kerjain dengan niat, gila apah. Well technically, film pertama gue sih sebenernya “Make Money” bareng Pandji, yang dijadwalkan rilis November 2013. Tapi di situ gue cuma muncul tiga scene. Gak afdhol. Walaupun di salah satu scene ada yang berkesan banget, yakni gue berantem sama Pandji sampe jaket kulit gue sobek beneran. Ji, Bershka kesayangan gue ji :”(

Dua proyek gede ini harus gue selesaikan segera supaya abis itu gue bisa fokus jalanin #illucinati_tour, tur stand-up gue yang kedua, kali ini di 17 kota.

Jadi ya, sejak September lalu, gue lumayan stress. Cape fisik dan otak.
Tapi justru di saat-saat kayak gini gue teringat bulan paceklik di Juli-Agustus lalu. Lalu mikir, sebenernya gue ini maunya apa ya. Gak ada job ngeluh, banyak kerjaan ngeluh.

Akhirnya gue pun nemu mantra sakti:

“Secapek-capeknya kerja, lebih capek nganggur.”

Iya ga?🙂

[@ernestprakasa]

#MondayCanWait Edisi 2 – Minggu 25 Agustus 2013!

Screen Shot 2013-08-12 at 4.02.10 PM

Seperti yang pernah dijelaskan disini, bulan Juli lalu saya menggelar sebuah event berjudul “Monday Can Wait”.

Untuk teman-teman yang tidak sempat hadir, video highlight nya bisa ditonton disini.

Nah, sekarang saatnya saya mengumumkan #MondayCanWait edisi kedua, yang akan diadakan di Tryst Kemang pada Hari Minggu, 25 Agustus 2013 jam 4-6 sore. Yang akan turut meramaikan adalah:

1. Rachman Avri (Rookie Of The Month)
Apa jadinya bila mantan petugas cleaning service bertransformasi menjadi seorang comic? Simak penampilan newcomer dari komunitas Jakarta Utara ini.

2. Gilang Bhaskara (The Spotlight)
Oleh rekan-rekan sejawat, Gilang dijuluki “The Indonesian Jerry Seinfeld”. Di tangan Gilang, hal-hal yang setiap hari lalu-lalang dihadapan kita akan diolah menjadi materi yang amat menggelikan. Runner-Up Stand-Up Comedy Indonesia Kompas TV Season 2 ini akan memamerkan skill-nya dalam melakukan stand-up comedy observasi yang berkelas.

3. M. Iqbal Lubekran (Hot Seat)
Jangan heran bila namanya terdengar asing, karena Iqbal memang bukan artis. Sejak tahun 2008, ia mengabdi sebagai staff khusus bagi pria yang sekarang menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Bapak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Iqbal pasti tau betul seperti apa sosok jagoan kontroversial yang sedang naik daun tersebut, jadi obrolan ini dijamin akan seru!

4. Ernest Prakasa – Ge Pamungkas – Arie Kriting (Improv Comedy)
Seperti edisi sebelumnya, #MondayCanWait juga akan menampilkan sesi improv comedy. Kali ini, yang akan mendampingi Saya dan Ge adalah juara 3 Stand-Up Comedy Indonesia Kompas TV Season 3, Arie Kriting. It’s gonna be so much fun.

Diluar itu semua, tentu masih ada segmen From The Desk, dimana saya akan membawakan highlight berita-berita penting dengan gaya berbeda, dan juga segmen Head2Head, dimana saya akan mengajak penonton untuk saling mengadu ketangkasan dan kecerdasan dalam berbagai permainan seru.

Masih sama seperti bulan lalu, ada dua macam tiket masuk yang bisa dipilih:
1. Rp 100,000: First drink only
2. Rp 150,000: First drink + dinner set

Tiket sudah bisa dibeli mulai 14 Agustus 2013, dengan cara berikut ini:
– Transfer ke rekening BCA a/n Fauzan Taufik 6640436865
– Konfirmasi melalui 0899 9967 383 / 29E875D2 / fauzan.taufik@gmail.com
– Tiket akan diimel dalam bentuk PDF, silakan di-print & dibawa pada saat acara.

Demi kenyamanan, penonton akan dibatasi hanya 100 orang, jadi jangan sampai kehabisan!🙂

Thanks & can’t wait to see you there!

[@ernestprakasa]

Tentang Nurani

Terkadang saat menyaksikan kelakuan para pejabat rakus yang menyengsarakan rakyat, kita kerap bergumam, “dasar enggak punya nurani.”

“Enggak punya nurani.”

Saya jadi merenung. Apa yang terjadi dengan nurani orang-orang itu? Apakah ia pergi begitu saja? Benarkah nurani bisa mati? Ataukah mungkin ia ada, tapi memutuskan untuk diam?

Menurut saya pribadi, sampai kita mati, nurani tidak akan pernah berhenti berbicara. Ia bagai sekeping zat Tuhan yang bersemayam di dalam diri kita. A moral compass, constantly reminding us of what’s right or wrong.

Ia tidak akan berhenti berbicara. Tapi kita bisa memilih untuk tidak mendengarkan. Dan saat kita semakin fasih terlatih untuk tidak mendengarkan, suaranya yang lantang perlahan akan menjadi lirih.

Mendengarkan nurani ataupun mengabaikan nurani, adalah keterampilan yang bisa dilatih.

Tapi selama kita bernafas, nurani tidak akan pernah diam. Ia hanya bisa dibungkam.

[@ernestprakasa]

Introducing: #MondayCanWait

#MCW 1 - Jul'13

Jadi begini teman-teman..

Mulai Juli 2013, saya akan membuat event bulanan yang bertajuk “Monday Can Wait”. Kenapa dinamai demikian? Karena akan selalu diadakan di hari Minggu sore / malam. Saat-saat dimana kita mulai merasa “Oh shit, Monday is coming”. Saat itulah saya ingin bilang, “Yes, I know. But it’s still tomorrow. Let’s just have fun for a while, Monday can wait.”🙂

Edisi perdananya akan digelar tanggal 21 Juli 2013 jam 4-6 sore di Tryst Kemang. Itung-itung sambil ngabuburit untuk teman-teman yang berpuasa.

Tapi pertanyaanya, event apa sih ini?

#MondayCanWait itu konsepnya semacam variety show versi off-air. Saya sebagai host akan menjamu teman-teman, dengan mengundang para penampil yang bisa jadi belum anda kenal, tapi pastinya layak untuk disimak. Bayangkan suasana nongkrong di cafe dengan teman-teman, dihibur oleh penampilan berkualitas. It’s gonna be fun, intimate, & memorable. Untuk episode perdana ini, saya akan mengundang:

1. Krisna Harefa (The Spotlight)
Krisna adalah salah satu comic muda yang paling saya kagumi. Bulan September mendatang, ia akan menggelar special berjudul “Ruang Tamu”. Bila belum pernah menyaksikan Krisna secara langsung, silakan datang dan simak mengapa “Ruang Tamu” tidak boleh dilewatkan.

2. Wiranto Ariez (Rookie Of The Month)
Setelah Fico dan Alphi yang telah meramaikan #SUCI3, kini komunitas stand-up comedy Depok siap mengorbitkan bintang baru. Namanya Wiranto. Jangan terkecoh namanya yang mirip jenderal, karena Wiranto yang ini sangatlah jinak & menggemaskan.

3. Dwika Putra (Lazy Tunes)
Selain dikenal sebagai comic, Dwika Putra juga adalah seorang penyanyi yang sudah merilis albumnya sendiri secara indie. Di #MondayCanWait, Dwika akan menunjukkan sisi merdunya. Harusnya sih merdu ya.

4. Special Guest (Improv Comedy Trio)
Ada tiga orang comic handal yang membentuk trio dan akan mencoba menghibur kita dengan atraksi improv comedy. Nama-nama yang sudah dikenal, sebenarnya, tapi sebaiknya dirahasiakan biar seru.

Lalu, ada apalagi? Well, sebagai host, saya bukan hanya akan mengantarkan para bintang tamu, tapi juga akan melakukan stand-up dengan gaya yang berbeda dengan yang biasanya saya lakukan. Plus, akan ada juga game show interaktif dengan penonton dengan hadiah yang semoga cukup menggembirakan.

Interested? Well, you should be🙂

Ada dua macam tiket masuk yang bisa dipilih:
1. Rp 100,000: FDC + tajil only.
2. Rp 150,000: FDC + tajil + dinner set (main course + soft drink)*
*Pilihan main course: Nasi & Sop Buntut / Nasi Goreng Bebek / Fettucine Bolognaise

Tiket sudah bisa dibeli mulai 1 Juli 2013, dengan cara berikut ini:
– Transfer ke rekening BCA a/n Fauzan Taufik 6640436865
– Konfirmasi melalui 0899 9967 383 / 29E875D2 / fauzan.taufik@gmail.com
– Tiket akan diimel dalam bentuk PDF, silakan di-print & dibawa pada saat acara.

Demi kenyamanan, penonton akan dibatasi hanya 100 orang, jadi jangan sampai kehabisan!🙂

Thanks & can’t wait to see you there!

[@ernestprakasa]

Saya Tidak Punya Pilihan…

…adalah kalimat yang diucapkan banyak orang untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Sebuah vonis yang fatal, dan seringkali tidak benar.

Bagaimana jika pilihan itu ada, tapi kita yang dengan sengaja memalingkan muka?
Bagaimana jika dibalik pilihan itu, tersimpan hari-hari yang lebih indah?
Bagaimana jika pilihan itu duduk manis di ujung sana, menanti kita melangkah ke arahnya?

Saat kita tidak bahagia, pilihan selalu ada.
Saat kita layak akan yang lebih baik, pilihan selalu ada.
Saat kita cukup berani, pilihan selalu ada.

Pilihan memang selalu ada. Tapi ia tidak akan menunggu selamanya.

[@ernestprakasa]

#StandUpFest 2013

Rabu, 13 Juli 2011.

Kafe dengan kapasitas sekitar 40-an tempat duduk mendadak diserbu sekitar hampir 200 orang. Mereka datang untuk menyaksikan sebuah pertunjukan stand-up comedy yang pada waktu itu, adalah sesuatu yang aneh. “Masa sih di Indonesia ada stand-up comedy?”

Well, ternyata ada. Ada bayi yang terlahir pada hari itu. Bayi mungil bernama @StandUpIndo.

Minggu, 16 Juni 2013.

Sebuah pagelaran dua hari di Hall Basket Senayan ditutup dengan tangis haru dan peluk bahagia. Sebuah perayaan ulang tahun si bayi yang kini berusia dua tahun, dihadiri oleh sekitar 8,000 orang. Selama dua hari, sekitar 100 komika silih berganti menghibur para penonton mulai jam 1 siang hingga 11 malam.

Yang memang suka stand-up comedy, datang untuk menjadi bagian dari sejarah.
Yang belum pernah nonton stand-up comedy, datang untuk menuntaskan rasa penasaran.
Keduanya, pulang dengan letih karena terlalu banyak tertawa.

Sebagai co-founder @StandUpIndo bersama Ryan Adriandhy (@Adriandhy), Isman HS (@ismanhs), Pandji Pragiwaksono (@pandji), & Raditya Dika (@radityadika); saya sulit mengungkapkan apa yang kami rasakan. Saya yakin hal yang sama juga dirasakan oleh segenap komika dan penggiat komunitas yang hadir dan atau terlibat dalam kepanitiaan. SPEECHLESS.

Lidah saya kelu, oleh karenanya saya akan merangkum #StandUpFest dengan foto ini:

["Buat para sinis yang 2 tahun lalu bilang 'stand-up comedy di Indonesia ga ada penontonnya', foto ini buat lo" - @Adriandhy]

[“Buat para sinis yang 2 tahun lalu bilang ‘stand-up comedy di Indonesia ga ada penontonnya’, foto ini buat lo” – @Adriandhy]

Well said, Ryan. Well said.

Terimakasih untuk keluarga besar @StandUpIndo, kekompakan kalian sungguh mengagumkan. Lintas kota, lintas pulau, satu semangat. Terimakasih khusus untuk Pak Ketua @StandUpIndo Sammy (@notaslimboy) dan Pak Ketua #StandUpFest Awe (@awwe_).

Terimakasih untuk Metro TV atas dukungan dan kepercayaannya terhadap seni ini, khususnya untuk Koh Agus Mulyadi (@Agus_Mulyadi) & Jeung Lanny Bergmann (@justElBee).

Terimakasih untuk yang sudah hadir. Terimakasih, terimakasih, terimakasih. Viva La Komtung!

Tertanda,
Seorang komika yang teramat berbahagia.

[@ernestprakasa]