Merem Melek Tour: JAKARTA!
FINALLY.
Dengan pertimbangan matang dan mengumpulkan segenap keberanian, saya memutuskan untuk menambah satu kota lagi ke dalam gelaran #MeremMelekTour. The grand finale. Kota ke-11, Jakarta. Berikut teaser posternya:
Untuk yang belum pernah dengar soal #MeremMelekTour, saya coba jelaskan dengan singkat: #MeremMelekTour adalah tur stand-up comedy pertama di Indonesia, dimana saya mengunjungi 11 kota dan perform selama 1 jam non-stop. Info lengkap bisa dibaca disini. Setelah menyelesaikan 10 kota, kini saatnya untuk kota terakhir: Jakarta.
Untuk lokasi, saya memilih GKJ karena beberapa alasan:
1. GKJ adalah gedung pertunjukan dengan arsitektur klasik yang telah menjadi saksi begitu banyak event bersejarah. Tidak sembarangan event boleh digelar di tempat berkapasitas 472 tempat duduk ini.
2. Lokasinya dekat Monas, relatif berada di jantung kota Jakarta. Akses transportasi pun beragam, termasuk busway.
3. Teman-teman comic lain belum pernah ada yang menggelar stand-up special disini. Jadi akan memberi pengalaman yang berbeda untuk penonton yang hadir.
Berikut foto GKJ tampak dalam dan luar:
Merem Melek Tour edisi Jakarta ini akan beredar di twitter dengan tagar #MeremMelekJKT. Pre-sale akan dimulai tanggal 15 Juni 2012. Info lebih lanjut akan menyusul di blog post ini.
I truly hope we’ll meet there!
[@ernestprakasa]
www.ernestprakasa.com
#MeremMelekTour – The @ernestprakasa Comedy Tour
Berikut penjelasan soal #MeremMelekTour, disajikan dalam format tanya-jawab:
Apa itu #MeremMelekTour?
#MeremMelekTour adalah tur stand-up comedy dimana saya akan tampil selama satu jam penuh, dengan dibuka oleh satu opener, satu guest comic, dan dua comic lokal dari masing-masing kota. Ini adalah pertama kalinya di Indonesia seorang comic mengadakan turnya sendiri.
Kenapa namanya “merem-melek”
“Merem-melek”. Merem melambangkan mata saya yang sipit (yaudahlah ya -_-”). Melek melambangkan keterbukaan terhadap pemikiran / perspektif baru, dimana ini adalah salah satu esensi penting dalam stand-up comedy. Jadi bukan sekedar nama yang catchy, #MeremMelek sebenarnya melambangkan sebuah misi, yakni seorang comic sipit (=Cina) yang ingin mengajak orang banyak untuk membuka pikiran mereka terhadap ide dan sudut pandang baru, melalui cara yang menghibur.
Selain dua comic lokal dari masing-masing kota, siapa saja comic yang akan ikut tampil?
Ada beberapa comic handal yang akan terlibat di #MeremMelekTour. Berikut profil singkatnya:
1. Genrifinadi Pamungkas a.k.a Ge (@genrifinadi)
Ge adalah salah satu rising star di scene stand-up comedy Bandung binaan Isman HS (@ismanhs). Ia mampu membedah berbagai fenomena dunia anak muda dengan observasi yang tajam, lalu disampaikan dengan gestur comical yang sangat unik. Ge juga satu dari sedikit comic di Indonesia yang memainkan gaya expressionist ala Jim Carrey. Ge akan tampil sebagai opener di semua kota sepanjang #MeremMelekTour digelar.
2. Muhadkly a.k.a Acho (@muhadkly)
Acho terlebih dulu dikenal sebagai salah satu celeb twitter paling kocak. Memasuki dunia stand-up comedy, ia mampu mempertahankan comedic sense nya yang luar biasa dalam format penyajian yang lebih kaya. Keahliannya dalam diksi alias memilih kata-kata yang pas untuk setiap joke membuatnya amat disegani di kalangan stand-up comedian tanah air. Acho akan tampil sebagai guest comic di Malang.
3. Ence Bagus (@encebagus)
Wajah Ence sudah tidak asing bagi pemirsa televisi tanah air. Pria yang melejit berkat perannya di program komedi Extravaganza ini adalah comic dengan kemampuan istimewa dalam menelanjangi sebuah tema dari kulit hingga ke tulangnya. Kematangannya dalam seni peran juga memberi warna tersendiri dalam gayanya diatas panggung. Ence akan tampil sebagai guest comic di Bandung & Surabaya.
4. Asep Suaji (@asepsuaji)
Siapa tidak kenal Asep Suaji? Setelah menjadi sensasi Youtube lalu berlanjut di putaran final Stand-Up Comedy Indonesia Kompas TV, kini Asep Suaji menjadi icon yang tidak terpisahkan dari program Galau Nite Metro TV. Dengan materinya yang setia dengan permasalahan patah hati, Asep adalah salah satu comic dengan persona paling kuat di Indonesia. Asep akan tampil sebagai guest comic di Semarang & Solo.
5. Adriano Qalbi (@adrianoqalbi)
Bagi masyarakat luas, Adri bisa dibilang comic yang paling tidak dikenal dibanding nama-nama yang disebutkan sebelumnya. Namun, di kalangan comic Jakarta, ia adalah sosok yang dihormati. Saya menyebutnya “The man with the golden premise”, karena Adri seringkali menyajikan premis atau argumen dengan sudut pandang yang sangat unik – biasanya seputar dunia percintaan – untuk kemudian dijabarkan melalui eksplorasi komedi yang menggelitik. Adri akan tampil sebagai guest comic di Denpasar.
5. Luqman Baehaqi (@luqmanbhq)
Berbeda dengan comic kebanyakan, gaya Luqman di panggung tergolong “sopan” dan jarang menyentuh topik yang tabu atau kontroversial. Diksinya pun relatif santun, jauh dari kata-kata makian. Ayah satu anak ini menampilkan persona yang cukup unik, yakni seorang “clueless father”. Dengan gaya kalem ala Jerry Seinfeld, Luqman mengurai permasalahannya sehari-hari dengan perspektif yang jenaka. Luqman akan tampil sebagai guest comic di Makassar & Kendari.
6. Rindra Dana (@ponakannyaom)
Bertolak belakang dengan Luqman, comic yang sedang menempuh pendidikan S3 dengan tema stand-up comedy ini justru konsisten membahas topik-topik kontroversial seperti agama dan politik. Pengagum sejati comic sarkas asal Inggris Jimmy Carr ini juga kerap melakukan riset yang mendalam dalam berkomedi. Selain tertawa, Rindra juga sering membuat penonton geleng-geleng kepala karena materinya yang super absurd. Rindra akan tampil sebagai guest comic di Samarinda & Palangkaraya.
Siapa promotor tur ini?
Awalnya, #MeremMelekTour adalah 100% swadaya, tanpa promotor maupun sponsor. Modalnya adalah nekad, plus motivasi untuk berkontribusi terhadap sejarah stand-up comedy di Indonesia. Tur ini dimungkinkan berkat dukungan luar biasa dari teman2 komunitas di kota masing2, yakni: @StandUpIndo_BDG, @StandUpIndoSMG, @StandUpSOLO, @StandUpIndoBALI, & @StandUpIndo_MLG. Di tengah persiapan berlangsung, datang tawaran kerjasama dari Coffee Toffee Indonesia untuk memperpanjang tur ini dari rencana lima kota menjadi sepuluh kota, dimana mereka turut berperan sebagai EO-nya, bekerjasama dengan komunitas stand-up comedy di masing-masing kota. Lima kota tambahan adalah: Surabaya, Makassar, Kendari, Samarinda, & Palangkaraya.
Kapan persisnya #MeremMelekTour akan digelar?
#MeremMelekTour akan mendatangi sepuluh kota dengan jadwal sebagai berikut:
21 April – Saung Angklung Udjo Bandung, guest comic: @encebagus
27 April – Hotel Horison Semarang, guest comic: @asepsuaji
29 April – Teater Taman Budaya Solo, guest comic: @asepsuaji
4 Mei – Hotel Fave Denpasar, guest comic: @adrianoqalbi
5 Mei – Aula PPI Universitas Merdeka Malang, guest comic: @muhadkly
6 Mei – Hall B UNAIR Surabaya, guest comic: @encebagus
11 Mei – Wisma Kalla Makassar, guest comic: @luqmanbhq
12 Mei – Hotel Horison Kendari, guest comic: @luqmanbhq
18 Mei – Teater Taman Budaya Samarinda, guest comic: @ponakannyaom
20 Mei – Gedung Dharma Wanita Palangkaraya, guest comic: @ponakannyaom
Berapa harga tiketnya?
Harga tiket #MeremMelekTour sama di semua kota, yakni Rp 50,000 on the spot, dan Rp 40,000 pre-sale. Di setiap kota, pre-sale akan dimulai dari tiga minggu sebelum acara. Info pre-sale di kota 1-5 bisa di-cek via twitter: @StandUpIndo_BDG, @StandUpIndoSMG, @StandUpSOLO, @StandUpIndoBALI, & @StandUpIndo_MLG. Untuk kota 6-10, via twitter @CoffeeToffeeIDN.
Untuk info terbaru seputar tur ini, follow twitter: @MeremMelekTour.
[@ernestprakasa]
www.ernestprakasa.com
stand-up comedy tips by @pandji: #riffing
Pandji Pragiwaksono dikenal sebagai salah satu comic dengan skill riffing paling gawat. Berikut sharing soal riffing, langsung dari akun twitternya, @pandji:
——————————
#riffing adalah ketika seorang comic ngobrol penonton dgn tujuan menggali tawa dari penonton tsb.
Byk orang pikir #riffing itu spontan, entah utk org lain, tp utk gue, sekitar 60% riffing gue itu sudah disiapkan / terlatih.
Byk yg blg #Riffing itu “Making something out of nothing”. Sebenarnya, itu ilusinya, krn realitanya, Riffing itu sebenarnya sudah dilatih.
Istilahnya, #riffing itu “rehearsed spontanity”. Scr umum dlm stand-up jg kt hrs latih diri utk bs bawakan bit2 kita seakan spontan & segar.
Beberapa #riffing gue, pada awalnya memang spontan. Tapi setelah itu, kalau sukses menuai tawa sering gue pake di kesempatan2 lain.
Salah satu #Riffing-an standar gue: “Tinggal di mana?”. Nanti jawaban mereka akan gue tutup dgn bbrp punchline disesuaikan dgn jawaban dia.
Cth sederhana, misalnya gue nanya: “Tinggal di mana?” | Penonton: “Bintaro” | Gue: “Pantesan muka lo jauh kayak rumah lo” #riffing
Jatohnya #Riffing juga tetap menggunakan set-up + punchline. Bedanya, set-upnya dipancing dari jawaban si penonton, punchline-nya dari kita.
Ada jg #riffing yg spontan. Agak susah & beresiko. Byk yg mau spontan riffing tp gagal bikin ktawa, akhirnya cm tanya-jawab biasa tanpa tawa.
Mind-set kalo mau #riffing spontan: Setiap org pasti lucu, tinggal kita temukan di mana kelucuannya. Jgn mikir “gmn caranya bikin dia lucu”.
Menemukan kelucuan dlm diri seorang penonton bisa dilihat dari penampilan, atau dari fakta2 tentang dirinya yg kita tanya #riffing
Tapi #riffing harusnya jadi pelengkap bukan sebagai suguhan utama. Kadang gue suka kebablasan nge-riffing & ngeluarin bitnya malah dikit.
——————————
Semoga berguna ya teman-teman
[@ernestprakasa]
www.ernestprakasa.com
jadi comic itu gampang, tapi…
…jadi comic yg TERUS-MENERUS lucu, itu luar biasa sulit.
Malam tadi, saya bersama 9 comic lain perform di acara “Stand-Up Nite Kompas TV”, yang diadakan di Rolling Stone Cafe. Ada sesuatu yang aneh dengan malam ini. Jumlah penonton tidak sedikit, namun seperti ada yang kurang. Pecah tawa tidak seperti yang diharapkan. Kami, para comic, menutup hari dengan banyak perenungan. What went wrong?
Ada banyak analisis yang muncul, dari mulai yang njelimet sampai se-sederhana “let it go, it’s just one of those nights when things go bad”. Tapi buat saya dan beberapa comic lain, malam ini menjadi tamparan keras.
Saya teringat ucapan Pandji, bahwa menjadi lucu itu gampang. Tapi menjadi lucu terus-menerus, itu yang susah. Dengan kata lain, untuk seorang comic bisa muncul lalu memukau banyak orang, itu baru awal perjalanan. Pendakian masih terjal dan berliku. Menurut Sammy (@notaslimboy), semakin “besar” nama seorang comic, maka semakin besar ekspektasi orang terhadap comic tersebut. Bits yang tadinya “cukup”, menjadi “kurang memuaskan”, karena meningkatnya standar yang ditetapkan oleh penonton atas comic yang bersangkutan. Menurut saya, ini cukup akurat. Seorang comic yang cepat puas lalu lupa untuk terus berlari, akan tergilas roda persaingan. Credo Steve Jobs benar adanya: “Stay Hungry, Stay Foolish”. Yang benar bukan “ah, penontonnya ga asik!”, tapi “apa yang harus gue benerin ya?”.
Saya sendiri mau mengaku dosa.
Makin hari, dengan padatnya jadwal dan letihnya fisik, saya jadi jarang punya kesempatan untuk melakukan persiapan yang maksimal, setiap akan naik ke panggung. Dan malam ini rasanya menjadi titik nadir.
Stand-up comedy adalah sebuah seni yang teramat rumit dan indah. Rumit karena begitu banyak elemen yang terlibat di dalam sebuah penampilan, baik dari dalam maupun luar diri si comic. Namun menjadi teramat indah, manakala berbagai elemen kompleks tersebut berhasil dipadukan bak orkestra nan syahdu. Dan seorang comic tidak akan mampu menjadi konduktor orkestra handal, tanpa 3 hal berikut ini: latihan, latihan, dan latihan.
Saat ini, boomingnya stand-up comedy memunculkan begitu banyak comic bertalenta di seluruh Indonesia. Ini adalah pertanda bagus, tentunya. Namun tak bisa dipungkiri, lambat laun kuantitasnya akan tergerus. Siapa yang punya determinasi sekeras baja, ia yang akan bertahan.
A mighty warrior is not forged in the comfort of their dens, but in the bloody cries of the battlefield.
Viva La Komtung!
[@ernestprakasa]
www.ernestprakasa.com
bye 2011, hi 2012
Saya termasuk orang yang males merayakan tahun baru. Kenapa 1 Januari harus lebih istimewa dibandingkan tanggal-tanggal lain? Tapi ya itulah. We humans love the idea of “fresh start”. Dari nol lagi, kata iklan.
But anyway, bisa dibilang setahun kemarin adalah salah satu tahun paling dramatis dalam hidup saya. Here’s my life recap in 2011:
Januari
Tanggal 29 Januari, saya berulang tahun ke 29. Ini berarti, ulang tahun terakhir saya di usia 20-an. Ulang tahun berikutnya, saya sudah memasuki usia kepala 3. Beban! I’m so gonna miss these 20s days :p
Maret
Tanggal 26, saya naik pesawat Lion Air menuju Yogyakarta. Ketika saya mau duduk, di kursi saya ada Roy Suryo. Dan hari itu menjadi salah satu hari paling gila dalam hidup saya. Puncaknya adalah saat avatar twitter saya dipajang di Metro Hari Ini, sampai saya melongo. Sinting lah.
April
Tanggal 29 April, saya merayakan ultah pernikahan yang keempat (sekaligus ultah istri ke-28). Empat tahun menikah, ditambah 5 tahun pacaran, total saya dan istri saya Meira Anastasia sudah bersama selama 9 tahun. Totally loving it
Juli
Seperti yang pernah saya ceritakan, bulan Juli adalah bulan yang teramat luar biasa. Di bulan inilah saya mengikuti audisi untuk program Stand-Up Comedy Indonesia di Kompas TV. Sebuah acara yang secara tidak langsung memicu lahirnya komunitas Stand-Up Indo, dan menyebarluaskan virus stand-up comedy di Indonesia.
Agustus
Di akhir bulan ini, saya mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari dr.m, sebuah perusahaan digital content yang menjadi bagian dari hidup saya sejak Mei 2008. Ini sekaligus menandakan saat dimana saya “terjun bebas”. Melepas status pekerja kantoran yang nyaman dengan gaji, jabatan, tunjangan, & jenjang karir yang menjanjikan; demi sesuatu yang abstrak namun layak diperjuangkan. Dan sampai saat ini, sepertinya keputusan yang saya ambil ini sepertinya tepat
September
Di bulan ini, Stand-Up Comedy Indonesia di Kompas TV dimulai. Saya pun berkenalan dengan banyak teman baru yang mengagumkan.
November
Tgl 20, anak saya Sky Tierra Solana tepat berusia 2 tahun. Dia nyala api saya.
Desember
Kompetisi Stand-up Comedy Indonesia Kompas TV berakhir sudah. Saya finish di posisi ketiga, alias terpaksa menerima kekalahan. Saya gagal lolos ke grand final, tapi berhasil mengerti lebih dalam tentang hidup, dan bagaimana menjadi dewasa.
Sepanjang 2011, berkat stand-up comedy, saya dapet kesempatan untuk menjelajah Indonesia, bertemu dengan teman2 komunitas stand-up comedy di Jogja, Solo, Palembang, Pekanbaru, Medan, Jambi, & Pontianak. Sungguh pengalaman yang membahagiakan!
Menyambut 2012, saya punya 2 cita-cita berkaitan dengan standup-comedy:
1. Bisa jadi headliner untuk stand-up comedy tour
2. Sudah punya action plan yang matang supaya 2013 saya bisa menjalankan mimpi saya menyelenggarakan Kejuaraan Nasional Stand-Up Comedy antar wilayah se-Indonesia.
Tapi secara umum, menurut saya sih kita nggak harus punya resolusi yang muluk-muluk. Cukup 1 hal yang penting: Bagaimana membuat hidup kita bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. Happy new year
[@ernestprakasa]
www.ernestprakasa.com
stand-up comedy tips by @radityadika: #persona
Raditya Dika, penulis dan stand-up comedian handal tanah air, berbagi soal salah satu elemen penting yang harus dipahami seorang comic, melalui akun twitternya @radityadika. Berikut rekapnya:
——————————
Persona secara harafiah berarti “social mask”, topeng sosial. Dipakai jg sbg istilah untuk ‘karakter’ dlm pertunjukan teater. #persona
Persona, dalam konteks standup comedy mengacu pada aura, karakter panggung seorang comic. Topeng yg dia pakai di atas panggung. #persona
Jadi, persona seorang comic adalah topeng apa yang dia pakai di atas panggung. Apakah dia org yg sinis? Pemarah? Heboh? #persona
Persona seorang comic tidak serta-merta merupakan kepribadian asli dia. Bisa jadi karakter yg dia ingin mainkan. #persona
Persona berkaitan erat, dgn delivery materi seorang comic, tapi sebenarnya tidak terbatas pada itu saja. #persona
Persona didapatkan dari gesture, ekspresi muka, gaya berpakaian, sampai emosi yg dibawakan di atas panggung. #persona
Comic yg baik personanya kuat, sehingga berbeda dari comic lainnya. You don’t have to be better, you just have to be different. #persona
Contoh2 comic keren dgn persona keren. Persona oracle (pemberi pencerahan) pada George Carlin. Dia seperti berceramah di panggung. #persona
…atau bisa jadi pemarah, sinis, dan penggerutu seperti Larry David. Dia sering marahin penonton dari atas panggung! #persona
…atau sebagai pemerhati yg dingin seperti Jerry Seinfeld. Bajunya rapih, tutur katanya terstruktur jelas, banyak jeda bicara. #persona
…atau sebagai orang yg aneh dan out of place seperti Zach Galifianakis. Rambutnya acak adut, sering bengong di atas panggung. #persona
…atau sebagai seorang yg manic, heboh, hiperaktif, seperti Dane Cook. Sering loncat diatas di atas panggung, teriak2, banyak main suara. #persona
Idealnya, persona berkaitan dengan bit seorang comic.. #persona
..seorang comic yg bitnya ttg kutubuku, kalau personanya juga kekutubukuan, pasti jadi lebih mantep.#persona
..Contoh, gue nonton @shanibudi (coba youtube), bitnya ttg kutubuku, personanya yg ditampilkan di panggung juga kekutubukuan.. #persona
..pembawaan @shanibudi rada canggung, delivery-nya lambat. Bajunya ada lambang superhero di dadanya. Persona: kutubuku. Komplit. #persona
Persona seorang comic bisa lahir dgn sendirinya, terbawa oleh bit yg dia pakai. Atau dipersiapkan dengan matang secara sadar. #persona
Bagi seorg comic yg beruntung, mereka bisa nemu sendiri persona yg unik hanya dgn main dari panggung ke panggung.. #persona
..Namun, ada beberapa comic yg sampai skrg bahkan personanya gak keluar. Ini sayang banget. Dia akan terlihat sama dgn comic2 lain. #persona
Jadi, jika mau jadi comic yg dapat dilihat berbeda, mulai sekarang tentukan persona panggungnya mau seperti apa. #persona
Cari kekuatan dan kelemahan dan ciri pribadi yang kita punya, lalu tentukan persona apa yg mau di-develop. #persona
Contohnya: persona yg males, di panggung matanya sayu, delivery-nya males2an. Atau yg kebapakan, baju rapih, delivery-nya hangat. #persona
Kalau kita sudah menentukan persona, maka gesture, baju, dan delivery harus diperhatikan agar sesuai dgn persona tersebut. #persona
Persona bisa dimulai dari yg dekat dgn diri sendiri. Jangan pake persona rockstar kalau sebenernya suka nangis denger musik mellow. #persona
Semakin unik persona yg kita punya (misal: anak gym naif), akan semakin membedakan kita dengan comic lain. #persona
Cara menajamkan persona hanya dengan banyak2 naik panggung, semakin sering stand up, semakin terbentuk persona kita. #persona
Kalau udah ketemu persona-nya, maksimalkan agar membekas di kepala penonton. Ini akan semakin memisahkan kita dari comic lain. #persona
Persona is what makes you unique as a comic. Remember, you don’t need to be better, you just need to be different.
#persona #selesai
——————————
Semoga berguna ya teman-teman
[@ernestprakasa]
www.ernestprakasa.com
menerima kekalahan
Ayah saya selalu ingin agar kedua anaknya menjadi atlet.
Sejak usia 9 tahun, saya masuk ke sekolah tenis, dan saya terus aktif hingga saya SMA, dengan pencapaian tertinggi Juara Piala Walikota Jakarta Selatan 1996
. Setelah itu, karena diterima di UNPAD, ayah saya lebih menuntut saya fokus kuliah. Sementara adik saya Audrey (@audreyjiwajenie) lebih sukses menjadi perenang nasional hingga ke level Sea Games.
Hampir satu dekade aktif di lingkungan atlet, jiwa kompetitif saya jadi lumayan kronis. Saya sering diprotes oleh teman-teman karena sering terlalu kompetitif. Dalam hal APAPUN, bahkan sesimpel permainan Playstation
. For me, losing is simply not an option.
Usmar Ismail Hall, 30 November 2011.
Dewan juri Stand-Up Comedy Indonesia Kompas TV yakni Indro Warkop, Butet Kartaradjasa, & Astrid Tiar memutuskan bahwa saya harus close-mic, alias dieliminasi dari kompetisi. Perjalanan saya berakhir di semifinal, menyisakan Ryan Adriandhy (@Adriandhy) dan Insan Nur Akbar (@akbar___) di babak grand final.
Jujur, sejak beberapa hari sebelumnya, saya memang sudah siap mental. Harus diakui, Ryan & Akbar tampil lebih konsisten sepanjang kompetisi, sementara saya, sempat beberapa kali tampil kurang maksimal. Kalimat pamit saya di panggung ketika itu adalah: “Hanya ada satu hal yang membuat saya bisa menerima kekalahan, yakni kalah dari lawan yang memang lebih baik. Ryan & Akbar layak bertarung di grand final”. Dan saya mengatakan itu dengan sepenuh hati. Saya sungguh-sungguh merasa mereka berhak.
***
Keesokan harinya, saya membuka mata dengan perasaan janggal. Seolah perasaan legowo saya di hari sebelumnya, sudah habis masa aktifnya. Saya mulai diserbu rasa bersalah pada diri sendiri. Saya kalah. Harusnya saya tidak kalah. Andai saja saya lebih cermat. Andai saya memilih tema yang berbeda. Andai saya lebih beruntung. Andai, andai, andai. Sisi gelap saya mulai mengejek: “Jadi lo berminggu-minggu karantina buat apaan? Cape-capein doang, akhirnya kalah juga!”. “Harusnya bukan lo yang dieliminasi dong, kan elo lebih bagus!”. And so on.
Saya tidak ingat kapan terakhir saya mengalami pergumulan mental yang begitu dahsyat. Energi saya terkuras untuk berdebat dengan diri sendiri. Sibuk menangkis cacian demi cacian. Berusaha mencari sebanyak mungkin pembenaran atas hasil yang saya peroleh. Selama beberapa hari, saya – istilah anak sekarang – galau.
Untungnya, dengan dukungan moral dari istri tercinta, perlahan saya mulai bisa “nrimo”. Kalimat-kalimat miring tadi bisa saya balas dengan energi positif. “Ini cuma sebuah kompetisi. Karir ke depan masih panjang!”. “Ingat apa kata Mas Indro, you are an inspiration!”. Dan lain-lain. Terdengar konyol memang, tapi saya memang menjalani perang sengit dengan batin sendiri.
Dan akhirnya, sampai pada titik dimana saya sudah sepenuhnya menerima kenyataan. Life is not about condemning failures. It is about getting back on your two feet, then walk on. Biarlah kali ini, saya kalah. Saya kalah karena mereka lebih baik. Itulah hidup.
***
Menjelang babak semifinal, anak saya Sky tinggal di Bandung bersama ayah & ibu mertua saya. Rupanya oleh mereka, Sky diajari berdoa: “Tuhan Yesus, semoga papa menang, amin”.
Malam pertama setibanya saya di Bandung, Sky memamerkan doa tersebut di depan saya. “Tuhan Yesus, semoga papa menang, amin”. Saya tercekat. Tentu ia tidak mengerti, bahwa saya sudah kalah. Dengan mata berkaca-kaca, saya kecup keningnya sambil membatin: “I am a winner, kiddo. I have you, I have your mom. I’ve won everything there is to win”.
God is good
[@ernestprakasa]
www.ernestprakasa.com
the birth of @StandUpIndo
Waktu itu tahun 2001.
Saya sedang menggonta-ganti channel TV ketika tanpa sengaja menemukan sebuah stand-up comedy special di HBO berjudul “The Blue Collar Comedy Tour”. Mereka berempat tampil bergiliran menghibur teater yang penuh sesak. Saya terpana oleh ketangkasan mereka di atas panggung. Panggung yang begitu megah, penonton yang begitu banyak, bisa tersihir oleh satu orang yang berdiri penuh kharisma. Saat itu juga saya jatuh cinta pada stand-up comedy.
Stand-up comedy memang bukan barang baru diluar sana. Berasal dari Inggris, stand-up comedy sukses booming di Amerika, dengan nama-nama tokoh seperti Bob Hope, George Carlin, Robin Williams, Eddy Murphy, dan masih banyak lagi. Secara sporadis, sebenarnya saya sudah pernah menyaksikan stand-up comedy sebelum Blue Collar tadi, namun dalam format yang lain, seperti di talkshow maupun berbagai awarding film / musik. Sejak melihat Blue Collar, saya terus diganggu pemikiran “kayak beginian di Indonesia bisa ga ya?”. Terus terang saya pesimistis. Sampai kemudian pada taun 2002, muncullah sitcom Bajaj Bajuri di Trans TV. Sukses pula!
Saya mulai berpikir. Hey, wait a minute. Sitcom? In Indonesia? Wow! Kalo sitcom yang notabene “bule banget” bisa diterima masyakarat, harusnya stand-up comedy juga bisa dong? Kan anyway ini semua hanya masalah format penyajian. Konten adalah sesuatu yang bisa di-localize. Karena tidak tau harus berbuat apa, akhirnya saya lebih sibuk browsing di youtube, dan berkenalan dengan banyak comic (istilah untuk stand-up comedian) luar biasa seperti Ellen Degeneres, Louis CK, Russel Peters, & masih banyak lagi. Semakin banyak yang saya tonton, semakin saya penasaran. This MUST happen in Indonesia!
Fast forward ke 2009. Karena penasaran, saya akhirnya mencoba membuat stand-up saya sendiri. Saya buat naskah lalu saya shoot dengan webcam, lalu upload ke youtube. Beberapa teman saya mintai komentar. Hasilnya ya tentu saja butut, hahaha :p Karena risih sendiri, akhirnya video-video itu saya delete dari youtube. Dan, lagi-lagi, hasrat saya terhadap stand-up comedy kembali terpendam.
Sabtu, 2 Juli 2011.
Saya ingat betul tanggal itu. Di akun twitter @pandji, saya melihat pengumuman audisi program TV “Stand-Up Comedy Indonesia” di Kompas TV. Saya terkejut campur bingung campur excited. SERIUSAN INI?? Disana tertera, bahwa hari Jumat 8 Juli, ada audisi perlombaan stand-up comedy di kantor Kompas TV. Tidak perlu berpikir panjang untuk saya menjerit dalam hati: FINALLY!!!
Rabu, 6 Juli 2011.
Bertempat di Comedy Café Kemang, saya melatih materi yang akan saya pakai untuk audisi. Kebetulan rabu adalah waktunya open mic. Comedy Café yang selama ini saya ketahui memang memberikan wadah untuk para pecinta stand-up comedy, terasa lengang malam itu. Pengunjung tidak sampai 10 orang, termasuk diantaranya Asep Suaji. Saya dan Asep adalah 2 orang peserta open mic malam itu. Dan ternyata, Asep pun sedang mempersiapkan diri untuk audisi yang sama.
Jumat, 8 Juli 2011.
Saya ikut audisi di Kompas TV. Selain kembali bertemu Asep, di hari itu saya bertemu dengan Ryan Adriandhy (@Adriandhy), Arief Budiman (@ariefdidu), dan lain-lain. Kebetulan saya dan Ryan sama-sama mendapatkan golden ticket, lalu terlontarlah ide dari saya untuk mengajak Ryan berlatih bersama di Comedy Café. “Biarin lah yan sepi cuek aja, yang penting kita latihan bareng”, itu kalimat saya pada waktu itu. Ternyata selain menyanggupi, Ryan juga mengajak Pandji, yang kemudian mengajak Raditya Dika. Mereka berdua adalah host program ini. Saya juga mengajak Isman (@ismanhs), seorang penulis komedi yang juga sangat antusias terhadap stand-up comedy. Next thing we know, yang tadinya sekedar latihan bareng, telah menjelma menjadi the very 1st local stand-up comedy night in Indonesia! Kami pun menyiapkan akun @StandUpIndo untuk mengkomunikasikan acara ini. Dan melalui followers Pandji & Radit yang militan, event ini berbunyi nyaring di twitter.
Rabu, 13 Juli 2011.
Comedy Café nan mungil itu serasa mau runtuh oleh gelak tawa. Sekitar 200-an orang hadir (sebagian besar terpaksa mencuri dengar dari luar), dan sejarah pun tercipta. Kami berlima (saya, Ryan, Isman, Pandji, & Radit) benar-benar tidak menyangka bahwa ajang kumpul-kumpul sederhana tadi benar-benar telah menjelma menjadi event monumental. Selain kami berlima, turut tampil pula Asep Suaji (@asepsuaji), Arief Budiman (@ariefdidu), & Intan AP (@badutromantis). Video para performer itu kami upload di youtube, dan bagaikan api membakar tumpukan daun kering, kobarannya menyambar tak terkendali. Dalam waktu singkat, video tersebut menyebar hingga ditonton oleh ribuan, lalu puluhan ribu, lalu ratusan ribu, hingga jutaan orang. Teman-teman di luar Jakarta pun menggeliat. Tercatat Jogjakarta sebagai kota pertama yang ikut membuat event serupa. Disusul oleh teman-teman di Samarinda, lalu kota-kota lainnya di berbagai pelosok nusantara. Secara de facto, memang akhirnya saya, Ryan, Isman, Pandji, & Radit lah yang bisa dibilang secara tanpa sengaja telah “mendirikan” Stand-Up Indo.
Senin, 5 Desember 2011.
Saat tulisan ini dibuat, tercatat total views di youtube.com/standupcomedyindo telah menembus 4 juta, sementara akun @StandUpIndo di-follow oleh lebih dari 26 ribu orang.
Event stand-up reguler membahana tidak hanya di Jabodetabek, tapi juga di kota-kota seperti Jogjakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Bandung, Samarinda, Bali, Surabaya, Medan, Palembang, Pekanbaru, Jambi, dan sebagainya. Ada juga yang mendirikan komunitas berbasis kampus, seperti UIN, STAN, Atma Jaya, UNTIRTA, dan lain-lain. Sebuah embrio cilik telah menjelma menjadi jejaring komunitas lintas nusantara, dengan excitement yang luar biasa untuk memasyarakatkan stand-up comedy di tanah air. UNBELIEVABLE. Sungguh sesuatu yang amat mengharukan.
Belakangan ini, pertanyaan yang kerap diajukan banyak orang termasuk teman-teman dari media massa adalah: “apakah ini hanya sekedar trend?”. Dengan tegas, kami selalu menjawab: TIDAK. This is a birth of a new comedy genre. A baby that will grow bigger & stronger. Indonesia, prepare yourself, for stand-up comedy.
[@ernestprakasa]
www.ernestprakasa.com
setiap ucapan adalah janji
Waktu saya berusia 7 tahun, saya diajak oleh ibu saya dan kakaknya ke Melawai Plaza, salah satu pusat perbelanjaan paling happening di Jakarta pada era tersebut. Seperti bocah laki2 pada umumnya, saat melewati toko mainan, saya pun merengek minta dibelikan. Saya masih ingat betul, waktu itu mainannya adalah action figure dari serial kartun 80-an berjudul MASK. Pada saat itu, respon ibu saya adalah, “Iya, nanti ya”. Dan kami pun lanjut berkeliling, lalu pulang ke rumah kakak ibu saya. Saya pun lupa akan kejadian di toko mainan tadi.
Malamnya, saat ayah saya menjemput saya dan ibu saya di rumah kakaknya, saya kembali merengek di jalan pulang. “Tadi kata mama nanti, nanti, manaaa? Kapan beli mainannya?”, kira2 begitulah protes saya. Lalu terjadilah percakapan berikut antara ayah dengan ibu saya:
“Bener kamu tadi bilang mau beliin?”
“Iya, tapi udahlah gausah. Mainan di rumah udah numpuk pa!”
“Ya ga bisa. Biar gimanapun, kamu udah janji.”
Singkat cerita, kamipun kembali ke Melawai Plaza saat itu juga, dan mainan itupun saya bawa pulang.
***
Sampai detik ini, saya yakin ayah saya tidak menyadari, bahwa peristiwa sepele itu tertanam begitu lekat dalam ingatan saya.
KAMU UDAH JANJI.
Padahal, ibu saya kan pada waktu itu nggak bilang “Iya mama janji”. Tapi dengan contoh yang begitu gamblang, ayah saya mengajarkan pada saya, bahwa setiap ucapan adalah janji.
SETIAP UCAPAN ADALAH JANJI.
Serem ya?
Tapi kalo mau diperhatikan, seberapa sering di lingkungan kerja atau pergaulan, kita mendengar kalimat2 seperti:
“Iya ntar gue kabarin ya”
“Iya abis ini gue imelin ke elo pokonya”
“Sip, nanti deh”
Too familiar, rite? Baik kita sebagai si pengucap, maupun pendengar. Berapa persen yang jadi kenyataan?
Me too, often guilty as charged.
Kalo mengacu ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata yang paling tepat untuk sifat ini adalah KONSEKUEN, yang diartikan sebagai “Sesuai dengan apa yg telah dikatakan atau diperbuat; berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yg sudah diputuskan”.
Sounds so simple, yet so difficult to implement. But then again, difficult doesn’t mean impossible, rite?
http://neonspark.wordpress.com
membeli gaji
GAJI. Empat huruf saja. Yang paling ditunggu karyawan tiap akhir bulan. Yang kehadirannya bisa membuat nafsu konsumtif membara, membuat kita tak kuasa menolak godaan untuk segera masuk ke pusat perbelanjaan. “Hey, I earned this money with hard work! I have every right to use it the way i please!”, kira-kira begitu bukan?
Memang, karna kita bekerja, gaji adalah sesuatu yang kita terima. Imbalan atas kontribusi kita untuk pihak yang menggaji kita. But for once, let’s shift perspective.
In a way, sebenarnya gaji itu bukan sesuatu yg kita dapatkan.
Tapi sesuatu yang kita BELI.
Kita membeli gaji dengan segenap pikiran dan tenaga. Kita membeli gaji dengan waktu kita. Kita membeli GAJI, dengan PENGORBANAN.
Bisa jadi yang dikorbankan adalah kebahagiaan, passion, pacar/suami/istri, hobi, atau hal-hal lainnya. Semakin besar pengorbanan, semakin mahal harga yang kita bayar untuk gaji kita.
Mungkin gaji kita cukup “wah”, dan membuat banyak orang iri. Namun bisa jadi, tanpa mereka ketahui, gaji tersebut dibeli dengan harga yang teramat mahal, yakni kebahagiaan bersama orang-orang tersayang.
Sebaliknya, mungkin gaji kita so-so, tidak mampu memancing dengki. Namun dibalik itu, sebenarnya gaji tersebut dibeli dengan harga yang teramat murah, karena setiap waktu yang kita habiskan saat bekerja adalah waktu yang sangat menyenangkan.
So for a while, stop thinking about how much your salary is.
Ask yourself instead: “how much did I pay for this?”.
http://neonspark.wordpress.com
PS: Seorang teman merespon dengan postingan ini: “Time vs Money” by passionswing. I’m profoundly happy to be able to inspire
.
twitter killed the wordpress star?
Phew.
Tanpa terasa, sudah nyaris 8 bulan sejak saya posting apapun di blog ini -_-”
Selain kesibukan kantor, saya juga ingin menyalahkan Twitter. Media microblogging yg membuat kita menjadi begitu mudah untuk menuangkan isi pikiran dengan instan.
Jadi kepikiran. Harusnya sih fenomena ini bukan hanya menimpa saya. Apakah secara umum, bloggers menjadi lebih malas akibat Twitter? Berbekal rasa penasaran ini saya pun googling dan menemukan 2 artikel yang cukup menarik.
Sebuah survey dari Technorati menunjukkan, bahwa blogger non-profesional (hobbyist) mengaku lebih jarang mengupdate blog mereka sejak mengenal microblogging.

Baca informasi selengkapnya disini.
Bahkan TechCrunch menunjukkan hasil penelitian mereka dalam grafik berikut ini, dimana peningkatan signifikan di Twitter ternyata dibarengi dengan stagnasi di WordPress.

Jadi kesimpulannya, tidak perlu merasa bersalah secara berlebihan. Saya (dan mungkin juga anda), ternyata punya banyak teman diluar sana; yang gara2 Twitter jadi lupa sama blog sendiri (walau tetep sih, pengennya bisa lebih rajin ngeblog. Amin!
).
http://neonspark.wordpress.com
and the truth shall set you free
Repeat after me:
HONESTY PAYS OFF.
Still have doubts?
HONESTY PAYS OFF, BIG TIME.
Building business by making the best out of every circumstances is a big temptation. In short term, it means big bucks. In the long run, it’s a recipe for disaster. People are smarter than you think. And by the time you realize that, it will all be too late.
Play smart, play nice. Integrity never fails.
http://neonspark.wordpress.com
mereka bilang “persib nu aing!”
Beberapa saat yang lalu, saya baru saja menyaksikan tayangan langsung Liga Super antara Persib – Persisam, yang berakhir dengan skor 2-0. Sebuah partai yang cukup mengharukan, karena sekaligus farewell bagi penjaga gawang andalan Persib, Sinthaweechai Hathairattanakool, kiper nasional Thailand yang sudah berakhir kontraknya. Menyaksikan partai tersebut, terbersit rasa bangga akan kemajuan liga sepakbola nasional. Liga lokal kita yang dulu rutin jadi bahan olok-olok, kini mampu menghadirkan tontonan sepakbola yang menarik dan berkualitas.
Semua setuju, bahwa fundamen prestasi timnas sepakbola negara manapun adalah liganya masing-masing. Itulah mengapa saya miris menyaksikan ditengah menanjaknya kualitas liga lokal, prestasi timnas justru semakin jeblok. Something is definitely wrong.
Melancong sedikit ke Jepang. Apakah Anda sadar bahwa Jepang baru bisa menembus Piala Dunia di tahun 1998? Perkembangan sepakbola mereka memang luar biasa pesat. Tidak banyak yang tahu bahwa pada akhir tahun 70-an, mereka mengirim tim khusus ke Indonesia untuk belajar dari Galatama, liga kita di kala itu. Setelah lebih dari satu dekade membangun basis liga yang kuat hingga mengakar ke setiap kota, barulah kemudian di tahun 1992 liga profesional mereka lahir: Japan Football League atau bekennya disebut J-League. Kini, J-League adalah sebuah industri yang mencengangkan, terutama dari sisi tingginya omzet penjualan tiket stadion dan official merchandise.
Kembali ke liga dalam negeri, menurut saya Indonesia sudah memiliki sebuah modal berharga: fanatisme yang berakar pada chauvinisme. Orang-orang Bandung yang saya kenal, misalnya. Rata-rata pasti memiliki ikatan emosional dengan Persib, meski mungkin sebagian dari mereka belum pernah menyaksikan Persib tampil dari layar kaca sekalipun. Ada sense of belonging yang sulit dijabarkan disana. Dan saya yakin ini bukan hanya terjadi di Bandung. Dan saya yakin juga, tingginya minat akan suatu bidang olahraga adalah modal krusial bagi kemajuan olahraga yang bersangkutan.
Sekarang tinggal bobroknya PSSI yang jadi kendala. Apakah akan datang saatnya mereka keluar dari ICU dan berjalan sehat? Semoga iya. Supaya liga kita semakin mumpuni, dan berimbas pada bangkitnya kualitas tim nasional bagai di era 60-an.
By the way, saya salut pada ANTV yang terus mendukung sepakbola kita lewat tayangan LIVE nya. Saya yakin kontribusi ANTV sangat signifikan; bayangkan jika Anda adalah atlet sepakbola yang akan bertanding sambil disaksikan jutaan rakyat Indonesia. Suntikan semangat dosis tinggi, bukan?
http://neonspark.wordpress.com
random notes: newborn effect dan akhirnya ber-bb
Tadinya, saya termasuk orang yang kekeuh nggak mau pake Blackberry. Alasan saya sederhana, saya merasa masih bisa berfungsi dengan baik dengan Nokia E71 saya, dan saya enggan menjadi seperti orang2 yang nggak bisa lepas dari layar BB masing2. Tapi akhirnya, saya ber-BB juga, berkat “hadiah” dari Yoris. We’ll see how addicted I will get
.
Lalu, belakangan ini saya memang jarang posting. Talk about consistency
. Alasannya simpel sih, sejak anak saya Sky Tierra Solana lahir tanggal 20 November lalu, perhatian pun terpecah. Blog menjadi prioritas kesekian. But now, after the storm has quiet down a little, I hope I can update my posts regularly.
See ya around, people
http://neonspark.wordpress.com
ciamiknya iklan simpati max
Sebenarnya sejak TVC campaign di ramadhan silam Telkomsel mulai menunjukkan “gaya” seperti ini. Di kala iklan operator seluler lain rata-rata hanya menonjolkan apa fitur masing-masing, Telkomsel stepped up a notch dan menunjukkan ilustrasi konkret tentang bagaimana fitur tersebut bisa sangat berguna dalam keseharian kita.
Di campaign terbaru mereka, Simpati Max, Telkomsel menghadirkan 2 versi TVC, yakni “Hari Pertama” dan “Gosip”, dimana kita diajak mengikuti kisah hidup Fe, seorang karyawati baru yang harus menghadapi bos dan senior yang galak – sebuah situasi yang sangat sehari-hari dan tidak superlatif. Dalam rangka menonjolkan keunggulan Simpati Max dalam ber-internet-ria, di iklan versi “Hari Pertama” Fe berhasil meraih simpati bos killernya berkat memberikan solusi jitu menghindari macet dengan bantuan GPS di Blackberrynya. Sementara di versi “Gosip”, Fe sukses melunakkan senior-seniornya berkat berbagi gosip selebritis paling hangat – tentunya juga dari Blackberrynya. Semuanya mengalir dengan begitu simple dan believable.
Bagi saya, menyaksikan kecerdasan Telkomsel dalam campaign kali ini sungguh sangat menghibur. Kudos, Reds!
http://neonspark.wordpress.com
gsm yang baik berubah jadi jahat?

Beberapa hari terakhir, saya dan teman-teman lumayan seru mengomentari iklan terbaru dari Axis, yang menekankan bahwa merekalah GSM paling murah dengan cara menyidang Saykoji & Luna Maya, icon dari IM3 dan XL, yang selama ini mengaku-ngaku paling murah. Saykoji & Luna Maya boongan, tentunya. Reaksi yang muncul pun beragam:
- “gila kocak banget, Saykoji-nya mirip!”
- “Axis berani juga ya nantangin Indosat sama XL”
- “garing ih”
Dan lain-lain.
Sebelum lanjut, saya ingin flashback sejenak ke beberapa tahun silam.
Saya ingat betul bahwa pada waktu itu, munculnya Axis cukup menarik perhatian. Bagaimana tidak, ditengah monotonnya logo dan warna para operator seluler yang ada – kecuali warna-warni Flexi yang nggak monoton tapi norak abis, tiba-tiba Axis menggebrak dengan semburat segar kuning dan ungu, menyiratkan dinamisme dan kreativitas yang kental. Bukan hanya itu, Axis langsung membrainwash dengan slogan mereka “GSM Yang Baik”, yang saya percaya lahir dari insight yang kuat bahwa promo tarif dari operator seringkali menyimpan udang dibalik batu. In a way, Axis adalah operator pertama yang secara marketing berani menyentuh ranah emotional benefit, bukan hanya menyecar functional benefit seperti yang sudah-sudah.
Namun, tiba-tiba muncul ini. Gaya iklan ofensif yang sungguh tidak Axis. Pertanyaannya, apakah Axis akan mencederai image “baik” yang mereka telah bangun? Dan yang juga menarik untuk ditunggu, apakah Indosat & XL akan menyerang balik? Kalo iya, dengan cara apa? Apakah akan ada yang menggoreng si ayam raksasa yang belakangan ini jadi maskotnya Axis? :p
Yah, paling tidak kalo sampe terjadi lagi balas-membalas iklan tarif operator seperti episode Rp 0,1 vs 0,001 vs 0,0000001 beberapa waktu lalu, advertising agency akan kebanjiran order, dan industri kreatif akan makin bergairah
http://neonspark.wordpress.com
calling all 2014 president wannabe’s

Sekitar jam 21:00 tadi, sebuah berita yang lumayan mengejutkan muncul: Polisi Menangguhkan Penahanan Chandra Hamzah & Bibit Samad Rianto. Rupanya tekanan publik yang menentang keras kriminalisasi dua petinggi KPK ini membuat polisi gerah juga. Meskipun kekeuh bahwa diperdengarkannya rekaman pembicaraan di Mahkamah Konstitusi tidak membuktikan bahwa Chandra & Bibit tidak bersalah, namun akhirnya mereka dibebaskan, paling tidak untuk sementara.
Yang menarik adalah pergolakan yang terjadi di dunia maya. Sejak di-create hari Jumat 30 Oktober yang lalu, Facebook Page “Gerakan 1,000,000 Facebook-ers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Rianto” berhasil mengumpulkan lebih dari 650,000 orang dalam waktu lima hari. Sepanjang sejarah politik di Indonesia, mungkin ini adalah rekor baru yang mengangkangi musim Pemilu 2009 sekalipun, dimana berbagai gerakan dan partai politik mencoba meraih simpati publik lewat Facebook.
Salah satu viral lainnya seputar isu KPK ini adalah gerakan pemakaian atribut serba hitam di hari Senin kemarin sebagai tanda rasa dukacita atas matinya keadilan di Indonesia. Tidak ada pengumuman di media massa. Hanya ajakan yang bergulir bagai bola salju di berbagai Facebook, mailing list, Twitter, dll. Alhasil, hari Senin kemarin diramaikan oleh orang-orang berpakaian warna hitam.
Apakah ini pertanda bahwa media online telah memainkan peranan penting dalam politik di Indonesia? Gejalanya sih sudah sangat kuat. Walau tertinggal oleh Obama yang sukses menjadi presiden Amrik berkat (salah satunya) menggarap serius campaign di internet, namun saya yakin di 2014 nanti, peranan media online akan semakin dahsyat dalam menentukan arah perpolitikan.
Karena mengumpulkan 650,000 orang dalam waktu lima hari membutuhkan sebuah event yang monumental, maka para politisi yang bermimpi meraih simpati masyarakat dunia maya di pemilu mendatang sudah harus berinvestasi dari sekarang; sedikit demi sedikit, bangunlah brand image dengan kreatif dan konsisten. Seperti telah dibuktikan oleh tim konsultan SBY dari Fox, menggolkan presiden tak ubahnya menjual sebuah brand.
Jadi buat anda para politisi, dunia maya menanti. Go gather your online marketing geeks and start doing some work.
http://neonspark.wordpress.com
katanya sih gabungan dua bank besar, tapi…

Sebagai nasabah Bank CIMB Niaga yang “terpaksa” buka rekening karena payroll dari kantor, saya benar-benar kecewa. Saya telah menjadi nasabah BCA selama 1 dekade terakhir, jadi itulah benchmark saya dalam mengukur standar pelayanan sebuah bank. Dan ternyata, layanan Niaga sungguh payah bila dibandingkan dengan BCA.
Saya termasuk sangat sering mencari informasi melalui call center guna menghemat waktu daripada harus mengantri petugas customer service. Dan di BCA, layanan call centernya sungguh sangat memuaskan. Niaga? Ini pengalaman saya:
1. Saya butuh info mengenai bunga terkini untuk salah satu produk perbankan mereka. Oleh sang petugas, saya disarankan untuk mengunjungi kantor cabang terdekat dengan alasan mereka tidak punya data terbaru. WHAT?
2. Saya pernah salah menekan extension, akibatnya telepon saya diangkat oleh petugas untuk spesialisasi produk perbankan yang berbeda. Lantas? Oleh beliau, saya diminta menutup telepon lalu menelpon ulang kemudian memastikan bahwa saya menekan extension yang benar (artinya = buang waktu mendengarkan Interactive Voice Response dengan seksama). Di BCA, yang pasti akan terjadi adalah “sebentar ya pak akan saya sambungkan”. Sungguh tragis.
Saya jadi ingat kata Seth Godin, “Customer service is the cheapest form of marketing”. Apparently CIMB Niaga only care about their customers to the extent of making sure all the tellers and security guards are smiley.
http://neonspark.wordpress.com
do you have your haters?
If you do, that means you matter. Take Pee Wee Gaskins a.k.a Peskins, for example. This phenomenal Jakarta band has spawned a group of people called anti-peskins:

Gotta admit, these boys are truly awesome. Regardless of the quality of their live performance, they can walk tall as the first – and so far, the only – band in Indonesia who grew big from Myspace. As per today, their songs have been listened to for more than a whopping 1,7 million times:

Not to mention, they currently have over 200,000 fans on Facebook (twice the number RAN have). So, having your haters is never bad. It comes with the buzz. It’s a sign that you’re worth it.
http://neonspark.wordpress.com
hari batik
It’s nice to see people wearing batik everywhere today. Berbarengan dengan ditetapkannya batik sebagai world heritage oleh UNESCO, Presiden SBY pun menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Which is quite sumfin, I’d say. Soalnya ga ada kan “Hari Angklung Nasional” atau “Hari Keroncong Nasional”. Batik apparently is now the pinnacle of Indonesian cultural heritage.
Yang pasti, beberapa hari kedepan, Facebook dan sejenisnya akan diramaikan oleh hasil foto bareng pasukan berbatik. Do you have yours? Here’s mine if you can find me

http://neonspark.wordpress.com














![simPATI_M@x[5]](http://neonspark.files.wordpress.com/2009/12/simpati_mx5.jpg?w=604)